LOGINHunter’s thumb traces my lower lip, his molten golden eyes burning into mine. He growls roughly. “Do you want all three of us to fuck you tonight, little mate?” I stare up at them, my cheeks burn with embarrassment as fresh slick floods my pussy. Desire burns so hot I can barely think straight. I’m so wet it’s shameful. I feel like such a naughty, desperate girl. “…Yes. Please… Alphas.” All three of them let out deep growls, their eyes flashing gold. “Good little mate,” Zane rasps. “Then we’re going to ruin every tight little hole until you’re screaming our names and dripping with our cum.” Seth yanks my t-shirt up roughly, exposing my bare tits to their hungry gazes. **** Two years ago, when Dad got stripped of his Alpha title for breaking pack law, we were exiled to a crappy apartment on the wrong side of town. I thought my life sucked before, but this was a whole new level of hell. At academy, I'm the girl everyone avoids. Bad luck follows me everywhere, or so they think. Perfect target for bullies, especially my stepsister Cessy. She's everything I'm not — head cheerleader, gorgeous, popular. While she's the golden child at home and school, I'm her personal 'unpaid' assistant. Then everything changed on my eighteenth birthday. I found my mates. Not just one, but three. The Blackwood Trio: Hunter, Seth, and Zane. Hockey gods, gorgeous Alphas, the most wanted guys at school. Every girl dreams about them, every guy wants to be them. And somehow, impossibly, they're mine. Of course, nothing's ever simple in my life. Three mates means three times the drama, three times the possessiveness… and way more filthy, overwhelming heat than my innocent body knows how to handle.
View MoreSebuah mobil sedan putih pabrikan Jepang mendarat perlahan di sebuah gedung perkantoran berlantai 5. Tak lama berselang, turun seorang pria berwajah oriental dilengkapi kacamata bulat. Pria itu bergegas menuju bangku penumpang untuk membukakan pintu.
Sepatu mengkilat yang pertama kali ditampakkan, membuat para petinggi yang menunggu di lobi pun penasaran. Seperti tak percaya bahwa atasan baru mereka ternyata pria muda tiga puluh tahunan. Walau masih muda, vibes bos-nya sudah terlihat.
Saat memasuki lobby, langkah pria itu kembali terhenti.
"Ini serius kantor?" Pria itu menoleh ke pria berkacamata yang berdiri di sampingnya.
"Bapak hanya menugaskan saya untuk mengakuisisi perusahaan yang akan bangkrut dengan melihat prospek ke depannya." Pria itu tak mau kalah menjawab pertanyaan dari atasannya.
"Tapi bukan berarti bangunan tua kaya begini, kan? Kamu lihat itu?” Pria itu menunjuk sudut ruangan.
“Dinding retak di mana-mana, plafon yang hampir jatuh, lantai yang tampak kusam, debu bertebaran. Al, kamu tahu kan apa saja yang harus kamu bereskan dengan semua kekacauan ini?" Kali ini tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
"Tahu, Pak."
Dua pria muda yang sejak tadi berjalan beriringan itu kini berjalan berlawanan arah. Sang sekretaris dengan ditemani para manager bersiap berkeliling gedung.
"Ini ruangan Bapak." Salah satu manager membuka pintu. Memersilakan pria muda itu agar memasuki ruangan yang sudah dibersihkan setiap sudutnya. Tangan yang sejak tadi disembunyikan dalam saku celana perlahan meraba meja dan bangku yang akan dia duduki. Memastikan jika dua benda tersebut benar-benar bersih.
"Tolong nyalakan komputer serta cek telepon apakah semua berfungsi dengan baik."
"Baik, Pak." Kedua pria paruh baya itu segera menjalankan apa yang diminta atasannya. Walau dalam hati mereka bergumul tak senang.
Sambil menunggu kedua orang tersebut melaksanakan tugas yang diminta, pria itu menuju jendela yang letaknya tak jauh dari meja kerja. Melihat kota Samarinda dari lantai 5. Pikirannya kembali pada beberapa tahun silam. Tempat di mana dia pernah dibesarkan sampai usia remaja. Yang selama ini membuat rindunya meluap-luap ingin segera kembali ke sini. Akhirnya mimpi itu terwujud meskipun butuh beberapa tahun untuk mencapainya. Walau dia sudah hidup dan beradaptasi di tanah Eropa dengan baik, ternyata kehangatan rumah yang selalu ramai oleh teman-temannya itu lebih menyenangkan dari nyamannya tanah Eropa.
"Sudah, Pak. Semua berfungsi dengan baik." Salah satu pria yang tadi diminta untuk menyalakan komputer membuyarkan lamunan masa lalunya.
“Ok, thank you. Kalian silakan lanjutkan pekerjaan masing-masing.” Dua orang pria itu undur diri. Berpapasan dengan Alfa yang akan memasuki ruangan.
"Ini Pak beberapa hal yang harus diperbaiki." Alfa menyodorkan tablet tempat dia menuliskan tugas yang tadi diberikan atasannya. Setelah beberapa menit membacanya, alis pria itu terlihat mengkerut. Seraya memberikan nomor urut hal urgensi yang harus dilakukan terlebih dulu.
"Oke, pertama, tugaskan purchasing untuk mencari supplier sebanyak mungkin dan minta penawarannya. Deadline 2 hari. Hal lainnya kita bahas saat meeting.” Alfa mengangguk.
"Kedua, cari arsitek untuk renovasi gedung ini. Kamu juga sambil cari ruko kecil untuk kita pindahan sampai gedung ini selesai diperbaiki." Pria itu kembali menuliskan di tab-nya sambil berjalan mengikuti atasannya menuju ruang meeting."
"Pagi, Pak." Semua manager sudah berkumpul memenuhi ruangan.
"Pagi," jawab pria itu singkat.
"Saya ingin memperkenalkan diri sebelum kita mulai bekerja bersama. Nama saya Morgan Palevi yang mulai hari ini akan menjadi direktur utama di perusahaan ini. Pertama-tama….”
Bruk!
Terdengar suara keras dari sudut ruangan. Semua mata yang semula menatap Morgan beralih ke sumber suara. Satu per satu berdiri melihat apa yang baru saja terjadi. Sebuah bongkahan plafond di atas lantai membuat peserta rapat melongo.
"Ckckckck. Baru tadi aku bilang kan Al, bentar lagi bangunan ini roboh." Morgan bergumam pada Alfa yang duduk di sebelahnya.
"Udah dapat arsiteknya belum?"
"Baru ada beberapa, sih, Pak."
"Coba lihat." Alfa menyodorkan tab yang selalu dia bawa ke mana-mana,"Ini, Pak."
Dia mulai fokus membaca profil arsitek yang dikumpulkan asistennya secara detail.
Sampai pada kandidat ketiga yang membuat jarinya bergetar. Tidak perlu sampai membaca lengkap profil sang arsitek. Dari foto yang ada di atas CV jelas dia tau siapa wanita itu. Jarinya mengepal seraya berkata, "hubungi dia dan minta hari ini datang."
"Baik, Pak."
"Meeting kita lanjutkan besok." Tanpa banyak kata Morgan meninggalkan ruangan. Pikirannya jadi tak karuan setelah membaca nama calon arsiteknya tadi.
"Maaf Pak jika saya melakukan kesalahan. Awalnya saya tidak ingin memasukkan nama beliau tapi prestasinya pantas untuk dipertimbangkan. Saya akan mencarikan..."
"Tidak perlu. Justru ini alasan bagus untuk menemuinya tanpa aku susah payah. Entah ini kebetulan atau takdir."
Tok … tok … tok.
Alfa memasuki ruangan bersama dengan wanita yang baru saja dihubunginya.
“Pak…, Bu Purple sudah sampai. Saya permisi dulu.” Alfa meninggalkan ruangan untuk melaksanakan instruksi bos selanjutnya yang meminta agar evakuasi karyawan ke tempat lain di lakukan secepat mungkin.
Morgan menarik napas dalam-dalam, memersiapkan diri berhadapan dengan wanita yang ingin dia temui sejak lama itu. Lima tahun rasanya sudah lebih dari cukup untuk melupakannya. Entah hari ini atau besok pada akhirnya akan bertemu juga, hanya soal ritme.
“Silakan duduk, bu…Purple.” Morgan membalikkan badan, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita yang berdiri agak jauh dari mejanya.
“Morgan?” Tangan mungil yang semula percaya diri membawa resume pekerjaan mendadak lunglai. Matanya tak berkedip menatap sosok pria di hadapannya. Namun pria itu tak terusik sama sekali. Dia tetap melangkah menuju sofa, lalu duduk.
“Sampai kapan Anda akan berdiri di situ?” Purple yang berusaha menyadarkan diri segera menuju sofa.
“Kamu beneran Morgan, kan?” Morgan menggerakkan jarinya di atas tablet. Acuh tak acuh dengan rasa penasaran Purple.
“Pertama-tama saya akan jelaskan.…”
Wanita itu tersenyum tipis seraya menatap lekat pria yang mengabaikannya. “I miss you so much….”
Deg! Jari Morgan terhenti.
“Saya bukan ….”
“Benarkah?” Purple mendekatkan wajahnya.
“Serius kamu bukan Morgan mantan kekasihku? Padahal aku masih ingat dengan jelas rasa manis bibir ini, lho.” Purple meletakkan jarinya di atas bibir Morgan. Membuat pria itu makin tak berkutik. Hatinya jadi tak karuan dengan sikap ugal-ugalan wanita itu.
Morgan meraih jari mungil itu seraya berkata, “Saya sudah lupa rasa manisnya, yang saya ingat hanya punya seorang mantan yang meninggalkan saya dengan alasan bahwa saya anak yatim piatu dan miskin. Dia juga lebih memilih bersama pria pilihan orang tuanya.”
“Aku bisa ….”
“Saya rasa kita tak bisa berdikusi dengan baik hari ini. Saya akan minta dicarikan kandidat lain yang bisa fokus dalam bekerja.” Morgan berdiri meninggalkan wanita itu, lalu berjalan menuju mejanya kembali. Purple mengejarnya.
“Aku pastikan kamu nggak akan dapat arsitek sebaik aku dalam bekerja maupun berciuman.” Purple mengatakannya seraya tersenyum menggoda.
“See you tomorrow mantan kesayanganku….” Purple melambaikan tangan. Morgan hanya melirik. Namun setelah sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu, tubuhnya lemas seketika. Jika besok bertemu lagi entah apa dia bisa tahan dengan godaan seperti itu. Baru hari pertama saja hatinya sudah bergemuruh tak karuan.
"Gavin's already at the palace courtyard," Gideon's voice came heavy through the bedroom door, finally knocking after three days of pure isolation. "All the Northern clan elders and the Western people have gathered around the duel altar, Luna Inka." The moment we heard that, the mood in the room shifted completely. The thick haze of passion that had wrapped around us for three days and three nights evaporated in an instant, replaced by something colder — the sharp, deadly aura of leadership. I stood in front of the big mirror, dressed in a black silk gown layered under the Western Faction's silver cloak. On my chest, the triple bond mark wasn't pulsing anxiously anymore. It glowed a steady, calm gold — solid proof that my healing energy had locked all three of my Alphas' strength at its peak. Hunter stepped up behind me. The huge man had his black leather armor on, solid and heavy. His strong hand slid over my shoulder, squeezing gently before he leaned down to press a long kiss t
Dawn hadn't fully broken yet when the storm of passion in our bedroom finally settled down. Our breathing slowed together, warm breath mixing over the messy bed. My body felt weak, but full of a strange, heavy kind of spiritual energy. The gold mark on my chest glowed with a calm, steady rhythm, proof that their claim on me had sunk even deeper into my soul. Hunter still had his arms wrapped tight around my waist from behind, his face buried in the curve of my neck, now covered in fresh red marks. His strong arm twitched slightly every time I tried to shift, like his protective instinct wouldn't switch off even half-asleep. "Still thinking about the duel, huh?" Zane whispered gently. The tactical one was already awake, it turned out. He sat leaning against the headboard, shirtless, his strong muscles on full display. Zane took my hand and brought it to his lips, pressing calm little kisses on it, easing away the worry that had slipped through the pack link earlier. "Gavin isn't j
"Get in the bedroom, Inka. Now," Hunter ordered. His voice was heavy, and it left no room for argument. As soon as Gavin and the Northern elders left the palace hallway, my three Alphas walked me straight back to our big bedroom. Seth slammed the heavy oak door shut behind us and locked it with a thick iron bolt. The air in the room changed right away. It felt heavy, thick with male anger and wild, territorial instinct. "You three are making it hard to breathe," I whispered, trying to step back, but my back hit the tall bedpost. Hunter walked toward me, step by step, letting his big cloak fall to the floor. His golden eyes had gone dark, full of raw hunger after hearing Gavin's disgusting offer earlier that day. "He actually offered to touch you, Inka... right in front of us." Hunter caught me and pinned me between his strong arms. He laid me down on the fur-covered bed and leaned over me, not leaving a single inch of space between us. His lips went straight for my neck, covering m
"Open the door, Gideon," I ordered, keeping my voice flat and steady even though my heart was still pounding from what had just happened between us.Before the curtain pulled back, Zane glanced over at me, making sure his shirt buttons were all in place. "You ready?" he asked quietly, just for me."I'm always ready," I said. "Hunter's the one I'm not so sure about."Hunter grunted from the other side of the couch, his hand still clenched on his knee. "I can hold it together. As long as he doesn't try anything.""That's what you always say," Seth cut in from the end of the couch, smirking but keeping his eyes locked on the door. "And it's also the thing that usually doesn't hold up."The heavy silk curtain slowly drew open. Hunter and Seth stood on either side of me like two guard statues ready to strike, while Zane calmly took his spot behind the couch, his blue eyes already back to their usual ice-cold calm. We were seated on the long velvet sofa when the oak doors to the study swung
INKA'S POVI didn't sleep.Not because I was restless or anxious. Because I'd spent eight days becoming someone new and tonight I needed them to understand exactly who that person was.The training had changed everything. Not just my body or my gift. The way I moved through the sanctuary. The way I
ZANE'S POV The bread timer went off. I checked the dough. It had risen properly this time. "Shape it and put it in the oven with everything else." I shaped the loaves—still blobby but better than before—and slid them into the oven. Thirty more minutes until everything was done. I leaned a
INKA'S POV But she wasn't listening. For the first time since I'd shifted, my wolf wasn't listening to me. My hands started to change. Claws extending. Fur rippling under my skin. I could feel my face shifting, bones moving, teeth sharpening. No. Not here. Not now. I couldn't shift in the bat
Author's POV Victoria stared at the pregnancy test in her hand, watching the second pink line darken. Positive. Just like the three others she'd taken over the past two days.She set it down on the bathroom counter next to the others, all lined up like evidence. Like proof of something that would






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.