Masuk“Terima kasih atas pengertian papa... tapi keputusan saya sudah bulat. Apapun yang terjadi, pernikahan ini tidak bisa diselamatkan lagi, dan aku akan tetap menuntut perceraian karena kesalahan Kyle sudah melewati batas maafku,” ucap Arabella datar.Sakit hati dan kekecewaannya sudah tak bisa dibendung lagi. Kalimat tegas itu masih menggantung di udara lobi Adisurya Group, meninggalkan keheningan yang begitu pekat di antara sisa-sisa ampunan yang telah musnah.“Papa… bisakah papa pergi bersamaku untuk menjenguk ayah di rumah sakit?”Wijaya tak langsung menjawab. Setelah insiden memalukan yang meruntuhkan martabat Kyle di hadapan para karyawan, Wijaya memerintahkan Kyle untuk tetap diam. Dengan suara membentak penuh ketus, sang patriark melarang Kyle mendekat dan memaksa pria itu untuk tetap tinggal di kantor guna membereskan kekacauan yang ia perbuat. Sebaliknya, Wijaya justru melangkah menghampiri Arabella, menawarkan diri untuk mengantar menantunya pergi ke tempat tujuan dengan p
“Mau kemana. Aku ikut!” seru Kyle dengan nafas memburu begitu melihat Arabella melangkah keluar dari rumah menuju mobilnya.Arabella sama sekali tidak menggubris ucapan suaminya. Ia membuka pintu mobil, masuk, dan langsung menyalakan mesin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kyle. “Sial! Mau kemana wanita itu? Apa mau menemui selingkuhannya?” Kyle menebak-nebak.Namun, kepanikan yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Kyle nekat menyambar kunci mobilnya sendiri dan langsung melajukan kendaraannya membuntuti mobil sang istri dari belakang. Sepanjang perjalanan sore itu, Kyle terus menebak-nebak ke mana arah tujuan Arabella, hingga akhirnya ia melihat mobil istrinya berbelok memasuki area parkir basement gedung pencakar langit Adisurya Group, tempat dimana ayahnya, Wijaya, sedang mengambil alih pekerjaan kantor menggantikan posisinya hari ini.Seketika nyali Kyle menciut, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Begitu mobil Arabella terparkir dan wanita itu turun dengan mantel wol crea
“Apa maksudmu?”Tapi Arabella tak menjawab. Ia berlalu, menaiki anak tangga, mengabaikan Kyle yang terus memanggilnya. Langkahnya santai. Sesampainya di kamar ia segera menutup pintu dan menguncinya.“Ara, kumohon... katakan padaku apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan sekarang!”Suara Kyle memantul parau dan penuh keputusasaan dari balik pintu kamar yang tertutup rapat, menyiratkan betapa hancurnya pertahanan mental pria itu di siang hari bolong ini.Di dalam kamar yang temaram, Arabella sama sekali tidak bergeming dari posisinya di dekat meja rias. Ia berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap lurus pada pantulan bayangannya sendiri di cermin yang kini memancarkan ketenangan mutlak sekaligus ketajaman sorot mata seorang pemangsa sejati. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata ataupun rasa takut yang dulu sempat menghantuinya setiap kali pria di luar sana meninggikan suara. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah detak jantung berirama konstan, menghitung mundur detik-detik kehancu
“Terima kasih Ren. Aku sangat berhutang budi padamu.”Arabella membalas pesan Ren dengan senyuman. Setelah menerima foto itu, Arabella langsung meneruskannya pada Baskara, pengacara pribadi keluarganya.Setelah mengirim pesan, Ara lanjut menelpon pengacaranya tersebut. Tidak butuh waktu lama, sambungan mereka terhubung.“Halo, pak Baskara? Apakah Anda sudah menerima pesan saya? Aku mau besok kita bertemu untuk membahas langkah selanjutnya soal perceraianku dengan Kyle."“Baik nona. Kita akan bertemu di kantor saya agar lebih aman,” balas Baskara dari ujung sana.“Baik. Aku akan menemuimu jam sembilan pagi.”Telepon itu langsung ditutup. Arabella kembali melihat keluar dari jendela. Ia yakin pasti malam ini suaminya tidak akan pulang, sama seperti yang sebelum-sebelumnya.Pagi telah datang. Arabella yang baru terbangun langsung melihat ke arah pekarangan dan melihat mobil Kyle masih belum terparkir di depan rumah. Ia sudah tidak peduli jika pria itu akan pulang atau tidak. Yang hanya d
"Kyle! Kenapa lama sekali datangnya?!"Suara tangisan histeris bercampur amarah itu langsung menyergap indra pendengaran Kyle begitu ia mendorong pintu VIP sebuah klub malam elit di kawasan Jakarta Selatan. Tempat itu remang-remang, dipenuhi bau alkohol, keringat, dan dentuman bass musik elektronik yang memekakkan telinga.Kyle, yang datang dengan nafas memburu dan kemeja setengah berantakan akibat menyetir ugal-ugalan dari rumahnya, langsung memindai sekeliling hingga matanya menangkap sosok Vanessa. Wanita itu duduk di sudut sofa beludru merah, dengan riasan wajah yang luntur akibat air mata dan tatapan kosong penuh frustasi. Di hadapannya, beberapa gelas kosong terserak tidak beraturan.Tanpa membuang waktu, Kyle melangkah cepat dan langsung mencengkram lengan Vanessa, menarik wanita itu berdiri agar tidak menarik perhatian orang lain di klub tersebut."Kau sudah gila, Vanessa?!" desis Kyle tajam tepat di depan wajah wanita itu, suaranya tertahan oleh bisingnya musik. "Beran
"Kau pikir ancamanmu bisa membuatku takut, hah?!" seru Vanessa dengan suara yang bergetar hebat, napasnya memburu akibat amarah dan alkohol yang mengalir deras di pembuluh darahnya.Wanita itu melangkah maju mendekati Ren, menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. Di sudut klub malam yang bising dan remang-remang itu, Vanessa mengerahkan seluruh sisa keberaniannya untuk melontarkan kartu truf terakhir yang ia miliki demi memecah ketenangan pria brengsek di hadapannya."Asal kau tahu saja, aku sedang mengandung anak Kyle!" teriak Vanessa tepat di depan wajah Ren, mencoba menciptakan kepanikan. "Jadi jangan sok mengaturku! Kalau Kyle tahu aku dihamili olehnya, dia pasti akan mencampakkan Arabella dan memilihku sepenuhnya!"Ren sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Pria itu justru melipat tangannya di dada. Lalu tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang terdengar sangat meremehkan di telinga Vanessa."Kau mau mengaku sedang mengandung anak siap







