Share

Bab 4

Author: Hare Ra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-25 14:24:05

Keesokan paginya, Bimo kembali ke kantor. Ini adalah hari kedua ia bekerja sebagai instruktur mengemudi, tapi ia menyebut pekerjaannya adalah uji nyali.

“Entah, gebrakan apa lagi yang akan Nyonya Selvi berikan hari ini,” gumam Bimo sambil berjalan santai menuju loker kerjanya.

Ia ditugaskan menjadi instruktur Selvi selama wanita itu belum mahir atau paling lama sebulan. Bimo hanya menurut saja, karena ia butuh pekerjaan ini.

Ceklek!

Bimo membuka loker kerjanya, namun ia terkejut saat mendapati ada beberapa barang disana yang bukan miliknya.

“Apa ini?” tanya Bimo pada dirinya sendiri.

Bimo mengernyitkan keningnya melihat itu, ia heran. Apa memang ini adalah tradisi tempatnya, atau ini hanya untuknya?

Dan ternyata diatasnya ada secarik kertas memo, Bimo membaca pesan yang ditulis tangan dengan sangat rapi itu.

‘[Gunakan ini untuk kencan malam ini — Rossa.]’

“Rossa?” tanya Bimo bingung, sebab ia baru mendengar nama itu, ia tidak kenal dengan orang yang bernama Rossa.

Tapi, pesan yang ditinggalkan Rossa itu seolah-olah ia sudah tahu kalau malam ini Bimo memiliki janji untuk bertemu dengan Selvi.

“Kenapa dia bisa tahu?”

Bimo meremas kertas itu dan melihat kotak di dalam lokernya itu, ternyata sebuah kemeja mewah dan parfum yang memiliki desain yang elegan, kemungkinan harganya mahal, bahkan mungkin melebihi dari gajinya sebulan.

Bimo semakin bingung, ia tampak terdiam beberapa saat di depan lokernya.

“Ada apa, Bim?” tanya Agus, salah satu rekan kerjanya yang juga seorang instruktur.

Ingin sekali Bimo bertanya pada Agus, apakah ia juga seperti dirinya? Disamping mengajar, ia juga digoda. Tapi, Bimo mengurungkan niatnya. Ia hanya memilih diam.

“Tidak apa-apa, Gus,” jawab Bimo.

“Tapi, kamu tampak melamun. Sejak tadi Pak Cipto menunggu kamu, katanya klien kamu sudah menelpon sejak tadi.”

“Ah, iya. Ini sudah waktunya mulai bekerja,” jawab Bimo dengan memaksakan tersenyum.

**

Tepat pukul sepuluh malam, Bimo sudah tiba di sebuah villa seperti yang dijanjikan Selvi.

Villa itu terletak di area  perbukitan dan jauh lebih privat. Lampu temaram di halaman villa menyambut kedatangan Bimo.

Bimo merasa seperti ada orang yang mengikutinya dari belakang, bulu kuduknya berdiri.

“Ah, tidak mungkin,” ucap Bimo membesarkan hatinya. Ia menyimpulkan kalau itu hanya rasa ketakutannya saja.

Bimo melangkah masuk pada pintu yang tidak terkunci, dan disana Selvi menyambutnya di ruang tengah dengan satu gelas wine di tangan.

Selvi mengenakan dress transparan tanpa dalaman, sehingga Bimo hampir melihat segalanya. Bahkan mungkin percuma saja mengenakan pakaian, kalau sudah terlihat tanpa harus membukanya.

Selvi tidak berkedip melihat penampilan Bimo malam ini, karena ternyata setelah mengenakan kemeja mahal dan wangi parfum mewah, seolah kelas Bimo langsung meningkat.

“Akhirnya kau datang juga. Kau terlihat sangat ganteng, dan aku suka melihat penampilanmu malam ini,” ucap Selvi sembari berdiri dan menyodorkan gelas minuman beralkohol itu kepada Bimo.

Bimo menolak minuman itu. “Maaf, Nyonya. Aku tidak minum.”

“Ini membuat tubuhmu hangat dan rileks. Kau pasti capek dan dingin mengendarai motor ke tempat ini,” jawab Selvi memaksa.

Akhirnya, Bimo tidak bisa menolak. Satu gelas kecil itu tandas diminumnya dalam sekali teguk, meskipun tenggorokannya terasa hangat ketika minuman itu melewati tenggorokannya, karena selama ini, ia tidak pernah menyentuh minuman itu.

Selvi mendorong tubuh Bimo ke belakang, ia tidak memberikan kesempatan kepada Bimo untuk beristirahat sejenak.

“Puaskan aku malam ini, dan aku akan membayarmu berapapun yang kau minta. Ini diluar dari gaji rutinmu,” ucap Selvi sembari melingkarkan tangannya di leher Bimo.

Wajah mereka yang cukup dekat, Bimo bisa mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari helaan napas Selvi.

Klik!

Selvi mengunci pintu depan, lalu mencabutnya dan melemparkan kunci itu ke halaman melalui celah jendela yang terbuka.

“Nyonya, kenapa dibuang? Bagaimana nanti kita keluar?” tanya Bimo panik.

Selvi mengelus wajah Bimo dengan kuku panjangnya yang di cat pink. “Tenang, Sayang. Kita tidak akan keluar sebelum aku puas.”

“Tapi, Nyonya—“

“Jangan takut, kau boleh memiliki tubuhku sepuasnya malam ini. Puaskan aku, dan aku membayar  semuanya dengan harga yang mahal. Aku juga akan melunaskan utang ayahmu,” potong Selvi sambil berbisik.

Mendengar utang sang ayah kembali diungkit, Bimo kembali bertekad untuk membuat kedua orang tuanya bahagia. Ia harus mencari uang sebanyak-banyaknya.

“Bagaimana kalau suami Nyonya kembali datang?” tanya Bimo takut.

“Dia tidak akan tahu tempat ini. Aku sudah tidak sabar menikmati tubuhmu, Bimo. Berikan aku kepuasan dengan tenaga besarmu ini.”

Selvi memegang lengan Bimo yang besar, Bram juga memilikinya hasil rutin gym. Tapi, Bram tidak pernah benar-benar memuaskannya. Apalagi tangan kasar Bimo saat menyentuhnya, Selvi seperti terbang hanya dengan sentuhan tangan Bimo.

Ia sangat kesepian, di pernikahannya yang sudah dua tahun bersama Bram, ia tidak pernah merasakan apa itu orgasme. Bram sangat cuek dan acuh, hanya sibuk dengan bisnis dan perusahaannya. Bahkan, sangat jarang sekali pulang ke rumah, dalam sebulan tidak lebih dari lima kali.

Sehingga, Selvi haus akan belaian lelaki. Ia mencari kepuasannya di luar.

“Puaskan aku malam ini, Bimo,” ucap Selvi sembari melepaskan gaunnya sepenuhnya.

Ia membiarkan pakaiannya teronggok di lantai, dan ia mulai menggoda Bimo.

“Nyonya, apakah sekarang?” tanya Bimo.

“Iya.” Bibir Selvi langsung melumat bibir Bimo, tangannya mulai melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Bimo. Dan Selvi terpana ketika melihat bentuk tubuh Bimo yang begitu indah, perutnya yang membentuk kotak-kotak itu semakin menantangnya.

“Sentuh aku, Bimo,” bisik Selvi meraih tangan Bimo dan meletakkannya di atas dadanya.

Tangan Bimo penuh dengan benda kenyal yang padat itu, buah cerinya sudah memerah dan mengeras sempurna. 

Bimo tahu, saat ini tidak ada lagi jalan keluar baginya. Ia tidak punya kesempatan memilih antara harga diri dan uang untuk keluarganya, karena dalam bayangannya saat ini utang ayahnya akan segera lunas.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 153

    "Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 152

    "Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 151

    Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 150

    "Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 149

    "Apa aku tidak salah dengar? Kamu menikmatinya?" tanya Bimo heran. "Tentu," jawab Andi. "Kalau begitu, selamat menikmatinya," ucap Bimo akhirnya karena ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia juga tidak kenal Andi. Apakah benar lelaki itu benar-benar menikmati perannya saat ini atau karena tidak punya pilihan lain? "Memangnya kamu tidak menikmatinya? Bahkan yang dibilang dalam beberapa hari kamu bergabung dengan para nyonya sosialita itu, kamu sudah melunaskan utangmu di desa." "Aku ingin melepaskan diri," jawab Bimo. Andi tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Bimo. Mungkin ia merasa lucu ada seorang gigolo yang sedang galau, yang ingin melepaskan diri dari jerat para wanita. Padahal jelas selama ini ia menikmati uang yang banyak itu. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Bimo kesal. "Iya, baru kali ini aku melihat manusia munafik seperti kamu. Ternyata di balik pujian para wanita itu, kamu adalah manusia yang sangat munafik." Bimo membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan o

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 148

    "Apa kamu sudah berani melawanku, Bimo?" tanya Nyonya Rossa menatap Bimo dengan tajam. Pastinya Nyonya Rossa tidak pernah menyangka kalau Bimo berani menolak permintaannya. Bimo tidak ingin menandatangani surat pembaharuan perjanjian yang ia buat. "Aku tidak melawan. Aku hanya mengemukakan pendapatku. Dan karena kontrak pertama kita sudah berakhir, jadi aku tidak terikat dengan siapapun dan aku berhak menolak," jawab Bimo. "Kamu sudah bosan hidup?" "Hidup dan matiku bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan." "Bimo, kamu tahu betapa banyaknya kerugian yang kamu alami kalau menolak kontrak ini. Uang puluhan juta yang kamu terima selama ini akan lenyap. Hidupmu akan kembali sengsara dan miskin." Bimo menghela napas berat. Ia tahu sekali terikat dengan mereka sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Tapi Bimo sudah bertekad, kali ini ia akan lepas. "Kali ini pesertanya bukan lagi yang lama, tapi orang-orang yang baru dan hanya lima orang," ujar Nyonya Rossa kemudian sambil m

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 5

    Bimo menatap Selvi dengan tajam, napasnya mulai memberat. "Nyonya yakin mau melakukan ini?" tanyanya dengan suara rendah yang mengintimidasi.Selvi tersenyum menggoda, menatap tepat ke mata pria itu. "Tentu saja. Apalagi yang kamu tunggu?”Bimo menatap Selvi dengan tajam. Tanpa ragu, ia melepaskan

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 3

    “Nyonya…” “Bimo, kasihan dia sudah sangat keras,” bisik Selvi di telinga Bimo. Bimo masih sedikit ragu. Ia tahu, ini salah. Tidak seharusnya seperti ini, dan tugasnya adalah menjadi instruktur, bukan menjadi pemuas nafsu. Tapi, keadaan ini benar-benar diluar kendalinya, apalagi Selvi dengan

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 2

    “Nyonya maaf, jangan seperti ini,” ujar Bimo menarik kembali tangannya yang gemetar tidak karuan.Ia bisa merasakan pangkal paha Selvi yang lembab itu, dan ia yakin di dalam sana mungkin sudah basah.“Kenapa?”“Saya ditugaskan untuk menjadi instruktur, Nyonya.”“Ini juga bagian dari kursus kok,” ja

  • Pria Desa Jadi Arisan Sosialita   Bab 1

    “Nak, maafkan bapak dan Ibu ya. Kamu sampai harus kerja merantau demi kami…”Bimo mengusap wajahnya yang berminyak. Tangannya gemetar memegang ponsel, mendengar suara parau ibunya. Di hadapannya kini berdiri rumah mewah bercat putih dengan pagar setinggi dua meter. Bimo tak pernah membayangkan aka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status