Share

Bab 37

Penulis: Khai Tsan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-18 22:21:26

Keesokan harinya, saat jam makan siang, seorang kurir ojek online datang ke kantor Ayu membawa bingkisan besar.

"Mbak Ayu? Ini ada kiriman makanan," kata resepsionis.

Ayu membukanya. Itu adalah paket lengkap sate padang favoritnya dari restoran langganan mereka dulu. Di dalamnya terselip pesan dari aplikasi pemesanan makanan yang diketik manual oleh pemesannya.

Teman-teman kantor Ayu, termasuk Rina, langsung heboh.

"Cieee! Tumben banget Pak Suami romantis dari jauh! Sate padang full daging lagi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 102

    "Ya. Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih dari sekadar hubungan badan biasa. Aku ingin merasa benar-benar diinginkan oleh lebih dari satu orang pada saat yang sama. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku punya kendali penuh atas tubuhku, dan aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau.""Ayu, ini bukan keputusan kecil. Kamu sedang emosi karena Rangga. Jangan sampai kamu menyesal nanti," Daniel mencoba bersikap rasional, meski bagian dirinya yang lain mulai terangsang dengan ide itu."Aku tidak akan menyesal, Dan. Justru aku akan menyesal kalau aku hanya diam dan meratapi nasib karena suamiku tidur dengan orang lain. Aku ingin melampaui batas yang pernah ada dalam hidupku. Rangga tidak mungkin bisa memberikan ini. Dia terlalu kaku, terlalu sok suci, padahal kenyataannya dia busuk."Ayu menekan tubuhnya lebih rapat ke arah Daniel. "Kamu punya teman di sini, kan? Atau seseorang yang bisa kamu percaya? Laki-laki yang bersih, yang tahu cara bermain. Aku tidak mau tahu bagai

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 101

    "Suami?”, Ayu tertawa sinis. “Suami itu akan selalu ada untuk istrinya, dan akan selalu lebih mengutamakan istrinya dari apapun”.“Coba lihat dirimu Rangga, berapa banyak sudah janji yang kamu ingkari, kamu sadar tidak sudah menyakiti istrimu berkali-kali”, lanjut Ayu dengan nada penuh emosi. “Tapi aku kerja untuk kita Ayu, untuk masa depan kita, untuk kamu juga”, Rangga menekankan kalimatnya.“Dari dulu hanya Itu alasan kamu, sudahlah Rangga cukup, sudah lelah aku dengan sikapmu, aku tutup telponnya”, suara Ayu terdengar lebih pelan.“Tunggu.. Ayu, jangan tutup dulu”, cegah Rangga.“Apa lagi Rangga?, tidak cukupkah kamu membuat istrimu ini sakit hati hari ini?”. Ayu berkata dengan nada geram."Ayu! Sebutkan namanya! Siapa bajingan yang bersamamu di pantai itu?""Pikirkan saja sendiri, Rangga. Bukankah kamu pintar berimajinasi? Bayangkan saja aku sedang bahagia dengan seseorang yang jauh lebih menghargaiku daripada kamu. Itu yang kamu inginkan, kan? Alasan untuk merasa bebas di sana?

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 100

    Ayu meraih ponsel itu tanpa ragu. Daniel perlahan melepaskan dekapannya, memberi ruang bagi Ayu, lalu bersandar di sampingnya sambil memperhatikannya dengan tatapan intens."Ya, Rangga," jawab Ayu datar. Suaranya masih berat, napasnya naik-turun tak beraturan."Ayu? Kamu di mana? Kenapa napasmu... kenapa kamu terengah-engah begitu?" Suara Rangga di seberang telepon, terdengar penuh selidik.Ayu memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut yang kering. “To the point saja, ada apa menelepon?""Napasmu tidak normal, Ayu. Kamu habis melakukan apa?""Aku sedang di luar. Panas sekali di sini. Aku baru saja mendaki anak tangga dari bibir pantai kembali ke atas tebing. Wajar kalau aku capek, kan? Jadi jangan bertanya yang tidak penting. Ada apa?"Rangga mengembuskan napas panjang. Ada jeda yang cukup lama sebelum ia bicara. "Aku mau minta maaf, Yu. Sepertinya aku belum bisa memenuhi janjiku untuk pulang ke Indonesia besok. Pekerjaan di sini mendadak kacau. Aku terpaksa melanggar janji lagi.

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 99

    Ayu menahan napas saat tangan Daniel menyapu punggungnya, membebaskan sisa ikatan bikini yang ia kenakan. Kain hitam itu merosot jatuh ke atas karang, membiarkan bagian atas tubuh Ayu sepenuhnya terbuka.Daniel menatap lekat-lekat wanita di depannya. Matanya menggelap, memancarkan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan."Cantik," bisik Daniel serak. Tangannya turun, meremas pelan pinggang Ayu yang bertumpu pada batu karang setinggi pinggang tersebut.Ayu menggigit bibir bawahnya, menatap Daniel dengan napas memburu. "Tunggu apa lagi, Niel? Lakuin aja."Daniel tersenyum miring. "Jangan buru-buru, Yu. Kita nikmati pelan-pelan."Bukannya langsung menyatukan tubuh mereka, Daniel justru merunduk. Ia menempelkan bibirnya di leher Ayu, memberikan hisapan pelan di sana, lalu lidahnya mulai bergerak turun. Ia menyapu dada Ayu, merayap ke perut ratanya yang berkeringat, hingga akhirnya turun ke area kewanitaan Ayu yang sudah terekspos tanpa penghalang."Ahhh... Niel..." Ayu tersentak kaget. Tan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 98

    Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Daniel berdiri di hadapannya, mengurung Ayu dengan kedua lengan yang bertumpu pada karang. Mata Daniel gelap, penuh intensitas yang membaca setiap inci bahasa tubuh Ayu."Kenapa tadi tidak mau pergi?" tanya Daniel. Nadanya menginterogasi, namun lembut.Ayu menunduk, menghindari tatapan Daniel. "Aku... aku cuma kaget. Aku penasaran.""Penasaran atau ingin?" tembak Daniel langsung.Ayu mengangkat wajahnya, menatap Daniel dengan tatapan menantang yang rapuh. "Kalau aku bilang ingin, kamu mau apa?"Daniel tersenyum miring. Ia mengusap pipi Ayu dengan ibu jarinya yang kasar. "Rina," kata Daniel tiba-tiba.Ayu mengerutkan kening. "Apa?""Kamu tadi sebut nam

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 97

    Posisi mereka begitu intim. Si wanita melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, punggungnya melengkung ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedang diciumi dengan rakus. Tangan si pria meremas pinggul wanita itu dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.Ayu tidak bisa memalingkan wajahnya.Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak di kepala Ayu. Kejadian beberapa bulan lalu yang ia kubur dalam-dalam.Di kantor, tepatnya Ruang Rapat Utama yang terletak di ujung lorong sepi di lantai itu. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor hening.Ayu mendorong pintu kaca Ruang Rapat Utama perlahan. Ruangan itu tampak gelap dan kosong. Ia melangkah masuk menuju meja utama dan menemukan kandar kilas (flash disk) peraknya masih tertancap di port proyektor.Tepat saat tangannya meraih benda itu, Ayu mendengar suara samar-samar yang datang dari Ruang Rapat Cadangan, sebuah ruangan kecil yang terhubung langsung dengan ruangan utama m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status