Share

5. Interogasi Ala Om Demit.

Kiran mengayun-ayun Aldy di lengannya. Memeluk sembari bergoyang ke kanan dan ke kiri. Meniru ibu-ibu yang sedang menidurkan anaknya. 

"Ini gerakan gue udah bener atau kagak sih? Kok lama-lama gue kayak lagi nari poco-poco." Kiran bingung sendiri. Rasanya ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Aldy masih belum juga tertidur. Balita ini terus menangis sesengukkan sambil memeluknya.

"Cup... cup... cup... Aldy jangan nangis lagi ya? Apa yang sakit? Bilang sama, Kakak." Kiran menyeka kening Aldy yang lembab oleh keringat. Sebenarnya bukan Aldy saja yang berkeringat. Tetapi dirinya juga. Menggendong anak berusia tiga tahun yang berbadan gembul membuat lengan dan pinggangnya pegal-pegal.

"Mama... mama... nangis." Dengan napas tersengal Aldy mulai berbicara.

"Kenapa Mama nangis, Aldy?" Kiran menginterogasi Aldy hati-hati. Setahunya anak usia tiga tahun itu sudah mulai bisa diajak bicara dua arah. Rizki, putri Andika juga berusia tiga tahu. Rizki sudah sangat lancar berbicara. Rizki bahkan sudah bisa bercerita. 

"Mama jatuh. Mama tolong." Sekonyong-konyong Aldy berteriak. Pelukannya pada Kiran menguat. Aldy pasti teringat peristiwa mengerikan yang baru dialaminya. Kiran mengusap-usap punggung Aldy. Berusaha menenangkan Aldy dengan bahasa bayi yang ia ciptakan sendiri. 

"Tidak apa-apa, Aldy. Tenang saja. Ada Kakak di sini." 

Sebenarnya Kiran ingin sekali mengorek cerita dari Aldy. Tapi Kiran tidak sampai hati menanyakannya sekarang. Aldy masih trauma. Sementara dirinya bukan orang yang kompeten dibidang psikologi anak. Tidak adil rasanya kalau ia memanfaatkan Aldy demi memuaskan rasa ingin tahunya. Namun ia akan menyampaikan rasa curiganya akan ketidakwajaran tewasnya Bu Yanti pada Demitrio. Kebenaran harus ditegakkan. 

"Papa... papa..." Aldy kembali memanggil ayahnya. 

Saatnya beraksi! Dengan Aldy mencari Pak Irman, ia jadi punya kesempatan untuk mendengar percakapan Demitrio dengan para saksi.

"Aldy mau sama papa ya? Ayo kita cari papa." Kiran  menaikkan gendongan pada Aldy yang merosot. Ternyata menggendong anak secapek ini rasanya. Padahal ia menggendong Aldy paling hanya dua belas menit. Kiran merasa harus sungkem pada ibu-ibu yang mampu menggendong anak-anak mereka seharian.

Kiran menghampiri petugas UGD. Menanyakan di mana ruang pertemuan intern rumah sakit, tempat Demitrio dan Pak Irman berbicara. Kiran beralasan kalau Aldy mencari ayahnya. Setelah mendapat ancer-ancernya, Kiran meninggalkan ruang UGD dan berjalan cepat ke ruangan pertemuan.

Setiba di pintu ruangan yang tertutup kaca, Kiran mengetuk tiga kali. Saat terdengar jawaban masuk, Kiran mendorong pintu dengan bahunya. Ia di sambut oleh Demitrio yang memelototinya kesal.

"Papa... papa..." Aldy mengangkat kedua tangannya ke udara. Isyarat bahwa ia ingin digendong oleh ayahnya. 

"Om De--Pak Rio, ini Aldy rewel. Ingin sama papa katanya." Kiran mencari alasan. Ia juga mengubah panggilannya pada Demitrio. Pada saat berhadapan dengan orang banyak, ia harus bersikap profesional. 

"Aldy mau sama Papa ya? Sini, Nak. Papa gendong."" Pak Irman menghampiri Aldy.

Tidak bisa! Kalau Aldy ia serahkan pada Pak Irman, kehadirannya tidak akan dibutuhkan lagi di sini. Ia harus memutar otak agar bisa ikut mendengarkan cerita para saksi mata ini.

"Tidak apa-apa, Pak Irman. Aldy bersama saya saja. Asal Aldy melihat kehadiran Bapak di dekatnya, pasti ia anteng. Ya Aldy ya?" Kiran membujuk Aldy. Karena Aldy tidak meronta, Pak Irman pun setuju. 

"Baiklah. Pak Rio, silakan lanjutkan interogasinya pada Lisna." Pak Irman kembali duduk di kursinya. Kiran tetap berdiri sambil menimang-nimang Aldy agar ia betah. Walau lengannya keram, ia tetap fokus pada tujuan awalnya. Yaitu menggali berita tentang tewasnya Bu Yanti.

"Lanjutkan Anda melanjutkan cerita, Mbak Lisna. Apa yang Anda alami pada saat peristiwa kebakaran itu terjadi." Demitrio memfokuskan pandangan pada sang suster.

"Seperti yang saya bilang tadi. Saya terbangun ketika merasa sesak napas dan mendengar suara alarm kebakaran. Bik Hasni yang tidur di samping saya juga terbangun. Panik, saya dan Bik Hasni segera berlari ke kamar ibu. Kami takut kalau ibu dan Rani tidak terbangun."

"Anda ini perawat Bu Yanti bukan?" tanya Demitrio.

"Benar, Pak Polisi." Lisna mengangguk. Membenarkan pertanyaan Demitrio. 

"Lantas mengapa Anda tidak tidur bersama Bu Yanti?" imbuh Demitrio lagi.

"Bu Yanti selalu tidur dengan Aldy kalau Pak Irman tidak tidur di apartemen, Pak. Nah, Aldy itu suka rewel tengah malam kalau tidak ada babysitternya. Makanya Rani yang tidur bersama Bu Yanti," terang Lisna.

"Baik, lanjutkan." Demitrio mengangguk singkat. 

"Sesampainya di kamar, saya melihat Rani sudah menggendong Aldy. Tapi Bu Yanti masih di tempat tidur. Saya dan Bik Hasni segera mendudukkan Bu Yanti ke kursi roda. Rencananya kami akan berjalan ke pintu darurat untuk menyelamatkam diri. Sayangnya listrik tiba-tiba saja padam. Dalam keadaan gelap gulita kami semua mulai batuk-batuk hebat karena asap. Bik Hasni berinisiatif mencari handuk di kabinet kamar mandi untuk menutup hidung kami dari asap. Sementara saya kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, agar kami memiliki penerangan. Saya menitipkan Bu Yanti pada Rani untuk diawasi." 

Lisna menarik napas berkali-kali saat menceritakan peristiwa yang baru saya dialaminya. Dadanya mendadak sesak saat mengingat kejadian setelahnya. Banyak sekali hal yang terjadi dalam waktu sepersekian detik itu.

"Kalian tidak punya senter?" Demitrio memotong cerita Lisna.

"Tidak, Pak Polisi." Kali ini Bik Hasni yang menjawab. Karena urusan kebutuhan rumah tangga adalah tanggungjawabnya. 

"Kami baru pindah ke apartemen ini sekitar dua minggu lalu. Kami--"

"Bibik sangat teledor! Lihatlah hasil dari keteledoran Bibik. Ibu yang jadi korban!" Pak Irman menggebrak meja.

"Saya minta maaf, Pak. Saya salah karena terlalu menganggap sepele hal kecil seperti senter. Saya pikir dengan adanya tabung pemadam kebakaran, alat pendeteksi asap dan api, senter tidak diperlukan lagi. Saya benar-benar minta maaf." Bik Hasni sangat menyesali keteledorannya.

"Jangan main pikir saja! Hal-hal darurat itu tidak bisa cuma dipikir," amuk Pak Irman.

"Sudah, Pak Irman. Kita fokus pada masalah saja." Demitrio menghentikan perdebatan yang sia-sia. 

"Mengapa tidak menggunakan penerangan dari ponsel Anda atau Bu Yanti saja?" Demitrio sekarang mencecar Rani.

"Saya menggendong Aldy dan harus menjaga Bu Yanti. Saya panik dan tidak sempat memikirkan di mana ponsel saya. Begitu juga dengan Bu Yanti," ucap Rani jujur. 

"Baik, lanjutkan cerita Anda, Mbak Lisna." Interogasi beralih pada Lisna kembali.

"Setelah menemukan ponsel di kamar, saya menyalakan flashlight. Saat itulah saya mendengar suara teriakan yang berbarengan. Saat saya sampai di kamar, ternyata Bu Yanti terjatuh dari jendela. Yang tertinggal hanya kursi rodanya." Lisna terisak. Ada penyesalan di air mukanya.

"Di mana Mbak Rani dan Bik Hasni saat itu?"

"Saya melihat mereka berdua di kamar mandi, dengan handuk menutupi hidung dan mulut mereka masing-masing." Lisna mengingat-ingat kejadian beberapa jam lalu.

"Rani tidak menjaga Bu Yanti dengan baik. Padahal saya sudah berpesan padanya!" Lisna mendadak histeris.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yosefa Wahyu
kok aku curiga ama Lisna ya??alibinya terlalu memojokkan Rani
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status