LOGIN"Yang Mulia pasti salah orang. Paviliun Bulan? Hamba tidak pernah ke sana."
Suara Ning Yuan berusaha tenang, tapi tangannya sedikit gemetar saat meraih jubah naga di atas meja.
"Kau berbohong. Dan setiap kali kau berbohong, tanganmu pasti gemetar." Kaisar berjalan mendekat—langkahnya pelan, seperti harimau mengintai mangsa. "Apakah aku begitu menakutkan bagi Nyonya?"
Ning Yuan tidak berani menjawab. Ia hanya terus merentangkan jubah, berjalan mengelilingi Kaisar untuk melakukan pengukuran dengan terburu-buru. "Hamba tidak gemetar, Yang Mulia. Hanya sedikit kedinginan."
Kaisar tertawa pelan—rendah, familiar. "Berbohong. Aku tahu kau tidak pernah kedinginan, Nyonya. Kau selalu hangat, terutama saat kita..."
"Yang Mulia!" Ning Yuan memotong dengan suara tinggi, wajahnya memerah. "Hamba tidak tahu identitas Yang Mulia saat itu. Itu kesalahan yang fatal dan memalukan. Hamba… mohon ampun, Yang Mulia."
Ning Yuan membungkuk dalam. Tapi Kaisar tidak membiarkannya menunduk lama. Jemarinya meraih dagu Ning Yuan, mengangkat wajahnya paksa.
"Kesalahan? Memalukan?" Suaranya berbahaya. "Apa yang kau lakukan selama dua tahun terakhir, kau anggap kesalahan yang memalukan?"
Ning Yuan membelalak. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Kaisar menatapnya lama. Lalu ibu jarinya mengusap pipi Ning Yuan dengan lembut—sentuhan yang ia kenal baik. "Aku tidak pernah menganggap itu kesalahan, Ning Yuan. Sebaliknya, aku menikmati setiap malam bersamamu."
"Yang Mulia..."
"Di Paviliun Bulan, kau selalu memanggilku 'priamu' atau 'kekasihmu'. Tapi kau tidak pernah mengetahui namaku." Kaisar tersenyum. "Aku sengaja tidak memberitahumu. Aku ingin melihat kapan kau akan sadar dan bertanya. Tapi ternyata kau bahkan tidak pernah peduli siapa aku."
"Hamba... hamba benar-benar tidak tahu identitas Yang Mulia…" Suara Ning Yuan tercekat. Ini adalah dosa besar. Ia memperlakukan Kaisar sebagai pria bayaran.
"Tapi kau rindu padaku, kan?" Kaisar menyentuh bibir Ning Yuan dengan jarinya. "Kau tidak benar-benar ingin meninggalkanku."
Ning Yuan menunduk. "Hamba tidak boleh memiliki perasaan pada Yang Mulia. Hamba wanita bersuami."
"Tapi kau tidak mencintainya." Kaisar mengangkat dagunya lagi. "Kau bahkan tidak pernah memanggilnya suami kecuali di depan orang lain. Aku tahu. Karena selama dua tahun, kau selalu memanggilku dengan sebutan yang lebih hangat."
Ning Yuan terdiam. Karena itu benar.
Kaisar mendekat. Napasnya hangat di wajah Ning Yuan. "Kau adalah wanitaku, Ning Yuan."
Lalu tanpa peringatan, Kaisar menciumnya—dalam, penuh hasrat, sama seperti malam-malam di Paviliun Bulan. Ning Yuan untuk sesaat lupa di mana dia berada. Ia membalas ciuman itu dengan cara yang sama, tangannya meremas jubah Kaisar.
Tapi ketika napas mereka mulai memburu, Ning Yuan tersadar. Ia mendorong tubuh Kaisar dengan panik.
"Yang Mulia, tidak! Ini istana! Hamba wanita bersuami—ini akan jadi skandal besar!"
Kaisar justru tertawa. "Kau baru sadar sekarang, Nyonya? Padahal kau telah melakukan hal yang lebih berani selama dua tahun ini."
Ia meraih tangan Ning Yuan yang masih menggenggam jubah naga. Perlahan, penuh makna, ia menuntun tangan wanita itu untuk melepaskan genggamannya.
Jubah naga bersulam benang emas meluncur jatuh ke lantai dengan desiran kain sutra yang berat.
Ning Yuan hendak memungutnya, tapi Kaisar lebih cepat. Ia memegang kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke atas kepala—memerangkap wanita itu di antara tubuhnya dan meja ukir naga di belakangnya.
"Jangan urusi jubah itu. Urusi aku," bisik Kaisar di telinganya, suaranya serak dan penuh api.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan keras. Weitian menerobos masuk, diikuti oleh Pangeran Ketiga, Weijun. Wajah Weitian panik."Yuan! Apa kau baik-baik saja?!" dia berlutut di samping Ning Yuan, meraih tangannya. "Kami mendapat laporan ada orang mencurigakan masuk ke paviliunmu—"Weitian berhenti. Dia melihat wajah Ning Yuan. Mata yang berkaca-kaca. Ekspresi yang penuh pertanyaan."Yuan... ada apa?"Ning Yuan menatapnya. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia ingin bertanya. Dia ingin tahu. Tapi dia takut.Weitian menggenggam tangannya lebih erat. "Yuan, katakan padaku. Apa yang terjadi?""Weihu," Ning Yuan akhirnya bersuara, suaranya serak. "Dia datang. Dia mengatakan...."Weitian menegang. "Apa yang dia katakan?"Ning Yuan menatapnya. "Dia bilang... kakekku adalah Jenderal Lin Zhongtian. Dan dia dihukum mati demi mendiang kaisar naik tahta. Dan kau... kau tahu tentang itu. Kau tahu siapa aku sebenarnya."Weitian membeku."Yuan—""Apakah kau benar mencint
Malam itu sunyi. Ning Yuan duduk di depan meja, memandangi luka di lengannya yang sudah dibalut. Pikirannya masih berkecamuk dengan semua yang terjadi—pesta, pengkhianatan, Janda Permaisuri yang ditangkap, dan Weihu yang kabur.Dia menghela napas panjang. Semua ini... terlalu banyak.Tiba-tiba, angin berhembus dari jendela yang sedikit terbuka. Ning Yuan menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak.Di ambang jendela, berdiri Long Weihu. Pria itu tersenyum—senyum yang dingin dan penuh kebencian."Selamat malam, Ning Yuan."Ning Yuan berdiri dengan panik. "Kau—bagaimana kau bisa masuk?!""Paviliun ini terlalu mudah untuk dimasuki," Weihu melangkah masuk dengan santai. "Pengawal-pengawal itu terlalu sibuk menjaga depan, mereka lupa jendela belakang."Ning Yuan mundur, tangannya meraih belati di meja. "Pergi dari sini. Atau aku akan berteriak.""Berteriaklah," Weihu tersenyum. "Tapi sebelum pengawal datang, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu."Ning Yuan ragu. Ada
Di dalam ruangan pesta, suasana mulai berubah.Janda Permaisuri mengamati para tamu yang mulai menikmati anggur. Senyumnya melebar saat melihat beberapa orang mulai terlihat mengantuk. Satu per satu, para tamu mulai terjatuh ke kursi mereka—kepala terkulai, tubuh lemas tak berdaya."Anggurnya sudah bekerja," bisik seorang pelayan di telinga Janda Permaisuri."Bagus," Janda Permaisuri tersenyum puas. "Sekarang, kirim sinyal pada Pangeran Kedua. Saatnya pasukannya bergerak."Pelayan itu mengangguk dan berlari keluar. Janda Permaisuri duduk di kursinya, menikmati pemandangan di hadapannya—puluhan bangsawan tergeletak tak sadarkan diri, tidak ada yang bisa melawan.Sempurna, pikirnya. Sekarang tinggal menunggu Weihu datang dan mengambil alih.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah Long Weihu dengan puluhan pasukan bersenjata lengkap. Mereka langsung menyebar, mengamankan setiap sudut ruangan.Weihu melangkah masuk denga
Di paviliun Ning Yuan, Weitian dan Ning Yuan masih berpelukan setelah menerima laporan dari Ye Haoran. Mereka berdua diam, merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sebelumnya saat Ye Haonan datang."Yang Mulia," Ye Haoran masih berlutut di hadapan mereka, "hamba juga mendengar bahwa Janda Permaisuri akan mengadakan pesta besar besok malam. Konon, untuk merayakan kembalinya Yang Mulia ke istana."Weitian mengerutkan kening. "Pesta? Untuk apa?""Ya, Yang Mulia. Dan hamba mendengar bahwa Janda Permaisuri telah memerintahkan persiapan yang sangat matang. Ada sesuatu yang mencurigakan."Weitian berjalan ke jendela, pikirannya berputar. Pesta besar... di saat yang hampir bersamaan dengan rencana Weihu untuk bergerak... ini pasti bukan kebetulan."Aku harus mencari tahu apa rencana mereka," gumamnya pelan. "Haoran, selidiki lebih dalam. Cari tahu detail pesta itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.""Baik, Yang Mulia," Ye Haoran mengangguk dan pergi.Ning Yuan men
Di paviliun Pangeran Kedua, suasana terasa tegang. Long Weihu duduk di kursi utamanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar. Di hadapannya, seorang pria berpakaian hitam berlutut dengan kepala menunduk."Lapor, Yang Mulia," kata pria itu dengan suara rendah. "Pasukan pengawal Kaisar dan Pangeran Ketiga saat ini sedang mengusut kasus penyerangan di kediaman keluarga Shen beberapa waktu lalu. Mereka juga menyelidiki serangan di lembah saat Kaisar dalam perjalanan pulang."Weihu berhenti mengetuk. Matanya menyipit. "Apa mereka sudah menemukan sesuatu?""Belum, Yang Mulia. Tapi penyelidikan mereka semakin mendekati kebenaran. Kaisar memerintahkan Jenderal Zan dan Ye Haoran untuk menyelidiki para penyerang waktu itu. Jika mereka terus melacak, cepat atau lambat... mereka akan menemukan bukti yang mengarah ke Yang Mulia."Weihu terdiam. Pikirannya berputar cepat. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Weitian tidak bodoh. Dan Weijun juga tidak bodoh. Mereka pasti akan mencari ta
Weitian mengikuti ibunya berjalan menyusuri taman istana. Udara sore terasa sejuk, tapi suasana di antara mereka terasa tegang.Janda Permaisuri berjalan dengan langkah anggun, sesekali berhenti untuk mengagumi bunga-bunga di tepi jalan. Weitian mengikuti di sampingnya, diam, menunggu ibunya memulai pembicaraan."Kau tahu, Yang Mulia," Janda Permaisuri akhirnya bersuara, "aku sangat khawatir padamu saat kau pergi. Istana tanpa kaisar seperti kapal tanpa nahkoda.""Maafkan aku karena membuat Ibu khawatir," jawab Weitian sopan."Tidak apa-apa," Janda Permaisuri tersenyum. "Yang penting kau kembali. Dan kau membawa Ning Yuan." dia berhenti, menatap putranya. "Aku harus mengakui, jodoh diantara kalian sangat kuat Dia wanita yang cantik. Aku bisa paham mengapa kau tergila-gila padanya."Weitian tersenyum tipis. "Terima kasih, Ibu.""Tapi," Janda Permaisuri melanjutkan, suaranya sedikit berubah, "kau tahu apa yang akan dikatakan para bangsawan, bukan? Mereka akan bertanya, 'Bukankah dia dah







