Se connecterPukul 19.00
Hamparan lantai yang begitu luas, cahaya terang serta hentak kaki yang saling bersahutan. Di depan rak kaca, terlihat bayangan gadis tengah berjalan bersama kakak laki-lakinya. Kedua tangan mereka sibuk menenteng beberapa kantong plastik, "Mau beli apa lagi?" gumam Leo, Melirik ujung kepala gadis yang sedang sibuk menunduk, mengabsen barang dari dalam kantong plastik. "Hm, kayaknya udah deh!" "Ya udah. Ayo pulang," "Hm," angguk Ana, mengikuti langkah pria di sampingnya. Sesampai di luar toko, tak sengaja sorot mata gadis itu menoleh ke arah lain. Bangunan dengan pernak pernik lentera serta dekorasi serba pink, berhasil memikat Ana. Langkahnya terhenti, membuat Leo menyadari kemana pandangan adiknya mengarah. "Mau beli es krim?" tawarnya mengangkat alis, Ana langsung mengangguk cepat, raut polosnya tampak begitu riang. "Ya udah, ayo!" Leo sigap menggandeng erat tangan Ana sebelum menyebrangi jalan, berhenti tepat ke depan penjual yang telah dituju. "Kamu bisa pesan sendiri kan? Kakak mau ke toilet dulu." "Iya bisa." seru Ana, tersenyum mengiyakan. Dia masih menatap punggung yang baru saja berbalik pergi, terus menghilang dari pandangan. Selanjutnya Ana beralih mendekati kasir, Gadis itu tampak tenang, tak menyadari jika ada mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Di sebuah kafe bintang lima, Max tengah duduk sambil berpangku tangan. Matanya begitu tajam, mengenali gadis yang berhasil mengusiknya. "Bagaimana menurut anda?" "...?" Max melirik pria yang tak letih berceloteh, Wajah datarnya hanya terdiam bosan, seakan malas melanjutkan pertemuan. Sejak kembali, banyak sekali pengusaha yang mengajaknya untuk menjalin hubungan bisnis. Sebelumnya Max selalu menolak karena tak ingin membangun bisnis di negaranya. Namun sejak kematian Reta, dia mulai menaruh minat dan berusaha mengembangkan perusahaan, "Kita lanjutkan minggu depan." tegas Max langsung berdiri, "Tapi, Pak." Pria itu bingung, menghadapi sikap Max yang seenaknya pergi. Padahal dia telah menyiapkan segalanya dengan baik, bahkan sudah menjelaskan panjang lebar, Buat apa menunggu minggu depan? Dengan rasa gundah, berjalan mengikuti Max dari belakang, berharap kerja sama itu segera disetujui. "Urus dia, aku tidak suka bekerja dengan orang yang tidak sabaran." lugas Max berjalan melewati sekertarisnya, Fero mengangguk patuh, segera menekan bahu pria yang hendak menyusul. Singkat dia melirik kemana atasannya pergi, "Mm...kayaknya enak semua, beli yang mana ya?" batin Ana, Matanya mulai letih mengamati buku menu. "Es krim vanillanya 1, pakai extra topping..." "Terus sorbet melon 1, sama yang terakhir---gelato bubble gum." Ana khidmat mendengar pelayan pria di depannya mengulang setiap menu yang dipesan. "Mohon ditunggu ya, Kak..." ucap pelayan, tersenyum ramah. Ana membalas senyuman, lalu berjalan mendekati kursi. Sambil menunggu, matanya sibuk memandangi hiasan dinding di depan. Dibuat terkesan oleh konsep kafe yang terbilang unik dan menarik perhatiannya, "Mau pesan apa?" gumam pelayan wanita yang baru saja datang, tengah melayani pengunjung lain. "10 gelato dark coklat tanpa topping," DEG! Ana mematung, telinganya panas seakan mendengar suara familiar di belakang. Perlahan melirik, Mendapati jas cokelat tua melekat mewah di tubuh atletis seorang pria yang tak lagi muda. "Smirk!" Max menoleh, berhasil menangkap mata yang sedang mengintipnya. "Hhh!" Ia terbelalak, "Nggak!" memekik dalam hati, Ana langsung mebuang muka, sengaja mengabaikan dan berpura-pura salah lihat. "A-aku ga lagi mengkhayal kan? Ngapain dia ada di sini?!" "...?" Max mengernyit, tak sangka gadis itu malah mengabaikannya. Pertama kali Max mendatangi seorang gadis, berpikir Ana akan senang berlari menghampirinya. "Hh!" Max tersenyum sepat, Kakinya melangkah maju guna menghapus jarak, berdiri tepat di samping gadis yang terus duduk diam membuang muka. "Jangan sok jual mahal," Max menunduk, berbisik singkat. "M-maaf, siapa ya?" jawab Ana tanpa menoleh. "Pft! Padahal semalam kamu duluan yang mendatangiku," Max tergelak tawa. "Hei! Jangan sembarangan ya! Aku tidak pernah kenal pria tua sepertimu." Ana menunduk geram, masih memunggungi. Terheran melihat sikap Max, padahal setahu Ana, dia cuma pria penggila kerja yang tak mungkin rela buang-buang waktu mengungkit masalah wanita. "Semalam aku memakai riasan tebal! Bahkan minjem baju mama, aku juga memakai rambut palsu! Jadi ga mungkin di mengenaliku. Tinggal pura-pura biar dikira salah orang," "Tenanglah...Huft, tenang." Ana menghela nafas, berusaha bersikap normal. "Tua? Yang benar saja, bukankah kamu sudah membuktikannya sendiri..." sanggah Max menatap tengil rok hitam yang Ana kenakan, "Bukankah benda milikku sangat bertenaga? Pria tua tidak akan bisa seperti itu," GREP. Tangannya tak ragu merangkul, membalikkan tubuh Ana. Penampilan polos, dari jauh perawakan tubuhnya tampak sama, tapi wajah tanpa riasan itu terlihat lebih muda, "Hh?!" Max mulai ragu, Mata nakalnya membuat Ana merasa canggung sekaligus gugup. "Aku...benar-benar tidak mengenalmu," "Kalau tidak kenal, kenapa harus malu?" bisiknya sengaja usil, Berusaha memastikan dan melihat lebih dekat. Ana langsung memejamkan mata, rautnya begitu panik, Entah kenapa reaksinya malah mengundang senyum di wajah Max. Gadis itu terlihat pucat dan penakut, Bahkan rambutnya lebih panjang, semalam Ana juga memakai riasan agar hidungnya tampak lebih pesek dan memiliki bibir tebal. Membuat Max semakin kebingungan, "Sepertinya aku salah orang." "Tuh kan, salah orang!" tegas Ana mendorong tubuh pria itu agar menjauh, Wajahnya berubah semerah tomat, tapi bibirnya terus menekuk kesal. Ana hanya terdiam kikuk, hatinya sibuk menggerutu mengumpat pria hina itu. Bisa-bisanya Max malah sibuk mencari gadis yang telah dilecehkan, "Eh, Tuan Maxime?" sapa Leo, Baru saja sampai, sedikit kaget menghampiri adiknya sedang bersama Max. "Kakak..." seru Ana, Langsung berlari menghampiri, bersembunyi di belakang. Membuat Leo kebingungan dengan sikapnya, "Kebetulan sekali, apa yang sedang Tuan lakukan disini?" Lanjut menyapa, sembari merangkul ke belakang, menepuk pelan lengan adiknya supaya tenang. Ana sengaja menghindar, menyembunyikan wajahnya, supaya Max tidak sadar kalau Ana lah gadis yang sedang dicari. "Tadi aku ada pertemuan di kafe seberang lalu ga sengaja melihat ke sini---" "Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku," jawab Max sambil curi-curi pandang. "Anda benar. Toko ini punya gaya unik yang berbeda dari tempat lain." Leo tersenyum memperpanjang perbincangan, "Ini, adik saya." imbuhnya, menyadari kemana mata Max memandang. Leo pikir Max penasaran dengan gadis yang sedari tadi menghindar dan bersembunyi di belakangnya. Sigap membalikkan tubuh Ana, membawa ke depan hingga tak sengaja menabrak tubuh Max. "Hh! Leo tolol!" Ana mengumpat dalam hati, Kepalanya terbentur cukup keras pada dada Max. "Maaf," Leo panik hendak menarik mundur adiknya, Namun keduluan oleh Max yang telah meraih lengan Ana agar tidak terjatuh. Dengan pelan membantunya berdiri tegak. "Tenang saja, aku tidak apa-apa." "Sepertinya, adikmu sangat pemalu." "Permisi Kak. Ini pesanan 3 bungkus es krimnya sudah jadi," sontak pelayan toko berhasil mengundang perhatian mereka, Dengan perasaan lega, Ana sigap melesat pergi menerima satu kantong plastik besar berisi beberapa kotak es krim. Wajahnya tampak lega, menghela nafas sambil tersenyum riang. "Kak. Ayo pulang! Banyak yang harus kusiapkan buat besok." ajak Ana mengeraskan suara, Berdiri dengan jarak cukup jauh, "Iya, sebentar...Maaf, Pak saya pergi dulu." pamit Leo menunduk singkat, "Maklum besok adik saya pertama kali masuk sekolah, jadi banyak yang harus disiapkan." "Pertama kali?" Max mengernyit, "Iya, sejak kecil adik saya punya sakit jantung jadi selalu belajar sendiri di rumah. Tapi sekarang dia sudah sembuh," "Sepertinya memang salah orang." pikir Max, "Oh, iya! Kalau boleh tahu semalam saat kita bertemu...apa kamu datang bersama orang lain?" imbuhnya, Max mengingat jelas kalau gadis semalam mengaku sebagai adik Leo, "Semalam saya datang sendiri. Apa ada sesuatu yang salah?" "Tidak ada," "..." Laki laki itu terdiam mengalihkan pandangan. Tak muncul rasa curiga, karena wajah Leo yang terlihat berterus terang, Tanpa kata membiarkan mereka pergi. Drap! Drap! Drap! Terdengar suara langkah kaki dari tepi jalan, pria tinggi berjas hitam tengah berlari. "Tuan. Sudah waktunya untuk pergi," lugas Fero sengaja menjemput atasan yang tak kunjung kembali. "Hm..." Max berdehem berjalan mendahului, Meninggalkan pesanan yang sudah dibayar tanpa konfirmasi. Seorang pelayan pun datang membawa kantong besar berisi pesanan yang telah siap. Celingak-celinguk mencari, "Lho? Pelanggannya pergi kemana?"Cahaya berlian memantul ke setiap mata, menciptakan rasa iri di hati Sarah.Di tengah keramaian, perhatian para tamu tertuju pada satu titik, Ana dan kalung berlian yang baru saja melingkar di lehernya.Sarah meremas gelas sampanye di tangan. Matanya tak lepas dari kilau batu mulia itu, hadiah dari Ryan.Direktur perusahaan besar yang selama ini berhasil menduduki peringkat teratas di negara."Bagaimana bisa?" batin Sarah bergejolak."Apa hebatnya Ana? Dia cuma wanita penyakitan yang tidak pernah keluar rumah.""Tidak tahu pergaulan, tidak ada kelas. Kenapa pria seperti Ryan bisa kenal dengannya?"Sarah menarik napas dalam, membetulkan letak gaun satinnya yang mengembang, lalu melangkah maju dengan dagu terangkat. Ia memahat senyum paling menawan yang dimiliki,"Tuan Ryan! Tidak menyangka bisa bertemu dengan pria terhormat seperti anda," sapa Sarah, suaranya mengalun manis, berusaha seperti teman lama yang sanga
Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap di antara denting gelas sampanye.Hampir seluruh keluarga besar hadir, kecuali sang paman yang telah melaporkan ayahnya atas insiden penggelapan uang.Meski sang paman absen, para putrinya tetap ada di sana. Para sepupu Ana yang bermuka dua,"Oh, sayang...malam ini kamu cantik sekali." puji Citra tersenyum membelai pipi putrinya,Ana tersenyum, dia berdiri di dekat meja dekorasi, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuh rampingnya.
Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?
Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba
Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid
Pagi ini, Ana mengunjungi kampus untuk mengikuti seminar penting yang katanya wajib dihadiri. Masih dengan setelan formal yang dipakai bekerja, sebab siang nanti dia harus kembali ke perusahaan. Ana berjalan melewati koridor, mencoba menikmati suasana damai. Tapi perlahan dia mulai merasakan hal aneh, Setelah berjalan melewati gerombolan mahasiswa. Hampir semua dari mereka menatap ke arahnya, Dengan reaksi bermacam-macam, beberapa bahkan tertawa dan berbisik. Ana mengernyit kebingungan, tak tahu apa yang terjadi. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri Alfio yang sedang duduk di depan kelas. "Alfio, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanya Ana sedikit panik, Pria itu hanya menggeleng singkat setelah menatap gugup Ana yang mendekatkan wajahnya. "Terus, kenapa semua orang







