Share

Bab 3 - Menjadi Egois

Penulis: Zenny Arieffka
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-28 08:47:51

Sejak Max memutuskan untuk benar-benar mengakhiri pernikahannya dengan Irina dua bulan yang lalu, Irina menjadi lebih tertutup. Padahal, banyak sekali media yang sedang memburunya. Bagaimana tidak? Dia berpisah saat sedang mengandung. Hal itu membuat media bertanya-tanya bahkan mengejarnya untuk mendapatkan berita.

Akhirnya, Irina memilih untuk menghabiskan banyak waktu di apartemen pribadinya. Beruntung, lagi-lagi Kevin mau membantunya menyiapkan semua yang ia butuhkan.

 Kehamilan Irina kini sudah hampir memasuki usia 6 bulan. Irina merasa bahwa tubuhnya sudah banyak berubah. Dia mulai sering lelah dan hormonnya benar-benar kacau. Irina sering merasa bahwa dia tidak menjadi dirinya sendiri, seperti sering menangis sendiri, bahkan tak jarang dia merengek pada Kevin.

Ya, mau bagaimana lagi? Irina tak mungkin menghubungi Max lagi. Mantan suaminya itu kini mungkin sudah bahagia dengan kekasih simpanannya. Satu-satunya orang yang ia miliki saat ini hanyalah Kevin. Namun, Irina sadar. Kevin pun sebentar lagi akan dimiliki oleh orang lain.

Kemarin, Kevin datang ke apartemennya. Seperti biasa, pria itu mengantarkan beberapa barang keperluannya karena Irina tidak mungkin ke luar dengan banyak media yang sedang menunggunya. Ketika Kevin ke apartemennya kemarin, pria itu mengatakan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Irina.

“Pernikahanku dan Rani dipercepat. Mungkin, bulan depan kami akan menikah.”

Irina yang saat itu sedang menikmati es krim yang dibawakan oleh Kevin deketika menghentikan tangannya. Ia lalu menatap Kevin dengan penuh rasa terkejut. “Kenapa?” tanya Irina dengan cepat.

“Aku sudah memutuskan, bahwa ini yang terbaik untuk kita semua.” Kevin menjawab dengan nada dingin. Seperti biasa.

“Apa maksudmu?” tanya Irina kemudian.

“Dengar, setelah menikah, aku akan fokus dengan keluargaku, dengan istriku. Jadi, kamu tidak bisa lagi sesuka hati memanggilku agar datang kepadamu.”

“Jadi, maksudmu … selama ini aku mengganggumu?” tanya Irina dengan sedikit terpatah-patah.

Kevin tampak ragu, tapi kemudian pria itu menjawab. “Ya.”

Irina merasa tertampar. Selama ini, dia merasa menjadi orang yang istimewa untuk Kevin. Dia merasa bahwa Kevin selalu menuruti apa pun yang diinginkannya. Namun ternyata, pria itu melakukannya hanya karena ia terpaksa dan bertanggung jawab terhadap Irina.

Irina tak mampu lagi berkata-kata setelah itu. Dia benar-benar merasa sendiri. Pernikahannya dengan Max sudah berakhir. Dan kini, satu-satunya orang terdekat yang ia miliki memilih untuk pergi meninggalkannya.

Saat itu, Irina tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan sehancur ini. Namun, kini Irina sudah tahu. Perempuan itu memutuskan bahwa dia tidak ingin kehilangan Kevin. Mungkin, dia akan menjadi perempuan yang sangat jahat karena sudah mengacaukan rencana pernikahan Kevin. Namun, Irina mencoba untuk tidak peduli. Dia akan menjadi egois.

“Aku melakukan semua ini untukmu,” bisik Irina sembari mengusap perutnya yang sudah makin membuncit.

Irina lalu menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk keluar dari apartemen. Hari ini, dia akan melakukan hal yang cukup berani. Mungkin, mulai hari ini akan ada banyak orang yang membencinya.

***

“Irina, klarifikasi, dong! Apa benar bahwa kalian bercerai karena orang ketiga?”

“Apa benar kabar yang beredar bahwa kamu mengandung bayi pria lain?”

“Kenapa kamu sembunyi selama ini?”

“Apakah kamu berselingkuh?”

“Bagaimana dengan bayimu?”

Segelintir pertanyaan yang dilontarkan media seakan menghantamnya. Irina sadar benar, dia hampir tak memiliki privasi setelah menjadi model profesional. Kariernya sangat bagus, dan berita pernikahannya dengan Max membuat kariernya makin melejit.

Ya, seorang model yang menikah dengan pengusaha asing kaya raya. Tentu saja bagaikan cerita-cerita di negeri dongeng. Banyak sekali orang yang mengidolakannya dengan Max saat itu. Maka, ketika hubungan pernikahannya dengan Max berakhir, Irina seakan memiliki kewajiban untuk menjelaskannya kepada semua orang.

Tujuan Irina melakukan siaran pers kali ini adalah untuk mengakui satu hal yang dia percaya akan mengubah hidupnya dan bayi yang dikandungnya. Irina tidak ingin membahas apa pun tentang Max lagi karena itu membuatnya merasa seperti sedang membuka luka lamanya.

“Tujuan saya mengumpulkan kalian di sini hanya untuk meminta pada kalian agar saya tidak dikaitkan lagi dengan mantan suami saya.” Irina akhirnya membuka suara.

“Tapi, kenapa? Bagaimana dengan bayimu?” tanya salah seorang wartawan.

“Bayi ini tidak ada hubungannya dengan mantan suami saya. Ya, benar. Ini bukanlah bayinya.” Irina berkata tegas, membuat para wartawan saling berbisik tak menyangka bahwa Irina akan berkata jujur di depan para pers.

“Apa rumor yang beredar adalah benar? Bahwa kamu melakukan perselingkuhan?”

“Siapa ayah bayinya?”

Irina tampak ragu. Tapi kemudian, dia menguatkan diri dan menjawab. “Ini anak kekasihku, Kevin Putra Diningrat.”

***

Apa maksud perempuan itu? Apa tujuannya? Kevin membeku di tempat duduknya saat melihat siaran pers yang dilakukan oleh Irina. Tadi, Kevin mendapat kabar dari orang yang dia suruh untuk mengawasi Irina. Rupanya, Irina hari ini ke luar dan perempuan itu melakukan siaran pers sendiri.

Awalnya, Kevin mengira bahwa Irina sudah sangat tertekan dan ingin mengakhiri semuanya dengan bersikap tegas pada media. Namun, rupanya salah. Kevin lalu bersiap meninggalkan meja kerjanya. Dia harus bertemu dengan Irina dan menanyakan kenapa perempuan itu melakukan semua ini. Bahkan, ia telah melanggar perjanjian yang dia buat sendiri.

Mobil Kevin melesat menuju ke tempat di mana Irina melakukan siaran pers. Tepat ketika mobil Kevin sampai di tempat itu, Irina baru saja selesai melakukan siaran persnya dan perempuan itu tampak dikerubungi oleh beberapa wartawan yang tampak belum puas.

Mobil Kevin berhenti tepat di hadapan mereka semua hingga semua yang berada di sana menatap ke arah mobil tersebut, tak terkecuali Irina. Kevin menurunkan kaca penumpang sebelum berkata, “Masuk.”

Irina menuruti perkataan Kevin. Pada akhirnya, dia masuk ke dalam mobil Kevil lalu mobil tersebut melesat meninggalkan tempat itu.

***

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kevin pada Irina. Saat ini, keduanya masih berada di dalam mobil Kevin. Pria itu sudah menepikan mobilnya di sebuah tempat yang cukup sepi.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Irina katakan.

Kevin menatap Irina dengan marah. “Kita memiliki kontrak, Irina! Bahkan, kamu sendiri yang membuatnya!” Kevin berseru keras karena marah. Dia ingat, saat pertama kali mereka melakukan proses inseminasi buatan, Irina sendiri yang ngotot bahwa Kevin tidak boleh mengakui anak itu sebagai anaknya dan hal itu dijadikan kontrak yang kuat.

Irina menunduk malu. “Aku butuh kamu, Vin. Anak ini butuh kamu,” Lirihnya.

“Seharusnya kamu memikirkan hal tersebut sebelum bertindak sejauh ini!” Kevin berseru keras. Kemudian, dia mengusap wajahnya dengan frustrasi. Tak lama setelah itu, ponselnya berbunyi. Kevin meraihnya dan menatap nama si pemanggil.

“Ya, Ma?” Tidak salah lagi. Toh, Kevin tahu bahwa masalah ini akan berimbas pada keluarga besarnya.

Irina segera menatap Kevin saat mendengar Kevin memanggil mamanya. Irina tahu, kini dia akan mendapatkan masalah yang cukup besar.

“Baik. Kevin akan pulang.” Setelah itu, panggilan ditutup.

Kevin menghela napas panjang sebelum dia menatap Irina dan berkata. “Ikut aku kembali ke rumah.”

“Apa … Ibu marah?” tanya Irina kemudian. Di masa Irina masih bersekolah, Irina memang memanggil ibu Kevin dengan panggilan Ibu.

“Sangat.” Kevin menjawab singkat. “Kita harus ke sana, Papa juga menunggu di sana.”

Pada akhirnya, Irina hanya bisa mengangguk. Dia akan menjalaninya, dia yakin dia bisa kuat melewati semuanya.

-TBC-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   EPILOG

    EpilogKevin menuju baru selesai mengganti pakiannya, dia turun ke meja makan, berharap bertemu dengan Irina yang mungkin kini sedang menyiapkan sarapan dengan mamanya dan juga para pelayan rumahnya.Ya, setelah melahirkan, Irina memang diminta untuk tinggal di rumah orang tua Kevin saja. Tentu saja yang meminta hal itu adalah Dewi. Alasannya adalah, agar ada yang membantu Irina merawat Sean. Padahal, diam-diam Kevinmemperhatikan, jika ibunya itu juga mulai perhatian dengan Irina.Kini, Sean sudah hampir berumur satu tahun, dan selama itu, hubungan keluarga mereka menjadi lebih dekat dan semakin harmonis.Ketika Kevin sampai di area meja makan, dia hanya mendapati para pelayan sibuk di dapur, sedangkan ibunya sibuk dengan Sean. Lalu dimana Irina?“Ma, Irina mana? Kok Sean sama Mama?”“Tadi Mama sudah bilang sama Irina, nggak usah ikut ke dapur. Masih saja ngeyel. Tuh sekarang lagi muntah-muntah di kamar mandi karena bau bawang.”Segera Kevin menyusul Irina di kamar mandi, dan benar saj

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 31 - Pengakuan Dan Restu

    Bab 31 – Pengakuan & RestuSetelah melakukan satu sesi panas di bar dapur, Kevin akhirnya memutuskan memesan makan malam untuk dirinya dan Irina. Keduanya kembali membersihkan diri sebelum kemudian makan malam bersama dengan saling menggoda. Setelah makan malam bersama, Kevin dan Irina kini sudah beristirahat di ranjang Kevin dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Kevin bahkan tak berhenti mengusap lembut perut Irina yang di dalamnya terdapat buah hatinya.“Aku melihatmu dengan Maharani tadi siang.” Irina akhirnya membuka suaranya. Kevin menghentikan pergerakannya seketika. “Di mana?”“Di kafe yang letaknya tak jauh dari kantor kamu.”“Ngapain kamu ke sana?” tanya Kevin lagi.“Aku kangen kamu. Jadi, rencananya aku mau datang jenguk kamu dan bawain kopi. Tapi… aku lihat kamu sama Rani yang terlihat…” Irina menggantung kalimatnya.“Terlihat bagaimana?” tanya Kevin lagi.“Kevin, kalau kamu—”“Aku memang mengajak ketemuan Rani.” Kevin memotong kalimat Irina. “Tapi untuk mengatakan

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 30 - Pernyataan Cinta

    Bab 30 – Pernyataan CintaRupanya, Kevin tidak membawa Irina pulang ke rumahnya, melainkan ke apartmen Kevin yang letaknya memang tak jauh dari kafe tempat Irina menunggu tadi. Irina sebenarnya ingin bertanya pada Kevin, kenapa Kevin membawanya ke sana, tapi Kevin tampak tak ingin membuka suara dan hanya fokus dengan jalanan di hadapannya.Saat mobil Kevin sudah terparkir di basement, Kevin segera keluar, lalu tanpa diduga, ketika Irina juga keluar dari mobil, Kevin segera menggendong Irina kembali, membuat Irina terpekik lagi karena ulah Kevin.“Kevin, aku bisa jalan sendiri,” ucap Irina, tapi Kevin tak mengindahkan ucapan Irina dan malam fokus berjalan menuju unit apartmennya.Sampai di dalam apartmen Kevin, Irina masih belum juga diturunkan. Dia baru diturunkan di dalam kamar mandi oleh Kevin. “Mandilah, air hujan bisa mmebuatmu sakit. Ada handuk dan kimono di sini.” Kevin menunjuk ke sebuah lemari kecil di dalam kamar mandi. Kemudian, Kevin membalikkan tubuhnya dan akan pergi. Na

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 29 - Jatuh Cinta

    Bab 29 – Jatuh CintaIrina memutuskan tidak turun dari mobilnya, dan memilih untuk membatalkan niatnya bertemu dengan Kevin. Irina akhirnya mengingat janjinya pada Maharani, bahwa dia akan menjanjikan perpisahan dengan Kevin. Mungkin saat ini, Maharani dan Kevin sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka. Seharusnya Irina bisa tenang, karena setelah berpisah dengannya nanti, kehidupan Kevin akan kembali normal. Namun nyatanya, Irina merasakan dadanya sesak karena sebuah perasaan yang cukup dia mengerti saat ini. Rasa cemburu.“Pak, kita ke mall terdekat saja ya, Pak,” ucap Irina pada sang sopir.“Baik, Bu.” Irina kembali mengusap lembut perutnya, mencoba menghibur dirinya sendiri dengan bayi yang dikandungnya. “Kita tunda dulu bertemu Papa. Kita akan belanja baju-baju kamu, ya…” bisik Irina pelan pada bayinya.Irina sadar, dia tak bisa memberi Kevin apapun karena pria itu sudah memiliki segalanya, dia hanya bisa memberikan pria itu kebebasan saat ini, meskipun dalam hatinya yang pali

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 28 - Pisah Rumah

    Bab 28 – Pisah Rumah Setelah sesi panas dan sesi sedih di atas ranjang, keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Mengganti pakaian mereka dengan pakaian santai, kemudian menuju ke ruang makan untuk menyantap hidangan makan malam.Makan malam kali ini terasa hening, namun tak tegang atau dingin seperti biasanya. Keheningan terjadi lebih karena keduanya tak tahu harus membahas atau berbicara tentang apalagi. Mereka tadi sudah memutuskan jika akan berpisah setelah bayinya lahir. Itu adalah keinginan Irina, dan Kevin mengiyakan keinginan perempuan itu.Kevin memeng berada pada titik tak mampu menolak keinginan Irina. Kadang, Kevin merasa kesal, kenapa dia bisa memiliki perasaan sedalam ini pada perempuan itu? Hingga dia tak mampu menolak apapun yang diinginkan perempuan tersebut.“Uuum, begini, karena kita sudah sepakat, apa… nggak sebaiknya kita…” Irina ragu melanjutkan kalimatnya. “Tinggal secara terpisah maksudmu?” tanya Kevin seakan melanjutkan kalimat Irina.“Uuum… aku hanya me

  • Pujaan Hati Sang Tuan Muda   Bab 27 - Berpisah Baik-baik

    Bab 27 – Berpisah Baik-baikKevin baru menghentikan aksinya saat dirasa napas Irina mulai terputus-putus. Lalu, keduanya baru sadar jika kini mereka tak hanya berdua di area dapur. Mereka menolehkan kepala ke arah jalan masuk ke area dapur, dan mendapati ibu Kevin berada di sana dengan beberapa tamunya dan juga Maharani yang masih menatap mereka dengan wajah ternganga masing-masing.Irina segera melepaskan diri dari Kevin kemudian sedikit menjaga jarak, hal itu membuat Kevin menatap ke arah Irina seketika. Dia kesal dengan sikap Irina, kemudian Kevin kembali menatap ibunya dan juga para tamu sang ibu yang tampak masih terdiam di tempatnya berdiri.“Ada masalah?” tanya Kevin dengan santainya.“Vin, apa yang kamu lakukan?”“Apa yang kulakukan bagaimana, Ma? Aku sedang mencium istriku. Apa salah?”“Kevin!” Dewi tampak kesal dengan pengakuan terang-terangan yang dilakukan oleh Kevin di hadapan para teman-temanya.“Ma, Mama nggak seharusnya ngelakuin ini. Irina sedang mengandung anakku, cu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status