LOGINNing Yuan tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu utama yang tertutup, di mana suaminya dan adik tirinya baru saja masuk.
"Anak pelayan itu benar-benar tidak tahu malu," Qinglan menggerutu pelan di belakang Ning Yuan.
Saat Ning Yuan masuk, sang mertua, Nyonya Besar menunjuk kursi di ujung meja—jauh dari suaminya, seolah Ning Yuan hanyalah tamu tak penting.
Ning Yuan duduk dengan anggun, melipat tangannya di pangkuan, dan tersenyum lembut. "Ada apa, Ibu?"
"Ning Yuan, selama dua tahun ini kau sudah mengurus rumah kediaman Shen dengan baik, namun kamu melewatkan kewajibanmu yang utama, yaitu membawa keturunan bagi keluarga ini," Nyonya Besar berucap dingin.
"Sekarang suamimu kembali dan membawakanmu seorang calon anak yang bisa kau besarkan sebagai anakmu sendiri nantinya."
Ning Yuan tersenyum tipis, membungkuk dengan hormat.
"Terima kasih atas pujian Ibu. Tapi tentang membesarkan anak..." Dia berhenti, membiarkan kata-katanya menggantung. "Bagaimanapun, itu adalah anak suamiku dengan Ning Xue’er, maka itu bukan kewajibanku untuk membesarkannya."
Suaranya tetap sopan saat melanjutkan. "Selain itu, aku masih memiliki kesempatan untuk memenuhi kewajiban. Semua orang di sini pasti tahu persis mengapa aku belum hamil—bukan karena mandul, tapi karena suamiku lebih sering bersama adikku."
Ning Xue'er segera mengeluarkan air mata. "K-Kakak, maksudmu aku yang menjadi penghalang?"
"Tidak, Adik," jawab Ning Yuan dengan manis. "Aku hanya mengatakan, bahwa sulit untuk hamil jika masih perawan."
Keheningan memenuhi ruangan. Ning Xue'er tersedak isaknya. Shen Ziyuan meletakkan cangkirnya dengan keras, wajahnya menggelap dengan murka.
"Ning Yuan," suara Shen Ziyuan rendah dan berbahaya. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyalahkan Ning Xue’er dalam masalah ini."
Ning Xue’er terisak. "Kakak Ning Yuan. Aku tahu aku hanyalah anak pelayan. Tapi aku tetap adikmu. Jika cintaku pada Kakak Shen menyakitimu, aku minta maaf."
Nyonya Besar Shen memecah keheningan dengan lantang, "Cukup. Aku mengumpulkan kita di sini bukan untuk berselisih."
Wanita tua itu lalu menatap tajam ke arah Ning Yuan. "Menantu, kau belum sanggup menjalankan kewajiban utama Nyonya Muda Shen. Oleh karena itu, aku akan memindahkan tanggung jawab ini kepada Xue’er."
"Mulai hari ini, Xue’er yang akan mengelola keuangan keluarga Shen. Oleh karena itu, aku ingin kau membantunya dan mengajarinya hal-hal yang perlu dia ketahui."
Qinglan hampir tersedak amarah. Mengelola keuangan berarti memegang kunci kas—hak mutlak Nyonya Utama.
Itu artinya, Ning Xue'er akan merampas satu-satunya kekuasaan Ning Yuan.
"Aku rasa itu ide baik," Shen Ziyuan langsung membela. "Xue'er lebih memahami keuangan daripada siapa pun."
"Benar, Ning Yuan," Nyonya Besar menambahkan dengan suara manis beracun. "Kami sudah membicarakannya dan Xue'er berniat baik menerimanya. Jangan berpikiran sempit."
Ning Yuan menatap mereka bergantian. Lalu tersenyum. "Kalau begitu... aku setuju."
Ruangan membeku sejenak. Mereka tidak menyangka Ning Yuan setuju semudah itu.
"Tapi, karena Adik ingin tanggung jawab sebesar itu, seluruh pembukuan keluarga Shen selama dua tahun terakhir seluruhnya harus diperiksa termasuk pembukuan di tempat kalian tinggal dua tahun ini."
Ning Yuan melanjutkan dengan tenang. "Jika ditemukan penyimpangan, maka akan ada konsekuensi hukuman yang setimpal, dan ia tidak berhak menyentuh buku kas keluarga lagi."
Wajah Ning Xue’er dan Shen Ziyuan seketika pucat pasi.
Selama dua tahun, mereka hidup mewah di kota Sutra menggunakan uang keluarga Ning yang menjadi mahar Ning Yuan saat datang menjadi menantu di keluarga Shen.
Semua pengeluaran itu pastinya tidak pernah tercatat."Mulai besok, aku akan memeriksa buku kas," kata Ning Yuan, menatap langsung mata Ning Xue'er dengan dingin. "Jika tidak ada masalah, aku akan menyerahkan keuangan padamu."
***
Malam itu, pintu kamar Ning Yuan terbuka tanpa ketukan.
Shen Ziyuan melangkah masuk, wajahnya penuh amarah. "Ning Yuan. Batalkan audit itu."
Ning Yuan bahkan tidak mengangkat kepalanya dari buku, seolah kehadiran suaminya hanya angin lalu. "Tidak."
"Aku memerintahkanmu!" Tangannya menghantam meja. Brak! Qinglan mundur ketakutan.
Ning Yuan menutup bukunya perlahan. Matanya menatap Shen Ziyuan dengan tenang—terlalu tenang.
"Baik. Dengan satu syarat. Sebulan lagi perayaan ulang tahun Kaisar. Kau harus membawaku ke jamuan istana."
Shen Ziyuan tercengang. "Jangan berlebihan!"
Selama ini, keluarga Shen tidak pernah membawa Ning Yuan dalam perayaan kekasiaran. Mereka beralasan jika kehadiran Ning Yuan yang kabarnya mandul itu hanya akan menjadi aib di antara para bangsawan.
"Aku istri sahmu." Ning Yuan menatapnya tajam. "Jika aku tidak bisa menghadiri jamuan bersama suamiku, lalu untuk apa status Nyonya Shen?"
Shen Ziyuan membisu. Dia tidak bisa membantah.
"Baik. Tapi Xue'er tetap mengelola keuangan, dan kau tidak boleh menyentuh pembukuan dua tahun terakhir."
Ning Yuan tersenyum puas. "Setuju."
Tapi, di belakangnya, Qinglan menarik napas. Ini sungguh sebuah transaksi yang tidak adil!
Sementara, Ning Yuan sudah merasa puas. Sebab tujuan utamanya tercapai, yakni menghadiri jamuan istana.
Shen Ziyuan keluar dengan wajah masih merah, tapi Ning Yuan kembali membaca bukunya. Qinglan mendekat.
"Nyonya, kau membiarkan mereka mencuri hak Anda sebagai Nyonya Muda Shen! Posisi Anda akan terancam!"
"Qinglan." Ning Yuan menatapnya, matanya berbinar. "Aku tidak butuh uang-uang itu. Yang aku butuhkan adalah akses ke istana. Dan setelah itu … aku tidak akan tunduk lagi pada keluarga ini."
Setelah Shen Ziyuan pergi, gazebo menjadi sunyi.Ning Yuan berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Matanya menunduk, tapi pikirannya berputar cepat. Rasa sakit yang tadi menusuk dadanya masih terasa."Aku jatuh cinta padanya sejak sepuluh tahun lalu."Kata-kata Kaisar terus terngiang.Bodoh kau, Ning Yuan. Di mata Kaisar, kau tidak lebih dari wanita penghangat ranjangnya.Kaisar mengamatinya diam-diam. Matanya menyipit melihat ekspresi Ning Yuan yang dingin, tertutup, menjaga jarak.Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba berbeda?"Kau diam sekali," ucap Kaisar pelan. "Apa kau tidak senang berada di sini?"Ning Yuan mengangkat kepalanya, wajahnya datar. "Hamba senang, Yang Mulia.""Kau berbohong.""Tidak, Yang Mulia. Hamba hanya..." dia berhenti, mencari kata, "...tidak nyaman."Kaisar tersenyum tipis. Tidak nyaman. Benar! Dia pasti tidak nyaman karena aku memaksanya menerima titah ini.Dia tidak tahu bahwa Ning Yuan berbohong. Dia mengira Ning Yuan tidak nyaman karena cara lici
Di gazebo istana, Kaisar tersenyum gembira melihat kedatangan Ning Yuan dari kejauhan. Tapi senyum itu langsung pudar saat melihat Shen Ziyuan berjalan dibelakang Ning Yuan."Dia sengaja membawa suami sialannya." Kaisar mengepalkan tinjunya di balik lengan jubah. "Agar aku tidak bisa terlalu dekat dengannya. Pintar juga kau, Ning Yuan." "Apa kau pikir aku tidak bisa menyingkirkan pria sialan itu dari sini?""Kasim Zhao," panggilnya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari Ning Yuan yang berjalan mendekat.Kasim Agung Zhao langsung mendekat, menunduk hormat. "Ada apa, Yang Mulia?"Kaisar berbisik sesuatu di telinganya. Kasim Zhao mengangguk, senyum tipis terukir di wajah tuanya. "Hamba mengerti, Yang Mulia."Kasim Zhao pun pergi.***Ning Yuan dan Shen Ziyuan tiba di gazebo. Mereka memberi hormat dengan sopan."Hamba Shen Ziyuan dan istri hamba, Ning Yuan, datang menghadap Kaisar." ucap Shen Ziyuan dengan suara penuh semangat. "Semoga Yang Mulia selalu panjang umur."Kaisar mengangguk
Ning Xue'er menggigit bibirnya. "Sialan! Ning Yuan telah berhasil menjerat kak Shen Ziyuan di ranjangnya! Aku tidak boleh tinggal diam.""Tapi Kakak Ziyuan," ujarnya dengan suara bergetar, menundukkan kepala, "Itu berarti kau akan terus mendatangi kamar kak Ning Yuan hingga dia bisa hamil? Kak Ziyuan, apa permainan ranjang kak Ning Yuan jauh lebih memuaskanmu di banding aku? Aku rela melakukan apapun untuk memuaskanmu di ranjang kak.""Tidak! Tidak begitu sayang. Permainan ranjangmu jauh lebih liar dan panas dibandingkan dia. Aku menidurinya hanya demi keluarga Shen. Tidak lebih. Percayalah padaku." ucap Shen Ziyuan buru-buru menenangkan Ning Xue'er."Tapi jika kak Ning Yuan benar-benar nantinya hamil, lantas anak yang ada di dalam kandunganku ini bagaimana? Posisiku hanyalah selir. Aku tidak ingin anakku nanti merasakan nasib seperti aku yang selalu ditindas oleh anak dari istri sah. Aku juga tidak ingin anak kita ini pandang rendah oleh orang-orang." rengeknya sambil menangis tersed
Ning Xue'er menunggu di koridor sejak fajar.Matanya mengawasi pintu kamar Ning Yuan dengan sabar. Dia yakin semalam tidak terjadi apa-apa antara Ning Yuan dan Shen Ziyuan. "Jangan harap malam-malam kesepianmu akan berakhir! Aku sudah menguasai hati Shen Ziyuan sepenuhnya selama dua tahun ini. Pria itu tidak akan pernah menyentuh wanita lain selain diriku." Ucapnya pelan penuh kesombongan.Akhirnya pintu terbuka dan Ning Yuan melangkah keluar, Ning Xue'er segera menghampiri dengan senyum manis. Di tangannya, sepiring manisan berwarna-warni."Kakak," sapa Ning Xue'er dengan suara lembut. "Aku sengaja menunggu kakak di sini. Aku bawakan manisan untuk kakak."Ning Yuan berhenti. Matanya menatap Ning Xue'er dengan datar, menunggu drama apa yang akan dimulai pagi ini."Aku tahu kakak pasti sedih," Ning Xue'er melanjutkan, suaranya penuh kepura-puraan. "Kesempatan yang selama dua tahun kakak nantikan ternyata tidak seperti yang kakak bayangkan. Tapi sudahlah, kakak tidak usah bersedih."Nin
Pagi hari. Sinar matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai.Shen Ziyuan membuka mata. Kepalanya terasa berat, pikirannya kabur. Tapi satu hal yang dia sadari, dia berada di kamar Ning Yuan—di ranjang yang sama dengan semalam.Semalam... aku datang ke kamarnya. Lalu...Dia menoleh. Ning Yuan duduk di kursi dekat jendela, berpakaian rapi, wajahnya tenang. Tapi di lehernya, ada tanda merah—bekas ciuman yang tidak bisa disembunyikan.Shen Ziyuan tersenyum puas. Jadi semalam benar-benar terjadi.Dia bangkit, berjalan mendekati Ning Yuan dengan langkah sok percaya diri. "Kau terbangun lebih dulu?"Ning Yuan menatapnya datar. Tidak menjawab."Kau tahu," Shen Ziyuan melanjutkan, suaranya penuh kebanggaan, "aku pikir kau akan sulit ditaklukkan. Tapi ternyata..." dia menyentuh tanda merah di leher Ning Yuan, "...kau begitu jinak setelah aku taklukkan di ranjang semalam."Ning Yuan menahan senyum sinis. "Sepertinya dia tidak ingat apa-apa. Pengawal Kaisar pasti memberinya sesuatu." Batin
Ning Yuan membeku. Matanya membelalak melihat sosok di hadapannya. "Yang—Yang Mulia?"Kaisar berdiri tegak, matanya gelap menyala. Dia menatap Ning Yuan—rambut kusut, selimut melorot, pergelangan tangan masih terikat kain dan terlihat bekas merah. Lalu matanya beralih ke Shen Ziyuan yang terkapar di lantai.Tanpa sepatah kata, Kaisar menendang tubuh Shen Ziyuan hingga terguling ke sudut ruangan."Yang Mulia—" Ning Yuan mencoba bangun."Kau terluka," potong Kaisar, suaranya dingin. "Duduk."Ning Yuan menurut. Tangannya masih gemetar saat merapikan selimut menutupi tubuhnya. "Bagaimana—bagaimana Yang Mulia bisa berada di kamarku?"Kaisar berbalik, melangkah ke arah pintu. "Jadi kau lebih suka dia yang ada di sini? Kalau begiiu aku akan pergi.""Tidak! Bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya mengapa Yang Mulia bisa berada di sekitar kamar ku." Sela Ning Yuan, membiarkan Kaisar membuka ikatan tangannya."Sepertinya kau memang tidak suka melihatku." Ujar Kaisar dingin, lalu berdiri untuk







