로그인Bara bangkit dari kursinya dengan tenang. Ia menatap Maya yang masih terduduk lemas di balik meja kerjanya. Tubuh wanita itu tampak kaku, riasan wajahnya yang tebal tak mampu menyembunyikan pucat pasi di pipi."Rapatkan kancing blazermu, Mbak. Hapus keringatmu sebelum Bapak datang," ucap Bara datar sambil menunjuk kerah blazer Maya yang melorot.Sret!Dengan tangan gemetar, Maya buru-buru menarik kerah blazernya dan merapikan kancing atas kemejanya. Napasnya masih tersengal pendek, membuat belahan dadanya naik-turun kencang di balik kain sutra tipis itu."I-iya, Bar... saya nurut," cicit Maya dengan suara nyaris berbisik. Matanya memandang Bara dengan tatapan takut bercampur tunduk.Tuk! Tuk!Bara melangkah santai menuju lorong lift lantai lima. Di tempat yang sepi, ia mengeluarkan ponselnya yang masih bergetar di saku celana.Bzzzt...Ia menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga."Halo," sapa Bara dengan suara berat dan tenang."Bara! Lo ke mana aja
Bara duduk di tepi ranjang. Kamar belakang itu remang. Jarum jam di dinding menunjuk pukul 23.30.Bara membuka laci meja kecil di samping kasur. Sebuah flashdisk hitam dan map tipis salinan laporan keuangan ia letakkan di pangkuan.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk tiga kali dari luar.Bara memasukkan map kembali ke laci, lalu melangkah dan memutar kunci pintu.Kriet.Marissa berdiri di lorong gelap. Gaun tidur sutra krem yang tipis itu hanya ditutupi kardigan rajut pendek. Lekuk buah dadanya yang padat terlihat jelas menonjol di balik kain sutra saat wanita itu menarik napas cepat."Bara..." bisik Marissa gemetar.Marissa melangkah maju satu jengkal. Bau wangi melati dari leher mulusnya langsung menusuk hidung Bara."Ada apa, Tante?" tanya Bara datar."Bapakmu baru tidur setelah minum obat penenang," cicit Marissa pelan. Matanya yang bulat tampak basah dan gelisah. "Tapi tadi dia sempat telepon pengacaranya.""Mau apa Bapak?""Bapak mau alihkan sebagian sisa saham kantor atas nama Keyla s
Bara menatap lurus ke arah Sandra. Matanya mengunci pandangan gadis di depannya tanpa berkedip."Aku serius, Sandra," ucap Bara dengan nada rendah dan mantap. "Kalau kamu mau aku bantu, ikuti instruksiku. Jangan gegabah."Sandra menelan ludah. Wajahnya yang memerah masih basah oleh keringat tipis. Ia mengangguk pelan."O-oke... gue dengerin omongan lo," cicit Sandra. Bibirnya yang dipoles lip balm merah muda mengerucut. "Tapi lo janji ya, Bar... jangan sampai nenek sihir itu rebut peninggalan Nyokap gue.""Dia tidak akan berhasil," jawab Bara singkat.Tangan besar Bara terangkat, menepuk bahu mulus Sandra yang terbuka di balik crop top putihnya. Kulit lehernya yang mulus bergetar halus saat bersentuhan dengan jari-jari Bara."Sekarang kamu pulang. Bersihkan badan, lalu bersikap biasa saja di depan papamu," kata Bara. "Jangan tunjukkan kalau kamu tahu rencana Monica.""Gue pulang duluan, Bar," pamit Sandra pelan.Sandra meraih tas mewahnya dari sofa, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Lo pikir gue mesin, hah?!" bentak Sandra melotot.Gadis itu berdiri tegak di depan cermin, menghentikan posisi squat-nya. Kaos crop top putih ketatnya makin tertarik ke atas, memamerkan perut mulusnya yang kencang. Dua gundukan dadanya yang montok menonjol menantang, naik-turun cepat seiring napasnya yang terengah-engah. Celana pendek abu-abu ketatnya mencekik paha mulusnya yang tampak lelah.Bara berdiri di sampingnya dengan jarak aman, memperhatikan postur Sandra dengan teliti. Matanya bergerak menilai paha dan lutut gadis itu agar tidak terkilir. Anak kota yang dulu selalu merundungnya di sekolah ini sekarang menurut di bawah bimbingannya. Rasa puas merayap pelan di dada Bara."Lanjut sepuluh kali, Sandra. Gerakannya dijaga, lututnya jangan melebihi ujung kaki," ucap Bara sopan namun tegas.Whuush!Sandra memutar tubuhnya cepat menghadap Bara. Rambut panjang kuncir kudanya mengibas udara, menyebarkan aroma parfum vanila yang manis dan pekat ke hidung Bara."Bara! Lo bener-bener ga
Handoko tertegun. Bibirnya bergetar menahan amarah yang menyangkut di tenggorokan. Nada suara Bara yang terlampau tenang justru terasa seperti ancaman paling berbahaya. Pria tua itu tahu betul, kalau masalah ini sampai ke tangan orang luar, kebobrokan keuangan perusahaan yang ia tutup-tutupi selama bertahun-tahun bakal terbongkar total."Kamu... benar-benar anak gak tahu diri!" bentak Handoko parau.Tangannya melayang di udara, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Bara.Sret!Gerakan Handoko berhenti mendadak. Tangan besar Bara bergerak cepat mengunci pergelangan tangan tua itu tepat di udara. Cengkeraman Bara kuat seperti catok besi, tidak memberi ruang sedikit pun untuk bergerak."Argh!" Handoko meringis. Matanya melotot saat menyadari tenaganya kalah telak dari anak muda di depannya."Sudah cukup main fisiknya, Pak," ucap Bara datar, menatap lurus ke mata bapaknya dari jarak dekat. "Waktu Bapak untuk memukul atau membuang saya sudah habis belasan tahun lalu."Plak!Marissa y
Bara menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ruangan berukuran medium itu tampak temaram, hanya diterangi lampu meja yang berpendar kekuningan. Ia melempar tas gym ke sudut ruangan, lalu melepas polo hitamnya yang sedikit lembap oleh keringat.Otot-otot dadanya yang tegap dan kokoh terekspos jelas di bawah remang lampu. Amarah yang ditahannya di hadapan Handoko masih menyisakan hawa panas di dalam dadanya.Tiba-tiba, ponsel di atas mejanya bergetar hebat. Layar menyala menampilkan nama yang tidak asing.Sandra.Bara menyipitkan mata. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.15. Ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau, menempelkannya ke telinga tanpa bersuara."Bara! Lo jahat banget sih!" suara Sandra langsung menyambar, terdengar parau, manja, sekaligus ketus."Kenapa?" tanya Bara datar sambil mendudukkan diri di tepi ranjang."Kaki gue beneran lemas! Paha mulus gue rasanya mau copot gara-gara squat sepuluh set yang lo paksain tadi!" rengek Sandra dari balik telepon. Suara gese







