Home / Romansa / Pria milik 'ARANA' / Menyelinap keluar

Share

Menyelinap keluar

last update publish date: 2021-10-31 05:36:04

Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak.

"Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk.

Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asing baginya. Saat pandangannya turun ke lantai, ia tertegun melihat potongan kain yang berserakan di mana-mana. Memori semalam menghantam kepalanya bagai godam, tragedi yang memaksanya menghabiskan malam bersama Max.

Rasa perih di pangkal pahanya menjadi saksi bisu betapa kasarnya pria itu menjamahnya semalam.

"Sial! Aku sudah bersusah payah mendapatkan tubuh gadis perawan, tapi si brengsek ini malah merenggutnya dengan cara seperti ini!" pekik Arana dalam hati, amarahnya membuncah.

Ia menoleh ke samping dan mendapati pria bertelanjang dada itu masih terlelap. Parasnya tampak tenang, kontras dengan perbuatan iblisnya semalam.

"Dasar pria mesum! Setan! Babi! Kenapa kamu harus menyentuhku?!"

Dengan tangan gemetar, Arana menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia meringis melihat kondisi dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun. Baju yang ia kenakan semalam telah hancur menjadi serpihan kain tak berguna.

Arana mengepalkan tangan, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Dengan hati-hati, ia turun dari ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia memungut sisa pakaian yang masih layak pakai dan menyambar barang bawaannya.

"Aku harus pulang sebelum orang tuaku curiga."

Langkahnya terhenti sejenak saat matanya menangkap noda darah yang telah mengering di atas seprai putih. Hatinya mencelos.

"Sudah kuputuskan. Aku akan membalas dendam sendiri tanpa bantuanmu, Max! Semoga kita tidak pernah bertemu lagi!"

CEKLEK.

Suara pintu yang tertutup rapat membangunkan Max. Pria itu tersentak, tangannya meraba sisi ranjang yang sudah mendingin. Gadis kecil itu telah lenyap.

Tiba-tiba, seorang pelayan masuk membawa peralatan kebersihan. Max mengernyit terganggu. Dengan wajah datar, ia mengacungkan telunjuk, memberi isyarat agar wanita itu segera keluar.

Namun, pelayan itu bergeming. Ia justru melangkah maju dengan tatapan berani.

"Apa kau tuli? Aku tidak butuh pelayanan kamar," desis Max dingin.

"Saya telah menunggu lama, Tuan. Semalam, semua rencana sudah disusun dengan rapi. Tapi entah dari mana jalang itu muncul dan merebut posisi saya," sahut pelayan itu dengan raut yang dibuat polos.

Max tertegun. Pengakuan itu menghantam logikanya. Ternyata benar, ia telah salah paham semalam. Gadis yang ia tiduri bukanlah kiriman yang ia duga.

"Tuan..." Pelayan itu tersenyum menggoda. Ia mulai melepas kancing seragamnya, melangkah naik ke atas ranjang dengan gerakan sensual. "Ayo, biarkan saya membuat pagi Anda menyenangkan..."

Wanita itu mulai menggerayangi dada bidang Max. Max hanya diam, menatapnya dengan tatapan sinis yang mematikan. "Menjijikkan."

"Jangan begitu, Tuan. Saya berjanji tidak akan membuat Anda kecewa," bisik wanita itu sembari mencoba duduk di pangkuan Max.

GREP!

Tanpa ragu, Max mencengkeram bahu wanita itu dan mengempaskannya ke atas ranjang. Ia bangkit, menatap rendah wanita yang tengah menggeliat bak pelacur kelas teri di depannya.

"Tunjukkan seberapa indah suaramu," pancing Max dingin.

Wanita itu mendesah penuh nafsu, mengira ia telah berhasil menggoda sang singa.

"Apa kau masih perawan?" tanya Max tiba-tiba.

Wanita itu bungkam. Kegugupan mulai merayap di wajahnya.

"Sepertinya tidak," Max tersenyum remeh. "Aku tidak sudi menyentuh barang kotor."

"Tuan! Aku bisa membuatmu lebih puas daripada gadis semalam!" teriak wanita itu putus asa. Ia bahkan nekat menanggalkan seluruh pakaiannya demi menarik perhatian Max.

Namun, Max sama sekali tidak bergeming. Ia justru meraih ponselnya dan menekan beberapa digit. Tak lama kemudian, dua pengawal berjas rapi masuk ke dalam kamar.

"Bawa pergi. Buang ke tempat yang seharusnya," perintah Max tanpa emosi.

"Tunggu! Biarkan aku memakai baju! TUAN! TUNGGU!!!"

Max mengabaikan jeritan itu. Pandangannya kini beralih pada Fero, sekretarisnya, yang baru saja masuk dengan seringai tipis.

"Ada yang lucu?" tanya Max tajam.

"Ehem. Tidak, Tuan," Fero berdeham, mencoba menahan tawa. "Saya hanya takjub, dalam beberapa jam saja, Tuan sudah dikerubungi banyak wanita."

"Di mana gadis itu?"

"Tenang, saya sudah memerintahkan pengawal untuk mencari siapa yang mengirim pelayan tadi ke sini---"

"Bukan dia yang kumaksud, bodoh!" bentak Max.

Fero mengangkat alis, pura-pura bingung. Sebagai sekretaris sekaligus teman lama Max, hanya dia yang berani bersikap sedikit santai, meski ia tetap tahu kapan harus serius.

"Jangan berlagak pening. Di mana gadis yang bersamaku semalam?!" Max mengertakkan gigi.

Fero segera memperbaiki posisi berdirinya begitu merasakan aura membunuh dari tuannya. "Tiga jam yang lalu, seorang wanita mengenakan jas pria terlihat keluar dari kamar Anda."

"Dan kamu membiarkannya pergi begitu saja?!"

"Maaf, Tuan. Saya tidak berani bertindak tanpa perintah Anda."

"Ck! Sebelum kesabaranku habis, telusuri semua hal tentang perempuan itu!" perintah Max penuh penekanan. "Cari tahu siapa dia, dan apa tujuannya datang ke kamar ini!"

Di sisi lain...

Seorang gadis masih meringkuk lemas di bawah selimut tebal. Dengan sisa tenaga yang ada, Ana berhasil kembali ke kamarnya semalam tanpa menimbulkan keributan. Setelah membersihkan diri, ia segera menyembunyikan baju pria yang ia curi di tumpukan pakaian paling bawah.

Semua rahasia pelarian itu ia ketahui berkat memori pemilik tubuh aslinya, tentang pintu belakang yang sering digunakan para pelayan untuk berbelanja di pagi buta.

CEKLEK.

Pintu kayu terbuka. Citra melangkah masuk, menghampiri putrinya dengan gurat wajah lembut.

"Sayang..." panggil Citra lirih sembari mengusap pipi tirus Ana.

Tubuh Ana terasa remuk akibat tragedi semalam. Rasa lelah yang luar biasa membuatnya enggan sekadar membuka mata. "Ng... aku masih mengantuk, Ma. Biarkan aku tidur setengah jam lagi," gumam Ana sembari memunggungi ibunya.

Citra tertegun menatap punggung berbalut piyama merah muda itu. Sejak kapan Ana berani menolak? Dulu, gadis ini sangat penurut dan tak pernah mengulur waktu. Namun, perubahan ini justru membuat Citra lega. Ia senang melihat putrinya mulai bersikap seperti remaja normal lainnya.

"Ayo makan dulu. Lihat, badanmu makin kurus saja," ujar Citra gemas sambil mencubit pelan perut rata Ana.

"Aw!" Ana memekik spontan.

Gerakan sekecil itu membuat bagian bawah tubuhnya terasa nyeri luar biasa, seolah diiris oleh sebilah pisau.

"Kenapa, Sayang?" Citra panik.

"Ssh... tidak apa-apa. Sepertinya perut Ana cuma terlalu lapar," kilah Ana dengan senyum getir. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang.

"Bajingan sialan. Ini pasti gara-gara kejadian semalam!" maki Ana dalam hati.

Setelah berhasil meyakinkan ibunya, Ana bergegas mencari kotak obat di kamarnya begitu Citra keluar. Ia menelan pil pereda nyeri dengan rakus, berharap penderitaan fisiknya segera hilang sebelum ia harus menghadapi sandiwara di meja makan.

"Besok Ana sudah bisa lanjut kuliah," celetuk Wira, sang ayah, di tengah sarapan.

Ana nyaris tersedak. "Kuliah?"

"Iya. Kamu akan punya banyak teman baru," tambah Citra penuh semangat. "Nanti malam kamu bisa ikut kakakmu belanja perlengkapan kuliah sambil jalan-jalan."

Ana hanya mengangguk singkat. Pikirannya terlalu penuh untuk mencerna rencana kuliah, sementara perutnya terlalu lapar untuk berhenti mengunyah.

Pukul 14.00

"Nyonya, di luar ada Nona Sarah dan Nona Mia," lapor seorang pelayan paruh baya.

Sejak biaya pengobatan Ana terhenti, keluarga Pratama kembali mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus rumah besar ini.

"Suruh mereka masuk. Siapkan tempat di taman belakang, lalu panggilkan Ana," perintah Citra.

Tak lama kemudian, suara hentakan high heels bergema di lantai marmer. Tiga gadis berjalan dengan angkuh menuju sofa.

"Selamat siang, Tante..." Sarah menyapa dengan senyum manis yang tampak terlatih. Ia menyodorkan sebuah bingkisan. "Ini salam dari Mama."

Citra menerima bingkisan itu dengan sopan namun dingin. Hubungannya dengan ibu Sarah memang sudah lama retak, sejak wanita itu merebut kakak ipar Citra dan menjadi istri kedua.

"Terima kasih. Kalian bisa langsung ke taman belakang, biar bibi memanggil Ana."

Di kamarnya, Ana sedang asyik menggulir layar ponsel. Ia menatap deretan baju model terbaru di toko online dengan mata berbinar. Ia ingin membuang semua baju lama di lemarinya yang membosankan dan menggantinya dengan gaya yang lebih "berani".

TOK TOK TOK!

"Siapa?" tanya Ana ketus.

"Ini saya, Non..." sahut asisten rumah tangga dari balik pintu. "Nona Sarah dan Nona Mia datang menjenguk. Mereka menunggu di taman."

Ana mengernyit. Nama-nama itu memicu memori buruk di kepalanya. Sarah dan Mia, dua sepupu yang dalam ingatan pemilik tubuh asli selalu menjadi sumber intimidasi terselubung.

"Perlu saya bantu pilihkan baju, Non?" tawar pelayan itu antusias. "Bukankah Nona selalu ingin tampil rapi dan cantik agar mereka senang berteman dengan Nona?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria milik 'ARANA'   Hadiah utama

    Kesadaran menghantam Ana seperti siraman air es.Matanya terbelalak,Di sela napas yang terengah, logika mulai mengambil alih, mengingatkan dirinya yang nyaris melewati batas."Sial! Ada apa denganku? Kenapa tubuhku selemah ini," batin Ana menjerit kesal."Bisa-bisanya aku tergoda dan menikmati setiap sentuhannya. Sadar! Dia ini ommu sendiri! Walau sudah ada di tubuh berbeda, tidak etis rasanya menjalin hubungan dengan dia.""Sadarlah Ana!"Ana meronta, tangannya yang tadi meremas kemeja Max, kini berubah menjadi dorongan keras demi menjauhkan dada pria itu.Ia terus berusaha memundurkan tubuh dari himpitan Max, namun sudah terlambat.Lengan kekar Max terlalu kuat mencengkram dua paha Ana sampai tak berkutik."Lepaskan...saya mohon. Cukup!" pinta Ana memukulkan kepalan tangannya,Seberapa keras dia berteriak, kata-katanya tertelan oleh dominasi Max.Max malah mempererat cengkraman, tak

  • Pria milik 'ARANA'   Kecemburuan Tuan Maxime

    Cahaya berlian memantul ke setiap mata, menciptakan rasa iri di hati Sarah.Di tengah keramaian, perhatian para tamu tertuju pada satu titik, Ana dan kalung berlian yang baru saja melingkar di lehernya.Sarah meremas gelas sampanye di tangan. Matanya tak lepas dari kilau batu mulia itu, hadiah dari Ryan.Direktur perusahaan besar yang selama ini berhasil menduduki peringkat teratas di negara."Bagaimana bisa?" batin Sarah bergejolak."Apa hebatnya Ana? Dia cuma wanita penyakitan yang tidak pernah keluar rumah.""Tidak tahu pergaulan, tidak ada kelas. Kenapa pria seperti Ryan bisa kenal dengannya?"Sarah menarik napas dalam, membetulkan letak gaun satinnya yang mengembang, lalu melangkah maju dengan dagu terangkat. Ia memahat senyum paling menawan yang dimiliki,"Tuan Ryan! Tidak menyangka bisa bertemu dengan pria terhormat seperti anda," sapa Sarah, suaranya mengalun manis, berusaha seperti teman lama yang sanga

  • Pria milik 'ARANA'   Kilauan pesta

    Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap di antara denting gelas sampanye.Hampir seluruh keluarga besar hadir, kecuali sang paman yang telah melaporkan ayahnya atas insiden penggelapan uang.Meski sang paman absen, para putrinya tetap ada di sana. Para sepupu Ana yang bermuka dua,"Oh, sayang...malam ini kamu cantik sekali." puji Citra tersenyum membelai pipi putrinya,Ana tersenyum, dia berdiri di dekat meja dekorasi, mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuh rampingnya.

  • Pria milik 'ARANA'   Teguran para dewan

    Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proyek bersama direktur perusahaan lain."Rasanya sudah lama sekali. Tidak ada yang berubah, tapi aku merasa suasananya tidak sehening dulu." batin Ana mengamati sekitar,Sedikit gugup tapi mencoba untuk tidak menunjukkannya.Dia berjalan mengikuti Max melewati lorong, namun rasa penasaran membuat Ana tak bisa duduk dan diam saja."Anu, Pak---saya mau ke toilet sebentar.""Ya sudah, toiletnya ada---" suara Max tercekat, tak dihiraukan.Gadis itu langsung pergi begitu saja, anehnya dia berjalan ke arah yang benar. Menyisakan tanda tanya besar,Max terheran, padahal Ana pertama kali ke sini lalu bagaimana dia tahu letak toiletnya?

  • Pria milik 'ARANA'   Lowongan magang

    Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, kamu tidak akan lolos dariku."Ana tercengang merasakan jantungnya berdegup kencang, perkataan Max benar-benar terasa seperti ancaman.Perlahan punggung lebar itu menghilang dari pandangan,"Huft..." Ana menghela nafas lega, bergegas berganti pakaian.Memakai baju yang telah disiapkan untuknya. Sebuah dress lengan pendek sederhana warna pastel dengan desain minimalis yang terlihat elegan,Sedikit mengejutkan sebab dress itu memiliki potongan yang sangat pas di tubuh Ana. Menekan bentuk tubuh rampingnya,Bahan dress yang begitu ringan dan nyaman, membuatnya merasa bebas bergerak.Max bahkan menyiapkan sepatu hak senada berwarna pastel, yang membuat kaki jenjang Ana semakin tinggi."Seleranya ba

  • Pria milik 'ARANA'   Kesepakatan yang harus disetujui

    Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status