ログインSang pemimpin terperanjat karena pisaunya cuma menebas udara kosong dan kain kemeja yang robek. Bunyi sobekan yang nyaring itu terdengar jelas di tengah kesunyian gubuk yang mencekam."Sialan! Kamu masih punya tenaga?!" raung sang pemimpin dengan kemarahan yang meluap.Tresna tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menyerang balik. Sambil masih dalam posisi telentang di lantai tanah, ia meluruskan kaki kanannya dengan kecepatan kilat. Ia menendang kuat bagian lutut pemimpin pembunuh bayaran itu dari arah bawah. Hantaman tumit Tresna mengenai persendian lutut sang raksasa dengan telak, menciptakan suara krak yang menyakitkan."AAAKKKHHH!" Pria bertubuh raksasa tersebut kehilangan keseimbangan tubuhnya seketika.Karena beban tubuhnya yang besar, ia jatuh bersandar sangat keras menabrak dinding anyaman bambu gubuk yang sudah lapuk. Dinding bambu itu berderak kencang, nyaris jebol dihantam punggung sang pemimpin.Tresna tidak menunggu lawannya bangkit. Dengan sisa adrenalin yang m
"Mas... Mas Tresna... tolong bertahan..." isak Silvi, suaranya nyaris hilang ditelan tangis yang memilukan.Linda menatap sang pemimpin dengan mata yang penuh kebencian. "Kamu bakal membusuk di penjara, kamu sama Juragan sialan itu! Polisi pasti lagi dalam perjalanan ke sini!" teriaknya mencoba menggertak, meski ia tahu bantuan mungkin nggak bakal datang tepat waktu.Mendengar nama polisi disebut, pemimpin pembunuh bayaran itu justru tertawa lebih keras, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Polisi? Darmawan mungkin udah jadi bangkai di lorong puskesmas tadi. Di perkebunan ini, aku hukumnya," sahutnya dengan nada dingin yang membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.Pria raksasa itu kemudian berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi sangat serius dan fokus. Tangan kanan pemimpin pembunuh bayaran itu merogoh saku celana kargonya secara perlahan ke bagian paling dalam, seolah sedang mengambil sesuatu yang sangat berharga dan rahasia.Linda dan Silvi menahan napas, mata mereka te
Pukulan bertenaga jantan Tresna tertahan kaku di udara. Tresna terbelalak kaget, ia merasakan tangannya bergetar hebat saat serangannya dihentikan oleh kekuatan yang setara, atau mungkin lebih besar dari miliknya sendiri.Di balik bayang-bayang pintu yang hancur, muncul sosok pria ketiga dengan perawakan yang jauh lebih tegap. Matanya memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat, menatap Tresna dengan tatapan yang merendahkan.Waktu seolah membeku sesaat ketika balok kayu jati yang diayunkan Tresna dengan tenaga jantannya tertahan di udara. Tresna terbelalak, urat-urat di lehernya menegang hebat saat ia menyadari bahwa serangan kejutan yang seharusnya meremukkan tengkorak lawan itu baru saja dipatahkan dengan satu tangan.Tangan kokoh yang menahan pukulan balok kayu Tresna ternyata milik pemimpin kelompok pembunuh bayaran tersebut. Sesosok pria bertubuh raksasa yang muncul dari balik bayang-bayang kegelapan malam perkebunan tebu itu menatapnya dengan dingin.Pria bertubuh raksasa deng
Bunyi gesekan sol sepatu bot berat di atas tanah kering yang berpasir itu seolah-olah menginjak langsung jantung ketiga orang yang berada di dalam gubuk reyot tersebut. Ketegangan yang mencekam seketika merayap naik, membekukan aliran darah dan memadamkan bara gairah yang baru saja menyala hebat di antara Linda dan Tresna.Tresna menghentikan dorongan pinggulnya seketika. Gerakannya yang tadinya ritmis dan penuh tenaga maskulin kini membatu di tengah keheningan yang mencekam. Ia menahan napas sedalam-dalamnya, menajamkan indra pendengarannya yang tajam untuk mendengarkan setiap detail arah pergerakan langkah kaki di luar gubuk.Matanya yang berkilat laksana harimau di tengah kegelapan menatap tajam ke arah pintu bambu yang berderit pelan ditiup angin malam."Mas..." bisik Linda hampir tak terdengar dengan suara yang bergetar hebat.Linda menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memerah, berusaha menahan rasa penuh di perut bagian bawahnya akibat jepitan pusaka Tresna yang terhenti se
Linda menatap langsung ke arah wajah Tresna di tengah kegelapan ruangan gubuk yang sempit dan hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang menyusup lewat celah rumbia."Mas, di sini panas banget... rasanya dadaku kayak terbakar," rintih Linda.Keringat mulai membasahi leher jenjangnya yang putih, mengalir turun ke sela-sela dadanya. Ia membuka kancing atas kemejanya sendiri, satu demi satu, untuk mengurangi rasa gerah yang menyerang seluruh pori-pori kulitnya saat itu akibat ketegangan fisik dan mental yang memuncak.Tresna terpaku, ia tidak bisa membuang muka saat kain kemeja Linda tersingkap. Dua buah kembar Linda yang besar dan padat terlihat sangat menantang, memantulkan sedikit cahaya bulan yang masuk dari celah atap rumbia, memberikan kilauan putih mulus yang sangat kontras dengan kegelapan gubuk. Pemandangan itu laksana oase di tengah padang pasir bagi Tresna yang baru saja bertaruh nyawa."Linda... kamu tahu apa yang kamu lakuin?" suara Tresna memberat, nadanya dipenuhi gair
Loncatan cepat dilakukan dari teras belakang puskesmas menuju area perkebunan tebu warga yang terbentang luas. Rimbunnya tanaman tebu di balik bangunan medis itu menjadi sasaran pelarian mereka selanjutnya demi mencari tempat persembunyian.Udara malam perdesaan yang dingin langsung menyergap tubuh mereka yang bersimbah keringat. Bau tanah basah dan aroma tajam daun tebu menusuk hidung, memberikan sedikit kesegaran pasca menghirup asap kimia yang menyesakkan.Keselamatan mereka masih jauh dari kata terjamin di tengah kegelapan yang mencekam. Di kejauhan, teriakan anggota sindikat mulai terdengar saling bersahutan mengelilingi area puskesmas."Mereka keluar lewat belakang! Kejar ke kebun tebu!" raung suara-suara kasar dari arah bangunan medis tersebut."Mas... kakiku sakit, aku nggak kuat lagi..." isak Silvi sembari tertatih mengimbangi langkah lebar Tresna."Tahan, Sil! Kita harus terus gerak! Kalau berhenti sekarang, mereka bakal nemuin kita dengan mudah!" sahut Tresna dengan nada te
Di dalam gubuk yang remang-remang itu, Linda berdiri dengan tegak tepat di hadapan Tresna yang masih berdiri mematung. Tatapannya sangat menantang dan tajam, seolah-olah ia sedang memegang kendali penuh atas situasi yang sedang terjadi di antara mereka.Linda menunjuk ke arah lantai bambu yang sedi
Linda menegaskan bahwa ia tidak mau dianggap sebagai wanita yang lemah hanya karena harus dilindungi oleh seorang mantri desa seperti Tresna. Ia merasa martabatnya sebagai putri orang terpandang harus tetap terjaga meski ia baru saja mengalami kejadian yang sangat memalukan."Apalagi berhutang budi
Sosok Pak Karyo muncul sejenak dari balik semak belukar sambil menggenggam sebuah ponsel pintar murahan dengan posisi kamera mendatar yang stabil. Cahaya dari layar ponsel itu memantul di lensa kacamatanya yang tebal, memperlihatkan titik fokus hijau yang merekam setiap gerak-gerik Tresna dan Linda
"Halah! Bacotmu itu udah basi sejak dua tahun yang lalu! Kami ke sini bukan mau dengerin dongeng sedihmu lagi!" bentak preman lainnya.Pria yang memegang rantai motor itu menyahut dengan suara parau yang terdengar laksana gesekan antara dua bilah besi yang sudah sangat berkarat. Para penagih utang







