分享

Serangan balik

last update publish date: 2021-10-31 05:43:29

Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain.

Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam keluarga besar mereka. Dulu, Arana selalu berusaha keras memoles diri hanya untuk ditindas oleh mereka.

Ana menatap pantulan dirinya di cermin. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang dingin.

"Tidak perlu dandan. Aku akan turun seperti ini saja," ujar Ana datar.

"Arana yang dulu memang ingin disenangi. Tapi Arana yang sekarang... hanya ingin melihat kalian hancur."

"Tenang saja, Arana. Aku akan membalas mereka yang dulu hobi menghinamu," batin Ana sembari menyeringai tipis.

Masih mengenakan gaun piyama polosnya, ia melangkah menuju taman belakang. Ia sudah tidak sabar ingin melihat rupa para parasit yang hobi merundung pemilik tubuh ini sebelumnya. Dari kejauhan, tampak dua sepupu dan seorang teman asing mereka sedang duduk melingkar. Ketiganya menyesap teh dengan gaya yang dibuat-buat, seolah mereka adalah putri kerajaan.

Tap.

Langkah Ana berhenti tepat di depan meja. Ketiga gadis itu bergeming, tetap memasang wajah angkuh seolah kehadiran Ana hanyalah angin lalu.

"Menjenguk? Cih, bilang saja kalian datang hanya untuk pamer barang mewah," cibir Ana dalam hati sembari menyipitkan mata.

Arana yang dulu mungkin akan terintimidasi, namun kini raga ini dihuni jiwa wanita dewasa yang sudah kenyang asam garam kehidupan. Ia memperhatikan detail mereka, anting yang terlalu besar, rentetan gelang dan cincin yang dipaksakan, serta gaun sewaan yang tampak tidak pas di tubuh. Semuanya hanya demi terlihat hedon.

"Apa-apaan yang kamu pakai itu?" celetuk Mia sembari menatap tajam piyama Ana.

"Apanya? Tentu saja baju," sahut Ana santai.

Tanpa menunggu dipersilakan, ia menarik kursi kosong dan duduk. Ia menyesap teh di hadapannya, lalu mengambil sepotong camilan dengan gerakan luwes.

"Tunggu! Kami belum mencicipi kue itu," protes salah satu dari mereka.

"Dia ini siapa lagi?" pikir Ana malas. Tanpa memedulikan protes itu, ia langsung melahap habis kue di tangannya dalam satu suapan.

Sikap itu jelas membuat mereka syok. Arana yang asli selalu diajarkan untuk menjadi yang terakhir dalam segala hal, seperti budak yang hanya boleh bergerak setelah mendapat aba-aba dari Sarah. Dan Sarah, biang kerok sekaligus pemimpin kelompok kecil ini, tampak mulai kehilangan kesabaran.

"Mm... enak sekali," puji Ana riang. "Kenapa diam saja? Ayo makan. Kalau lapar, tinggal ambil saja, kan?"

Ana mengangkat piring, menawarkannya sekilas. Namun mereka hanya melirik Sarah, menunggu izin dari sang ketua.

"Ngapain menunggu segala? Kalau tidak cepat dimakan, nanti keburu habis lho," ujar Ana acuh tak acuh sembari menyesap tehnya kembali.

"Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?" batin Sarah geram. Tangannya mengepal kuat di bawah meja. Biasanya, Arana hanya akan menunduk dan tidak berani bicara selancang ini.

Sarah menggertakkan gigi. Sebagai putri dari hasil perselingkuhan, ia selalu dituntut ibunya untuk menjadi sempurna demi menjaga kehormatan keluarga. Itulah mengapa ia sangat membenci Arana. Arana punya segalanya tanpa perlu berusaha ibu yang pengertian, ayah yang lembut, dan kakak yang memanjakannya.

"Sepertinya kamu lupa, Kak Sarah tidak sudi berteman dengan gadis culun," tegur Mia dengan tatapan jijik.

Ana mengangkat alis. "Oh, ya? Bicara soal gaya, semalam aku mempelajari tren fashion dari aktris internasional."

Ia terus berbicara sembari mengunyah kue dengan tenang. "Mereka lebih menyukai pakaian yang terkesan minimalis dan polos---seperti yang kupakai sekarang. Setelah kupikir-pikir, pakaian kalian justru terlihat norak dan absurd. Bunga besar di bajumu itu, Sarah... persis seperti daster nenek-nenek."

JLEB.

Kalimat itu menghantam harga diri Sarah dengan telak. Wajahnya memerah padam. Dua gadis lainnya terdiam, mendadak merasa sadar diri. Mereka mulai membandingkan piyama minimalis Ana yang tampak elegan dengan gaun mereka yang terasa "berat" dan norak.

"Kalian itu cuma gadis labil. Sedikit gertakan saja sudah goyah," batin Ana menyeringai puas melihat reaksi mereka.

Mona, teman sekelas mereka yang selama ini menjadi pengikut setia Sarah, mulai bergumam ragu. "Dia benar... bajunya terkesan anggun seperti aktris film. Sedangkan bajuku..."

Sarah menyadari posisinya terancam. Ia tidak boleh kehilangan Mona. Keluarga Mona lebih kaya, dan ia mengincar kakak laki-laki Mona untuk menaikkan status sosialnya.

"T-tenanglah. Setiap aktris punya selera berbeda," sanggah Sarah gugup. "Dan menurutku, kita sangat cocok memakai baju bertema bunga ini."

Satu jam berlalu.

Seorang pelayan berjalan menyusuri jalan setapak taman, membawa nampan berisi kudapan tambahan. Langkahnya terhenti saat mendapati Ana duduk seorang diri di tengah taman yang sepi.

"Non, ini ad---" Kalimatnya terputus. Ia celingak-celinguk mencari tiga tamu tadi. "Eh, yang lain ke mana, Non?"

"Sudah pulang," jawab Ana singkat sembari mencelupkan biskuit ke dalam tehnya. Ia tampak sangat menikmati kesendirian itu.

"Hah? Pulang? Kok cepat sekali, tidak seperti biasanya?"

"Entahlah. Mungkin mereka merasa minder," gumam Ana mengangkat bahu.

"Minder? Maksudnya?"

"Itu... anu... mereka mendadak ingat ada tugas sekolah yang sangat banyak. Jadi mereka pulang untuk mengerjakan PR," timpal Ana berlagak serius. Mana mungkin ia mengaku kalau ia baru saja mengusir mereka dengan komentar pedas.

"Oh..." Bibi mengangguk paham. "Padahal Bibi sudah buatkan banyak camilan. Di dalam masih ada sisa banyak."

"Tenang saja, Bi! Bawa semuanya ke kamarku. Biar aku yang menghabiskannya sambil menonton film," ujar Ana dengan senyum kemenangan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pria milik 'ARANA'   Adu argumen

    Atmosfir ruang rapat utama Sidney Group mendadak mencekam. Aroma kecurigaan menguar pekat dari para tetua keluarga Sidney yang duduk kaku dengan setelan jas kuno mereka. Tatapan mereka merendahkan, tertuju lurus pada satu pria di ujung meja."Kami memang mendepak Ryan," ujar seorang tetua berambut putih tipis. Suaranya parau, sarat akan penghinaan. "Tapi bukan berarti kami sudi menyerahkan kemusi padamu, Max. Kau dan ibumu sudah terlalu lama menjadi orang luar. Kau pikir mengurus perusahaan ini semudah membalikkan telapak tangan? Sidney kini sedang sekarat!""Investor sedang mengincar leher kita!" tetua lain menimpali sambil bersedekap, mendengus sinis. "Saham kita tercecer di pasar. Kau hanya pemuda ingusan yang kebetulan punya nama belakang Sidney. Jangan seret kami ke lubang yang lebih dalam!"Max tidak terpancing. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi pimpinan, duduk dengan gestur santai yang dominan, lalu menghempaskan sebuah map kulit biru tua ke

  • Pria milik 'ARANA'   Jerat sang pengkhianat

    Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m

  • Pria milik 'ARANA'   Hangusnya seluruh kekayaan

    Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka

  • Pria milik 'ARANA'   Bunga mawar di ranjang sempit

    Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan

  • Pria milik 'ARANA'   Gengsi sang kakak

    Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam keluarga

    Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m

  • Pria milik 'ARANA'   Salah orang

    Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung

  • Pria milik 'ARANA'   Menyelinap keluar

    Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi

  • Pria milik 'ARANA'   Salah paham

    WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai terti

  • Pria milik 'ARANA'   Ziarah duka

    Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status