Share

Bab 150

Author: Kayla Sango
Perjalanan ke Telaga Permata ternyata jauh lebih produktif dari yang kubayangkan. Aku memutuskan untuk datang langsung bersama Anna, Daniel, dan Febrian, seorang karyawan terpercaya Grup Mahendra yang ahli dalam operasi rahasia untuk melakukan wawancara bagi tim Humas baruku. Hotel Milani menjadi markas sementara kami.

Selama tiga hari terakhir, aku telah mewawancarai hampir dua puluh kandidat yang dipilih dengan cermat. Aku fokus terutama untuk merekrut beberapa mantan teman sekelas dari kursus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 210

    Telepon berdering jam tiga pagi di hari Jumat, dan langsung menarikku keluar dari tidur yang lelap. Untuk beberapa detik aku benar-benar tidak sadar, mencoba memahami di mana aku berada dan kenapa ponselku berisik di tengah malam Londoria.Saat akhirnya berhasil meraihnya dari meja samping tempat tidur, aku melihat nama Vivian berkedip di layar. Jantungku langsung melonjak. Telepon tengah malam tidak pernah berarti kabar baik."Kakak?" jawabku dengan suaraku yang masih berat oleh kantuk. "Kamu baik-baik saja? Ada sesuatu yang terjadi?""Hai, Anna!" Suara kakakku terlalu ceria untuk jam tiga pagi. "Kamu apa kabar?""Vivian," kataku sambil duduk dan menatap jam digital. "Di sini jam tiga pagi.""Benarkah?" Dia terdengar benar-benar kaget. "Sial, aku nggak akan pernah bisa paham zona waktu ini. Di sana pagi atau siang?""Tengah malam! Tengah malam banget!""Oh, maaf!" Dia tertawa, tapi sama sekali tidak terdengar menyesal. "Aku bahkan sudah nggak tahu lagi ini siang atau malam. Kamu tahu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 209

    Sudut Pandang Anna.Sudah dua bulan berlalu sejak makan malam dengan para investor Eldranic, dan semuanya akhirnya mulai kembali stabil.Musim gugur Londoria datang sepenuhnya, mengubah Taman Savana menjadi hamparan emas dan merah yang bisa kulihat jelas dari jendela kantor. Pagi hari sekarang lebih dingin, memaksa semua orang memakai mantel tebal dan syal, sementara sore hari menjadi gelap lebih cepat setiap harinya. Aku sudah terbiasa dengan ritme kota ini, dengan rutinitas teh jam tiga Aurelia yang tak pernah berubah, dan dengan bus merah yang masih membuatku tersenyum setiap kali melintas di depan kaca gedung.Yang lebih penting, aku sudah terbiasa dengan rutinitas baruku di kantor. Bisik-bisik di lorong-lorong perlahan menghilang sampai akhirnya benar-benar lenyap. Orang-orang berhenti memberiku tatapan aneh saat aku berjalan melewati koridor marmer di Grup Mahendra. Margaret kembali menyapaku dengan senyum hangat dan tulusnya.Aku hampir yakin Nate yang sudah membereskan semuanya

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 208

    Sudut Pandang Nathaniel.Aku melempar cukup uang di atas meja untuk menutup tagihan, lalu mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkan semuanya berakhir seperti itu, tidak saat akhirnya aku mengerti kenapa dia menghabiskan seluruh malam bersikap seperti robot korporat.Aku menemukannya di trotoar di luar restoran sambil menatap ponselnya dengan ekspresi frustrasi."Grab bilang lima belas menit," gumamnya bahkan tidak melirik ke arahku."Anna .…""Tolong jangan." Dia menggeleng dan masih menghindari tatapanku. "Aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan.""Tapi aku belum."Dia menghela napas pelan dan akhirnya menatapku. Air mata menggantung di sudut matanya, dia jelas berusaha menahannya."Apa lagi yang kamu inginkan dariku, Nathaniel? Aku sudah bilang aku butuh jarak. Ini untuk karierku.""Aku ingin kamu mengerti satu hal." Aku melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak yang pantas. "Hanya karena kita berhubungan intim di pesawat itu bukan berarti aku tidak menganggapmu se

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 207

    Sudut Pandang Nathaniel.Kalau sebelumnya aku merasa Anna sudah bersikap aneh sebelum para Eldranic datang, apa yang terjadi selama makan malam benar-benar membuatku tidak tahu harus berpikir apa.Tiga perwakilan dari Keluarga Suryadinata, Peter, kepala keluarga, putranya Henry, dan konsultan ekspor mereka, Jacob. Disambut oleh versi Anna yang paling rapi dan terkendali yang pernah kulihat. Itu mengesankan. Dan juga menjengkelkan.Selama dua jam berikutnya, dia menguasai jalannya pertemuan dan bukan sekadar bisa mengimbangi. Dia memimpin dengan kepercayaan diri yang langsung mengingatkanku kenapa Adriel bersikeras membawanya ke Londoria.Saat Peter bertanya tentang peluncuran Vintara di Verdania, dia berbicara dengan penuh antusiasme tentang anggur organik. Cukup untuk memikat ketiga pria itu. Saat Henry mempertanyakan perbedaan budaya antara konsumen Euradia dan Verdania, dia memberikan wawasan cerdas dan contoh yang praktis.Yang paling membuatku terkejut adalah bagaimana dia bisa te

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 206

    Aku tiba di Clairmont pukul tujuh lewat dua puluh lima. Lima menit lebih awal. Ketepatan waktu penting dalam situasi bisnis. Ini bukan kencan, melainkan pertemuan. Ini adalah pertemuan profesional murni untuk membahas strategi perusahaan dengan para investor Eldranic.Aku memilih gaun biru tua yang menutup semua bagian yang memang harus tertutup. Sepatu hak sedang untuk menjaga kesan formal tanpa terlihat seperti berusaha mengesankan siapa pun. Blazer yang benar-benar memberi kesan bisnis. Rambut disanggul rapi. Riasan minimal. Postur tegak.Aku seorang profesional. Spesialis pengembangan pasar. Tidak lebih, tidak kurang.Kepala pelayan mengantarku ke meja reservasi di area restoran yang lebih tenang. Nathaniel belum datang, memberiku waktu untuk meninjau kembali secara mental poin-poin penting tentang lini Vintara dan perilaku konsumen Verdania.Tepat pukul tujuh tiga puluh, aku melihatnya berjalan ke arahku. Setelan jas yang sempurna. Senyum yang … terlalu menarik itu … yang sama sek

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 205

    Aku berhasil membuat diriku sibuk selama beberapa jam, pura-pura meninjau laporan dan membalas email. Tapi pikiranku melayang jauh. Setiap kali seseorang lewat di depan mejaku, perutku langsung terasa terpelintir oleh rasa tidak nyaman, dan seperti mereka melihatku dengan aneh.Lalu aku sadar itu bukan perasaan berlebihan. Mereka memang benar-benar melakukannya.Aku mulai memperhatikan bisikan-bisikan yang langsung berhenti begitu aku lewat. Tatapan sekilas dari samping, diikuti percakapan pelan. Margaret, sekretaris Nathaniel, menyapaku dengan senyum yang terasa sangat dipaksakan. James dari bagian keuangan menatapku dari atas ke bawah dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.Saat Aurelia akhirnya kembali dari makan siang pukul dua lewat tiga puluh, dia langsung menuju mejaku dengan ekspresi di antara khawatir dan sangat ingin tahu."Oke," katanya sambil menarik kursi di sampingku. "Kenapa seluruh kantor heboh tentang gadis dari Verdania yang katanya sedang memberikan .…"

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 87

    Pantulan di cermin menatapku balik dengan campuran kagum dan aneh. Gaun merah tua yang Adriel dan aku pilih di Dermaga Azzura pas dengan tubuhku, dan kainnya yang halus menonjolkan lekuk-lekuk yang bahkan sebelumnya tidak kusadari."Kamu terlihat menakjubkan," kata Anna yang muncul di belakangku dal

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 86

    Aku terbangun perlahan, tubuhku masih nyeri tapi menyenangkan akibat malam sebelumnya. Adriel masih tertidur di sampingku, satu lengan melingkari pinggangku dengan posesif, wajahnya tampak rileks seperti jarang dia perlihatkan saat bangun.Aku menatap wajahnya sejenak, bulu mata panjangnya, garis ra

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 82

    Jariku mencengkeram sprei saat tubuhku melengkung dalam kenikmatan. Adriel memegang pinggulku dengan erat, dan dengan ritmenya tidak kenal ampun. Ruangan diselimuti bayangan, hanya cahaya kota yang menembus tirai, menciptakan bayangan tubuh kami yang saling terikat."Adriel …." Suaraku keluar sepert

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 83

    "Jadi … kamu sampai sana dengan aman kan?" tanyaku, memutar sehelai rambut di jariku. Ponsel diletakkan dengan pengeras suara di atas meja dapur sementara aku membuat kopi."Ya, tidak ada masalah," jawab Adriel, suaranya terdengar agak formal lewat pengeras suara. "Penerbangannya lancar. Bagaimana h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status