LOGINAna terdiam sejenak. Ingatan tentang Arana yang asli mulai berputar, sosok gadis lemah, naif, dan rela melakukan apa saja demi pengakuan orang lain.
Sarah adalah anak dari istri kedua pamannya, sementara Mia adalah anak dari istri pertama. Keduanya bersahabat, membentuk aliansi yang rumit dalam keluarga besar mereka. Dulu, Arana selalu berusaha keras memoles diri hanya untuk ditindas oleh mereka. Ana menatap pantulan dirinya di cermin. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang dingin. "Tidak perlu dandan. Aku akan turun seperti ini saja," ujar Ana datar. "Arana yang dulu memang ingin disenangi. Tapi Arana yang sekarang... hanya ingin melihat kalian hancur." "Tenang saja, Arana. Aku akan membalas mereka yang dulu hobi menghinamu," batin Ana sembari menyeringai tipis. Masih mengenakan gaun piyama polosnya, ia melangkah menuju taman belakang. Ia sudah tidak sabar ingin melihat rupa para parasit yang hobi merundung pemilik tubuh ini sebelumnya. Dari kejauhan, tampak dua sepupu dan seorang teman asing mereka sedang duduk melingkar. Ketiganya menyesap teh dengan gaya yang dibuat-buat, seolah mereka adalah putri kerajaan. Tap. Langkah Ana berhenti tepat di depan meja. Ketiga gadis itu bergeming, tetap memasang wajah angkuh seolah kehadiran Ana hanyalah angin lalu. "Menjenguk? Cih, bilang saja kalian datang hanya untuk pamer barang mewah," cibir Ana dalam hati sembari menyipitkan mata. Arana yang dulu mungkin akan terintimidasi, namun kini raga ini dihuni jiwa wanita dewasa yang sudah kenyang asam garam kehidupan. Ia memperhatikan detail mereka, anting yang terlalu besar, rentetan gelang dan cincin yang dipaksakan, serta gaun sewaan yang tampak tidak pas di tubuh. Semuanya hanya demi terlihat hedon. "Apa-apaan yang kamu pakai itu?" celetuk Mia sembari menatap tajam piyama Ana. "Apanya? Tentu saja baju," sahut Ana santai. Tanpa menunggu dipersilakan, ia menarik kursi kosong dan duduk. Ia menyesap teh di hadapannya, lalu mengambil sepotong camilan dengan gerakan luwes. "Tunggu! Kami belum mencicipi kue itu," protes salah satu dari mereka. "Dia ini siapa lagi?" pikir Ana malas. Tanpa memedulikan protes itu, ia langsung melahap habis kue di tangannya dalam satu suapan. Sikap itu jelas membuat mereka syok. Arana yang asli selalu diajarkan untuk menjadi yang terakhir dalam segala hal, seperti budak yang hanya boleh bergerak setelah mendapat aba-aba dari Sarah. Dan Sarah, biang kerok sekaligus pemimpin kelompok kecil ini, tampak mulai kehilangan kesabaran. "Mm... enak sekali," puji Ana riang. "Kenapa diam saja? Ayo makan. Kalau lapar, tinggal ambil saja, kan?" Ana mengangkat piring, menawarkannya sekilas. Namun mereka hanya melirik Sarah, menunggu izin dari sang ketua. "Ngapain menunggu segala? Kalau tidak cepat dimakan, nanti keburu habis lho," ujar Ana acuh tak acuh sembari menyesap tehnya kembali. "Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?" batin Sarah geram. Tangannya mengepal kuat di bawah meja. Biasanya, Arana hanya akan menunduk dan tidak berani bicara selancang ini. Sarah menggertakkan gigi. Sebagai putri dari hasil perselingkuhan, ia selalu dituntut ibunya untuk menjadi sempurna demi menjaga kehormatan keluarga. Itulah mengapa ia sangat membenci Arana. Arana punya segalanya tanpa perlu berusaha ibu yang pengertian, ayah yang lembut, dan kakak yang memanjakannya. "Sepertinya kamu lupa, Kak Sarah tidak sudi berteman dengan gadis culun," tegur Mia dengan tatapan jijik. Ana mengangkat alis. "Oh, ya? Bicara soal gaya, semalam aku mempelajari tren fashion dari aktris internasional." Ia terus berbicara sembari mengunyah kue dengan tenang. "Mereka lebih menyukai pakaian yang terkesan minimalis dan polos---seperti yang kupakai sekarang. Setelah kupikir-pikir, pakaian kalian justru terlihat norak dan absurd. Bunga besar di bajumu itu, Sarah... persis seperti daster nenek-nenek." JLEB. Kalimat itu menghantam harga diri Sarah dengan telak. Wajahnya memerah padam. Dua gadis lainnya terdiam, mendadak merasa sadar diri. Mereka mulai membandingkan piyama minimalis Ana yang tampak elegan dengan gaun mereka yang terasa "berat" dan norak. "Kalian itu cuma gadis labil. Sedikit gertakan saja sudah goyah," batin Ana menyeringai puas melihat reaksi mereka. Mona, teman sekelas mereka yang selama ini menjadi pengikut setia Sarah, mulai bergumam ragu. "Dia benar... bajunya terkesan anggun seperti aktris film. Sedangkan bajuku..." Sarah menyadari posisinya terancam. Ia tidak boleh kehilangan Mona. Keluarga Mona lebih kaya, dan ia mengincar kakak laki-laki Mona untuk menaikkan status sosialnya. "T-tenanglah. Setiap aktris punya selera berbeda," sanggah Sarah gugup. "Dan menurutku, kita sangat cocok memakai baju bertema bunga ini." Satu jam berlalu. Seorang pelayan berjalan menyusuri jalan setapak taman, membawa nampan berisi kudapan tambahan. Langkahnya terhenti saat mendapati Ana duduk seorang diri di tengah taman yang sepi. "Non, ini ad---" Kalimatnya terputus. Ia celingak-celinguk mencari tiga tamu tadi. "Eh, yang lain ke mana, Non?" "Sudah pulang," jawab Ana singkat sembari mencelupkan biskuit ke dalam tehnya. Ia tampak sangat menikmati kesendirian itu. "Hah? Pulang? Kok cepat sekali, tidak seperti biasanya?" "Entahlah. Mungkin mereka merasa minder," gumam Ana mengangkat bahu. "Minder? Maksudnya?" "Itu... anu... mereka mendadak ingat ada tugas sekolah yang sangat banyak. Jadi mereka pulang untuk mengerjakan PR," timpal Ana berlagak serius. Mana mungkin ia mengaku kalau ia baru saja mengusir mereka dengan komentar pedas. "Oh..." Bibi mengangguk paham. "Padahal Bibi sudah buatkan banyak camilan. Di dalam masih ada sisa banyak." "Tenang saja, Bi! Bawa semuanya ke kamarku. Biar aku yang menghabiskannya sambil menonton film," ujar Ana dengan senyum kemenangan.Cahaya berlian memantul ke setiap mata, menciptakan rasa iri di hati Sarah.Di tengah keramaian, perhatian para tamu tertuju pada satu titik, Ana dan kalung berlian yang baru saja melingkar di lehernya.Sarah meremas gelas sampanye di tangan. Matanya tak lepas dari kilau batu mulia itu, hadiah dari Ryan.Direktur perusahaan besar yang selama ini berhasil menduduki peringkat teratas di negara."Bagaimana bisa?" batin Sarah bergejolak."Apa hebatnya Ana? Dia cuma wanita penyakitan yang tidak pernah keluar rumah.""Tidak tahu pergaulan, tidak ada kelas. Kenapa pria seperti Ryan bisa kenal dengannya?"Sarah menarik napas dalam, membetulkan letak gaun satinnya yang mengembang, lalu melangkah maju dengan dagu terangkat. Ia memahat senyum paling menawan yang dimiliki,"Tuan Ryan! Tidak menyangka bisa bertemu dengan pria terhormat seperti anda," sapa Sarah, suaranya mengalun manis, berusaha seperti teman lama yang sanga
Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap di antara denting gelas sampanye.Hampir seluruh keluarga besar hadir, kecuali sang paman yang telah melaporkan ayahnya atas insiden penggelapan uang.Meski sang paman absen, para putrinya tetap ada di sana. Para sepupu Ana yang bermuka dua,"Oh, sayang...malam ini kamu cantik sekali." puji Citra tersenyum membelai pipi putrinya,Ana tersenyum, dia berdiri di dekat meja dekorasi, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuh rampingnya.
Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?
Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba
Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid
Pagi ini, Ana mengunjungi kampus untuk mengikuti seminar penting yang katanya wajib dihadiri. Masih dengan setelan formal yang dipakai bekerja, sebab siang nanti dia harus kembali ke perusahaan. Ana berjalan melewati koridor, mencoba menikmati suasana damai. Tapi perlahan dia mulai merasakan hal aneh, Setelah berjalan melewati gerombolan mahasiswa. Hampir semua dari mereka menatap ke arahnya, Dengan reaksi bermacam-macam, beberapa bahkan tertawa dan berbisik. Ana mengernyit kebingungan, tak tahu apa yang terjadi. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri Alfio yang sedang duduk di depan kelas. "Alfio, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanya Ana sedikit panik, Pria itu hanya menggeleng singkat setelah menatap gugup Ana yang mendekatkan wajahnya. "Terus, kenapa semua orang







