FAZER LOGINAroma kopi hitam hangat yang bercampur dengan gurih manisnya sirup karamel perlahan merayap masuk ke dalam hidung Ayu, membuyarkan segenap kebingungan dan kekacauan pikiran yang menyelimuti kepalanya sejak ia terbangun.*Tok... tok... tok...*Ketukan lembut terdengar menyapa pintu kamar tidur yang sedikit terbuka. Sesosok pria tegap melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu tampak membawa secangkir minuman yang mengepul halus di tangan kanannya."Sudah bangun?" ucapnya dengan suara berat dan tenang, sambil meletakkan secangkir *caramel latte* di atas meja kecil tepat di sebelah tempat tidur, persis di samping Ayu yang masih mematung kebingungan merapatkan selimut tebalnya."Rangga...?" panggil Ayu dengan nada sangat bingung, matanya berkedip berulang kali menatap wajah suaminya yang tampak tenang.Rangga berdiri tegak di samping ranjang, menatap Ayu dengan pandangan mata yang jernih tanpa ada sisa kemarahan semalam."Tawaranku untuk membawamu ke Australia masih terbuka," ucap Rangga de
Ayu merebahkan dirinya secara kasar, menjatuhkan tubuh lelahnya dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Bantalnya seketika basah oleh air mata yang kembali menetes tanpa bisa ia bendung. Kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat akhirnya menang, menuntun Ayu perlahan-lahan tenggelam ke dalam alam bawah sadarnya.Dalam lelapnya yang pekat, Ayu merasa tubuhnya seperti terapung di atas lautan yang hangat. Kesadarannya samar-samar berada di batas antara mimpi dan kenyataan.Tiba-tiba, ia merasakan ada sesosok tubuh hangat yang melangkah mendekati tempat tidurnya. Dalam keremangan memorinya, ia merasa ada sebuah selimut tebal dan lembut yang ditarik perlahan menutupi tubuh polosnya yang kedinginan oleh terpaan AC kamar.Ayu melenguh pelan. Tanpa ia sadari, tangannya secara refleks bergerak menarik selimut itu lebih tinggi, namun jemarinya tidak sengaja menyentuh pergelangan tangan seseorang yang sangat kokoh dan hangat.Seketika, suasana di sekitarny
Ayu mencengkeram kemudi mobilnya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Pedal gas ia tekan sembilan puluh persen, membiarkan raungan mesin mobil membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Pandangannya samar, tertutup oleh lapisan air mata yang terus merebak tanpa bisa dihentikan.Pikirannya kalut. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu menyesakkan, dipenuhi oleh gemuruh kemarahan yang membakar dada."Sialan kau, Daniel! Pengecut! Tega-teganya kamu memperlakukan aku seperti ini! Bajingan!" serapah Ayu berulang kali di dalam hatinya. Suara batinnya berteriak histeris, menyuarakan rasa sakit hati dan kehancuran harga dirinya yang diinjak-injak.Di tengah kecepatan mobil yang menggila, kenangan-kenangan masa lalunya bersama Daniel mendadak berputar kembali secara otomatis di dalam kepalanya. Momen manis saat pertama kali pria itu memperhatikannya, sikap lembutnya, hingga kenangan panas beberapa hari lalu di Bali. Bayangan saat ia menyerahkan seluruh kendali dirinya, melampaui ba
"Kakak tiri?" suara Ayu bergetar, nyaris berbisik. "Rangga itu... kakak tirimu, Niel?"Daniel mengangguk perlahan. Ia duduk bersandar di sofa abu-abu, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Iya. Ia kakak tiriku, Yu.""Tunggu, ini enggak masuk akal," Ayu melangkah mundur, menggelengkan kepala. "Lalu kenapa kalian merahasiakan ini semua dari aku?""Karena Rangga yang minta, Yu," jawab Daniel, menoleh menatap Ayu. "Ia enggak mau orang lain tahu siapa aku sebenarnya. Statusku... keluarga besar kami enggak pernah menganggap aku ada. Cuma Rangga yang peduli.""Tapi kenapa harus berbohong sampai sejauh ini, Niel? Aku ini istrinya!" suara Ayu mulai meninggi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa rahasia sebesar ini disembunyikan dari aku?""Rangga mau melindungi nama baik keluarga, dan di sisi lain, ia juga mau melindungi aku," Daniel menghela napas panjang, mencoba meraih tangan Ayu namun Ayu menepisnya. "Selama ini Rangga yang banyak membantu hidupku. Ia membiayai
Berikut adalah hasil perbaikan tanda baca, huruf kapital, dan keselarasan dengan EYD (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan) Edisi V:Ayu melirik dari balik bahunya, menatap Daniel dengan mata sayu yang penuh kabut gairah. Jemarinya yang ramping mencengkeram erat batang kejantanan Daniel, menempelkannya tepat di depan lubang belakangnya yang sudah berdenyut kencang."Yu... kamu serius?" tanya Daniel. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. "Kamu mau di situ? Tapi ini belum pakai pelumas...""Aku sudah sangat basah di bawah sana, Niel. Pakai sisa cairan yang tadi," bisik Ayu dengan suara serak. Ia membasahi jarinya sendiri, lalu mengusapkannya ke lubang belakangnya untuk memberi sedikit jalan. "Masukkan sekarang, Niel. Jangan banyak tanya.""Ahhh, sialan. Kamu benar-benar bikin aku gila hari ini," geram Daniel."Masuk, Niel. Hantam aku dari belakang," tuntut Ayu, suaranya naik satu oktav karena tidak sabar.Daniel memegang pinggul Ayu dengan kedua tangannya yang be
"Nieel, emmbh aaah..." rintih Ayu dengan suara yang tertahan di tenggorokan. Kedua matanya terpejam rapat saat merasakan kehangatan yang basah dan sangat intim mulai menyapu sensitivitas bagian bawahnya.Ayu meremas ujung sofa kulit abu-abu itu dengan sangat kencang hingga kuku-kukunya memutih. Untuk menikmati sensasi panas yang menjalar tersebut, Ayu mengangkat bokongnya lebih tinggi ke udara. Tangan kirinya bertumpu kuat menahan beban tubuhnya di atas sofa, sementara tangan kanannya bergerak ke belakang, memegang sebelah belahan bokongnya yang sintal dan menariknya lebar-lebar ke samping."Iya, Niel... ahh, kayak gitu... jilat terus, Niel, aaaah!" desah Ayu, tubuhnya gemetar menerima serangan lidah Daniel yang begitu lihai.Rasa rindu yang membakar membuat Ayu kehilangan seluruh urat malunya. Gairah liar yang dipicu dari permainan semalam bersama Rangga seolah menuntut kepuasan yang lebih ekstrem pagi ini."Sayang, uuuh... jilat sebelah sini juga," bisik Ayu dengan napas memburu. Ja
"Ya. Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih dari sekadar hubungan badan biasa. Aku ingin merasa benar-benar diinginkan oleh lebih dari satu orang pada saat yang sama. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku punya kendali penuh atas tubuhku, dan aku bisa mendapatkan apa pun yang aku m
Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementa
Matahari Bali bersinar terik tepat di atas kepala. Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, menyatu dengan garis cakrawala laut yang berkilauan. Deburan ombak terdengar ritmis, memecah kesunyian di antara langkah kaki dua orang manusia yang sedang berjalan menyusuri pasir putih.Ayu berjalan
'Monster', batin Ayu, antara kagum dan ngeri. Orang ini terbuat dari apa?Pikirannya langsung membandingkan Daniel dengan Rangga. Suaminya itu, jika sudah keluar sekali, pasti langsung menarik selimut dan tidur memunggungi Ayu. Tapi Daniel? Pria ini seolah memiliki tangki bahan bakar yang tak ada h







