LOGIN"Kau benar-benar sudah kehilangan akal, Kyle! Berani sekali kau menyentuhku saat aku tidur?!"Suara bentakan Arabella menggema di sudut-sudut kamar utama yang luas itu, memecah kesunyian malam dengan gelombang amarah yang tidak lagi bisa ia bendung. Wanita itu langsung melompat mundur, merapatkan punggungnya ke kepala ranjang sambil menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, sementara tatapannya menembus kegelapan kamar dengan sorot kebencian yang teramat pekat.Di hadapannya, Kyle tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Pria itu justru duduk santai di tepi ranjang dengan postur tegap, menampilkan senyum miring yang menyebalkan. Sentuhan tangan asing yang barusan meraba pipinya masih menyisakan sensasi jijik yang luar biasa di kulit Arabella."Kenapa kaget begitu, Ara? Aku hanya ingin melihat apakah istriku ini tidur dengan nyenyak setelah melewati hari yang melelahkan. Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu," jawab Kyle dengan nada suara yang sengaja dibuat lemb
"Ara?"Suara Kyle yang tajam dan menuntut terdengar jelas dari balik pintu kamar Arabella.Suara itu memecah keheningan yang baru saja tercipta selepas Arabella memutus sambungan teleponnya dengan Ren. Disusul kemudian dengan ketukan tegas yang berkali-kali menghantam daun pintu, mencerminkan ketidaksabaran pria itu.Di dalam kamar yang luas tersebut, Arabella sedikit tersentak. Namun, wanita itu tidak panik. Dengan gerakan sigap yang sangat terlatih dan tidak menimbulkan suara, ia langsung menyembunyikan ponsel di dalam tasnya, lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan debar jantung serta ekspresi wajahnya. Setelah memastikan penampilannya tampak tenang dan tanpa cela, Arabella melangkah mendekat dan memutar gagang pintu dari dalam.Pintu terbuka perlahan. Kyle berdiri tepat di ambang pintu dengan kemeja kerjanya yang kini tampak sedikit kusut dan sisa lebam samar di rahang akibat hantaman tangan sang ayah, Wijaya kemarin. Pria itu menatap Arabella dari atas sampai bawah d
"Ayo turun, Ara," ucap Kyle dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba menampilkan citra seorang suami yang perhatian dan penuh kasih di hadapan publik rumahnya.“Kenapa kau membawaku kesini?” Alis Arabella bertaut.“Tentu untuk meluruskan kesalahpahaman kita pada papa dan mama. Aku ingin kau menjelaskan pada mereka soal pernikahan kita.”Mobil hitam yang dikemudikan Kyle sudah memasuki halaman luas kediaman Adisurya, memecah kesunyian siang yang terik. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan yang kaku dan pekat di dalam kabin. Kyle menarik napas panjang, merasa bahwa ia telah berhasil menaklukkan situasi, meredam badai, dan mengembalikan kendali penuh atas hidup serta rumah tangganya. Egoisnya yang sempat terkoyak kini kembali berdiri tegak.Arabella membuka pintu sisi penumpangnya secara perlahan dan melangkah keluar. Udara siang itu menyambut wajahnya yang pucat. Ia menatap bangunan megah rumah keluarga Adisurya itu, tempat dimana ia selama ini terjebak dalam kepalsuan p
"Kau lihat sendiri kan, Ara?" ucap Kyle dengan nada memamerkan kemenangan. "Pada akhirnya, kau tetap tidak punya pilihan selain kembali padaku. Pria kafe jalanan yang kau bangga-banggakan itu... dia tidak ada apa-apanya saat berhadapan dengan kenyataan. Dia cuma penonton luar yang tidak punya hak sedikit pun atas hidupmu."Kyle menoleh sejenak melihat wajah istrinya yang duduk terdiam di kursi penumpang depan, samping Kyle.Arabella tidak merespons. Ia bahkan tidak memutar kepalanya satu milimeter pun untuk menatap Kyle. Diamnya Arabella justru memicu dorongan provokasi di dalam diri Kyle yang masih menyimpan dendam atas persetubuhan emosional dan fisik antara Arabella dan Ren."Aku cuma penasaran," lanjut Kyle, nada suaranya berubah menjadi lebih tajam dan bernada tuduhan. "Sudah sejauh mana kau menjual dirimu pada bajingan itu, hah? Apakah kau menikmatinya? Kau berlagak seperti wanita suci dan teraniaya di depan Papa dan Mama, tapi di belakangku kau berkeliaran dengan pria lain
Pintu kaca ruang VIP terbuka perlahan. Setiap langkah kaki yang diayunkan Arabella terasa begitu berat, seolah ia sedang menyeret rantai besi tak kasat mata. Di belakangnya, Kyle melangkah dengan gaya tenang namun memancarkan keangkuhan yang nyata, seolah-olah seluruh koridor itu adalah wilayah kekuasaannya.Ren masih berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada dinding lorong tak jauh dari kamar VIP. Pria itu menengok seketika saat mendengar pintu terbuka. Sorot matanya yang semula tajam dan dingin mendadak melembut begitu menangkap sosok Arabella yang tampak lesu dengan wajah pucat membendung beban mendalam.Tanpa memperdulikan keberadaan Kyle, Ren melangkah maju mendekati Arabella. Pria itu mengabaikan jarak profesionalisme dan langsung mengulurkan tangannya dengan hangat."Ara... gimana keadaan ayahmu?" tanya Ren lembut, suaranya seperti oase di tengah gurun kekacauan yang menghimpit dada Arabella. "Ayo, aku antar kamu pulang. Kamu butuh istirahat, wajahmu pucat banget."Re
“Papa, sudah sadar?” Suara Kyle meluncur mulus, terdengar begitu tulus dan sarat akan penyesalan semu. Pria itu berdiri di sisi ranjang rumah sakit dengan postur membungkuk hormat, menampakkan citra seorang menantu teladan yang sedang dilanda rasa bersalah mendalam.Begitu pintu kaca kamar VIP tertutup rapat di belakang punggungnya, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi panggung sandiwara yang memuakkan. Kyle yang sedetik lalu masih menunjukkan seringai arogan di hadapan Ren, kini dengan lihai memutar balik gesturnya menjadi pria penuh iba. Ia bahkan membiarkan matanya sedikit memerah, menciptakan ilusi seolah-olah ia adalah korban dari kesalahpahaman rumah tangga yang hampir menghancurkan hidupnya.“Pa, Kyle disini. Papa tenang saja, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan Ara dan aku akan selalu menjaga perusahaan keluarga ini.”Arabella, yang berdiri tidak jauh dari sudut ruangan, harus menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa a







