공유

Bab 143

작가: Kayla Sango
Ketika aku tiba di kafe, Alex sudah ada di sana, duduk di meja yang sama seperti terakhir kali. Dia berdandan lebih rapi dari biasanya dengan rambut yang ditata sempurna, kemeja biru yang licin, dan parfum yang dulu selalu dia pakai setiap kali ingin membuatku terkesan. Jelas sekali dia datang ke sini bukan hanya untuk berbicara.

"Vivian," katanya sambil berdiri saat melihatku. Dia mencondongkan tubuh untuk mencium pipiku, tapi aku melangkah mundur.

"Alex," jawabku dingin dan langsung duduk tanp
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 146

    Reaksi Damar saat mendengar kabar bahwa dia akan menjadi kakek buyut tampak persis seperti yang aku harapkan, bahkan lebih dari itu.Selama beberapa detik yang terasa panjang, dia sama sekali tidak bergerak, seolah pikirannya butuh waktu untuk mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Adriel. Lalu matanya dipenuhi air mata, dan senyum cerah yang hampir seperti anak kecil perlahan menyebar di wajahnya yang penuh keriput."Seorang bayi ...." bisiknya dengan suaranya yang bergetar oleh emosi. "Seorang bayi … dalam keluarga ini … setelah sekian lama .…"Kemudian dia tenggelam dalam kebahagiaan yang begitu tulus. Dia berdiri dari kursinya dengan kelincahan yang mengejutkan dan menarik kami berdua ke dalam pelukan erat yang berlangsung lama sekali. Kata-katanya mengalir dalam campuran bahasa Maravinese dan Valentia yang cepat dengan luapan kebahagiaan."Ini kabar terbaik yang pernah ada!" serunya dan mencium puncak kepalaku berulang kali. "Bayi keluarga kita! Akhirnya, akhirnya!"Makan mal

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 145

    Aku tidak pernah menyangka secara manusiawi mungkin untuk mencabut seluruh kehidupan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Tapi ini beneran terjadi. Aku menatap ke luar jendela jet pribadi saat Telaga Permata mengecil di bawah kami, seluruh duniaku kini hanya tersisa beberapa koper yang disimpan di bagasi.Kami berhasil mengemas semuanya dalam satu hari, itu merupakan sebuah hal yang masih terasa tidak nyata. Adriel menyewa tim pindahan profesional yang bekerja seperti koloni semut, mengemas setiap barang, setiap kenangan, setiap bagian kecil dari kehidupan yang aku bangun di apartemen kecil itu. Kami pun mengembalikan kunci kepada pemilik, sementara Adriel bahkan tidak berkedip melihat biaya pemutusan kontrak lebih awal atau noda anggur merah mencurigakan di dinding. Saat pria itu mencoba berdebat soal penalti dan klausul, Adriel hanya mengeluarkan ponselnya, melakukan transfer dalam jumlah cukup besar yang langsung membuatnya diam, dan selesai sudah.Begitu saja, hidupku tersu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 144

    Adriel sudah membungkuk di atas meja makan selama lebih dari dua jam, meneliti berkas-berkas yang Alex ambil dari komputer Elisa. Hard drive, email yang dicetak, kata sandi dan login, cadangan chat, dan tangkapan layar transfer bank. Segunung data terbentang di hadapan kami, seperti kepingan-kepingan dari sebuah teka-teki kelam yang rumit."Ada menemukan sesuatu?" tanyaku, berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir kopi panas.Dia mengembuskan napas berat, menyibakkan rambutnya dengan satu tangan, kelelahan jelas terlihat di wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah menjelaskan segalanya, dia hampir tidak tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali."Selain yang sudah jelas, tidak banyak." Dia ngaku sambil menerima cangkir dariku lalu menyesapnya. "Ada banyak percakapan dengan Lydia, beberapa di antaranya terlalu pribadi dan ditambah beberapa transfer mencurigakan dan kontak Euradia yang tidak aku kenal. Tapi tidak ada yang berupa pengakuan langsung. Tidak ada yang bisa kita pa

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 143

    Ketika aku tiba di kafe, Alex sudah ada di sana, duduk di meja yang sama seperti terakhir kali. Dia berdandan lebih rapi dari biasanya dengan rambut yang ditata sempurna, kemeja biru yang licin, dan parfum yang dulu selalu dia pakai setiap kali ingin membuatku terkesan. Jelas sekali dia datang ke sini bukan hanya untuk berbicara."Vivian," katanya sambil berdiri saat melihatku. Dia mencondongkan tubuh untuk mencium pipiku, tapi aku melangkah mundur."Alex," jawabku dingin dan langsung duduk tanpa ragu."Kamu terlihat cantik," katanya sambil tersenyum dengan campuran kenangan lama dan tampak penuh harapan. "Gaun itu terlihat sempurna di kamu.""Terima kasih," kataku datar, lalu meletakkan tasku di atas meja di antara kami seperti penghalang fisik."Aku senang kamu menelepon," lanjutnya sedikit condong ke depan. "Aku sudah memikirkan percakapan terakhir kita, tentang semua yang kita katakan. Tentang kita.""Alex." Aku memotong tajam. "Kita jujur saja di sini."Dia berkedip, jelas terkeju

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 142

    Adriel masih mengancingkan kancing terakhir kemejanya saat aku membuka pintu dan mendapati Anna serta Rivan di luar. Adikku langsung masuk seperti badai dengan penuh energi dan antusiasme tentang berita pentingnya, sementara Rivan menyusul di belakangnya dengan wajah yang sangat serius sampai terasa kontras dengan suasana hati Anna. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari ketegangan di antara mereka. Mereka menjaga jarak sopan, dan ini sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada."Hai, Kak!" sapa Anna dan mengecup pipiku sebelum tiba-tiba berhenti. Matanya berpindah cepat antara aku dan Adriel, alisnya langsung terangkat. "Kenapa kalian berdua kelihatan seperti habis lari maraton? Dan kenapa Adriel kelihatan seperti kalah berantem sama sisir?"Wajahku langsung panas saat aku buru-buru merapikan rambut."Anna," gumamku yang malu setengah mati."Ohhh," katanya sambil tertawa saat melihat ekspresi Adriel. "Ngerti. Maaf soal waktunya, tapi sumpah ini penting!""Sebaiknya memang penting," gumam

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 141

    Sudut pandang Vivian.Cahaya lembut dari TV berkedip di wajah kami saat kami menonton film konyol tentang alien yang jatuh cinta dengan manusia. Adriel bersikeras kami butuh sesuatu yang santai dan tanpa stres, jujur saja, dia benar. Setelah semua yang kami lewati beberapa minggu terakhir ini, malam tenang di rumah memang tepat seperti yang kami butuhkan.Aku meringkuk di dadanya di atas sofa, sambil memegang mangkuk di pangkuanku yang berisi ngidam terbaruku yaitu es krim vanila dengan irisan acar dan mustar. Aku tahu ini terdengar menjijikkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memakannya."Vivian," kata Adriel sambil memperhatikanku mencelupkan acar lagi ke dalam es krim. "Itu mungkin hal paling aneh yang pernah kulihat kamu makan.""Bukan salahku," kataku sambil mengambil suapan besar. "Ini gara-gara hormon. Itu bikin aku ngidam hal-hal paling aneh.""Itu bahkan lebih dari sekedar aneh," godanya sambil mengecup puncak kepalaku. "Minggu lalu cokelat dan sarden. Sekarang ini.

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 75

    Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 72

    Aku sedang berusaha menenangkan diri di beranda ketika kulihat sosok yang familiar mendekat. Suara Lydia terdengar lebih dulu sebelum aku sempat melihatnya."Wah, Vivian, pertunjukan yang memalukan sekali," katanya, muncul dari bayangan seperti hantu yang tidak diundang. "Merusak sebotol Brunello 19

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 67

    Saat kami berjalan kembali ke festival, keheningan yang nyaman menyelimuti kami. Pengungkapan tentang masa lalu Adriel dengan Lydia masih membebani pikiranku, tapi entah bagaimana, aku merasa dia benar-benar terbuka padaku, dan memperlihatkan kerentanan yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun.Alun

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 69

    Bulan menebarkan cahaya peraknya di atas kebun anggur saat Adriel menarikku ke pelukannya dengan desakan yang sama seperti hasratku sendiri. Tidak ada kata-kata, hanya suara napas kami yang terengah-engah saat dia perlahan menurunkanku di antara barisan pohon anggur yang kini seolah menyandang namak

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status