LOGINLinda masih terbaring pasrah di atas ranjang periksa yang reot. Saat ini dia napasnya sudah memburu seperti orang habis lari keliling lapangan desa.
Tresna tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan cengkeramannya yang mantap pada betis Linda yang putih mulus dan terasa sangat hangat di bawah telapak tangannya. Matanya menatap lekat ke arah pergelangan kaki Linda yang mulai mengempis bengkaknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke arah lain yang lebih menggoda.
"Mas Tresna, ini sudah cukup belum pijatnya, rasanya kaki aku sudah mulai enteng dan nggak senut-senut lagi kayak tadi pas baru jatuh."
"Belum Linda, ini baru luarnya saja yang sembuh, urat bagian dalamnya masih banyak yang mlintir dan butuh saya luruskan biar nggak permanen sakitnya."
Dengan alasan medis untuk meluruskan urat yang terjepit. Jemari kasar Tresna mulai menekan satu titik sensitif yang berada tepat di lekukan balik lutut Linda.
Tekanan itu seketika membuat Linda tersentak kaget. Tubuhnya melengkung ke atas karena ada gelombang aneh yang mendadak menyambar seluruh saraf tulang belakangnya dengan sangat dahsyat.
Bukannya berhenti, jemari Tresna justru mulai merambat naik lagi menyusuri paha bagian dalam Linda yang sangat sensitif dan jarang sekali tersentuh oleh laki-laki manapun.
Linda sebenarnya ingin sekali memberontak dan menendang wajah Tresna yang nampak sangat menikmati proses pengobatan liar itu. Namun tenaganya seolah sudah menguap entah kemana.
Setiap tekanan yang diberikan oleh ibu jari Tresna justru mengirimkan sensasi hangat. Tapi itu justri yang membuat pinggul Linda tersentak naik secara refleks seolah-olah dia sedang meminta lebih banyak sentuhan.
Visual di dalam ruangan remang itu kini berfokus pada butiran keringat dingin yang mulai mengalir pelan di leher jenjang Linda yang sangat putih dan menggoda. Sementara dadanya naik-turun dengan sangat hebat di balik kemeja ketat warna biru muda yang kancing bagian paling atasnya sudah terlepas satu akibat gerakan agresifnya tadi.
Tresna hanya bisa menyeringai lebar saat melihat wajah angkuh Linda yang biasanya selalu menatapnya dengan penuh hinaan. Kini wajah itu sudah berubah menjadi merah padam menahan desahan.
Dia sengaja menggesekkan lengan kekarnya yang berotot ke bagian kulit paha dalam Linda yang terbuka lebar karena posisi kakinya yang ditekuk sedemikian rupa.
"Duh Mas... jangan di situ... ahhh... itu sudah terlalu tinggi tangannya, nanti kalau kena yang lain gimana nasib aku."
"Lha kan saya sudah bilang tadi, kalau nggak tuntas sampai ke atas nanti darahnya menggumpal dan bikin paha kamu jadi biru-biru kayak habis dipukuli."
"Tapi rasanya aneh banget Mas Tresna, badan aku jadi lemes semua kayak nggak ada tulangnya, ini beneran karena pijatan kamu ya?"
"Ya iyalah, ini teknik kuno peninggalan bapak saya, nggak sembarang orang bisa ngerasain nikmatnya sembuh di tangan saya ini."
Tresna makin berani mendekatkan wajahnya ke arah Linda. Aroma parfum mahal dari tubuh gadis itu makin kuat tercium dan membuat gairahnya makin membubung tinggi sampai ke langit.
Dia menekan titik saraf terakhir di pangkal paha Linda dengan gerakan memutar yang sangat lambat namun bertenaga. Membuat Linda menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak berteriak kencang.
Suara napas mereka berdua memenuhi ruangan klinik yang mendadak terasa sangat sempit dan penuh dengan uap panas yang keluar dari pori-pori kulit mereka.
"Sudah enakan, Non? Atau mau dipijat sampai ke pangkal biar tuntas?" tanya Tresna dengan suara yang dibuat serendah mungkin tepat di depan telinga Linda yang nampak mulai merona.
Linda yang gengsinya setinggi langit itu mendadak tersadar dari lamunannya saat merasakan pergelangan kakinya sudah benar-benar tidak terasa sakit lagi seperti saat dia baru terjatuh tadi.
Dengan gerakan yang sangat kasar dan tiba-tiba, dia langsung menarik kakinya dari genggaman tangan Tresna. Dia mencoba untuk segera duduk tegak di pinggir ranjang periksa.
Linda bangun dengan kondisi yang masih sedikit sempoyongan. Kepalanya masih terasa pusing akibat sensasi nikmat yang baru saja dia rasakan dari tangan mantri itu.
Rok pendeknya nampak sangat kusut dan berantakan. Memperlihatkan paha bagian belakangnya yang memerah bekas cengkeraman tangan Tresna yang sangat bertenaga dan penuh dengan nafsu.
Linda mencoba merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Matanya menatap tajam ke arah Tresna yang sedang berdiri sambil bersedekap dada di hadapannya sekarang.
Dia merasa sangat malu sekaligus marah karena sudah membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh seorang mantri desa yang selama ini dia anggap sebagai sampah masyarakat.
"Nggak usah dilanjutin! Aku sudah sembuh dan aku nggak butuh servis tambahan apa pun dari mantri mesum kayak kamu ini!"
"Lho, galak lagi ya? Padahal tadi pas dipijat di paha dalem kok merem-merem merem melek gitu kayak orang lagi keenakan makan cokelat."
"Diam kamu! Itu tadi cuma reaksi kaget karena tangan kamu yang kasar itu kayak amplas bangunan, jangan harap aku bakal balik lagi ke sini!"
Linda segera merogoh tas mewahnya dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Dia mencari dompet kulitnya untuk mengambil beberapa lembar uang sebagai biaya pengobatan dadakannya itu.
Dia mengambil selembar uang seratus ribu rupiah yang masih sangat baru dan licin. Lalu melempar uang itu tepat ke arah wajah Tresna dengan penuh rasa benci.
Uang itu melayang pelan di udara sebelum akhirnya jatuh tepat di bawah kaki Tresna yang masih tenang berdiri menatap kelakuan anak orang kaya yang sombong itu.
"Ini bayaran kamu! Jangan geer, pijatan kamu biasa aja!" hardik Linda dengan suara yang sengaja dikencangkan untuk menutupi rasa malu yang sangat luar biasa hebat di lubuk hatinya.
"Pijatan biasa aja kok sampai meremas seprai kencang banget gitu ya, apa itu juga termasuk gaya baru orang kota kalau lagi nahan rasa sakit?"
"Bacot kamu ya! Ingat, surat dari Bapak tadi jangan sampai lupa dibaca, kalau nggak bisa bayar sewa mending kamu angkat kaki dari desa ini!"
Linda segera melangkah menuju pintu keluar dengan gaya berjalan yang diusahakan nampak normal. Meskipun hatinya masih terasa berdebar-debar karena kejadian panas yang baru saja lewat.
Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu klinik yang kusam itu. Matanya secara tidak sengaja melirik ke arah bagian bawah perut Tresna yang berdiri tegak. Dia melihat sebuah tonjolan besar di balik celana kain tipis milik Tresna yang masih berdiri dengan sangat gagah berani menantang pandangan matanya yang tajam itu.
"Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya
"Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk
Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek
Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus
Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di
Hawa asing yang berembus dari kain hitam tua itu terasa makin menusuk kulit. Udara sore mendadak berhenti bertiup, meninggalkan keheningan tegang yang mencekam pekarangan rumah joglo."Bawa ke teras, Lin! Cepat!" seru Clara panik sambil menopang tubuh Wira yang mendadak terkulai lemas di pelukannya.Linda tidak menjawab. Dengan langkah cepat dan raut wajah membatu, dia membawa gulungan kain hitam berbau minyak tanah itu menuju teras rumah.Silvi mengekor tergesa-gesa dari belakang, matanya tak lepas menatap ikatan benang serat pohon yang membelit kain kusam tersebut."Biar aku bantu gendong Wira," panggil Silvi terengah-engah, berlutut untuk menopang kaki mungil Wira."Nggak usah, Sil! Aku masih sanggup. Tolong bersihkan meja teras dulu!" potong Clara cepat.Clara menggendong anaknya naik ke anak tangga teras. Suhu tubuh Wira meningkat sangat cepat, rasa panas menyengat kini menembus pakaian tipis yang dikenakan dokter itu."Sakit, Ibu... Panas..." bisik Wira serak. Bibir mungilnya ya







