LOGINPada hari ketiga aku menjalankan misi menaklukkan Oliver, dia menyatakan cintanya kepadaku. Padahal, indikator progres cinta di atas kepalanya jelas-jelas masih angka nol! Setelah kami resmi menjalin hubungan, dia semakin memanjakan aku. Pada hari jadi enam tahun hubungan kami, dia melamar dengan perayaan besar. Saat aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca, baris-baris komentar melintas pada layar transparan di depan mataku. [Kasihan sekali tokoh pendukung utama ini. Demi melindungi Protagonis, dia harus menanggung jijik pura-pura cinta dengan Antagonis sampai enam tahun!] [Wanita ini cuma pelampiasan pengganti, tapi terlalu menghayati peran. Betapa konyolnya!] Darah di seluruh tubuhku seketika membeku. Pantas saja angka itu tidak pernah berubah selama enam tahun. Pada saat yang sama, sebuah notifikasi sistem yang dingin tanpa emosi berbunyi di benakku. "Fase akhir dimulai. Tenggat waktu: sepuluh hari." "Jika misi gagal, Anda akan dihapus secara permanen." Aku tersenyum dan menarik tanganku dari cincin itu, sambil menyeka air mata. "Maaf saja, misi ini ... aku sudah muak memainkannya."
View More"Jadi, bahkan kalau aku mati hari ini, aku nggak punya penyesalan apa-apa."Dia tiba-tiba meraih tanganku."Kamu nggak akan mati! Aku sudah menghubungi dokter terbaik. Ayo kita temui mereka, pasti masih ada cara ....""Oliver." Aku menarik tanganku kembali perlahan. "Percuma saja.""Ini hukuman dari permainan misi. Aturan mainnya bukan sesuatu yang bisa kita ubah."Dia terkejut. "Permainan misi? Apa ...."Aku tertawa. "Kamu nggak perlu tahu.""Yang perlu kamu tahu, enam tahun ini bagiku cuma sebuah mimpi.""Dan sekarang, saatnya bangun dari mimpi."Dia memandangiku dengan tatapan kosong, seolah tidak mengerti apa yang kukatakan.Tulisan di layar mulai menghitung mundur.[10.][9.][8.][7.]....Aku berdiri dan berjalan ke pagar pembatas.Angin laut mengibaskan rambutku.Di cakrawala, langit mulai menyinarkan fajar pertama.Matahari akan terbit."Oliver," ucapku sambil membelakanginya. "Janjikan satu hal untukku.""Janji apa?""Kalau aku mati, jangan adakan upacara pemakaman untukku."
Lalu, perlahan-lahan aku melepaskannya.Lampu mulai meredup.Musik berhenti.Tirai diturunkan.Suasana sunyi senyap.Lalu, tepuk tangan bergemuruh.Aku terbaring di atas panggung, terengah-engah.Jantungku berdetak begitu kencang serasa akan meledak keluar dari dadaku.Hitungan mundur berkedip-kedip liar di benakku.[2 hari 00 jam 00 menit.]Hanya tersisa dua hari lagi.Profesor Joana bergegas ke atas panggung membantuku berdiri, air mata membanjiri pipinya."Luna, aktingmu luar biasa ... sangat luar biasa ...."Aku memeluknya dan berbisik, "Terima kasih, Profesor.""Ini ... penampilan terakhirku."Saat meninggalkan teater, langit sudah gelap.Oliver menungguku di pintu masuk.Dia melepas maskernya, memperlihatkan bekas air mata di wajahnya."Lulu." Suaranya serak. "Adegan tadi ....""Itu aku tampilkan untukmu," kataku dengan tenang. "Dan juga untuk diriku sendiri.""Sekarang, kita berdua harus mengakhiri sandiwara ini."Dia melangkah maju, hendak menggenggam tanganku, tetapi berhenti
Dia menoleh dan menatapku."Lulu, kata-kata itu tulus dari hatiku.""Paling nggak, saat keluar dari mulutku itu tulus."Aku menatap matanya yang memerah, dan tiba-tiba merasa ingin tertawa."Oliver, kamu tahu apa yang seharusnya dilakukan saat mencintai seseorang?"Dia tidak menjawab."Mencintai seseorang berarti berharap dia bebas, melihatnya terbang lebih tinggi, dan menghormati pilihannya walaupun dia nggak mencintaimu lagi.""Bukan dengan mengurungnya dalam sangkar, memotong sayapnya, lalu berkata, 'Lihat, selain aku, nggak ada yang mau menerimamu.'""Itu bukan cinta.""Itu cuma rasa posesif yang egois.""Dan kamu, kamu nggak pernah mencintaiku.""Kamu cuma membutuhkan seseorang untuk membuktikan bahwa kamu bisa dicintai dan dibutuhkan.""Orang itu bisa saja aku, bisa saja Sofia, bisa saja siapa pun yang bersedia ikut bermain dalam sandiwaramu."Wajah Oliver perlahan memucat.Dia membuka mulutnya, ingin membantah, tetapi tidak dapat menemukan kata-kata.Karena apa yang aku katakan
"Penyesalan terbesarku itu bukan mencintaimu, bukan meninggalkan karierku, bukan memercayai kebohonganmu.""Penyesalan terbesarku, aku nggak menampar diriku sendiri di hari pertama aku tahu kebenarannya, nggak langsung pergi dengan tegas."Aku menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur, berjalan ke depan jendela."Pergi.""Aku nggak mau melihatmu lagi selama lima hari ke depan.""Lima hari lagi, kalau aku masih hidup ...."Aku menoleh padanya dan tersenyum."Sampai jumpa di pengadilan.""Tindak pidana penganiayaan, pasti bisa dihukum beberapa tahun, 'kan?"Wajah Oliver seketika pucat pasi.Dia terhuyung mundur dan berpegangan pada dinding agar tidak jatuh."Lulu ...." Dia memanggil namaku, suaranya bergetar. "Haruskah kita sampai sejauh ini?""Kamu yang mulai dulu sampai ke titik ini," bantahku. "Sejak saat kamu menodongkan pisau ke pergelangan tanganku, kita sudah nggak bisa kembali lagi."Dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.Saat membukanya kembali, ada sesuatu y






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews