LOGINWARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.
Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai tertinggi, kamar 450. Ting! Pintu terbuka. Ana menarik napas panjang sebelum menempelkan kartu. Suara kunci elektronik yang terbuka terdengar memuaskan di telinganya. "Kosong. Bagus," gumam Ana saat mendapati suite mewah itu tampak sunyi. Ia menyusuri ruangan, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar. CEKLEK. Suara pintu utama yang terbuka mengejutkan Ana. Panik, ia segera melesat dan meringkuk di balik bayangan ranjang king-size. "Sial, baru lima belas menit. Kenapa dia sudah kembali?" batinnya kalut. Langkah kaki terdengar mendekat. Ana menahan napas, matanya tertuju pada sepasang sepatu yang melintas. "Huft... pelayan rupanya." Ana mengembuskan napas lega saat menyadari itu hanya staf hotel yang meletakkan teko kaca dan gelas di atas meja. Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Ana yang tengah mengotak-atik ponselnya kembali tersentak saat mendengar langkah kaki berat dari arah koridor. Kali ini, auranya berbeda. Jauh lebih dominan. CEKLEK. Seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang memeluk tubuh atletisnya melangkah masuk. Ia melemparkan berkas ke meja, lalu jemari panjangnya mulai melepas kancing kemeja satu per satu, menanggalkan dasi yang terasa mencekik. Ana menelan ludah. "Kenapa aku malah bersembunyi? Niatku kemari adalah untuk mengungkap kebusukan Ryan pada om Maxime!" Memaksakan keberanian yang nyaris runtuh, Ana bangkit berdiri. Ia melangkah berjinjit di atas karpet tebal, mencoba mendekati punggung lebar yang kokoh di depannya. Tangannya gemetar, perlahan terulur hendak menyentuh bahu pria itu. GREP! "Aw...!" Belum sempat jemarinya mendarat, sebuah gerakan secepat kilat menyambar pergelangan tangannya. Tubuh Ana ditarik paksa hingga dadanya membentur punggung keras pria itu. Genggaman itu begitu kuat, seolah hendak meremukkan tulangnya. "Siapa yang membiarkan jalang sepertimu masuk ke kamarku?" cibir Maxime Laksmana, dengan suara bariton yang dingin dan mematikan. Maxime berbalik, matanya yang tajam bak elang menatap Ana dengan sinis. Rahangnya mengeras, gigi-giginya terkatup rapat menahan emosi yang meledak. Sorot matanya begitu dingin hingga mampu membekukan aliran darah Ana. "T-tidak... kamu salah paham," sanggah Ana terbata. "Ck!" Maxime berdecak. Tiba-tiba, hawa panas yang tidak wajar mulai membakar aliran darahnya. Entah bagaimana, sentuhan fisik dengan gadis asing ini memicu reaksi yang tidak terkendali di bagian bawah tubuhnya. Napas Maxime mulai memburu. Hasrat liar yang tak masuk akal mendadak menguasai akal sehatnya. Dengan satu sentakan kasar, ia mencengkeram kerah baju Ana dan melempar tubuh ramping itu ke atas ranjang. "Aku sudah muak dengan rencana licik murahan seperti ini," geram Maxime. Matanya menggelap, dipenuhi gairah gelap yang mengerikan. "Tunggu! Maxime, dengarkan aku!" Ana berusaha bangkit, namun Maxime sudah lebih dulu menindihnya. Pria itu menanggalkan jasnya dengan kasar, memperlihatkan kemeja putih yang kini transparan karena keringat. Maxime bukan sekadar pria tampan, ia adalah pemangsa. Disebut pembunuh berdarah dingin karena ia tak pernah menyisakan ampun bagi siapa pun yang menjebaknya. Dan malam ini, ia merasa dijebak. "Bukankah ini yang kamu inginkan?" desis Maxime tepat di telinga Ana. Tangan kekarnya bergerak liar melepas ikat pinggang dan ritsleting celana. Ana terbelalak saat dada bidang yang keras menghimpit tubuhnya. Otot-otot perut yang tegas dan lengan yang kuat menekan setiap inci kulitnya. "Hentikan! Aku bukan wanita seperti itu!" teriak Ana, tangannya berusaha mendorong dada Maxime yang terasa seperti tembok baja. "Riasan tebal, baju seksi, dan parfum yang memuakkan ini... apa lagi yang kamu jual jika bukan tubuhmu?" Maxime menatapnya penuh kebencian sekaligus nafsu yang berkobar. Obat perangsang yang tanpa sengaja ia tenggak dari gelas di meja tadi benar-benar telah mencapai puncaknya. Seluruh sarafnya berteriak meminta pelepasan, dan gadis di bawahnya ini terasa begitu dingin dan menggoda seperti penawar dahaga. "Jangan! Lepaskan!" pekik Ana saat tangan Maxime mulai merayap liar di bawah gaun tanpa lengannya. "Berhenti bermain tarik ulur denganku!" gertak Maxime. Keringat membanjiri keningnya. Suara rintihan Ana di telinganya terdengar seperti simfoni yang mengundang hasrat lebih dalam. Tangan Maxime merogoh paha putih Ana, menyentuh kulit halusnya dengan rakus. KesaMaximennya habis. Dengan kekuatan yang mengerikan, ia merobek long dress biru itu hingga hancur, menyisakan Ana dalam balutan pakaian dalam yang minim. "DASAR MESUM!" Ana menjerit, memeluk tubuhnya sendiri berusaha menutupi gumpalan kenyal yang kini terekspos di depan mata Maxime. Maxime tidak peduli. Ia mencengkeram rahang kecil Ana, memaksa gadis itu menatap matanya yang merah karena gairah. Tanpa peringatan, ia meraup bibir Ana dengan brutal. "Mmph...!" Ana membelalak saat lidah Maxime menerobos masuk, menginvasi mulutnya dengan rakus. Lumatan itu begitu panas dan menuntut, menyalurkan saliva dan aroma maskulin yang memabukkan. Tangan Maxime yang lain sibuk mencari pengait bra di belakang punggung Ana. Ana menggeliat liar, kuku-kukunya mencakar punggung Maxime hingga meninggalkan bekas merah yang dalam. Namun, Maxime seolah tak merasakan sakit. Maxime melepaskan lumatan kasarnya, menyisakan napas Ana yang tersengal sebelum dengan kasar merenggut kain yang menutupi dada gadis itu. Tatapan Maxime berubah liar, matanya menggelap penuh nafsu saat memandangi sepasang gundukan kenyal yang kini terekspos tanpa perlahan di depannya. Tanpa peringatan, tangan kekarnya meremas kuat. "Ah..." Sebuah desahan tertahan lolos dari bibir Ana. Meski otaknya berteriak menolak, tubuh muda itu bereaksi khianat terhadap setiap sentuhan panas yang diberikan Maxime. "Tu-tunggu! Ini salah paham!" Alana terbata, mencoba mencari sisa kewarasannya. "A-aku adik Leo Prawira. Pria yang baru saja kamu temui!" Maxime menyeringai sinis, tatapannya meremehkan. "Oh? Jadi pria itu mengirim jalang kecil untuk menyuapku agar setuju?" "Bukan! Kamu salah paham. Aku ke sini untuk menjelaskan sesuatu," tegas Ana sembari menggigit bibir bawahnya. Perutnya terasa mulas, tergelitik oleh sensasi aneh saat jemari Maxime mulai bermain dengan puncak dadanya, memilin dan memutar dengan ritme yang menyiksa. "Lalu? Jelaskan lah," bisik Maxime dengan nada licik. Lidahnya membasahi bibir, sementara jarinya terus menuntut reaksi dari tubuh Ana hingga gadis itu membeku. "A-aku... s-sebenarnya..." "Ah!" "Cukup. Waktumu habis," potong Maxime dingin. "Apa pun yang kamu katakan, kamu tetaplah penggoda yang masuk ke ranjangku atas kemauanmu sendiri." Hasrat yang memuncak membuat Maxime kehilangan kendali. Ia menunduk, menyesap rakus puncak dada Ana sembari tangannya merayap ke bawah, menerobos masuk ke dalam celana gadis itu. "Tidak! Jangan di sana! Hentikan!" pekik Ana saat merasakan jari-jari besar Maxime mulai menjelajahi lipatan intimnya yang mulai lembap. Dua jari kekar itu merangsek masuk dengan paksa, menembus pertahanan sempit yang belum pernah tersentuh. "AAA!" Ana memekik hebat, jemarinya mencengkeram sprei di bawah tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasanya begitu sesak, seolah tubuhnya dipaksa menerima sesuatu yang terlalu besar. Tubuhnya bergetar hebat saat Maxime mulai menggerakkan jarinya dengan lihai di dalam sana, menciptakan simfoni antara rasa sakit dan kenikmatan yang memuakkan. "Dasar om bajingan! Aku ini keponakanmu!" jerit Ana dalam hati. Air mata mulai mengalir deras saat Maxime melepas jarinya yang kini basah oleh cairan bening bercampur bercak kemerahan. Maxime menyeringai puas, ia segera menurunkan ritsleting celananya. Mata Ana membelalak ngeri saat melihat kejantanan Maxime yang telah menegang sempurna. Begitu besar dan mengancam. Maxime menarik tangan Ana, menguncinya di atas kepala sebelum memposisikan dirinya di antara kedua kaki gadis itu. Dep. Ujung kejantanan Maxime yang panas mulai bersentuhan dengan inti milik Ana. "Tidak! Om Neil! Jangan lakukan itu!" mohon Ana dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. "JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!" gertak Maxime penuh murka. Matanya berkilat marah. "Hanya satu orang yang boleh memanggilku begitu, dan dia sudah mati!" Maxime tidak peduli lagi. Baginya, gadis di bawahnya hanyalah jalang kecil yang mencoba bermain api. Tanpa peringatan, ia menghujamkan miliknya, menerobos masuk dengan satu dorongan kuat. "AAA!!!!" Ana menjerit sekuat tenaga. Rasa sakit yang luar biasa menghujam tubuh mudanya. Sesuatu di dalam sana seolah robek paksa saat kejantanan pria berusia 30 tahun itu mengisi penuh rahimnya. Maxime sempat tertegun saat merasakan hambatan yang begitu ketat, namun ia terlanjur buta oleh nafsu. "Ck! Kamu berakting sangat baik," geram Maxime, mulai menghentakkan pinggangnya dengan kasar. Setiap guncangan terasa seperti serangan peluru yang menghancurkan pertahanan Ana. Sakit. Bagai dikoyak berulang kali. Kesadaran Ana mulai menipis, dunianya berputar hingga perlahan pandangannya mengabur. Ia pingsan dalam penderitaan yang tak tertahankan. Maxime berhenti bergerak saat menyadari tubuh di bawahnya menjadi lemas dan membisu. Ia menarik dirinya keluar, dan seketika ia terpaku. Bercak merah pekat menodai sprei putih yang mahal itu. Darah perawan. Maxime tertegun. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah pucat Ana. "Kamu... benar-benar masih bersih? Bahkan pingsan sebelum permainan selesai," gumamnya tak percaya. Rasa sesal mendadak menyusup di celah hatinya. Bagaimana mungkin gadis sekecil dan seberani ini masuk ke kamarnya hanya untuk menyerahkan kesuciannya? Maxime menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Alana yang malang, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk meredam sisa nafsunya dengan air dingin. Satu jam kemudian. Maxime kembali dengan rambut basah dan handuk melilit pinggang. Ia menatap ponselnya, melihat nama Leo Prawira di sana. "Leo Prawira... aku tertarik dengan bisnismu, tapi apa benar kamu yang mengirim adikmu sendiri untuk menjadi tumbal?" gumamnya dingin. Ia menoleh ke arah ranjang, menatap wajah Alana yang masih memerah karena sisa tangis. Tangannya terulur, mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya. "Ck! Bikin repot saja. Aku benar-benar telah merusak gadis kecil ini."Atmosfir ruang rapat utama Sidney Group mendadak mencekam. Aroma kecurigaan menguar pekat dari para tetua keluarga Sidney yang duduk kaku dengan setelan jas kuno mereka. Tatapan mereka merendahkan, tertuju lurus pada satu pria di ujung meja."Kami memang mendepak Ryan," ujar seorang tetua berambut putih tipis. Suaranya parau, sarat akan penghinaan. "Tapi bukan berarti kami sudi menyerahkan kemusi padamu, Max. Kau dan ibumu sudah terlalu lama menjadi orang luar. Kau pikir mengurus perusahaan ini semudah membalikkan telapak tangan? Sidney kini sedang sekarat!""Investor sedang mengincar leher kita!" tetua lain menimpali sambil bersedekap, mendengus sinis. "Saham kita tercecer di pasar. Kau hanya pemuda ingusan yang kebetulan punya nama belakang Sidney. Jangan seret kami ke lubang yang lebih dalam!"Max tidak terpancing. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi pimpinan, duduk dengan gestur santai yang dominan, lalu menghempaskan sebuah map kulit biru tua ke
Berita penyerahan diri Syla ke kepolisian meledak seperti bom waktu di seluruh media massa. Di sebuah kos yang sempit dan bau, Ryan menatap layar televisi dengan mata merah dan rambut berantakan. Botol-botol minuman keras berserakan di kakinya."Syla... jalang sialan!" geram Ryan, melemparkan gelas kacanya ke arah televisi hingga layar itu retak. "Dia mengkhianatiku!"Ryan segera meraup paspor dan sisa uang tunai yang ia simpan di dalam dompet. Ia harus pergi malam ini juga sebelum polisi melacak keberadaannya. Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti.Dua orang pria tegap berpakaian hitam sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah mereka, Max Sidney berdiri dengan ekspresi sedatar es."Mau ke mana, Ryan? Pesta baru saja dimulai," ujar Max dingin.Ryan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Max... dengar, ini semua salah paham. Syla berbohong! Dia yang merencanakan semuanya, aku hanya---"BUGH!Belum sempat Ryan m
Satu Bulan Kemudian...Gedung pusat Sidney Group yang dulu megah kini terasa seperti bangunan sekarat. Di dalam ruang rapat utama, suasana sangat panas. Ryan duduk di kursi pimpinan dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya. Di sampingnya, Syla berdiri dengan wajah pucat, tak lagi memiliki keangkuhan yang biasa ia pamerkan."Cukup, Ryan!" bentak salah satu tetua keluarga Sidney sambil menggebrak meja. "Lihat apa yang kau lakukan! Saham kita anjlok, investor lari, dan kita di ambang kebangkrutan karena keputusan-keputusan bodohmu!""Paman, ini semua karena serangan fajar dari pihak asing, saya bisa menjelaskannya---""Tidak ada lagi penjelasan!" potong tetua lainnya dengan nada muak. "Kamu itu cuma orang luar! Kamu hanya beruntung menikahi Areta. Sekarang setelah dia tidak ada, kamu cuma membawa sial bagi keluarga ini!"Syla mencoba maju. "Tuan-tuan, tolong dengarkan, kita masih bisa---""Diam kau, Syla!" bentak mereka
Citra dan Dirga berhenti di depan pintu kamar Ana dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Citra menyenggol lengan suaminya, lalu menatap Ana dan Max bergantian dengan mata berbinar."Mama dan Papa sudah sedikit menghias kamar kalian. Ya, tidak semewah hotel tadi, tapi kami harap kalian nyaman. Selamat menikmati malam pengantin baru, ya!"Wajah Ana seketika memerah padam hingga ke telinga. Sebelum ia sempat memprotes, Citra sudah tersipu malu sendiri, lalu dengan cepat menarik lengan Dirga menuju kamar mereka. "Ayo, Pa! Jangan mengganggu mereka terus!"Pintu kamar orang tua Ana tertutup rapat, meninggalkan Ana dan Max dalam keheningan yang canggung di depan pintu kamar yang kini berhias pita sederhana. Begitu pintu dibuka, aroma terapi lavender dan taburan kelopak bunga mawar di atas ranjang menyambut mereka.Cahaya lampu tidur yang memberikan semburat kuning, memantul di mata Max yang tampak lebih rileks dari biasanya.Max melepaskan
Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar
Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m
Pukul 19.00 Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung
Ana terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain. Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam kel
Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi
Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C







