Share

Bab 362

Author: Kayla Sango
Sudut pandang Valerie.

Aku sedang duduk di dek dengan tubuh terbungkus jubah mandi, dan memegang segelas anggur yang bahkan hampir tidak kusentuh, ketika mendengar pintu vila terbuka. Berat percakapanku dengan Olivia masih menekan dadaku seperti simpul yang menolak terurai, dan sebesar apa pun tempat ini terasa seperti surga, tidak ada yang benar-benar bisa menghilangkan perasaan bahwa aku sedang hidup di dalam gelembung yang sebentar lagi akan pecah.

Lalu aku mendengar langkah kaki yang familia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 365

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie."Apa kamu melihat itu?" Suaraku keluar nyaris seperti bisikan."Tenang!""Apa kamu melihat itu?!" Kali ini aku berteriak."Tenang!" Ibu membentakku balik.Clarisa Salvino, yang selalu sempurna dalam gaun biru tua berbordir tangan, membuatku duduk di sofa dan menyodorkan segelas sampanye. Bahkan di tengah kekacauan, dia tetap mempertahankan ketenangan elegan yang menjadi cirinya."Kamu sudah tahu?" tanyaku dan keterkejutan membuatku tiba-tiba tenang dengan cara yang aneh. "Kamu sudah tahu?""Aku menduganya," katanya jujur sambil merapikan lipatan yang seolah-olah ada di roknya. "Ayahmu juga.""Kenapa kalian membiarkanku menjalani ini?"Ibu mendekat dan duduk di sebelahku, tangan sempurnanya yang terawat mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang tidak nyaman."Sejujurnya, Valerie .…" Dia menghela napas. "Karena kita membutuhkan pernikahan ini sama seperti Darren membutuhkan kita.""Maksud Ibu apa?""Taman hiburan itu, sayang. Kita bangkrut. B

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 364

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie.Pada hari pernikahanku, segala sesuatu di sekitarku terasa diselimuti aura penuh penantian. Suasana di kediaman sewaan tempat upacara akan digelar terasa begitu tegang dan penuh harapan, seolah setiap sudutnya memikul tanggung jawab untuk membuat hari ini sempurna. Jantungku berdetak tak beraturan, dan setiap pikiranku seperti pusaran gugup sekaligus penuh kegembiraan.Aku mengusap kain sutra yang dingin, merapikan lipatan yang seolah-olah ada di gaunku. Untuk ketiga kalinya. Atau keempat. Aku gugup. Sangat gugup. Ini adalah hari paling penting dalam hidupku, dan tidak ada satu pun hal yang boleh berjalan tidak sesuai rencana. Bahkan lipatan gaun yang hanya ada di imajinasiku.Di depan cermin, aku menatap bayangan diriku yang terasa seperti versi yang lebih seperti mimpi. Gaun pengantin itu, sebuah wujud keanggunan, jatuh lembut hingga menyentuh lantai dalam lapisan kain yang seolah mengambang. Ada sesuatu yang hampir tidak nyata di setiap r

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 363

    Sudut pandang Valerie."Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di restoran utama?" usul Dewa saat kami masih bersiap setelah insiden kolam tadi. "Aku bosan makan dari layanan kamar.""Kamu bosan sama layanan kamar?" Aku tertawa kecil sambil membenarkan gaunku dan memperhatikannya lewat cermin. "Dengan statusmu, dan caramu memesan anggur Grup Mahendra seperti minum air putih?""Kamu ada benarnya." Dia tersenyum sambil berdiri di belakangku di depan cermin untuk membetulkan kalung di leherku. Jemarinya menyentuh ringan tengkukku, dan mengirim getaran halus ke sepanjang tulang punggungku. "Tapi kadang menyenangkan juga melihat orang lain, kan? Berinteraksi dengan dunia nyata.""Dunia nyata?" ulangku sambil menoleh menghadapnya. "Kupikir kita sudah sepakat tempat ini adalah realitas alternatif kita.""Mungkin sudah waktunya melihat bagaimana realitas alternatif kita bekerja di sekitar orang lain," jawabnya, dan ada sesuatu dalam nadanya yang tidak bisa kuartikan.Restoran utama itu ele

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 362

    Sudut pandang Valerie.Aku sedang duduk di dek dengan tubuh terbungkus jubah mandi, dan memegang segelas anggur yang bahkan hampir tidak kusentuh, ketika mendengar pintu vila terbuka. Berat percakapanku dengan Olivia masih menekan dadaku seperti simpul yang menolak terurai, dan sebesar apa pun tempat ini terasa seperti surga, tidak ada yang benar-benar bisa menghilangkan perasaan bahwa aku sedang hidup di dalam gelembung yang sebentar lagi akan pecah.Lalu aku mendengar langkah kaki yang familiar mendekat.Dewa masuk ke dalam vila dengan energi yang berbeda dan hampir bercahaya. Dia mengenakan kemeja linen putih tipis yang justru makin menonjolkan kulit kecokelatannya setelah seharian terkena matahari Ocevara, dan ada senyum puas di wajahnya yang langsung memberitahuku bahwa pertemuannya berjalan lancar."Dewi!" panggilnya sambil berjalan mendekat. "Kamu nggak akan percaya apa yang kulihat waktu aku .…" Dia langsung berhenti saat benar-benar memperhatikanku. "Hei. Ada apa?"Aku mencoba

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 361

    Sudut pandang Valerie.Dewa sudah pergi lebih dari satu jam untuk panggilan kerja yang katanya hanya sebentar, dan sejak itu aku malah duduk di sana, menatap kamar yang sudah dibersihkan dengan sempurna, sambil merasakan ketidakhadirannya yang membuatku gelisah.Aku seharusnya tidak merindukannya. Seharusnya hubungan kami tidak berkembang secepat ini. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dari kehadirannya yang sudah terasa familiar, bahkan menenangkan. Cara dia memenuhi sebuah ruangan. Cara dia tersenyum saat melihatku. Cara dia membuat bahkan keheningan terasa nyaman di antara kami.Aku tenggelam dalam pikiran itu ketika ponselku bergetar di atas nakas, dan suaranya terdengar sangat mengganggu di vila yang sunyi itu.Aku berjalan mendekat tanpa banyak antusiasme, mengira itu hanya panggilan lain yang terus kuabaikan sejak aku kabur dari pernikahan. Ayahku. Ibuku. Vania. Bahkan Darren, mungkin memakai nomor berbeda untuk membujukku pulang dan menikah dengannya.Tapi saat melihat layar, nama

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 360

    Sudut pandang Valerie.Aku terbangun karena sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca besar vila kami. Suara ombak yang menghantam tiang-tiang vila dengan lembut bercampur dengan suara burung dari kejauhan, menciptakan suasana yang terasa seperti mimpi.Untuk sesaat aku hanya berbaring di sana, menikmati pemandangan laut biru kehijauan yang membentang tanpa akhir sampai ke cakrawala, begitu jernih sampai aku bisa melihat dasar pasirnya bahkan dari ketinggian ini. Rasanya mustahil untuk tidak merasa seperti baru bangun di dalam lukisan.Saat akhirnya aku bangkit dan melangkah ke dek luar, aku menemukan Si Dewa sudah bangun lebih dulu. Dia hanya mengenakan celana renang yang semakin menonjolkan tubuhnya yang memang sudah indah itu, sambil menyeruput kopi di meja yang jelas disiapkan layanan kamar. Dia terlihat sangat santai, membaca sesuatu di perangkatnya sesekali sambil memandangi pemandangan, seolah bangun di surga tropis hanyalah pagi biasa baginya.'Siapa sebenarnya pria ini?’' p

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 76

    "Kita butuh pakaian yang nyaman," kata Adriel sambil melangkah masuk ke kamar tepat saat aku selesai bersiap untuk makan malam. Matanya langsung berbinar ketika melihat kalung batu kecubung di leherku. "Kamu menyukainya."Itu bukan pertanyaan, tetapi aku menangkap sedikit keraguan dalam suaranya. Se

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 77

    Keheningan yang menyusul terasa istimewa, seakan kami terhenti di waktu itu di bawah taburan bintang, tanpa masa lalu, dan tanpa masa depan. Hanya kami berdua, dan kerentanan yang kami bagi bersama. Dari semua hal yang telah Adriel perlihatkan padaku, baik vila, kebun anggur, ruang bawah tanah berus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 74

    Pagi itu segar dan cerah ketika aku memutuskan menikmati kopi di teras vila sambil menatap kebun anggur yang berkilau di bawah sinar matahari terbit. Aku mulai terbiasa dengan ritme hidup Eldoria yang lebih lambat, dengan jam makan yang panjang dan malam penuh bintang.Adriel sudah pergi pagi-pagi u

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 75

    Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status