Share

Bab 72

Aвтор: Kayla Sango
Aku sedang berusaha menenangkan diri di beranda ketika kulihat sosok yang familiar mendekat. Suara Lydia terdengar lebih dulu sebelum aku sempat melihatnya.

"Wah, Vivian, pertunjukan yang memalukan sekali," katanya, muncul dari bayangan seperti hantu yang tidak diundang. "Merusak sebotol Brunello 1985? Itu hampir kriminal menurut standar Keluarga Mahendra."

Aku menoleh perlahan, berusaha tidak memperlihatkan padanya betapa kata-katanya menusuk. Lydia sempurna seperti biasa, dia mengenakan gaun m
Продолжить чтение
Scan code to download App
Заблокированная глава

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 365

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie."Apa kamu melihat itu?" Suaraku keluar nyaris seperti bisikan."Tenang!""Apa kamu melihat itu?!" Kali ini aku berteriak."Tenang!" Ibu membentakku balik.Clarisa Salvino, yang selalu sempurna dalam gaun biru tua berbordir tangan, membuatku duduk di sofa dan menyodorkan segelas sampanye. Bahkan di tengah kekacauan, dia tetap mempertahankan ketenangan elegan yang menjadi cirinya."Kamu sudah tahu?" tanyaku dan keterkejutan membuatku tiba-tiba tenang dengan cara yang aneh. "Kamu sudah tahu?""Aku menduganya," katanya jujur sambil merapikan lipatan yang seolah-olah ada di roknya. "Ayahmu juga.""Kenapa kalian membiarkanku menjalani ini?"Ibu mendekat dan duduk di sebelahku, tangan sempurnanya yang terawat mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang tidak nyaman."Sejujurnya, Valerie .…" Dia menghela napas. "Karena kita membutuhkan pernikahan ini sama seperti Darren membutuhkan kita.""Maksud Ibu apa?""Taman hiburan itu, sayang. Kita bangkrut. B

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 364

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie.Pada hari pernikahanku, segala sesuatu di sekitarku terasa diselimuti aura penuh penantian. Suasana di kediaman sewaan tempat upacara akan digelar terasa begitu tegang dan penuh harapan, seolah setiap sudutnya memikul tanggung jawab untuk membuat hari ini sempurna. Jantungku berdetak tak beraturan, dan setiap pikiranku seperti pusaran gugup sekaligus penuh kegembiraan.Aku mengusap kain sutra yang dingin, merapikan lipatan yang seolah-olah ada di gaunku. Untuk ketiga kalinya. Atau keempat. Aku gugup. Sangat gugup. Ini adalah hari paling penting dalam hidupku, dan tidak ada satu pun hal yang boleh berjalan tidak sesuai rencana. Bahkan lipatan gaun yang hanya ada di imajinasiku.Di depan cermin, aku menatap bayangan diriku yang terasa seperti versi yang lebih seperti mimpi. Gaun pengantin itu, sebuah wujud keanggunan, jatuh lembut hingga menyentuh lantai dalam lapisan kain yang seolah mengambang. Ada sesuatu yang hampir tidak nyata di setiap r

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 363

    Sudut pandang Valerie."Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di restoran utama?" usul Dewa saat kami masih bersiap setelah insiden kolam tadi. "Aku bosan makan dari layanan kamar.""Kamu bosan sama layanan kamar?" Aku tertawa kecil sambil membenarkan gaunku dan memperhatikannya lewat cermin. "Dengan statusmu, dan caramu memesan anggur Grup Mahendra seperti minum air putih?""Kamu ada benarnya." Dia tersenyum sambil berdiri di belakangku di depan cermin untuk membetulkan kalung di leherku. Jemarinya menyentuh ringan tengkukku, dan mengirim getaran halus ke sepanjang tulang punggungku. "Tapi kadang menyenangkan juga melihat orang lain, kan? Berinteraksi dengan dunia nyata.""Dunia nyata?" ulangku sambil menoleh menghadapnya. "Kupikir kita sudah sepakat tempat ini adalah realitas alternatif kita.""Mungkin sudah waktunya melihat bagaimana realitas alternatif kita bekerja di sekitar orang lain," jawabnya, dan ada sesuatu dalam nadanya yang tidak bisa kuartikan.Restoran utama itu ele

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 362

    Sudut pandang Valerie.Aku sedang duduk di dek dengan tubuh terbungkus jubah mandi, dan memegang segelas anggur yang bahkan hampir tidak kusentuh, ketika mendengar pintu vila terbuka. Berat percakapanku dengan Olivia masih menekan dadaku seperti simpul yang menolak terurai, dan sebesar apa pun tempat ini terasa seperti surga, tidak ada yang benar-benar bisa menghilangkan perasaan bahwa aku sedang hidup di dalam gelembung yang sebentar lagi akan pecah.Lalu aku mendengar langkah kaki yang familiar mendekat.Dewa masuk ke dalam vila dengan energi yang berbeda dan hampir bercahaya. Dia mengenakan kemeja linen putih tipis yang justru makin menonjolkan kulit kecokelatannya setelah seharian terkena matahari Ocevara, dan ada senyum puas di wajahnya yang langsung memberitahuku bahwa pertemuannya berjalan lancar."Dewi!" panggilnya sambil berjalan mendekat. "Kamu nggak akan percaya apa yang kulihat waktu aku .…" Dia langsung berhenti saat benar-benar memperhatikanku. "Hei. Ada apa?"Aku mencoba

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 361

    Sudut pandang Valerie.Dewa sudah pergi lebih dari satu jam untuk panggilan kerja yang katanya hanya sebentar, dan sejak itu aku malah duduk di sana, menatap kamar yang sudah dibersihkan dengan sempurna, sambil merasakan ketidakhadirannya yang membuatku gelisah.Aku seharusnya tidak merindukannya. Seharusnya hubungan kami tidak berkembang secepat ini. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dari kehadirannya yang sudah terasa familiar, bahkan menenangkan. Cara dia memenuhi sebuah ruangan. Cara dia tersenyum saat melihatku. Cara dia membuat bahkan keheningan terasa nyaman di antara kami.Aku tenggelam dalam pikiran itu ketika ponselku bergetar di atas nakas, dan suaranya terdengar sangat mengganggu di vila yang sunyi itu.Aku berjalan mendekat tanpa banyak antusiasme, mengira itu hanya panggilan lain yang terus kuabaikan sejak aku kabur dari pernikahan. Ayahku. Ibuku. Vania. Bahkan Darren, mungkin memakai nomor berbeda untuk membujukku pulang dan menikah dengannya.Tapi saat melihat layar, nama

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 360

    Sudut pandang Valerie.Aku terbangun karena sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca besar vila kami. Suara ombak yang menghantam tiang-tiang vila dengan lembut bercampur dengan suara burung dari kejauhan, menciptakan suasana yang terasa seperti mimpi.Untuk sesaat aku hanya berbaring di sana, menikmati pemandangan laut biru kehijauan yang membentang tanpa akhir sampai ke cakrawala, begitu jernih sampai aku bisa melihat dasar pasirnya bahkan dari ketinggian ini. Rasanya mustahil untuk tidak merasa seperti baru bangun di dalam lukisan.Saat akhirnya aku bangkit dan melangkah ke dek luar, aku menemukan Si Dewa sudah bangun lebih dulu. Dia hanya mengenakan celana renang yang semakin menonjolkan tubuhnya yang memang sudah indah itu, sambil menyeruput kopi di meja yang jelas disiapkan layanan kamar. Dia terlihat sangat santai, membaca sesuatu di perangkatnya sesekali sambil memandangi pemandangan, seolah bangun di surga tropis hanyalah pagi biasa baginya.'Siapa sebenarnya pria ini?’' p

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 17

    Keheningan Adriel menghantamku seperti tamparan."Aku nggak yakin dia akan datang langsung, tapi...""Tentu saja dia akan datang," potongku dan berdiri dengan tiba tiba. "Dia bilang akan kirim tim terbaik. Tentu saja itu termasuk dia, Elisa nggak akan pernah lewatkan kesempatan tampil di sorotan unt

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 11

    Aku menelan ludah dan mencoba merapikan pikiranku."Aku nggak mau keluargaku tahu kalau aku lakukan ini demi uang."Ekspresinya masih susah ditebak, tapi matanya sempat menunjukkan kalau dia paham."Jadi kamu mau perjanjian ini dirahasiakan.""Tepat. Buat mereka, semua ini harus terlihat nyata." Aku

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 13

    Bel rumah berbunyi pukul delapan pagi di hari Senin, membangunkanku dari tidur yang tidak tenang sejak tadi malam. Sejak Adriel pergi dari rumahku kemarin, pikiranku tidak berhenti sama sekali. Ciuman itu, kesepakatan itu, dan perjalanan itu terus berputar di kepalaku seperti sesuatu yang tidak mau

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 14

    Di Selasa pagi, aku berdiri di depan rumah dengan sebuah koper ukuran sedang di sampingku, tas baru melintang di bahu dan keduanya dari Adriel. Aku memilih tampilan yang sederhana dengan jeans desainer yang menempel sempurna di tubuhku, blus sutra warna biru tua, dan sepatu datar yang nyaman. Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status