Partager

Salah orang

last update Date de publication: 2021-10-31 05:56:59

Pukul 19.00

Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan.

Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik,

"Mau beli apa lagi?" gumam Leo,

Melirik ujung kepala gadis yang sedang sibuk menunduk, mengabsen barang dari dalam kantong plastik.

"Hm, kayaknya udah deh!"

"Ya udah. Ayo pulang,"

"Hm," angguk Ana, mengikuti langkah pria di sampingnya.

Sesampai di luar toko, tak sengaja sorot mata gadis itu menoleh ke arah lain. Bangunan dengan pernak pernik lentera serta dekorasi serba pink, berhasil memikat Ana.

Langkahnya terhenti, membuat Leo menyadari kemana pandangan adiknya mengarah.

"Mau beli es krim?" tawarnya mengangkat alis,

Ana langsung mengangguk cepat, raut polosnya  tampak begitu riang.

"Ya udah, ayo!"

Leo sigap menggandeng erat tangan Ana sebelum menyebrangi jalan, berhenti tepat ke depan penjual yang telah dituju.

"Kamu bisa pesan sendiri kan? Kakak mau ke toilet dulu."

"Iya bisa." seru Ana, tersenyum mengiyakan.

Dia masih menatap punggung yang baru saja berbalik pergi, terus menghilang dari pandangan. Selanjutnya Ana beralih mendekati kasir,

Gadis itu tampak tenang, tak menyadari jika ada mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Di sebuah kafe bintang lima, Max tengah duduk sambil berpangku tangan.

Matanya begitu tajam, mengenali gadis yang berhasil mengusiknya.

"Bagaimana menurut anda?"

"...?" Max melirik pria yang tak letih berceloteh,

Wajah datarnya hanya terdiam bosan, seakan malas melanjutkan pertemuan.

Sejak kembali, banyak sekali pengusaha yang mengajaknya untuk menjalin hubungan bisnis.

Sebelumnya Max selalu menolak karena tak ingin membangun bisnis di negaranya. Namun sejak kematian Reta, dia mulai menaruh minat dan berusaha mengembangkan perusahaan,

"Kita lanjutkan minggu depan." tegas Max langsung berdiri,

"Tapi, Pak."

Pria itu bingung, menghadapi sikap Max yang seenaknya pergi. Padahal dia telah menyiapkan segalanya dengan baik, bahkan sudah menjelaskan panjang lebar,

Buat apa menunggu minggu depan?

Dengan rasa gundah, berjalan mengikuti Max dari belakang, berharap kerja sama itu segera disetujui.

"Urus dia, aku tidak suka bekerja dengan orang yang tidak sabaran." lugas Max berjalan melewati sekertarisnya,

Fero mengangguk patuh, segera menekan bahu pria yang hendak menyusul. Singkat dia melirik kemana atasannya pergi,

"Mm...kayaknya enak semua, beli yang mana ya?" batin Ana,

Matanya mulai letih mengamati buku menu. "Es krim vanillanya 1, pakai extra topping..."

"Terus sorbet melon 1, sama yang terakhir---gelato bubble gum."

Ana khidmat mendengar pelayan pria di depannya mengulang setiap menu yang dipesan.

"Mohon ditunggu ya, Kak..." ucap pelayan, tersenyum ramah.

Ana membalas senyuman, lalu berjalan mendekati kursi. Sambil menunggu, matanya sibuk memandangi hiasan dinding di depan.

Dibuat terkesan oleh konsep kafe yang terbilang unik dan menarik perhatiannya,

"Mau pesan apa?" gumam pelayan wanita yang baru saja datang, tengah melayani pengunjung lain.

"10 gelato dark coklat tanpa topping,"

DEG!

Ana mematung, telinganya panas seakan mendengar suara familiar di belakang. Perlahan melirik,

Mendapati jas cokelat tua melekat mewah di tubuh atletis seorang pria yang tak lagi muda.

"Smirk!" Max menoleh, berhasil menangkap mata yang sedang mengintipnya.

"Hhh!" Ia terbelalak,

"Nggak!" memekik dalam hati,

Ana langsung mebuang muka, sengaja mengabaikan dan berpura-pura salah lihat.

"A-aku ga lagi mengkhayal kan? Ngapain dia ada di sini?!"

"...?" Max mengernyit, tak sangka gadis itu malah mengabaikannya.

Pertama kali Max mendatangi seorang gadis, berpikir Ana akan senang berlari menghampirinya.

"Hh!" Max tersenyum sepat,

Kakinya melangkah maju guna menghapus jarak, berdiri tepat di samping gadis yang terus duduk diam membuang muka.

"Jangan sok jual mahal," Max menunduk, berbisik singkat.

"M-maaf, siapa ya?" jawab Ana tanpa menoleh.

"Pft! Padahal semalam kamu duluan yang mendatangiku," Max tergelak tawa.

"Hei! Jangan sembarangan ya! Aku tidak pernah kenal pria tua sepertimu."

Ana menunduk geram, masih memunggungi.

Terheran melihat sikap Max, padahal setahu Ana, dia cuma pria penggila kerja yang tak mungkin rela buang-buang waktu mengungkit masalah wanita.

"Semalam aku memakai riasan tebal! Bahkan minjem baju mama, aku juga memakai rambut palsu! Jadi ga mungkin di mengenaliku. Tinggal pura-pura biar dikira salah orang,"

"Tenanglah...Huft, tenang." Ana menghela nafas, berusaha bersikap normal.

"Tua? Yang benar saja, bukankah kamu sudah membuktikannya sendiri..." sanggah Max menatap tengil rok hitam yang Ana kenakan,

"Bukankah benda milikku sangat bertenaga? Pria tua tidak akan bisa seperti itu,"

GREP.

Tangannya tak ragu merangkul, membalikkan tubuh Ana. Penampilan polos, dari jauh perawakan tubuhnya tampak sama, tapi wajah tanpa riasan itu terlihat lebih muda,

"Hh?!" Max mulai ragu,

Mata nakalnya membuat Ana merasa canggung sekaligus gugup. "Aku...benar-benar tidak mengenalmu,"

"Kalau tidak kenal, kenapa harus malu?" bisiknya sengaja usil,

Berusaha memastikan dan melihat lebih dekat. Ana langsung memejamkan mata, rautnya begitu panik,

Entah kenapa reaksinya malah mengundang senyum di wajah Max. Gadis itu terlihat pucat dan penakut,

Bahkan rambutnya lebih panjang, semalam Ana juga memakai riasan agar hidungnya tampak lebih pesek dan memiliki bibir tebal. Membuat Max semakin kebingungan,

"Sepertinya aku salah orang."

"Tuh kan, salah orang!" tegas Ana mendorong tubuh pria itu agar menjauh,

Wajahnya berubah semerah tomat, tapi bibirnya terus menekuk kesal.

Ana hanya terdiam kikuk, hatinya sibuk menggerutu mengumpat pria hina itu. Bisa-bisanya Max malah sibuk mencari gadis yang telah dilecehkan,

"Eh, Tuan Maxime?" sapa Leo,

Baru saja sampai, sedikit kaget menghampiri adiknya sedang bersama Max.

"Kakak..." seru Ana,

Langsung berlari menghampiri, bersembunyi di belakang. Membuat Leo kebingungan dengan sikapnya,

"Kebetulan sekali, apa yang sedang Tuan lakukan disini?"

Lanjut menyapa, sembari merangkul ke belakang, menepuk pelan lengan adiknya supaya tenang.

Ana sengaja menghindar, menyembunyikan wajahnya, supaya Max tidak sadar kalau Ana lah gadis yang sedang dicari.

"Tadi aku ada pertemuan di kafe seberang lalu ga sengaja melihat ke sini---"

"Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku," jawab Max sambil curi-curi pandang.

"Anda benar. Toko ini punya gaya unik yang berbeda dari tempat lain." Leo tersenyum memperpanjang perbincangan,

"Ini, adik saya." imbuhnya, menyadari kemana mata Max memandang.

Leo pikir Max penasaran dengan gadis yang sedari tadi menghindar dan bersembunyi di belakangnya.

Sigap membalikkan tubuh Ana, membawa ke depan hingga tak sengaja menabrak tubuh Max.

"Hh! Leo tolol!" Ana mengumpat dalam hati,

Kepalanya terbentur cukup keras pada dada Max.

"Maaf," Leo panik hendak menarik mundur adiknya,

Namun keduluan oleh Max yang telah meraih lengan Ana agar tidak terjatuh.

Dengan pelan membantunya berdiri tegak. "Tenang saja, aku tidak apa-apa."

"Sepertinya, adikmu sangat pemalu."

"Permisi Kak. Ini pesanan 3 bungkus es krimnya sudah jadi," sontak pelayan toko berhasil mengundang perhatian mereka,

Dengan perasaan lega, Ana sigap melesat pergi menerima satu kantong plastik besar berisi beberapa kotak es krim.

Wajahnya tampak lega, menghela nafas sambil tersenyum riang.

"Kak. Ayo pulang! Banyak yang harus kusiapkan buat besok." ajak Ana mengeraskan suara,

Berdiri dengan jarak cukup jauh,

"Iya, sebentar...Maaf, Pak saya pergi dulu." pamit Leo menunduk singkat,

"Maklum besok adik saya pertama kali masuk sekolah, jadi banyak yang harus disiapkan."

"Pertama kali?" Max mengernyit,

"Iya, sejak kecil adik saya punya sakit jantung jadi selalu belajar sendiri di rumah. Tapi sekarang dia sudah sembuh,"

"Sepertinya memang salah orang." pikir Max,

"Oh, iya! Kalau boleh tahu semalam saat kita bertemu...apa kamu datang bersama orang lain?" imbuhnya,

Max mengingat jelas kalau gadis semalam mengaku sebagai adik Leo,

"Semalam saya datang sendiri. Apa ada sesuatu yang salah?"

"Tidak ada,"

"..." Laki laki itu terdiam mengalihkan pandangan. Tak muncul rasa curiga, karena wajah Leo yang terlihat berterus terang,

Tanpa kata membiarkan mereka pergi.

Drap!

Drap!

Drap!

Terdengar suara langkah kaki dari tepi jalan, pria tinggi berjas hitam tengah berlari.

"Tuan. Sudah waktunya untuk pergi," lugas Fero sengaja menjemput atasan yang tak kunjung kembali.

"Hm..." Max berdehem berjalan mendahului,

Meninggalkan pesanan yang sudah dibayar tanpa konfirmasi.

Seorang pelayan pun datang membawa kantong besar berisi pesanan yang telah siap. Celingak-celinguk mencari,

"Lho? Pelanggannya pergi kemana?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pria milik 'ARANA'   Adu argumen

    Atmosfir ruang rapat utama Sidney Group mendadak mencekam. Aroma kecurigaan menguar pekat dari para tetua keluarga Sidney yang duduk kaku dengan setelan jas kuno mereka. Tatapan mereka merendahkan, tertuju lurus pada satu pria di ujung meja."Kami memang mendepak Ryan," ujar seorang tetua berambut putih tipis. Suaranya parau, sarat akan penghinaan. "Tapi bukan berarti kami sudi menyerahkan kemusi padamu, Max. Kau dan ibumu sudah terlalu lama menjadi orang luar. Kau pikir mengurus perusahaan ini semudah membalikkan telapak tangan? Sidney kini sedang sekarat!""Investor sedang mengincar leher kita!" tetua lain menimpali sambil bersedekap, mendengus sinis. "Saham kita tercecer di pasar. Kau hanya pemuda ingusan yang kebetulan punya nama belakang Sidney. Jangan seret kami ke lubang yang lebih dalam!"Max tidak terpancing. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi pimpinan, duduk dengan gestur santai yang dominan, lalu menghempaskan sebuah map kulit biru tua ke

  • Pria milik 'ARANA'   Jerat sang pengkhianat

    Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m

  • Pria milik 'ARANA'   Hangusnya seluruh kekayaan

    Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka

  • Pria milik 'ARANA'   Bunga mawar di ranjang sempit

    Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan

  • Pria milik 'ARANA'   Gengsi sang kakak

    Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam keluarga

    Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m

  • Pria milik 'ARANA'   Serangan balik

    Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel

  • Pria milik 'ARANA'   Menyelinap keluar

    Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi

  • Pria milik 'ARANA'   Berpindah tubuh

    Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu

  • Pria milik 'ARANA'   Pengkhianatan

    "S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jun

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status