LOGINTidak mungkin, kan, pria itu…? Batin Ning Yuan membantahnya.
Sang Kaisar telah duduk di singgasananya. Ning Yuan bergegas kembali ke tempat duduknya, berusaha tidak mencolok di tengah aula.
Tapi langkah kecilnya terhenti oleh suara yang ditakutinya.
"Kau, berhenti."
Darah Ning Yuan serasa berhenti mengalir. Ia menunduk, memberi hormat. "Hormat hamba pada Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur."
"Angkat kepala. Aku ingin melihat siapa yang berani berjalan saat aku baru tiba."
Perlahan, Ning Yuan mengangkat kepalanya. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba tidak sengaja."
"Lihat aku saat kau bicara."
Ning Yuan ingin mati di tempat. Andaikan bisa, ia ingin melebur ke lantai aula dan mengubur dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap tenang.
"Hamba terlalu hina, Yang Mulia. Hamba tidak berani menatap Yang Mulia."
Jawaban paling sempurna yang bisa ia berikan. Tapi sepertinya tidak cukup untuk memuaskan sang Kaisar.
"Kenapa kau tidak berani menatapku? Apakah aku buruk rupa untuk dilihat?"
Ning Yuan hampir tersedak. Selama dua tahun, entah berapa ratus kali suara itu menanyakan hal yang sama—"Apakah aku tampan, Nyonya? Apakah Nyonya menyukaiku? Apakah wajahku cukup membuat Nyonya ingin bercinta lagi dan lagi denganku?"
Dan kini pria yang sama mengajukan pertanyaan itu di depan seluruh pejabat kerajaan. Di depan suaminya. Di depan semua orang.
"Kenapa kau diam?" tanya Kaisar, memecah lamunannya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia. Yang Mulia adalah naga sejati Dinasti Tian Sheng, mana mungkin buruk rupa," jawab Ning Yuan menunduk. Tapi ia masih bisa melihat sekilas—sudut bibir Kaisar bergerak membentuk senyuman nyaris tak terlihat.
Senyum yang ia kenal baik. Senyum seseorang yang sedang menikmati penderitaan orang lain.
Untungnya Janda Permaisuri angkat bicara. "Yang Mulia, jangan mempersulit nyonya muda keluarga Shen lagi. Tadi aku yang memanggilnya. Demi aku, maafkanlah dia dan biarkan dia kembali duduk bersama suaminya."
Kaisar mengangguk, seperti yang dirumorkan, ia sangat menghormati ibunya.
"Baiklah. Kau kembalilah."
Ning Yuan bergegas pergi sebelum Kaisar itu berubah pikiran.
Di tempat duduknya, Ning Yuan menunduk dalam. Ia sungguh tidak ingin mengonfirmasi apa pun lagi. Sudah jelas. Kaisar adalah pria itu!
Bagaimana mungkin seorang Kaisar menjadi pria bayarannya? Pikiran Ning Yuan berkecamuk, tangannya gemetar di bawah meja.
Seorang kasim tiba-tiba maju dan berkata, "Mohon Yang Mulia memeriksa hadiah para tamu."
Satu demi satu hadiah dipersembahkan. Emas. Giok. Lukisan. Barang antik. Tak ada yang menarik perhatian Kaisar. Sampai nama keluarga Shen dipanggil.
"Keluarga Shen mempersembahkan jubah naga untuk Yang Mulia."
Ning Yuan langsung membeku. Andaikan bisa, ia ingin merebut kotak itu dan melemparkannya keluar istana. Tapi itu tidak mungkin. Kepalanya pasti lebih dulu terlempar keluar dari pada kotak itu, jika ia nekat melakukannya.
Dua kasim membuka kotak sutra merah. Jubah naga hitam keemasan terbentang megah—sulaman naga lima cakar tampak hidup, awan perak mengelilinginya. Megah. Mewah. Elegan. Bahkan menteri tua yang sulit dipuaskan mengangguk kagum.
Kaisar duduk lebih tegak. Tatapannya jatuh pada jubah, lalu pada Ning Yuan.
Dua tahun lalu, ada kompetisi desain jubah kekaisaran. Pemenangnya seorang wanita. Kaisar ingat memuji rancangannya sebab desain itu mengesankan. Tapi sang pemenang menghilang begitu saja.
Desain ini mengingatkan pada pemenang kompetisi itu.
"Bawa kemari," titahnya.
Jubah dibawa ke hadapannya. Kaisar mengusap perlahan sulaman naga di bagian dada dengan jemarinya.
"Jubah ini dibuat dengan sangat baik. Aku menyukainya." Para pejabat membelalak. Kaisar mengangkat kepalanya. "Siapa yang membuatnya?"
Seluruh aula menoleh ke keluarga Shen.
Ning Yuan tak punya pilihan. Mau tidak mau dia harus menjawab. "Hamba yang membuatnya, Yang Mulia."
"Aku menyukai jubah ini. Dan aku ingin mencobanya. Karena kau yang membuatnya, kau ikut denganku."
Keadaan aula sunyi total. Shen Ziyuan membelalak. Nyonya Besar Shen nyaris menjatuhkan cangkir tehnya.
Sementara Ning Yuan? Dia merasakan seluruh tubuhnya membeku. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengikuti Kaisar ke ruang pribadi.
Tapi ia tidak bisa menolak titah Kaisar!
"Sebagai orang yang membuat jubah ini, kau bertanggung jawab memastikan jubah ini pas di tubuhku," ujar Kaisar. Ia mulai berjalan turun dari singgasana, melewati Ning Yuan yang masih membatu.
Ning Yuan terpaksa mengikuti. Tapi Shen Ziyuan meraih pergelangan tangannya dengan cepat. Tatapannya dingin.
"Jangan kacaukan ini, Ning Yuan. Meski harus meletakkan kepalamu di bawah kaki Kaisar, kau jangan pernah menyinggungnya!"
Ning Yuan menarik tangannya dengan senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau tenang saja, suamiku. Aku pasti mengingat kata-katamu."
Ia berjalan mengikuti langkah Kaisar, meninggalkan Shen Ziyuan yang mengepalkan tinju melihat sikap tenang istrinya dalam keadaan genting.
***
Di dalam ruang pribadi Kaisar, pintu besar tertutup.Mereka berdua akhirnya benar-benar sendirian untuk pertama kalinya sejak malam perpisahan itu.
Ning Yuan berdiri kaku di tengah ruangan. Dadanya berdebar kencang. Tangannya—ia menyembunyikannya di balik lengan baju, berusaha menghentikan gemetar yang tak bisa ia kendalikan.
Kaisar menatapnya dengan senyum yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Kau tahu, Nyonya," suaranya rendah dan penuh arti. "Di sini tidak ada yang bisa mendengar kita."
Nyonya. Akhirnya panggilan itu keluar juga. Panggilan oleh seorang pria bayaran yang telah menemani malam-malam kesepiannya selama dua tahun.
Kaisar melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Ning Yuan mundur refleks—tapi punggungnya menabrak tiang.
Kaisar kini hanya sejengkal di depannya. Ia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ning Yuan.
"Jadi..." bisiknya, napasnya hangat di kulit Ning Yuan, "...bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita yang tertunda di Paviliun Bulan?"
Liu Meiling tersenyum jahat melihat ekspresi Ning Yuan. "Aku sudah bilang kau akan menyesali ini, Ning Yuan."Du Tian, tangan kanan Gubernur Liu, melangkah maju dengan langkah sombong. "Jadi kau gadis kurang ajar yang berani menampar putri Gubernur?" suaranya bergema di pasar yang kini mulai sepi karena ketakutan.Ning Yuan menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Kau siapa—Kau ayahnya?""Lancang sekali kau menyebut Gubernur dengan sebutan seperti itu!" bentak Du Tian. "Rakyat jelata sepertimu memang tidak punya tata krama dan sopan santun. Kau harus diajari dengan benar agar tidak berbuat kesalahan yang sama dikemudian hari lagi!" dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju.Tapi sebelum mereka bisa bergerak, Lou Yu melangkah ke depan, melindungi Ning Yuan di belakangnya. "Berani sekali," ucapnya dengan nada dingin. "Apa kalian laku-laki? Beraninya hanya pada seorang wanita."Du Tian tertawa terbahak-bahak. "Kau pasti pr
Ning Yuan berjalan di antara deretan toko kain, matanya sibuk menatap berbagai gulungan kain yang terpajang. Lou Yu berjalan di sampingnya dengan langkah santai, sesekali mengamati ekspresi Ning Yuan yang serius."Yang ini... bagus," ucap Ning Yuan sambil menyentuh selembar sutra merah dengan bordiran emas. "Bahannya halus, warnanya cerah. Cocok untuk acara resmi."Lou Yu mengangguk. "Bungkus ini," katanya kepada pemilik toko.Ning Yuan mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia berjalan ke rak berikutnya."Ini juga bagus," katanya lagi, kali ini menunjuk kain sutra biru laut dengan kilauan lembut. "Warnanya elegan, tidak terlalu mencolok tapi tetap terlihat mewah.""Bungkus," perintah Lou Yu lagi.Ning Yuan mulai merasa ada yang tidak beres. Dia menoleh ke Lou Yu, tapi pria bertopeng itu hanya tersenyum tipis di balik topengnya."Apa kau... tidak mau memilih sendiri?" tanya Ning Yuan hati-hati."Aku percaya pada seleramu," jawab Lou Yu santai.Ning Yuan menghela napas. "Tida
Tamparan Ning Yuan menggema di pasar yang tiba-tiba hening. Semua orang berhenti. Dan seperti biasa, jika ada yang wah seperti ini maka semua mata pasti tertuju pada mereka. "KAU!! BERANINYA KAU MENAMPARKU?!" Seru Liu Meiling terhuyung ke samping, tangannya meraih pipinya yang memerah. Matanya membulat karena terkejut dan marah.Tapi Ning Yuan sama sekali tidak gentar dengan seruan Liu Meiling yang penuh amarah. Yang ada, dia malah menatapnya dengan dingin."Tentu saja berani! Kau tahu, tamparan barusan untuk kereta kudamu yang hampir menabrakku."Balas Ning Yuan, dengan tangan yang masih terangkat. Ya barang kali aja, Liu Meiling ingin merasakan tamparan dari Ning Yuan sekali lagi."AKU TIDAK MELIHATMU—""Kau tidak melihatku?" Ning Yuan memotong dengan suara tajam. "Kau berada di dalam kereta terbuka, Liu Meiling. Jalanan pasar ini ramai. Kau harusnya melihat ke depan, bukan sibuk bergosip dengan kedua ular betina di sampingmu!""Aku—kau—" Liu Meiling tergagap, wajahnya merah padam k
Ning Yuan masih bersandar di dinding ketika pintu di depannya terbuka. Dia bingung saat melihat Lou Yu sudah berpakaian rapi. Jubah sutra berwarna abu-abu muda membungkus tubuhnya dengan sempurna, rambutnya ditata basah tapi rapi, dan tidak lupa! Topeng yang menutupi sebagian wajahnya tetap nangkring indah di sana. Seperti biasa, dia terlihat tenang, anggun, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu.Ning Yuan mengerjap. "Kenapa dia sudah berpakaian? Bukankah tadi dia bilang aku harus mengukur ukuran tubuhnya?" Karena penasaran, Ning Yuan reflek bertanya. "Bukannya kita...?" tanyanya terputus sebab Lou Yu sudah lebih dulu memberikan jawabannya."Tidak," jawab Lou Yu dengan tegas, memotong kalimat Ning Yuan sebelum Ning Yuan selesaikan."Tapi—""Lain kali saja," sambung Lou Yu, seakan tahu persis apa yang akan ditanyakan Ning Yuan. Matanya di balik topeng menatap Ning Yuan dengan senyum tipis. "Aku ingin kau menemani ke toko kain dulu. Aku ingin memilih beberapa kain. Setelah
"Kau serius? Kau benar-benar berpikir aku masih mencintaimu?"Wang Yichen terdiam. Matanya menatap Ning Yuan dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah itu perasaan marah, bingung, atau yang lain, kini semua seakan menjadi satu. Satu perasaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti. Perlahan, senyum sinis mengembang di bibir Wang Yichen.."Baik!" ucapnya dengan suara keras, hampir berteriak. "Jika kau memang masih ingin meneruskan sandiwara ini, Ning Yuan! Akan aku ladeni sandiwaramu ini!" Dia menunjuk ke arah Ning Yuan dengan jari gemetar. "Aku mau lihat, sampai kapan kau akan sanggup bertahan dengan sandiwaramu!"Ning Yuan membuka mulut ingin membantah, tapi Wang Yichen sudah berbalik dan melangkah keluar dengan langkah lebar dan penuh amarah. Pintu kamarnya dibanting hingga berguncang.Ning Yuan hanya bisa berdiri di sana, tercengang. Pria itu benar-benar gila!Dia menghela napas panjang dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam erat ujung selimut. "Sudahlah. Aku tidak
"Maaf..." Ning Yuan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap mata Lou Yu lagi. "Hanya saja aku merasa kau mirip dengan seseorang."Lou Yu terdiam sejenak. Di balik topengnya, matanya menyipit. Bukan karena curiga, tapi karena ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dia merasakannya?"Kekasihmu?" tebak Lou Yu dengan nada main-main, berusaha menyembunyikan getaran di hatinya.Ning Yuan tersentak. Wajahnya memerah. "A-apa? T-tidak! Bukan!" Dia menggeleng dengan cepat, terlalu cepat, membuatnya terlihat semakin mencurigakan. "Dia bukan kekasihku! Dia hanya... seseorang yang kukenal dulu. Sudah lama. Sangat lama."Lou Yu menahan senyum di balik topengnya. "Kau berbohong, Ning Yuan. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa melupakanku.""Tuan Muda Lou," Ning Yuan segera mengalihkan topik, suaranya berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kembali ke topik pembicaraan kita tadi tentang gaun pengantin itu. Apakah kau benar-benar tidak bisa melepaskannya untu







