Share

BAB 5: JUBAH NAGA

Penulis: Kak Upe
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 22:45:39

Tidak mungkin, kan, pria itu…? Batin Ning Yuan membantahnya.

Sang Kaisar telah duduk di singgasananya. Ning Yuan bergegas kembali ke tempat duduknya, berusaha tidak mencolok di tengah aula.

Tapi langkah kecilnya terhenti oleh suara yang ditakutinya.

"Kau, berhenti."

Darah Ning Yuan serasa berhenti mengalir. Ia menunduk, memberi hormat. "Hormat hamba pada Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur."

"Angkat kepala. Aku ingin melihat siapa yang berani berjalan saat aku baru tiba."

Perlahan, Ning Yuan mengangkat kepalanya. "Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba tidak sengaja." 

"Lihat aku saat kau bicara."

Ning Yuan ingin mati di tempat. Andaikan bisa, ia ingin melebur ke lantai aula dan mengubur dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap tenang.

"Hamba terlalu hina, Yang Mulia. Hamba tidak berani menatap Yang Mulia."

Jawaban paling sempurna yang bisa ia berikan. Tapi sepertinya tidak cukup untuk memuaskan sang Kaisar.

"Kenapa kau tidak berani menatapku? Apakah aku buruk rupa untuk dilihat?"

Ning Yuan hampir tersedak. Selama dua tahun, entah berapa ratus kali suara itu menanyakan hal yang sama—"Apakah aku tampan, Nyonya? Apakah Nyonya menyukaiku? Apakah wajahku cukup membuat Nyonya ingin bercinta lagi dan lagi denganku?"

Dan kini pria yang sama mengajukan pertanyaan itu di depan seluruh pejabat kerajaan. Di depan suaminya. Di depan semua orang.

"Kenapa kau diam?" tanya Kaisar, memecah lamunannya.

"Maafkan hamba, Yang Mulia. Yang Mulia adalah naga sejati Dinasti Tian Sheng, mana mungkin buruk rupa," jawab Ning Yuan menunduk. Tapi ia masih bisa melihat sekilas—sudut bibir Kaisar bergerak membentuk senyuman nyaris tak terlihat.

Senyum yang ia kenal baik. Senyum seseorang yang sedang menikmati penderitaan orang lain.

Untungnya Janda Permaisuri angkat bicara. "Yang Mulia, jangan mempersulit nyonya muda keluarga Shen lagi. Tadi aku yang memanggilnya. Demi aku, maafkanlah dia dan biarkan dia kembali duduk bersama suaminya."

Kaisar mengangguk, seperti yang dirumorkan, ia sangat menghormati ibunya.

"Baiklah. Kau kembalilah."

Ning Yuan bergegas pergi sebelum Kaisar itu berubah pikiran.

Di tempat duduknya, Ning Yuan menunduk dalam. Ia sungguh tidak ingin mengonfirmasi apa pun lagi. Sudah jelas. Kaisar adalah pria itu!

Bagaimana mungkin seorang Kaisar menjadi pria bayarannya? Pikiran Ning Yuan berkecamuk, tangannya gemetar di bawah meja.

Seorang kasim tiba-tiba maju dan berkata, "Mohon Yang Mulia memeriksa hadiah para tamu."

Satu demi satu hadiah dipersembahkan. Emas. Giok. Lukisan. Barang antik. Tak ada yang menarik perhatian Kaisar. Sampai nama keluarga Shen dipanggil.

"Keluarga Shen mempersembahkan jubah naga untuk Yang Mulia."

Ning Yuan langsung membeku. Andaikan bisa, ia ingin merebut kotak itu dan melemparkannya keluar istana. Tapi itu tidak mungkin. Kepalanya pasti lebih dulu terlempar keluar dari pada kotak itu, jika ia nekat melakukannya.

Dua kasim membuka kotak sutra merah. Jubah naga hitam keemasan terbentang megah—sulaman naga lima cakar tampak hidup, awan perak mengelilinginya. Megah. Mewah. Elegan. Bahkan menteri tua yang sulit dipuaskan mengangguk kagum.

Kaisar duduk lebih tegak. Tatapannya jatuh pada jubah, lalu pada Ning Yuan.

Dua tahun lalu, ada kompetisi desain jubah kekaisaran. Pemenangnya seorang wanita. Kaisar ingat memuji rancangannya sebab desain itu mengesankan. Tapi sang pemenang menghilang begitu saja.

Desain ini mengingatkan pada pemenang kompetisi itu.

"Bawa kemari," titahnya.

Jubah dibawa ke hadapannya. Kaisar mengusap perlahan sulaman naga di bagian dada dengan jemarinya.

"Jubah ini dibuat dengan sangat baik. Aku menyukainya." Para pejabat membelalak. Kaisar mengangkat kepalanya. "Siapa yang membuatnya?"

Seluruh aula menoleh ke keluarga Shen.

Ning Yuan tak punya pilihan. Mau tidak mau dia harus menjawab. "Hamba yang membuatnya, Yang Mulia."

"Aku menyukai jubah ini. Dan aku ingin mencobanya. Karena kau yang membuatnya, kau ikut denganku."

Keadaan aula sunyi total. Shen Ziyuan membelalak. Nyonya Besar Shen nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. 

Sementara Ning Yuan? Dia merasakan seluruh tubuhnya membeku. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengikuti Kaisar ke ruang pribadi.

Tapi ia tidak bisa menolak titah Kaisar!

"Sebagai orang yang membuat jubah ini, kau bertanggung jawab memastikan jubah ini pas di tubuhku," ujar Kaisar. Ia mulai berjalan turun dari singgasana, melewati Ning Yuan yang masih membatu.

Ning Yuan terpaksa mengikuti. Tapi Shen Ziyuan meraih pergelangan tangannya dengan cepat. Tatapannya dingin. 

"Jangan kacaukan ini, Ning Yuan. Meski harus meletakkan kepalamu di bawah kaki Kaisar, kau jangan pernah menyinggungnya!"

Ning Yuan menarik tangannya dengan senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau tenang saja, suamiku. Aku pasti mengingat kata-katamu."

Ia berjalan mengikuti langkah Kaisar, meninggalkan Shen Ziyuan yang mengepalkan tinju melihat sikap tenang istrinya dalam keadaan genting.

***

Di dalam ruang pribadi Kaisar, pintu besar tertutup.

Mereka berdua akhirnya benar-benar sendirian untuk pertama kalinya sejak malam perpisahan itu.

Ning Yuan berdiri kaku di tengah ruangan. Dadanya berdebar kencang. Tangannya—ia menyembunyikannya di balik lengan baju, berusaha menghentikan gemetar yang tak bisa ia kendalikan.

Kaisar menatapnya dengan senyum yang membuat bulu kuduknya merinding.

"Kau tahu, Nyonya," suaranya rendah dan penuh arti. "Di sini tidak ada yang bisa mendengar kita."

Nyonya. Akhirnya panggilan itu keluar juga. Panggilan oleh seorang pria bayaran yang telah menemani malam-malam kesepiannya selama dua tahun.

Kaisar melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah.

Ning Yuan mundur refleks—tapi punggungnya menabrak tiang.

Kaisar kini hanya sejengkal di depannya. Ia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ning Yuan.

"Jadi..." bisiknya, napasnya hangat di kulit Ning Yuan, "...bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita yang tertunda di Paviliun Bulan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   TAMAT

    Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan keras. Weitian menerobos masuk, diikuti oleh Pangeran Ketiga, Weijun. Wajah Weitian panik."Yuan! Apa kau baik-baik saja?!" dia berlutut di samping Ning Yuan, meraih tangannya. "Kami mendapat laporan ada orang mencurigakan masuk ke paviliunmu—"Weitian berhenti. Dia melihat wajah Ning Yuan. Mata yang berkaca-kaca. Ekspresi yang penuh pertanyaan."Yuan... ada apa?"Ning Yuan menatapnya. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia ingin bertanya. Dia ingin tahu. Tapi dia takut.Weitian menggenggam tangannya lebih erat. "Yuan, katakan padaku. Apa yang terjadi?""Weihu," Ning Yuan akhirnya bersuara, suaranya serak. "Dia datang. Dia mengatakan...."Weitian menegang. "Apa yang dia katakan?"Ning Yuan menatapnya. "Dia bilang... kakekku adalah Jenderal Lin Zhongtian. Dan dia dihukum mati demi mendiang kaisar naik tahta. Dan kau... kau tahu tentang itu. Kau tahu siapa aku sebenarnya."Weitian membeku."Yuan—""Apakah kau benar mencint

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 106

    Malam itu sunyi. Ning Yuan duduk di depan meja, memandangi luka di lengannya yang sudah dibalut. Pikirannya masih berkecamuk dengan semua yang terjadi—pesta, pengkhianatan, Janda Permaisuri yang ditangkap, dan Weihu yang kabur.Dia menghela napas panjang. Semua ini... terlalu banyak.Tiba-tiba, angin berhembus dari jendela yang sedikit terbuka. Ning Yuan menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak.Di ambang jendela, berdiri Long Weihu. Pria itu tersenyum—senyum yang dingin dan penuh kebencian."Selamat malam, Ning Yuan."Ning Yuan berdiri dengan panik. "Kau—bagaimana kau bisa masuk?!""Paviliun ini terlalu mudah untuk dimasuki," Weihu melangkah masuk dengan santai. "Pengawal-pengawal itu terlalu sibuk menjaga depan, mereka lupa jendela belakang."Ning Yuan mundur, tangannya meraih belati di meja. "Pergi dari sini. Atau aku akan berteriak.""Berteriaklah," Weihu tersenyum. "Tapi sebelum pengawal datang, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu."Ning Yuan ragu. Ada

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 105

    Di dalam ruangan pesta, suasana mulai berubah.Janda Permaisuri mengamati para tamu yang mulai menikmati anggur. Senyumnya melebar saat melihat beberapa orang mulai terlihat mengantuk. Satu per satu, para tamu mulai terjatuh ke kursi mereka—kepala terkulai, tubuh lemas tak berdaya."Anggurnya sudah bekerja," bisik seorang pelayan di telinga Janda Permaisuri."Bagus," Janda Permaisuri tersenyum puas. "Sekarang, kirim sinyal pada Pangeran Kedua. Saatnya pasukannya bergerak."Pelayan itu mengangguk dan berlari keluar. Janda Permaisuri duduk di kursinya, menikmati pemandangan di hadapannya—puluhan bangsawan tergeletak tak sadarkan diri, tidak ada yang bisa melawan.Sempurna, pikirnya. Sekarang tinggal menunggu Weihu datang dan mengambil alih.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah Long Weihu dengan puluhan pasukan bersenjata lengkap. Mereka langsung menyebar, mengamankan setiap sudut ruangan.Weihu melangkah masuk denga

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 104

    Di paviliun Ning Yuan, Weitian dan Ning Yuan masih berpelukan setelah menerima laporan dari Ye Haoran. Mereka berdua diam, merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sebelumnya saat Ye Haonan datang."Yang Mulia," Ye Haoran masih berlutut di hadapan mereka, "hamba juga mendengar bahwa Janda Permaisuri akan mengadakan pesta besar besok malam. Konon, untuk merayakan kembalinya Yang Mulia ke istana."Weitian mengerutkan kening. "Pesta? Untuk apa?""Ya, Yang Mulia. Dan hamba mendengar bahwa Janda Permaisuri telah memerintahkan persiapan yang sangat matang. Ada sesuatu yang mencurigakan."Weitian berjalan ke jendela, pikirannya berputar. Pesta besar... di saat yang hampir bersamaan dengan rencana Weihu untuk bergerak... ini pasti bukan kebetulan."Aku harus mencari tahu apa rencana mereka," gumamnya pelan. "Haoran, selidiki lebih dalam. Cari tahu detail pesta itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.""Baik, Yang Mulia," Ye Haoran mengangguk dan pergi.Ning Yuan men

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 103

    Di paviliun Pangeran Kedua, suasana terasa tegang. Long Weihu duduk di kursi utamanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar. Di hadapannya, seorang pria berpakaian hitam berlutut dengan kepala menunduk."Lapor, Yang Mulia," kata pria itu dengan suara rendah. "Pasukan pengawal Kaisar dan Pangeran Ketiga saat ini sedang mengusut kasus penyerangan di kediaman keluarga Shen beberapa waktu lalu. Mereka juga menyelidiki serangan di lembah saat Kaisar dalam perjalanan pulang."Weihu berhenti mengetuk. Matanya menyipit. "Apa mereka sudah menemukan sesuatu?""Belum, Yang Mulia. Tapi penyelidikan mereka semakin mendekati kebenaran. Kaisar memerintahkan Jenderal Zan dan Ye Haoran untuk menyelidiki para penyerang waktu itu. Jika mereka terus melacak, cepat atau lambat... mereka akan menemukan bukti yang mengarah ke Yang Mulia."Weihu terdiam. Pikirannya berputar cepat. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Weitian tidak bodoh. Dan Weijun juga tidak bodoh. Mereka pasti akan mencari ta

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 102

    Weitian mengikuti ibunya berjalan menyusuri taman istana. Udara sore terasa sejuk, tapi suasana di antara mereka terasa tegang.Janda Permaisuri berjalan dengan langkah anggun, sesekali berhenti untuk mengagumi bunga-bunga di tepi jalan. Weitian mengikuti di sampingnya, diam, menunggu ibunya memulai pembicaraan."Kau tahu, Yang Mulia," Janda Permaisuri akhirnya bersuara, "aku sangat khawatir padamu saat kau pergi. Istana tanpa kaisar seperti kapal tanpa nahkoda.""Maafkan aku karena membuat Ibu khawatir," jawab Weitian sopan."Tidak apa-apa," Janda Permaisuri tersenyum. "Yang penting kau kembali. Dan kau membawa Ning Yuan." dia berhenti, menatap putranya. "Aku harus mengakui, jodoh diantara kalian sangat kuat Dia wanita yang cantik. Aku bisa paham mengapa kau tergila-gila padanya."Weitian tersenyum tipis. "Terima kasih, Ibu.""Tapi," Janda Permaisuri melanjutkan, suaranya sedikit berubah, "kau tahu apa yang akan dikatakan para bangsawan, bukan? Mereka akan bertanya, 'Bukankah dia dah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status