Se connecterPunggungnya menghantam keras tiang penyangga beton di tengah ruangan hingga menciptakan bunyi dentuman yang mengerikan. Getaran itu merambat ke seluruh rangka bangunan, menjatuhkan debu-debu tua dari langit-langit gudang yang suram ke arah tubuhnya yang ringsek."Uhuk! Uh... hakh!" Tresna memuntahkan darah segar ke atas lantai beton yang dingin dan keras. Dunia di depan matanya nampak bergoyang hebat, seolah gravitasi bumi sedang mempermainkan keseimbangan tubuhnya yang sudah hancur.Dia bersandar pada tiang beton tersebut, mencoba menghirup oksigen yang terasa sangat mahal dan menyakitkan di dadanya. Menyadari kekuatan fisik Bos Mafia itu jauh melampaui kemampuan manusia biasa, Tresna mulai merasa ajalnya sudah berada di ambang pintu."Gimana, Mantri? Masih mau pamer cahaya merah lagi atau mau langsung gue kirim ke neraka?!" teriak Bos Mafia dengan penuh kesombongan. Dia melangkah maju dengan tenang, menikmati setiap detik penderitaan lawannya yang sudah tidak berdaya bersandar pada
"Dokter Richard!" teriak para penjaga yang baru saja tersadar dari kebutaan sementara akibat cahaya merah tersebut.Bos Mafia yang tadi sempat terlempar ke belakang kini mulai bangkit dengan wajah penuh bekas luka yang nampak semakin merah membara. Dia melihat Richard yang sudah tidak bergerak di bawah tumpukan peti, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Tresna dengan penuh kemarahan.Tresna sendiri kini sudah berhasil berdiri tegak, meski kakinya yang tertembak masih bergetar hebat dan terus mengeluarkan darah. Cahaya merah dari Batu Wulung perlahan meredup, namun sisa energi panasnya masih terasa menyelimuti seluruh tubuh Tresna.Sang mantri mengatur napasnya yang memburu, mencoba merasakan aliran darahnya yang kini membawa kekuatan baru yang sangat dahsyat. Dia menatap sekeliling, melihat moncong-moncong senjata yang kembali terarah kepadanya, namun kali ini tidak ada lagi ketakutan di matanya."Ayo maju! Siapa lagi yang mau merasakan panasnya pusaka ini?!" tantang Tresna de
Cengkeraman tangan Bos Mafia pada rambut Tresna semakin menguat, terasa seolah-olah seluruh kulit kepalanya akan terkelupas paksa dari tengkorak. Pria berwajah luka itu menyentak wajah Tresna ke atas dengan tenaga yang sangat kasar, memaksa sang mantri untuk menatap langsung ke arah Dokter Richard.Darah yang mengucur dari dahi Tresna mulai masuk ke mata, menciptakan sensasi pedih yang sangat menyiksa. Hal ini semakin memperkeruh pandangannya yang sudah remang-remang akibat gempuran fisik bertubi-tubi sebelumnya."Lihat musuhmu untuk terakhir kalinya, Mantri!" bentak Bos Mafia dengan suara parau yang dipenuhi nada kemenangan mutlak.Dokter Richard melangkah maju satu tindak dengan senyum yang terkembang sangat lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Raut wajah sang Dokter nampak sangat mengerikan di bawah sorot lampu merah yang mencekam. Dari balik saku jas putihnya yang masih bersih, dia mengeluarkan sebuah alat suntik yang berisi cairan kental berwarna hijau terang.C
"Terus tembak! Jangan kasih celah buat kabur!" sahut yang lain dengan suara yang hampir tertelan dentuman senjata.Tresna terus memacu kakinya dan mengabaikan rasa perih akibat serpihan logam yang menggores lengannya. Kaos oblongnya kini semakin koyak dan bersimbah peluh, namun dia tahu harus segera mencapai area yang lebih tertutup.Saat dia baru saja akan mencapai bibir tangga, sebuah peluru tajam melesat dengan kecepatan tinggi. Proyektil itu berhasil menyerempet paha kiri Tresna hingga celananya robek seketika oleh terjangan timah panas."Aaakh!" Tresna memekik tertahan saat rasa panas menyengat langsung menjalar dari kakinya ke seluruh saraf tubuh.Sentakan peluru itu membuat keseimbangannya runtuh total dalam sekejap mata. Kakinya terasa lemas seketika dan dia kehilangan pijakan di atas lantai besi yang mulai licin oleh ceceran oli mesin.Tubuh besarnya terpelanting lalu terguling dengan sangat keras menuruni anak tangga besi yang kaku. Dia jatuh menuju lantai dasar gudang denga
Tresna merangkak perlahan di atas lantai jaring besi untuk mencari posisi tembak yang paling strategis. Dia menyadari bahwa melakukan serangan frontal adalah tindakan bunuh diri, namun dia harus segera menghentikan rencana gila ini sekarang juga.Setiap jengkal pergerakannya di atas jaring besi dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Dia memastikan tidak ada bunyi logam yang beradu agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh lampu sorot yang menyapu aula.Lantai jaring besi itu bergetar halus seiring dengan langkah kakinya yang sangat ringan. Tresna melihat beberapa drum berisi bahan kimia yang mudah terbakar tersusun rapi di dekat panggung tempat Richard berdiri.Sebuah rencana sabotase mulai terbentuk di kepalanya dengan sangat cepat. Jika dia bisa meledakkan drum-drum tersebut, kekacauan yang tercipta akan memberinya kesempatan untuk menghabisi Richard secara pribadi.Dia menyesuaikan posisi bidikannya, mengincar katup pengaman pada salah satu tangki gas di belakang barisan p
Tresna segera menarik tubuhnya, bergerak secepat kilat menyelinap ke balik rak besi tinggi yang dipenuhi deretan botol kaca. Aroma alkohol dan antiseptik yang tajam menyeruak di antara celah-celah rak, namun dia tidak membiarkan indra penciumannya terganggu.Dia merapatkan punggung pada tiang besi yang dingin. Lelaki itu menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak demi menjaga kesunyian mutlak agar keberadaannya tidak terbongkar.Hanya berselang beberapa detik, pintu ganda abu-abu di depannya terbuka lebar dengan suara derit engsel yang terasa menyakitkan di telinga. Seorang penjaga bertubuh tegap dengan seragam hitam taktis melangkah masuk, memegang senter yang sinarnya membelah kegelapan ruangan penyimpanan tersebut.Penjaga itu berjalan dengan langkah yang berat dan penuh selidik. Sesekali dia menendang tumpukan kardus kosong di lantai untuk memastikan tidak ada orang yang bersembunyi di balik kekacauan tersebut."Sue, bau apaan ini? Nggak enak banget," gerutu penjaga i







