ログインSudut Pandang Anna.Pagi tanggal tiga puluh satu Desember datang membawa kejernihan mental yang sudah beberapa hari tidak kurasakan. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, dipenuhi rasa tekad yang hilang sejak kebenaran tentang Wanderer terungkap. Percakapanku dengan Vivian kemarin seolah mengangkat beban dari pundakku, beban yang bahkan sebelumnya tidak kusadari sedang kupikul. Tekanan untuk merasakan apa yang kupikir seharusnya kurasakan, dan bukan menerima apa yang benar-benar kurasakan.Sekitar pukul sembilan pagi, ponselku bergetar karena pesan pagi rutin dari Nate. Selama beberapa hari terakhir, aku membaca semua pesannya tanpa pernah membalas, terjebak di antara keras kepala dan kebingungan. Tapi hari ini berbeda.[Selamat pagi, Anna. Semoga malammu nanti menyenangkan.]Aku mengambil ponselku dan untuk pertama kalinya dalam lima hari, mengetik balasan.[Sampai jumpa nanti malam.]Sederhana. Langsung. Tapi penuh makna. Itu bukan pengampunan. Bukan juga janji bahwa semuanya baik-bai
Sudut pandang Nathaniel.Beberapa hari terakhir terasa seperti bentuk penyiksaan yang sangat spesial. Rutinitas pagiku berubah menjadi ritual menyedihkan yaitu mengambil ponsel, mengetik pesan untuk Anna, menghapusnya, menulis ulang, lalu menghapus lagi dan sampai akhirnya aku menemukan kalimat yang tidak terdengar terlalu putus asa. Selamat pagi terasa aman. Menanyakan kabarnya terasa berisiko, dan bisa saja terdengar seperti aku menuntut balasan. Kadang aku mengomentari hal-hal sepele dari hariku, dan berharap itu terdengar santai.Itu keseimbangan yang mustahil antara tetap hadir dan tidak melanggar ruang yang jelas-jelas dia butuhkan. Setiap kata kupikirkan dan kutimbang ulang sebelum menekan tombol kirim. Setiap pesan adalah usaha hati-hati untuk menunjukkan bahwa aku belum menyerah tanpa terdengar seperti sedang memohon.Tapi bagian terburuknya datang setelah pesan itu terkirim. Jantungku selalu berdebar setiap kali layar ponsel menyala karena notifikasi, ada bagian diriku yang s
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lambat, tenggelam dalam kesuraman kelabu yang seolah tidak ada akhirnya. Apartemenku berubah menjadi tempat perlindungan sekaligus penjara, tempat di mana aku bisa mencoba mengurai kekacauan emosiku tanpa harus berpura-pura baik-baik saja di depan dunia luar.Nate rutin mengirim pesan. Pesannya bukan tipe yang putus asa atau menyesakkan. Entah bagaimana, dia berhasil menemukan keseimbangan yang hati-hati antara tetap hadir dan memberiku ruang yang jelas-jelas kubutuhkan. Kadang hanya ucapan selamat pagi. Kadang dia menanyakan kabarku, atau membagikan hal kecil tentang harinya. Dia tidak pernah memaksaku membalas, tidak pernah memohon untuk bicara, dan tidak pernah mencoba membuatku merasa bersalah karena diam.Aku membaca semuanya. Tapi tidak membalas satu pun.Panggilannya juga mengikuti pola yang sama. Ponselku berdering, namanya muncul di layar, lalu kubiarkan masuk ke pesan suara. Dia tidak pernah menelepon tanpa henti, dan menghormati pilihank
Apartemenku tidak pernah terasa sekecil atau sesunyi ini saat aku melangkah masuk. Aku melempar kunci ke meja dapur lebih keras dari yang seharusnya, dan suara benturannya menggema di ruangan kosong dengan cara yang justru semakin menegaskan betapa sendirinya aku sekarang. Perjalanan pulang dengan Grab terasa seperti siksaan. Setiap lampu merah dan setiap belokan memberiku lebih banyak waktu untuk berpikir, dan untuk mengulang kembali penemuan itu di kepalaku.Aku berjalan ke jendela ruang tamu dan menatap Londoria yang membentang tanpa ujung di hadapanku. Lampu-lampu kota berkedip seperti biasa, sama sekali tidak peduli pada kehancuran emosional yang terjadi di dalam diriku. Orang-orang tetap menjalani hidup mereka seolah tidak ada yang berubah, sementara hidupku jungkir balik hanya dalam hitungan menit.Aku perlu bicara dengan seseorang. Tapi aku cukup mengenal Vivian untuk tahu kalau aku meneleponnya dalam kondisi seperti ini, kakakku pasti langsung naik penerbangan transatlantik pe
Hal pertama yang kusadari saat perlahan kembali sadar adalah tekstur familiar seprai katun milik Nate yang menyentuh kulitku. Mataku terbuka perlahan, dan menyesuaikan diri dengan cahaya lembut yang masuk melalui tirai kamar yang terbuka setengah. Untuk sesaat yang membingungkan, aku sempat berpikir semuanya hanyalah mimpi buruk, penemuan tentang Wanderer, rasa syok yang menghancurkan, dan perasaan seolah seluruh duniaku runtuh begitu saja.Lalu kenyataan menghantamku lagi seperti gelombang es, membawa seluruh rasa sakit dan pengkhianatan itu kembali bersamanya.Aku mencoba duduk, tetapi gelombang pusing membuatku berhenti sejenak. Saat itulah aku sadar aku tidak sendirian. Seorang wanita paruh baya dengan seragam medis sederhana duduk di kursi dekat ranjang, dan mengamatiku dengan perhatian profesional yang tenang."Bagaimana perasaanmu?" tanyanya sambil berdiri dan melangkah mendekat. Aksen Aldmerenya yang elegan langsung terdengar jelas. "Saya Suster Patricia. Tuan Nathaniel memangg
Aku mengucapkan selamat tinggal pada kakakku lalu meletakkan ponsel dengan hati-hati kembali di meja kecil samping bak mandi, dan membiarkan tubuhku tenggelam lebih dalam ke air hangat penuh aroma itu. Uap melayang lembut di sekelilingku, membungkus seluruh ruangan dalam kabut harum seperti mimpi yang membuatku merasa seolah sedang mengambang di atas awan wangi. Dari arah dapur, samar-samar aku bisa mendengar suara aktivitas, Nate mungkin sedang menyiapkan makan malam sederhana kami, dan menata semuanya dengan perhatian tenang khas dirinya.Menit demi menit berlalu damai, hanya ditemani dengungan lembut semburan pijat air dan suara jauh kota Londoria di bawah sana. Tapi perlahan aku mulai menyadari sesuatu yaitu dia lebih lama dari biasanya.Rencana awalku untuk mandi ini. Yah, mandi ini sebenarnya cuma fase pertama dari rangkaian sangat spesifik yang sudah kususun rapi di kepalaku. Idenya adalah bersantai di bak mandi sementara dia menyelesaikan urusannya di dapur … lalu dilanjutkan d
Koridor batu terasa tak berujung saat Adriel menuntunku melewati bagian properti yang belum pernah kulihat. Setiap langkah buat udara semakin dingin, dan keheningan semakin berat. Nafasku mulai normal kembali, meski jejak air mata yang mengering masih tersisa di wajahku."Kita mau mana?" Akhirnya ak
Adriel menoleh ke arah lain, jarinya mengetuk meja kayu yang mengilap dengan gelisah. Cahaya bintang menari di gelas anggurnya, mantulkan rona merah di wajahnya yang tegang."Aku akan bilang ke kakekku saat dia kembali." Akhirnya dia berkata, suaranya rendah penuh pertimbangan. "Dia lagi banyak piki
Lampu rumah sakit begitu kejam, cahaya putih kebiruan seolah menyedot seluruh warna dan kehidupan dari orang-orang. Aku berjalan menyusuri koridor steril sambil bawa tas termos kecil berisi kue yang dibungkus rapi, termos yang terasa berat di tanganku.Beberapa jam sejak ambulans pergi terasa sepert
Aku menatap Adriel dan mencoba mencerna apa yang baru saja dia katakan. Kembali ke kediaman? Tempat di mana kami berpura-pura jadi pasangan. Tempat di mana kami begitu dekat. Tempat di mana aku hampir saja benar-benar jatuh hati padanya."Aku nggak yakin ini ide yang bagus." Akhirnya aku jawab."Mun







