Share

Bab 2

Author: Hare Ra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-25 14:20:26

“Nyonya maaf, jangan seperti ini,” ujar Bimo menarik kembali tangannya yang gemetar tidak karuan.

Ia bisa merasakan pangkal paha Selvi yang lembab itu, dan ia yakin di dalam sana mungkin sudah basah.

“Kenapa?”

“Saya ditugaskan untuk menjadi instruktur, Nyonya.”

“Ini juga bagian dari kursus kok,” jawab Selvi dengan senyuman menggoda.

“Nyonya, aku akan mulai menjelaskan terlebih dahulu beberapa bagian pada mobil sebelum kita mulai latihan di jalan,” ujar Bimo mengabaikan tatapan lapar Selvi.

Bimo mulai menyadari kalau pekerjaannya ternyata lebih berbahaya dari yang ia kira. Kliennya benar-benar menguji imannya.

“Baiklah, aku akan mendengarkan,” jawab Selvi dengan suara yang mendayu-dayu, lebih kepada sebuah desahan.

Latihan dimulai. Bimo berusaha profesional menjelaskan fungsi beberapa bagian mobil kepada Selvi.

“Ini namanya kopling, yang merupakan komponen yang berfungsi menghubungkan dan memutuskan tenaga dari mesin ke transmisi atau persneling. Dengan adanya kopling, tenaga mesin bisa diatur sebelum diteruskan ke roda, sehingga mobil bisa berhenti, berjalan, dan berpindah gigi dengan halus.”

Namun, alih-alih Selvi memperhatikan penjelasan dari Bimo. Ia malah terus menatap bibir Bimo sambil menggigit bibirnya sendiri. Baginya, bibir Bimo begitu seksi dan rasanya sudah tidak tahan ingin merasakan bibir itu.

Selvi membasahi bibirnya dengan lidah.

“Apakah ada yang mau ditanyakan, Nyonya?” tanya Bimo.

“Kapan aku bisa mulai?”

“Jika Nyonya sudah paham, kita bisa memulainya. Mungkin untuk pertama akan dimulai dari maju sedikit demi sedikit, mengatur pijakan gas, kopling dan transmisi,” jawab Bimo.

“Bukan itu, maksudku kapan aku bisa menikmati tubuhmu?” Selvi mengatakan itu setengah bergumam. Tapi, samar-samar Bimo masih bisa mendengarnya.

“Hah? Maksud, Nyonya?”

“Tidak. Mari kita mulai saja, aku paling malas belajar secara teori. Aku ingin langsung praktek,” jawab Selvi mengedipkan matanya.

“Baiklah, Nyonya. Sekarang Nyonya silakan tutup pintunya dan mulai nyalakan mesin. Aku akan memandu dari samping.”

Selvi melihat ke arah Bimo. “Maksudnya, aku praktek sendiri?’

“Iya, Nyonya. Tapi, akan aku awasi dari samping dan membantu memegang rem tangan kalau memang tidak terkendali.”

Selvi terdiam sejenak.

“Aku tidak bisa kalau hanya dijelaskan tanpa praktek bersamaan,” ucap Selvi kemudian.

“Maksudnya bagaimana, Nyonya? Kan kita akan praktek langsung.”

“Kamu yang mengarahkan tangan dan kakiku.”

“Tidak bisa, Nyonya. Tempatnya sempit.”

“Aku akan duduk di pangkuanmu, dengan begitu kita akan lebih mudah mempelajarinya. Aku juga merasa tidak was-was bakal menabrak,” jawab Selvi.

Bimo terkejut bukan main, ini permintaan yang paling gila yang ia dengar. Dan juga, aneh sekali praktek seperti ini. Yang ia tahu, tidak pernah seseorang melatih mengendarai mobil dengan posisi seperti itu.

“Aku tidak bisa kalau dilepaskan sendiri. Bagaimana kalau menabrak? Dan juga, kakiku sedikit lebih pendek, dengan adanya kamu, semua bisa terkendali,” sambung Selvi.

Bimo akhirnya tidak punya pilihan, hanya menurut.

“Maaf, Nyonya,” ucap Bimo saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.

“Tidak apa-apa, kulit kamu sangat menggoda,” jawab Selvi.

Bimo menahan nafasnya ketika Selvi sudah berada di dalam pelukannya. Ia mulai menjelaskan letak beberapa bagian di dekat kakinya. Bagaimana harus mengontrol kakinya.

“Kita akan mulai perlahan-lahan, Nyonya. Silakan tekan dan tahan kopling bersamaan dengan rem dulu, Nyonya.”

Selvi mengangguk, bibirnya tersenyum lebar. Bahkan ia bisa merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. Selvi sengaja duduk dengan tidak tenang, dan sengaja menggesekkan bagian yang menonjol diantara kedua paha Bimo.

“Aduh, salah.” Selvi merasa kecewa, ketika ia salah menginjak pedal. Niatnya mau menginjak rem malah menginjak gas, sehingga suara mesin itu mengaum.

Padahal, itu hanyalah taktik nakal yang sedang ia jalankan. Ia dengan sengaja berkali-kali "salah" injak pedal agar kakinya yang jenjang bergesekan dengan kaki Bimo.

Bimo menahan nafasnya, aroma tubuh Selvi yang terlalu dekat seperti ini cukup mengganggunya. Ia berusaha untuk menahan diri, karena bagaimanapun juga ia harus profesional.

“Nyonya, coba perhatian lagi. Kopling letaknya paling kiri, yang tengah adalah rem, kanan itu gas, perlahan-lahan jangan salah injak lagi,” ucap Bimo.

“Iya.”

“Dan, kopling jangan dilepaskan secara mendadak. Pelan-pelan saja secara bertahap.”

“Susah ya,” keluh Selvi mengibaskan rambutnya dan sengaja mengenai wajah Bimo.

“Untuk pertama memang agak sedikit susah, Nyonya. Tapi, nanti akan terbiasa.”

Tangan Selvi yang kembali memegang kemudi, sengaja menyentuh tangan Bimo, sehingga membuat lelaki itu seperti terkena sengatan listrik. Panas, aliran darahnya terasa menghangat.

Bimo merasakan perasaan bersalah yang luar biasa setiap kali kulit mereka bersentuhan, namun kenikmatan sebagai pria normal mulai bangkit. Miliknya di bawah sana sudah tidak bisa lagi disembunyikan, sudah mengeras maksimal

Apalagi Selvi juga kadang sengaja menggoyangkan pinggulnya, sehingga membuatnya semakin keras.

Latihan hari itu, mereka mulai di halaman rumah Selvi yang luas. Tanpa terasa, waktu sudah beranjak. Langit mulai gelap, sekarang Selvi sudah mulai lancar maju beberapa meter.

“Hari ini kita selesai, akan lanjut besok, Nyonya,” ujar Bimo.

Sebenarnya, sejak tadi Bimo ingin menyudahi latihan ini, tapi Selvi selalu menolak. Berbagai cara ia lakukan untuk menahan Bimo.

“Baiklah.”

Ciiit!

Selvi menghentikan mobil secara mendadak di sudut garasi yang gelap. Ia berbalik memepet dan menekan tubuh Bimo, menguncinya dengan tatapan lapar.

“Bimo, aku bisa menaikkan gajimu tiga kali lipat dari sekarang,” bisiknya.

“Kenapa, Nyonya—“

“Kamu hanya perlu nurut denganku,” potong Selvi cepat sambil kembali menekan bagian bawah Bimo.

“Nyonya, aku—“

“Kamu juga suka, kan?” tanya Selvi.

Bimo merasa harga dirinya dipertaruhkan demi uang untuk melunasi utang dan juga demi pengobatan lanjutan untuk ibunya. 

Selvi meraup bibir Bimo, ia menuntun tangan Bimo untuk masuk ke balik kain sutranya yang lembab.

Bimo mulai goyah dan akhirnya membalas ciuman Selvi dengan kasar, menyalurkan insting pria desanya.

“Ikuti gerakanku,” bisik Selvi saat merasa kalau ciuman Bimo masih begitu kaku dan kasar.

Bimo mulai terbawa suasana, tangannya bergerak cepat untuk membuka kancing celananya, membebaskan miliknya yang tadi menyesak ingin keluar.

“Wow, besar sekali,” ujar Selvi sambil menyingkap dressnya ke atas dan membuka kakinya lebar-lebar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gumandasa Gumandasa
malas bacanya iklannya banyak mengganggu yg baca..!?!!
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 153

    "Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 152

    "Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 151

    Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 150

    "Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 149

    "Apa aku tidak salah dengar? Kamu menikmatinya?" tanya Bimo heran. "Tentu," jawab Andi. "Kalau begitu, selamat menikmatinya," ucap Bimo akhirnya karena ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tidak kenal Andi. Apakah benar lelaki itu benar-benar menikmati perannya saat ini atau karena tidak punya pilihan lain? "Memangnya kamu tidak menikmatinya? Bahkan yang dibilang dalam beberapa hari kamu bergabung dengan para nyonya sosialita itu, kamu sudah melunaskan utangmu di desa." "Aku ingin melepaskan diri," jawab Bimo. Andi tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bimo. Mungkin ia merasa lucu ada seorang gigolo yang sedang galau, yang ingin melepaskan diri dari jerat para wanita. Padahal jelas selama ini ia menikmati uang yang banyak itu. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Bimo kesal. "Iya, baru kali ini aku melihat manusia munafik seperti kamu. Ternyata di balik pujian para wanita itu, kamu adalah manusia yang sangat munafik." Bimo membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan o

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 148

    "Apa kamu sudah berani melawanku, Bimo?" tanya Nyonya Rossa menatap Bimo dengan tajam. Pastinya Nyonya Rossa tidak pernah menyangka kalau Bimo berani menolak permintaannya. Bimo tidak ingin menandatangani surat pembaharuan perjanjian yang ia buat. "Aku tidak melawan. Aku hanya mengemukakan pendapatku. Dan karena kontrak pertama kita sudah berakhir, jadi aku tidak terikat dengan siapapun dan aku berhak menolak," jawab Bimo. "Kamu sudah bosan hidup?" "Hidup dan matiku bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan." "Bimo, kamu tahu betapa banyaknya kerugian yang kamu alami kalau menolak kontrak ini. Uang puluhan juta yang kamu terima selama ini akan lenyap. Hidupmu akan kembali sengsara dan miskin." Bimo menghela napas berat. Ia tahu sekali terikat dengan mereka sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Tapi Bimo sudah bertekad, kali ini ia akan lepas. "Kali ini pesertanya bukan lagi yang lama, tapi orang-orang yang baru dan hanya lima orang," ujar Nyonya Rossa kemudian sambil m

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 54

    "Ini hanya bekas, Gus," ujar Bimo, mengurungkan niatnya untuk menjawab panggilan telepon. Ia malah kembali memasukkan ponselnya ke saku celana, jadi malu untuk mengeluarkan ponselnya. Takutnya Agus semakin curiga padanya."Walaupun bekas, itu masih mahal, loh. Masih puluhan juta," jawab Agus."Ini

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 24

    "A-aku... mau ke toilet," ujar Bimo.Wina mengulum senyum. "Toilet disana."Wina menunjukkan arah toilet dengan sengaja mencondongkan tubuhnya lebih dekat."Oh, oke."Bimo segera bangkit menuju ke toilet yang tidak jauh dari ruang tamu itu.Klik!Bimo menutup pintu, dan berdiri di balik pintu sambi

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 5

    Bimo menatap Selvi dengan tajam, napasnya mulai memberat. "Nyonya yakin mau melakukan ini?" tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi.Selvi tersenyum menggoda, menatap tepat ke mata pria itu. "Tentu saja. Apalagi yang kamu tunggu?”Bimo menatap Selvi dengan tajam. Tanpa ragu, ia melepaskan

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 4

    Keesokan paginya, Bimo kembali ke kantor. Ini adalah hari kedua ia bekerja sebagai instruktur mengemudi, tapi ia menyebut pekerjaannya adalah uji nyali.“Entah, gebrakan apa lagi yang akan Nyonya Selvi berikan hari ini,” gumam Bimo sambil berjalan santai menuju loker kerjanya.Ia ditugaskan menjadi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status