Share

Bab 4

Penulis: Prince Molina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 12:30:26

Linda masih terbaring pasrah di atas ranjang periksa yang reot. Saat ini dia napasnya sudah memburu seperti orang habis lari keliling lapangan desa.

Tresna tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan cengkeramannya yang mantap pada betis Linda yang putih mulus dan terasa sangat hangat di bawah telapak tangannya. Matanya menatap lekat ke arah pergelangan kaki Linda yang mulai mengempis bengkaknya, namun pikirannya sudah melayang jauh ke arah lain yang lebih menggoda.

"Mas Tresna, ini sudah cukup belum pijatnya, rasanya kaki aku sudah mulai enteng dan nggak senut-senut lagi kayak tadi pas baru jatuh."

"Belum Linda, ini baru luarnya saja yang sembuh, urat bagian dalamnya masih banyak yang mlintir dan butuh saya luruskan biar nggak permanen sakitnya."

Dengan alasan medis untuk meluruskan urat yang terjepit. Jemari kasar Tresna mulai menekan satu titik sensitif yang berada tepat di lekukan balik lutut Linda.

Tekanan itu seketika membuat Linda tersentak kaget. Tubuhnya melengkung ke atas karena ada gelombang aneh yang mendadak menyambar seluruh saraf tulang belakangnya dengan sangat dahsyat.

Bukannya berhenti, jemari Tresna justru mulai merambat naik lagi menyusuri paha bagian dalam Linda yang sangat sensitif dan jarang sekali tersentuh oleh laki-laki manapun.

Linda sebenarnya ingin sekali memberontak dan menendang wajah Tresna yang nampak sangat menikmati proses pengobatan liar itu. Namun tenaganya seolah sudah menguap entah kemana.

Setiap tekanan yang diberikan oleh ibu jari Tresna justru mengirimkan sensasi hangat. Tapi itu justri  yang membuat pinggul Linda tersentak naik secara refleks seolah-olah dia sedang meminta lebih banyak sentuhan.

Visual di dalam ruangan remang itu kini berfokus pada butiran keringat dingin yang mulai mengalir pelan di leher jenjang Linda yang sangat putih dan menggoda. Sementara dadanya naik-turun dengan sangat hebat di balik kemeja ketat warna biru muda yang kancing bagian paling atasnya sudah terlepas satu akibat gerakan agresifnya tadi.

Tresna hanya bisa menyeringai lebar saat melihat wajah angkuh Linda yang biasanya selalu menatapnya dengan penuh hinaan. Kini wajah itu sudah berubah menjadi merah padam menahan desahan.

Dia sengaja menggesekkan lengan kekarnya yang berotot ke bagian kulit paha dalam Linda yang terbuka lebar karena posisi kakinya yang ditekuk sedemikian rupa.

"Duh Mas... jangan di situ... ahhh... itu sudah terlalu tinggi tangannya, nanti kalau kena yang lain gimana nasib aku."

"Lha kan saya sudah bilang tadi, kalau nggak tuntas sampai ke atas nanti darahnya menggumpal dan bikin paha kamu jadi biru-biru kayak habis dipukuli."

"Tapi rasanya aneh banget Mas Tresna, badan aku jadi lemes semua kayak nggak ada tulangnya, ini beneran karena pijatan kamu ya?"

"Ya iyalah, ini teknik kuno peninggalan bapak saya, nggak sembarang orang bisa ngerasain nikmatnya sembuh di tangan saya ini."

Tresna makin berani mendekatkan wajahnya ke arah Linda. Aroma parfum mahal dari tubuh gadis itu makin kuat tercium dan membuat gairahnya makin membubung tinggi sampai ke langit.

Dia menekan titik saraf terakhir di pangkal paha Linda dengan gerakan memutar yang sangat lambat namun bertenaga. Membuat Linda menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak berteriak kencang.

Suara napas mereka berdua memenuhi ruangan klinik yang mendadak terasa sangat sempit dan penuh dengan uap panas yang keluar dari pori-pori kulit mereka.

"Sudah enakan, Non? Atau mau dipijat sampai ke pangkal biar tuntas?" tanya Tresna dengan suara yang dibuat serendah mungkin tepat di depan telinga Linda yang nampak mulai merona.

Linda yang gengsinya setinggi langit itu mendadak tersadar dari lamunannya saat merasakan pergelangan kakinya sudah benar-benar tidak terasa sakit lagi seperti saat dia baru terjatuh tadi.

Dengan gerakan yang sangat kasar dan tiba-tiba, dia langsung menarik kakinya dari genggaman tangan Tresna. Dia mencoba untuk segera duduk tegak di pinggir ranjang periksa.

Linda bangun dengan kondisi yang masih sedikit sempoyongan. Kepalanya masih terasa pusing akibat sensasi nikmat yang baru saja dia rasakan dari tangan mantri itu.

Rok pendeknya nampak sangat kusut dan berantakan. Memperlihatkan paha bagian belakangnya yang memerah bekas cengkeraman tangan Tresna yang sangat bertenaga dan penuh dengan nafsu.

Linda mencoba merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Matanya menatap tajam ke arah Tresna yang sedang berdiri sambil bersedekap dada di hadapannya sekarang.

Dia merasa sangat malu sekaligus marah karena sudah membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh seorang mantri desa yang selama ini dia anggap sebagai sampah masyarakat.

"Nggak usah dilanjutin! Aku sudah sembuh dan aku nggak butuh servis tambahan apa pun dari mantri mesum kayak kamu ini!"

"Lho, galak lagi ya? Padahal tadi pas dipijat di paha dalem kok merem-merem merem melek gitu kayak orang lagi keenakan makan cokelat."

"Diam kamu! Itu tadi cuma reaksi kaget karena tangan kamu yang kasar itu kayak amplas bangunan, jangan harap aku bakal balik lagi ke sini!"

Linda segera merogoh tas mewahnya dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Dia mencari dompet kulitnya untuk mengambil beberapa lembar uang sebagai biaya pengobatan dadakannya itu.

Dia mengambil selembar uang seratus ribu rupiah yang masih sangat baru dan licin. Lalu melempar uang itu tepat ke arah wajah Tresna dengan penuh rasa benci.

Uang itu melayang pelan di udara sebelum akhirnya jatuh tepat di bawah kaki Tresna yang masih tenang berdiri menatap kelakuan anak orang kaya yang sombong itu.

"Ini bayaran kamu! Jangan geer, pijatan kamu biasa aja!" hardik Linda dengan suara yang sengaja dikencangkan untuk menutupi rasa malu yang sangat luar biasa hebat di lubuk hatinya.

"Pijatan biasa aja kok sampai meremas seprai kencang banget gitu ya, apa itu juga termasuk gaya baru orang kota kalau lagi nahan rasa sakit?"

"Bacot kamu ya! Ingat, surat dari Bapak tadi jangan sampai lupa dibaca, kalau nggak bisa bayar sewa mending kamu angkat kaki dari desa ini!"

Linda segera melangkah menuju pintu keluar dengan gaya berjalan yang diusahakan nampak normal. Meskipun hatinya masih terasa berdebar-debar karena kejadian panas yang baru saja lewat.

Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu klinik yang kusam itu. Matanya secara tidak sengaja melirik ke arah bagian bawah perut Tresna yang berdiri tegak. Dia melihat sebuah tonjolan besar di balik celana kain tipis milik Tresna yang masih berdiri dengan sangat gagah berani menantang pandangan matanya yang tajam itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 89

    Suasana tenang di dalam kamar mendadak pecah oleh suara langkah kaki terburu-buru dari arah lorong luar lantai dua rumah dinas itu. Suara sepatu pantofel yang menghantam lantai kayu jati terdengar sangat berat dan penuh dengan nada amarah.Tresna langsung terduduk tegak di atas kasur dengan sorot mata yang kembali tajam menatap ke arah pintu kamar. "Linda! Buka pintunya sekarang! Ayah tahu kamu ada di dalam sama mantri brengsek itu!" teriak sebuah suara bariton.Itu adalah suara Kepala Desa, ayah kandung Linda sendiri yang terdengar sedang sangat emosi. Seseorang menggedor pintu kamar Linda dengan sangat kasar menggunakan kepalan tangan yang besar dan kuat.Gedoran itu menimbulkan bunyi dentuman keras yang sangat memuakkan telinga dan menggetarkan bingkai pintu yang masih terkunci rapat. "Linda! Jangan sampai ayah d

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 88

    Tresna terus memompa pinggulnya dengan kecepatan yang semakin meningkat di atas tubuh Linda yang sudah pasrah sepenuhnya. Seluruh sisa tenaga herbal purwaceng yang mendidih di dalam darahnya seolah harus ditumpahkan dalam satu sesi pergulatan binal ini.Setiap dorongan jantannya menghujam sangat dalam hingga menyentuh dasar rahim Linda yang sempit. Gerakan itu menciptakan sensasi gesekan kulit yang panas dan basah di antara pertemuan selangkangan mereka yang sudah dipenuhi cairan."Ahhh... terus, Mas! Ahhh... masukin terus jangan kasih lepasin!" teriak Linda dengan suara yang melengking tinggi.Kepala Linda mendongak ke belakang dengan posisi mata yang hampir memutih karena menahan kenikmatan yang terlalu besar. Ranjang kayu jati berukuran besar itu berderit sangat kencang merespons setiap benturan fisik yang mereka

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 87

    Linda menatap wajah Tresna dengan pandangan mata yang sangat lapar seolah ingin segera melahap seluruh tubuh sang mantri. Ia mengarahkan pusaka itu tepat ke depan pintu masuk area sensitifnya yang sudah sangat basah oleh cairan bening.Cairan itu melimpah keluar akibat rangsangan bibir dan lidah Tresna pada bagian dadanya selama beberapa menit tadi. Tresna menahan berat tubuhnya menggunakan kedua siku di sisi tubuh Linda agar tidak terlalu menekan fisik wanita itu.Ia menatap mata putri Kepala Desa itu dengan tatapan yang penuh dengan api gairah yang siap meledak kapan saja. "Siap-siap, Linda... ini bakal terasa sangat penuh di dalem sana," ancam Tresna dengan nada suara yang binal."Jangan salahin aku kalau kamu sampai nggak bisa jalan besok pagi karena ini," sambung Tresna sambil mengatur napas. Ancaman itu justru

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 86

    Sentuhan itu memberikan sensasi hangat yang meresap kuat ke dalam jaringan otot punggung putri penguasa desa tersebut. Linda mendesah pelan merasakan kenyamanan dari sentuhan ahli pengobatan tradisional yang sedang memijatnya dengan penuh tenaga."Ahhh... terus di situ, Mas... tekan lebih kuat lagi, jangan ragu buat pakai tenaga jantanmu itu," igau Linda dengan mata terpejam.Tresna semakin meningkatkan tekanan tangannya karena merasakan kulit Linda yang licin akibat minyak mulai bergesekan dengan telapak tangannya. Ia merasakan energi stamina herbal di dalam darahnya mulai mengalir ke ujung-ujung jari tangannya yang hangat.Setiap kali jari Tresna menyentuh bagian pinggang bawah, Linda akan menggeliat kecil seperti seekor kucing yang sedang merasa sangat nyaman. "Kamu memang punya bakat luar biasa, Mas... pantesan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 85

    Mobil sedan mewah itu akhirnya tiba di halaman rumah dinas kepala desa yang ukurannya sangat luas dan dipagari besi tempa menjulang tinggi. Ban mobil yang mahal itu berderit halus saat melindas hamparan kerikil putih di sepanjang jalan masuk rumah tersebut.Suara gesekan ban dan kerikil itu terdengar sangat kontras dengan kesunyian malam di pusat desa Sukamaju. "Ayo turun, jangan cuma diam saja kayak orang bodoh begitu, Mas," perintah Linda dengan nada yang tegas.Linda membuka pintu mobil dengan gerakan yang sangat anggun namun tetap memberikan penekanan pada setiap kata-katanya. Ia langsung menarik tangan Tresna buat masuk ke dalam bangunan rumah besar yang nampak sangat megah itu.Linda sama sekali nggak memedulikan tatapan para pembantu rumah tangga yang berdiri berjajar di dekat ruang tamu. Para pembantu itu menatap mereka dengan wajah penuh tanya melihat sang mantri desa masuk dengan kondisi kemeja robek."Linda, pelan-pelan... tubuhku masih sakit semua karena dihajar preman tad

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 84

    Kepala desa terpaksa menuruti keinginan putri tunggalnya itu dan menyuruh para pemuda melepaskan cengkeraman tangan mereka. Ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi di depan umum karena bisa merusak reputasi kepemimpinannya di desa Sukamaju.Ia tahu betul kalau Linda sudah bicara, maka tidak ada satu orang pun yang berani membantahnya di rumah maupun di kantor desa. Kepala desa sendiri sebenarnya sangat bergantung pada kecerdasan putrinya dalam mengelola semua administrasi gelap desa."Lepaskan dia! Tapi ingat Tresna, urusan kita belum selesai malam ini!" gumam Kepala Desa dengan nada yang sangat penuh dendam."Jangan kira kamu bisa lolos begitu saja dari genggamanku setelah ini!" sambungnya sambil menunjuk ke arah wajah Tresna. Ketiga pemuda gempal itu akhirnya melepaskan pegangan mereka dari lengan kekar Tresna secara perlahan karena takut pada Linda.Linda tersenyum puas sambil mendekati posisi Tresna yang masih terengah-engah dengan kondisi kemeja compang-camping. Wajah Tresna namp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status