ログインHari ulang tahun Kaisar selalu menjadi perayaan terbesar di Dinasti Tian Sheng. Sejak fajar, jalan-jalan menuju istana dipenuhi kereta para pejabat, bangsawan, dan keluarga terkemuka dari seluruh penjuru negeri.
Ning Yuan berjalan di belakang Shen Ziyuan dengan tenang. Hari ini adalah langkah pertamanya menuju Janda Permaisuri.
Selama dua tahun, ia telah memahami, selama hidupnya terikat pada keluarga Shen, ia akan selalu bergantung pada suasana hati Shen Ziyuan dan keluarganya.
Jadi, kali ini Ning Yuan akan meraih kebebasan. Dan wanita berstatus tertinggi di seluruh negeri yang mampu memberikannya adalah Janda Permaisuri.
Jika ia berhasil mendapatkan kepercayaan ibu Kaisar itu, ia akan memiliki alasan sah untuk keluar masuk istana. Saat hari itu tiba, bahkan Shen Ziyuan tidak akan mampu mengendalikannya lagi.
Janda Permaisuri Xiao duduk di singgasana yang sedikit lebih rendah dari singgasana Kaisar di sisi kiri.
Ning Yuan telah mendengar banyak tentangnya: wanita yang selamat dari perebutan kekuasaan istana, yang membesarkan putranya menjadi kaisar, yang hingga kini masih memegang pengaruh besar di balik layar.
Selama berbulan-bulan, ia telah mempelajari kebiasaan Janda Permaisuri dan mengumpulkan informasi tentang apa yang disukai dan tidak disukai wanita itu.
Hari ini adalah ujian dari semua persiapannya.
Perlahan, Ning Yuan mulai melangkah mendekati area sekitar singgasana. Tidak langsung mendekati Janda Permaisuri.
Ketika salah satu dayang Janda Permaisuri mendekati kelompok wanita itu dan menyampaikan pesan. Ning Yuan mendengar mereka berbicara tentang betapa sulitnya mencari calon istri untuk kaisar.
Ketika dayang itu berbalik untuk pergi, Ning Yuan maju selangkah, "Dayang Kang, aku mendengar Yang Mulia Janda Permaisuri sangat menyukai teh melati dari daerah selatan. Aku kebetulan membawa beberapa yang baru dipetik. Apakah boleh aku mempersembahkannya?"
Dayang itu menatapnya dengan tatapan tajam, lalu tersenyum tipis. "Tunggu di sini. Aku akan tanyakan pada Janda Permaisuri."
Ning Yuan menundukkan kepala dan menunggu. Dalam hati ia berdoa agar informasinya tepat.
Beberapa saat kemudian, dayang itu kembali dengan anggukan. "Yang Mulia bersedia menerimamu. Ikuti aku."
Ning Yuan mengikuti dayang itu melewati kerumunan bangsawan, merasakan tatapan iri dan penasaran dari wanita-wanita di sekitarnya. Ia berjalan dengan kepala tegak, langkah mantap, tidak menunjukkan keraguan.
Ketika tiba di hadapan Janda Permaisuri, ia berlutut dengan anggun dan menundukkan kepala.
"Hamba Ning Yuan, menantu keluarga Shen, mempersembahkan teh melati untuk Yang Mulia. Semoga Yang Mulia berkenan menerimanya."
Janda Permaisuri mengamatinya dengan tatapan tak terbaca. "Angkat kepalamu."
Ning Yuan mengangkat kepala, menatap langsung mata Janda Permaisuri. Dalam permainan ini, ia harus menunjukkan keberanian tanpa terlihat lancang.
Janda Permaisuri tersenyum tipis. "Kau cantik sekali. Aku ingat kau. Menantu mantan Perdana Menteri yang telah tiada, bukan? Istri Shen Ziyuan?"
"Hamba merasa terhormat Yang Mulia mengingat hamba."
"Aku dengar kau sangat berbakti pada mertuamu dan pandai mengelola rumah tangga. Sayang sekali kau jarang terlihat di istana." Janda Permaisuri mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Mengapa baru sekarang kau datang?"
"Hamba datang karena hamba ingin belajar dari kebijaksanaan Yang Mulia. Selama ini hamba hanya berkurung diri dengan kesibukan di dalam rumah. Namun hamba kini menyadari bahwa hamba perlu memperluas wawasan agar dapat mengabdi lebih baik kepada keluarga dan negara. Dan tidak ada guru yang lebih bijaksana daripada Yang Mulia."
Di belakangnya, Ning Yuan merasakan tatapan Shen Ziyuan yang membakar. Suaminya pasti panik melihat istrinya mendekati salah satu wanita paling berpengaruh di kerajaan tanpa seizinnya.
Tapi Ning Yuan tidak peduli. Ini langkah yang telah ia rencanakan berbulan-bulan, dan ia tidak akan membiarkan Shen Ziyuan menghentikannya.
Janda Permaisuri tertawa kecil.
"Wanita muda yang cerdas. Aku suka itu." Ia mengangguk pada dayang di sampingnya. "Siapkan kursi untuk Nyonya Muda Shen. Aku ingin berbicara lebih banyak dengannya."
Percakapan mereka mengalir lancar. Matanya berbinar mendengar jawaban Ning Yuan yang cerdas dan tidak dibuat-buat.
"Kau berbeda dari wanita lain," kata Janda Permaisuri setelah beberapa saat. "Mereka biasanya datang hanya untuk bermain-main atau mencari perhatian. Tapi kau... kau datang dengan tujuan. Aku bisa melihatnya."
Ning Yuan menunduk, tidak membantah atau mengakui. "Hamba hanya ingin belajar, Yang Mulia."
"Baiklah. Setelah jamuan ini selesai, datanglah ke paviliunku. Kita akan berbicara lebih lanjut." Janda Permaisuri mengangguk pada dayangnya. "Antarkan dia kembali ke tempatnya."
Ning Yuan bangkit dan membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia."
Ia berbalik untuk pergi, dadanya membuncah kemenangan. Rencana berjalan sempurna. Janda Permaisuri telah memperhatikannya.
Jika ia bisa menjaga hubungan ini, ia akan segera memiliki akses ke istana.
Tapi sebelum ia melangkah lebih jauh, pengumuman dari pintu masuk aula menggema di seluruh ruangan.
"Yang Mulia Kaisar tiba!"
Seluruh aula langsung berlutut. Ning Yuan ikut menundukkan kepala. Tapi dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh—seperti firasat yang tak bisa ia jelaskan.
Langkah kaki mantap mendekati singgasana, diiringi gemerisik jubah sutra dan bisik-bisik para kasim. Ning Yuan tidak berani mengangkat kepala.
"Ayo bangkit."
Suara itu...?
Tubuh Ning Yuan membeku di tempat.
Dia ingat jelas. Suara itu adalah suara yang selama dua tahun terakhir selalu membisikkan kata-kata mesra di telinganya setiap malam.
Janda Permaisuri membuka pintu.Di dalam, Ning Yuan sedang membantu Kaisar mengenakan jubah naga. Kedua tangannya merapikan lipatan sutra hitam di bahu sang penguasa, wajahnya tenang. Jubah itu pas di tubuh Kaisar, sulaman naga emas berkilau di bawah cahaya lilin.Janda Permaisuri mengamati putranya—diam, patuh, tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Kekhawatirannya perlahan sirna."Aku kira kau menghukum Ning Yuan karena ada yang tidak pas dengan jubah ini," ujar Janda Permaisuri. "Kalian pergi lama sekali. Pesta bahkan telah usai."Dia berjalan mendekat, meraih tangan Ning Yuan. "Kau tidak apa-apa, kan? Kaisar tidak berkata kasar atau bersikap kasar padamu?"
Ning Yuan menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah, dadanya naik turun cepat. "Yang Mulia, ini siang hari. Para dayang dan kasim di luar—""Mereka tidak akan berani masuk kecuali kupanggil." Kaisar mencium leher Ning Yuan—tepat di titik yang ia tahu membuat wanita itu lemas.Ning Yuan mengerang pelan. Kepalanya menunduk ke belakang tanpa sengaja, menyerahkan lebih banyak ruang pada bibir Kaisar yang terus menjelajah, meninggalkan jejak basah."Tapi... Shen Ziyuan...""Nama itu," Kaisar berhenti. Matanya menatap Ning Yuan dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya berdiri."Jangan pernah kau sebut di hadapanku lagi. Terutama saat kau seperti ini. Karena saat kau seperti ini, kau milikku. Kau selalu milikku, bahkan sebelum kau tahu siapa aku."Dengan satu gerakan, Kaisar menyibak pita ikat pinggang Ning Yuan. Kain sutra merah muda meluncur jatuh, bertumpuk dengan jubah naga di lantai. Ning Yuan menggenggam bahu Kaisar, kukunya menekan lapisan sutra hitam yang dikenakan sang pe
"Yang Mulia pasti salah orang. Paviliun Bulan? Hamba tidak pernah ke sana." Suara Ning Yuan berusaha tenang, tapi tangannya sedikit gemetar saat meraih jubah naga di atas meja."Kau berbohong. Dan setiap kali kau berbohong, tanganmu pasti gemetar." Kaisar berjalan mendekat—langkahnya pelan, seperti harimau mengintai mangsa. "Apakah aku begitu menakutkan bagi Nyonya?"Ning Yuan tidak berani menjawab. Ia hanya terus merentangkan jubah, berjalan mengelilingi Kaisar untuk melakukan pengukuran dengan terburu-buru. "Hamba tidak gemetar, Yang Mulia. Hanya sedikit kedinginan."Kaisar tertawa pelan—rendah, familiar. "Berbohong. Aku tahu kau tidak pernah kedinginan, Nyonya. Kau selalu hangat, terutama saat kita...""Yang Mulia!" Ning Yuan memotong dengan suara tinggi, wajahnya memerah. "Hamba tidak tahu identitas Yang Mulia saat itu. Itu kesalahan yang fatal dan memalukan. Hamba… mohon ampun, Yang Mulia."Ning Yuan membungkuk dalam. Tapi Kaisar tidak membiarkannya menunduk lama. Jemarinya mera
Tidak mungkin, kan, pria itu…? Batin Ning Yuan membantahnya.Sang Kaisar telah duduk di singgasananya. Ning Yuan bergegas kembali ke tempat duduknya, berusaha tidak mencolok di tengah aula.Tapi langkah kecilnya terhenti oleh suara yang ditakutinya."Kau, berhenti."Darah Ning Yuan serasa berhenti mengalir. Ia menunduk, memberi hormat. "Hormat hamba pada Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur.""Angkat kepala. Aku ingin melihat siapa yang berani berjalan saat aku baru tiba."Perlahan, Ning Yuan mengangkat kepalanya. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba tidak sengaja." "Lihat aku saat kau bicara."Ning Yuan ingin mati di tempat. Andaikan bisa, ia ingin melebur ke lantai aula dan mengubur dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap tenang."Hamba terlalu hina, Yang Mulia. Hamba tidak berani menatap Yang Mulia."Jawaban paling sempurna yang bisa ia berikan. Tapi sepertinya tidak cukup untuk memuaskan sang Kaisar."Kenapa kau tidak berani menatapku? Apakah aku buruk rupa untuk diliha
Hari ulang tahun Kaisar selalu menjadi perayaan terbesar di Dinasti Tian Sheng. Sejak fajar, jalan-jalan menuju istana dipenuhi kereta para pejabat, bangsawan, dan keluarga terkemuka dari seluruh penjuru negeri.Ning Yuan berjalan di belakang Shen Ziyuan dengan tenang. Hari ini adalah langkah pertamanya menuju Janda Permaisuri.Selama dua tahun, ia telah memahami, selama hidupnya terikat pada keluarga Shen, ia akan selalu bergantung pada suasana hati Shen Ziyuan dan keluarganya.Jadi, kali ini Ning Yuan akan meraih kebebasan. Dan wanita berstatus tertinggi di seluruh negeri yang mampu memberikannya adalah Janda Permaisuri. Jika ia berhasil mendapatkan kepercayaan ibu Kaisar itu, ia akan memiliki alasan sah untuk keluar masuk istana. Saat hari itu tiba, bahkan Shen Ziyuan tidak akan mampu mengendalikannya lagi.Janda Permaisuri Xiao duduk di singgasana yang sedikit lebih rendah dari singgasana Kaisar di sisi kiri.Ning Yuan telah mendengar banyak tentangnya: wanita yang selamat dari p
Ning Yuan tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu utama yang tertutup, di mana suaminya dan adik tirinya baru saja masuk."Anak pelayan itu benar-benar tidak tahu malu," Qinglan menggerutu pelan di belakang Ning Yuan.Saat Ning Yuan masuk, sang mertua, Nyonya Besar menunjuk kursi di ujung meja—jauh dari suaminya, seolah Ning Yuan hanyalah tamu tak penting. Ning Yuan duduk dengan anggun, melipat tangannya di pangkuan, dan tersenyum lembut. "Ada apa, Ibu?""Ning Yuan, selama dua tahun ini kau sudah mengurus rumah kediaman Shen dengan baik, namun kamu melewatkan kewajibanmu yang utama, yaitu membawa keturunan bagi keluarga ini," Nyonya Besar berucap dingin."Sekarang suamimu kembali dan membawakanmu seorang calon anak yang bisa kau besarkan sebagai anakmu sendiri nantinya."Ning Yuan tersenyum tipis, membungkuk dengan hormat. "Terima kasih atas pujian Ibu. Tapi tentang membesarkan anak..." Dia berhenti, membiarkan kata-katanya menggantung. "Bagaimanapun, itu adalah anak suamiku dengan







