Share

Bab 205

Author: Kayla Sango
Aku berhasil membuat diriku sibuk selama beberapa jam, pura-pura meninjau laporan dan membalas email. Tapi pikiranku melayang jauh. Setiap kali seseorang lewat di depan mejaku, perutku langsung terasa terpelintir oleh rasa tidak nyaman, dan seperti mereka melihatku dengan aneh.

Lalu aku sadar itu bukan perasaan berlebihan. Mereka memang benar-benar melakukannya.

Aku mulai memperhatikan bisikan-bisikan yang langsung berhenti begitu aku lewat. Tatapan sekilas dari samping, diikuti percakapan pelan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 305

    Sudut Pandang Anna.Pagi tanggal tiga puluh satu Desember datang membawa kejernihan mental yang sudah beberapa hari tidak kurasakan. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, dipenuhi rasa tekad yang hilang sejak kebenaran tentang Wanderer terungkap. Percakapanku dengan Vivian kemarin seolah mengangkat beban dari pundakku, beban yang bahkan sebelumnya tidak kusadari sedang kupikul. Tekanan untuk merasakan apa yang kupikir seharusnya kurasakan, dan bukan menerima apa yang benar-benar kurasakan.Sekitar pukul sembilan pagi, ponselku bergetar karena pesan pagi rutin dari Nate. Selama beberapa hari terakhir, aku membaca semua pesannya tanpa pernah membalas, terjebak di antara keras kepala dan kebingungan. Tapi hari ini berbeda.[Selamat pagi, Anna. Semoga malammu nanti menyenangkan.]Aku mengambil ponselku dan untuk pertama kalinya dalam lima hari, mengetik balasan.[Sampai jumpa nanti malam.]Sederhana. Langsung. Tapi penuh makna. Itu bukan pengampunan. Bukan juga janji bahwa semuanya baik-bai

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 304

    Sudut pandang Nathaniel.Beberapa hari terakhir terasa seperti bentuk penyiksaan yang sangat spesial. Rutinitas pagiku berubah menjadi ritual menyedihkan yaitu mengambil ponsel, mengetik pesan untuk Anna, menghapusnya, menulis ulang, lalu menghapus lagi dan sampai akhirnya aku menemukan kalimat yang tidak terdengar terlalu putus asa. Selamat pagi terasa aman. Menanyakan kabarnya terasa berisiko, dan bisa saja terdengar seperti aku menuntut balasan. Kadang aku mengomentari hal-hal sepele dari hariku, dan berharap itu terdengar santai.Itu keseimbangan yang mustahil antara tetap hadir dan tidak melanggar ruang yang jelas-jelas dia butuhkan. Setiap kata kupikirkan dan kutimbang ulang sebelum menekan tombol kirim. Setiap pesan adalah usaha hati-hati untuk menunjukkan bahwa aku belum menyerah tanpa terdengar seperti sedang memohon.Tapi bagian terburuknya datang setelah pesan itu terkirim. Jantungku selalu berdebar setiap kali layar ponsel menyala karena notifikasi, ada bagian diriku yang s

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 303

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lambat, tenggelam dalam kesuraman kelabu yang seolah tidak ada akhirnya. Apartemenku berubah menjadi tempat perlindungan sekaligus penjara, tempat di mana aku bisa mencoba mengurai kekacauan emosiku tanpa harus berpura-pura baik-baik saja di depan dunia luar.Nate rutin mengirim pesan. Pesannya bukan tipe yang putus asa atau menyesakkan. Entah bagaimana, dia berhasil menemukan keseimbangan yang hati-hati antara tetap hadir dan memberiku ruang yang jelas-jelas kubutuhkan. Kadang hanya ucapan selamat pagi. Kadang dia menanyakan kabarku, atau membagikan hal kecil tentang harinya. Dia tidak pernah memaksaku membalas, tidak pernah memohon untuk bicara, dan tidak pernah mencoba membuatku merasa bersalah karena diam.Aku membaca semuanya. Tapi tidak membalas satu pun.Panggilannya juga mengikuti pola yang sama. Ponselku berdering, namanya muncul di layar, lalu kubiarkan masuk ke pesan suara. Dia tidak pernah menelepon tanpa henti, dan menghormati pilihank

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 302

    Apartemenku tidak pernah terasa sekecil atau sesunyi ini saat aku melangkah masuk. Aku melempar kunci ke meja dapur lebih keras dari yang seharusnya, dan suara benturannya menggema di ruangan kosong dengan cara yang justru semakin menegaskan betapa sendirinya aku sekarang. Perjalanan pulang dengan Grab terasa seperti siksaan. Setiap lampu merah dan setiap belokan memberiku lebih banyak waktu untuk berpikir, dan untuk mengulang kembali penemuan itu di kepalaku.Aku berjalan ke jendela ruang tamu dan menatap Londoria yang membentang tanpa ujung di hadapanku. Lampu-lampu kota berkedip seperti biasa, sama sekali tidak peduli pada kehancuran emosional yang terjadi di dalam diriku. Orang-orang tetap menjalani hidup mereka seolah tidak ada yang berubah, sementara hidupku jungkir balik hanya dalam hitungan menit.Aku perlu bicara dengan seseorang. Tapi aku cukup mengenal Vivian untuk tahu kalau aku meneleponnya dalam kondisi seperti ini, kakakku pasti langsung naik penerbangan transatlantik pe

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 301

    Hal pertama yang kusadari saat perlahan kembali sadar adalah tekstur familiar seprai katun milik Nate yang menyentuh kulitku. Mataku terbuka perlahan, dan menyesuaikan diri dengan cahaya lembut yang masuk melalui tirai kamar yang terbuka setengah. Untuk sesaat yang membingungkan, aku sempat berpikir semuanya hanyalah mimpi buruk, penemuan tentang Wanderer, rasa syok yang menghancurkan, dan perasaan seolah seluruh duniaku runtuh begitu saja.Lalu kenyataan menghantamku lagi seperti gelombang es, membawa seluruh rasa sakit dan pengkhianatan itu kembali bersamanya.Aku mencoba duduk, tetapi gelombang pusing membuatku berhenti sejenak. Saat itulah aku sadar aku tidak sendirian. Seorang wanita paruh baya dengan seragam medis sederhana duduk di kursi dekat ranjang, dan mengamatiku dengan perhatian profesional yang tenang."Bagaimana perasaanmu?" tanyanya sambil berdiri dan melangkah mendekat. Aksen Aldmerenya yang elegan langsung terdengar jelas. "Saya Suster Patricia. Tuan Nathaniel memangg

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 300

    Aku mengucapkan selamat tinggal pada kakakku lalu meletakkan ponsel dengan hati-hati kembali di meja kecil samping bak mandi, dan membiarkan tubuhku tenggelam lebih dalam ke air hangat penuh aroma itu. Uap melayang lembut di sekelilingku, membungkus seluruh ruangan dalam kabut harum seperti mimpi yang membuatku merasa seolah sedang mengambang di atas awan wangi. Dari arah dapur, samar-samar aku bisa mendengar suara aktivitas, Nate mungkin sedang menyiapkan makan malam sederhana kami, dan menata semuanya dengan perhatian tenang khas dirinya.Menit demi menit berlalu damai, hanya ditemani dengungan lembut semburan pijat air dan suara jauh kota Londoria di bawah sana. Tapi perlahan aku mulai menyadari sesuatu yaitu dia lebih lama dari biasanya.Rencana awalku untuk mandi ini. Yah, mandi ini sebenarnya cuma fase pertama dari rangkaian sangat spesifik yang sudah kususun rapi di kepalaku. Idenya adalah bersantai di bak mandi sementara dia menyelesaikan urusannya di dapur … lalu dilanjutkan d

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 87

    Pantulan di cermin menatapku balik dengan campuran kagum dan aneh. Gaun merah tua yang Adriel dan aku pilih di Dermaga Azzura pas dengan tubuhku, dan kainnya yang halus menonjolkan lekuk-lekuk yang bahkan sebelumnya tidak kusadari."Kamu terlihat menakjubkan," kata Anna yang muncul di belakangku dal

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 86

    Aku terbangun perlahan, tubuhku masih nyeri tapi menyenangkan akibat malam sebelumnya. Adriel masih tertidur di sampingku, satu lengan melingkari pinggangku dengan posesif, wajahnya tampak rileks seperti jarang dia perlihatkan saat bangun.Aku menatap wajahnya sejenak, bulu mata panjangnya, garis ra

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 82

    Jariku mencengkeram sprei saat tubuhku melengkung dalam kenikmatan. Adriel memegang pinggulku dengan erat, dan dengan ritmenya tidak kenal ampun. Ruangan diselimuti bayangan, hanya cahaya kota yang menembus tirai, menciptakan bayangan tubuh kami yang saling terikat."Adriel …." Suaraku keluar sepert

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 83

    "Jadi … kamu sampai sana dengan aman kan?" tanyaku, memutar sehelai rambut di jariku. Ponsel diletakkan dengan pengeras suara di atas meja dapur sementara aku membuat kopi."Ya, tidak ada masalah," jawab Adriel, suaranya terdengar agak formal lewat pengeras suara. "Penerbangannya lancar. Bagaimana h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status