Share

Bab 61

Author: Kayla Sango
Senja Valentia mewarnai langit dengan warna jingga dan merah muda ketika mobil kami berkelok naik di jalan yang dipagari pohon cemara. Setelah dua belas jam di pesawat bersama mertua dan hari yang menguras tenaga di Virelia, tubuhku benar-benar butuh istirahat. Namun mataku tetap terjaga, tak sanggup menutup diri dari keindahan yang menyelimuti kami.

"Kita hampir sampai," kata Adriel sambil menunjuk ke tikungan di depan.

Begitu mobil melewati tikungan terakhir, napasku tercekat. Di hadapan kami,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 268

    Ciuman itu bukan ciuman romantis atau lembut. Itu tiba-tiba, tegas, dan dipenuhi semua ketegangan yang sudah menumpuk di antara kami selama berminggu-minggu permainan kantor serta perasaan yang tak pernah diucapkan. Ciuman yang penuh frustrasi, hasrat yang tertahan, amarah … semua kata yang tidak bisa kami ucapkan dan semua perasaan yang selama ini kami coba logikakan.Nate langsung membalas ciumanku, seolah momen itu menghancurkan penghalang terakhir yang selama ini dia pertahankan. Tangannya terangkat membingkai wajahku, jarinya menyusup ke rambutku, dan tubuhnya menekan tubuhku dengan intensitas yang terasa seperti jawaban nyata atas semua yang selama ini kami hindari.Ciuman itu semakin dalam, dan semakin mendesak. Napas kami pendek dan tidak teratur, dan setiap sentuhan terasa seperti pengakuan tanpa kata-kata, yang lebih jujur dari apa pun yang bisa kami ucapkan. Tangannya bergerak turun di tubuhku perlahan, mantap, seolah tidak ada lagi ruang untuk ragu.Aku tidak tahu siapa yan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 267

    Aku sampai di rumah Nate dengan jantung berdegup kencang, setiap langkah di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan itu mengencangkan simpul antara tekad dan kegugupan yang berkelindan di dalam diriku.Saat aku menekan bel pintu, dia hampir langsung membukanya, dan bersandar di kusen seolah sudah menunggu di sana. Ada sesuatu dari caranya berdiri yang membuatku tahu dia sudah paham persis kenapa aku datang."Jadi kamu sudah dengar," katanya yang sama sekali tidak terkejut."HR kasih tahu aku pagi ini," jawabku yang berhenti beberapa langkah darinya, berusaha menjaga jarak yang kuharap bisa membantuku berpikir jernih. "Aku kembali hari Senin, tapi di bawah pengawasan."Ada sesuatu dari caranya berdiri di sana yang sangat menggangguku. Terlalu terkendali dan siap, seolah dia sudah melatih percakapan ini di kepalanya sebelum aku muncul, mengencangkan simpul antara tekad dan kegugupan yang berkelindan di dalam diriku."Kamu benar-benar mau aku kembali?" tanyaku langsung ke inti, terlalu le

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 266

    Sudut Pandang Anna.Email itu masuk ke kotak masukku pukul sembilan pagi, formal dan langsung ke inti. [Subjek: Pengembalian ke Posisi – Anna Kusuma.] Jantungku berdegup lebih cepat saat membukanya, meskipun Aurelia sudah memberitahuku kemarin bahwa rapat itu berakhir dengan aku mendapatkan kembali pekerjaanku.[Kepada Nona Anna Kusuma, dengan ini kami menginformasikan bahwa dewan administrasi Grup Mahendra telah memutuskan untuk mengembalikan Anda ke posisi Anda. Mohon hadir di Departemen HR pada pukul 10:30 untuk menandatangani dokumen terkait dan menerima pengarahan mengenai prosedur selama masa pengawasan sementara.]Kata-kata pengawasan sementara terasa seperti pengingat terus-menerus bahwa meskipun aku sudah dibersihkan, aku tetap diawasi, dinilai, dan diukur. Lebih baik daripada penangguhan, tapi jauh dari kemenangan yang sebenarnya.Aku tiba di HR tepat waktu, berusaha terlihat tenang meskipun di dalam diriku seperti badai. Clara, perwakilan HR, menyambutku dengan senyum sopan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 265

    Sudut Pandang Nathaniel.Aku berdiri di lorong luar ruang rapat, lima menit sebelum pertemuan yang akan menentukan masa depan Anna dan mungkin juga milikku. Aku mengeluarkan ponsel. Jari-jariku sempat melayang di atas papan ketik selama beberapa detik, dan sebelum akhirnya mulai mengetik.Pertanyaan ketujuh yang sudah kusiapkan untuknya berbeda dari yang lain. Dan entah kenapa, aku merasa aku butuh jawabannya sebelum mengambil keputusan apa pun soal tawaran Rivan.[Kalau kamu harus memilih antara apa yang kamu inginkan … dan apa yang terbaik untuk orang yang kamu cintai … mana yang akan kamu pilih?]Aku menatap pesan itu di layar, ibu jariku menggantung di atas tombol kirim. Pertanyaan itu berat, terlalu membuka isi kepalaku sendiri. Tapi mungkin justru itu alasannya aku harus mengirimkannya, untuk memahami bagaimana Anna memandang cinta, pengorbanan, dan pilihan-pilihan sulit.Aku menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.Pintu ruang rapat menjulang di depanku seperti simbol kerag

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 264

    Sudut Pandang Anna.Ponselku bergetar di meja kopi saat aku selesai merapikan apartemen, dan pikiranku masih berusaha mencerna semua yang terjadi tadi malam. Panggilan dengan Wanderer itu … intens, aku sama sekali tidak siap untuk itu. Setiap kali aku mengingat suaranya, hal-hal yang kami bagi lewat telepon, aku merasakan campuran antara antusias dan gugup yang benar-benar membuatku kehilangan keseimbangan.Aku mengambil ponselku dan melihat pesan darinya. Itu jawaban untuk pertanyaan terakhirku. Jantungku langsung berdegup lebih cepat.[Mungkin kesalahannya bukan mencoba terhubung kembali … mungkin kesalahan sebenarnya adalah berpikir bahwa kesenangan dan sesuatu yang serius tidak bisa berjalan bersamaan. Bukankah justru itu yang membuat semuanya berharga? Tadi malam sangat menyenangkan … dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tapi aku juga tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya memilikimu di sisiku setiap hari, bukan hanya untuk bersenang-senang.]Aku membaca pesan it

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 263

    Sudut Pandang Nathaniel."Kamu bicara seolah Anna tidak punya pilihan," kataku yang bersandar di kursi sambil menatapnya langsung.Rivan berhenti sejenak, lalu sedikit condong ke depan, dan memakai senyum terukur yang selalu membuatku kesal setengah mati. Ada sesuatu darinya yang selalu memberi kesan bahwa dia merasa tiga langkah lebih maju dari semua orang, seolah hanya dia yang bisa melihat seluruh papan permainan."Dia punya pilihan," katanya sambil menyesuaikan posisinya. "Tapi sepertinya ada sesuatu yang menahannya di Londoria. Sesuatu yang membuatnya ragu menerima kesempatan yang jelas lebih baik untuk kariernya."Dia semakin mendekat, dan meneliti wajahku dengan tatapan tajam yang menyelidik. Rasanya seperti dia sedang membedah setiap ekspresi kecilku, dan mencari celah yang bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kupikirkan."Apakah sesuatu itu kamu, Nathaniel?"Pertanyaan itu jatuh di antara kami seperti sesuatu yang siap meledak. Aku tetap terlihat tenang, tapi di dalam, rasan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 37

    Mobil perusahaan melintasi jalan berliku di Lembah Cemara, setiap tikungan memperlihatkan pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak. Bukan karena keindahannya, meski kebun anggur yang diterpa sinar matahari sungguh menakjubkan, tapi karena setiap bukit hijau itu mengingatkanku pada masa lalu.Tig

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 32

    Tiga bulan kemudian.Tiga bulan bisa mengubah banyak hal.Aku menyesuaikan dasi salah satu promotor yang akan membagikan sampel Merlot baru Kilang Anggur Surya, memastikan logonya tersusun sempurna."Ingat untuk sebutkan aroma ceri dan penyimpanan di tong saat tamu bertanya." Aku mengarahkan, lalu m

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 35

    Taksi menembus jalan-jalan kota sementara aku menatap jendela, meski tidak benar-benar melihat apa pun. Pikiran masih terjebak di momen itu, di antara jendela ruang acara, dengan Adriel begitu dekat sampai aku bisa rasakan hangat tubuhnya."Karena dia berhak dapat penjelasan. Karena aku nggak ingin

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 34

    Aku menuntun Adriel ke pojok yang lebih sepi dekat jendela dengan pemandangan taman hotel. Tempat itu memang diperuntukkan bagi pembicaraan pribadi antara pembeli dan perwakilan, tapi saat ini jadi pelarian sementara kami dari keramaian acara."Acara yang mengesankan," katanya sambil melirik sekelil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status