登入Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak.
"Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asing baginya. Saat pandangannya turun ke lantai, ia tertegun melihat potongan kain yang berserakan di mana-mana. Memori semalam menghantam kepalanya bagai godam, tragedi yang memaksanya menghabiskan malam bersama Max. Rasa perih di pangkal pahanya menjadi saksi bisu betapa kasarnya pria itu menjamahnya semalam. "Sial! Aku sudah bersusah payah mendapatkan tubuh gadis perawan, tapi si brengsek ini malah merenggutnya dengan cara seperti ini!" pekik Arana dalam hati, amarahnya membuncah. Ia menoleh ke samping dan mendapati pria bertelanjang dada itu masih terlelap. Parasnya tampak tenang, kontras dengan perbuatan iblisnya semalam. "Dasar pria mesum! Setan! Babi! Kenapa kamu harus menyentuhku?!" Dengan tangan gemetar, Arana menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia meringis melihat kondisi dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun. Baju yang ia kenakan semalam telah hancur menjadi serpihan kain tak berguna. Arana mengepalkan tangan, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Dengan hati-hati, ia turun dari ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia memungut sisa pakaian yang masih layak pakai dan menyambar barang bawaannya. "Aku harus pulang sebelum orang tuaku curiga." Langkahnya terhenti sejenak saat matanya menangkap noda darah yang telah mengering di atas seprai putih. Hatinya mencelos. "Sudah kuputuskan. Aku akan membalas dendam sendiri tanpa bantuanmu, Max! Semoga kita tidak pernah bertemu lagi!" CEKLEK. Suara pintu yang tertutup rapat membangunkan Max. Pria itu tersentak, tangannya meraba sisi ranjang yang sudah mendingin. Gadis kecil itu telah lenyap. Tiba-tiba, seorang pelayan masuk membawa peralatan kebersihan. Max mengernyit terganggu. Dengan wajah datar, ia mengacungkan telunjuk, memberi isyarat agar wanita itu segera keluar. Namun, pelayan itu bergeming. Ia justru melangkah maju dengan tatapan berani. "Apa kau tuli? Aku tidak butuh pelayanan kamar," desis Max dingin. "Saya telah menunggu lama, Tuan. Semalam, semua rencana sudah disusun dengan rapi. Tapi entah dari mana jalang itu muncul dan merebut posisi saya," sahut pelayan itu dengan raut yang dibuat polos. Max tertegun. Pengakuan itu menghantam logikanya. Ternyata benar, ia telah salah paham semalam. Gadis yang ia tiduri bukanlah kiriman yang ia duga. "Tuan..." Pelayan itu tersenyum menggoda. Ia mulai melepas kancing seragamnya, melangkah naik ke atas ranjang dengan gerakan sensual. "Ayo, biarkan saya membuat pagi Anda menyenangkan..." Wanita itu mulai menggerayangi dada bidang Max. Max hanya diam, menatapnya dengan tatapan sinis yang mematikan. "Menjijikkan." "Jangan begitu, Tuan. Saya berjanji tidak akan membuat Anda kecewa," bisik wanita itu sembari mencoba duduk di pangkuan Max. GREP! Tanpa ragu, Max mencengkeram bahu wanita itu dan mengempaskannya ke atas ranjang. Ia bangkit, menatap rendah wanita yang tengah menggeliat bak pelacur kelas teri di depannya. "Tunjukkan seberapa indah suaramu," pancing Max dingin. Wanita itu mendesah penuh nafsu, mengira ia telah berhasil menggoda sang singa. "Apa kau masih perawan?" tanya Max tiba-tiba. Wanita itu bungkam. Kegugupan mulai merayap di wajahnya. "Sepertinya tidak," Max tersenyum remeh. "Aku tidak sudi menyentuh barang kotor." "Tuan! Aku bisa membuatmu lebih puas daripada gadis semalam!" teriak wanita itu putus asa. Ia bahkan nekat menanggalkan seluruh pakaiannya demi menarik perhatian Max. Namun, Max sama sekali tidak bergeming. Ia justru meraih ponselnya dan menekan beberapa digit. Tak lama kemudian, dua pengawal berjas rapi masuk ke dalam kamar. "Bawa pergi. Buang ke tempat yang seharusnya," perintah Max tanpa emosi. "Tunggu! Biarkan aku memakai baju! TUAN! TUNGGU!!!" Max mengabaikan jeritan itu. Pandangannya kini beralih pada Fero, sekretarisnya, yang baru saja masuk dengan seringai tipis. "Ada yang lucu?" tanya Max tajam. "Ehem. Tidak, Tuan," Fero berdeham, mencoba menahan tawa. "Saya hanya takjub, dalam beberapa jam saja, Tuan sudah dikerubungi banyak wanita." "Di mana gadis itu?" "Tenang, saya sudah memerintahkan pengawal untuk mencari siapa yang mengirim pelayan tadi ke sini---" "Bukan dia yang kumaksud, bodoh!" bentak Max. Fero mengangkat alis, pura-pura bingung. Sebagai sekretaris sekaligus teman lama Max, hanya dia yang berani bersikap sedikit santai, meski ia tetap tahu kapan harus serius. "Jangan berlagak pening. Di mana gadis yang bersamaku semalam?!" Max mengertakkan gigi. Fero segera memperbaiki posisi berdirinya begitu merasakan aura membunuh dari tuannya. "Tiga jam yang lalu, seorang wanita mengenakan jas pria terlihat keluar dari kamar Anda." "Dan kamu membiarkannya pergi begitu saja?!" "Maaf, Tuan. Saya tidak berani bertindak tanpa perintah Anda." "Ck! Sebelum kesabaranku habis, telusuri semua hal tentang perempuan itu!" perintah Max penuh penekanan. "Cari tahu siapa dia, dan apa tujuannya datang ke kamar ini!" Di sisi lain... Seorang gadis masih meringkuk lemas di bawah selimut tebal. Dengan sisa tenaga yang ada, Ana berhasil kembali ke kamarnya semalam tanpa menimbulkan keributan. Setelah membersihkan diri, ia segera menyembunyikan baju pria yang ia curi di tumpukan pakaian paling bawah. Semua rahasia pelarian itu ia ketahui berkat memori pemilik tubuh aslinya, tentang pintu belakang yang sering digunakan para pelayan untuk berbelanja di pagi buta. CEKLEK. Pintu kayu terbuka. Citra melangkah masuk, menghampiri putrinya dengan gurat wajah lembut. "Sayang..." panggil Citra lirih sembari mengusap pipi tirus Ana. Tubuh Ana terasa remuk akibat tragedi semalam. Rasa lelah yang luar biasa membuatnya enggan sekadar membuka mata. "Ng... aku masih mengantuk, Ma. Biarkan aku tidur setengah jam lagi," gumam Ana sembari memunggungi ibunya. Citra tertegun menatap punggung berbalut piyama merah muda itu. Sejak kapan Ana berani menolak? Dulu, gadis ini sangat penurut dan tak pernah mengulur waktu. Namun, perubahan ini justru membuat Citra lega. Ia senang melihat putrinya mulai bersikap seperti remaja normal lainnya. "Ayo makan dulu. Lihat, badanmu makin kurus saja," ujar Citra gemas sambil mencubit pelan perut rata Ana. "Aw!" Ana memekik spontan. Gerakan sekecil itu membuat bagian bawah tubuhnya terasa nyeri luar biasa, seolah diiris oleh sebilah pisau. "Kenapa, Sayang?" Citra panik. "Ssh... tidak apa-apa. Sepertinya perut Ana cuma terlalu lapar," kilah Ana dengan senyum getir. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang. "Bajingan sialan. Ini pasti gara-gara kejadian semalam!" maki Ana dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan ibunya, Ana bergegas mencari kotak obat di kamarnya begitu Citra keluar. Ia menelan pil pereda nyeri dengan rakus, berharap penderitaan fisiknya segera hilang sebelum ia harus menghadapi sandiwara di meja makan. "Besok Ana sudah bisa lanjut kuliah," celetuk Wira, sang ayah, di tengah sarapan. Ana nyaris tersedak. "Kuliah?" "Iya. Kamu akan punya banyak teman baru," tambah Citra penuh semangat. "Nanti malam kamu bisa ikut kakakmu belanja perlengkapan kuliah sambil jalan-jalan." Ana hanya mengangguk singkat. Pikirannya terlalu penuh untuk mencerna rencana kuliah, sementara perutnya terlalu lapar untuk berhenti mengunyah. Pukul 14.00 "Nyonya, di luar ada Nona Sarah dan Nona Mia," lapor seorang pelayan paruh baya. Sejak biaya pengobatan Ana terhenti, keluarga Pratama kembali mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus rumah besar ini. "Suruh mereka masuk. Siapkan tempat di taman belakang, lalu panggilkan Ana," perintah Citra. Tak lama kemudian, suara hentakan high heels bergema di lantai marmer. Tiga gadis berjalan dengan angkuh menuju sofa. "Selamat siang, Tante..." Sarah menyapa dengan senyum manis yang tampak terlatih. Ia menyodorkan sebuah bingkisan. "Ini salam dari Mama." Citra menerima bingkisan itu dengan sopan namun dingin. Hubungannya dengan ibu Sarah memang sudah lama retak, sejak wanita itu merebut kakak ipar Citra dan menjadi istri kedua. "Terima kasih. Kalian bisa langsung ke taman belakang, biar bibi memanggil Ana." Di kamarnya, Ana sedang asyik menggulir layar ponsel. Ia menatap deretan baju model terbaru di toko online dengan mata berbinar. Ia ingin membuang semua baju lama di lemarinya yang membosankan dan menggantinya dengan gaya yang lebih "berani". TOK TOK TOK! "Siapa?" tanya Ana ketus. "Ini saya, Non..." sahut asisten rumah tangga dari balik pintu. "Nona Sarah dan Nona Mia datang menjenguk. Mereka menunggu di taman." Ana mengernyit. Nama-nama itu memicu memori buruk di kepalanya. Sarah dan Mia, dua sepupu yang dalam ingatan pemilik tubuh asli selalu menjadi sumber intimidasi terselubung. "Perlu saya bantu pilihkan baju, Non?" tawar pelayan itu antusias. "Bukankah Nona selalu ingin tampil rapi dan cantik agar mereka senang berteman dengan Nona?"Atmosfir ruang rapat utama Sidney Group mendadak mencekam. Aroma kecurigaan menguar pekat dari para tetua keluarga Sidney yang duduk kaku dengan setelan jas kuno mereka. Tatapan mereka merendahkan, tertuju lurus pada satu pria di ujung meja."Kami memang mendepak Ryan," ujar seorang tetua berambut putih tipis. Suaranya parau, sarat akan penghinaan. "Tapi bukan berarti kami sudi menyerahkan kemusi padamu, Max. Kau dan ibumu sudah terlalu lama menjadi orang luar. Kau pikir mengurus perusahaan ini semudah membalikkan telapak tangan? Sidney kini sedang sekarat!""Investor sedang mengincar leher kita!" tetua lain menimpali sambil bersedekap, mendengus sinis. "Saham kita tercecer di pasar. Kau hanya pemuda ingusan yang kebetulan punya nama belakang Sidney. Jangan seret kami ke lubang yang lebih dalam!"Max tidak terpancing. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi pimpinan, duduk dengan gestur santai yang dominan, lalu menghempaskan sebuah map kulit biru tua ke
Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m
Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka
Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan
Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar
Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m
Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung
Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel
WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai terti
Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C







