ログイン"Mereka sudah di depan pintu," batin Tresna dengan tingkat kewaspadaan maksimal.BRAKKK!Pintu ruang gawat darurat ditendang dari luar dengan kekuatan dahsyat hingga terbuka lebar menghantam tembok. Suara dentuman keras itu menggetarkan seisi ruangan, memecah kesunyian malam dengan brutal.Tresna refleks merapatkan tubuhnya ke sudut terdalam guna menghindari deteksi indra musuh. Napasnya ditahan sejenak saat dua sosok pria berbadan kekar dan tegap melangkah masuk dengan gerakan taktis.Sepasang bayangan hitam itu bergerak sangat rapi, seolah-olah baru saja keluar dari lubang neraka. Kehadiran mereka membawa hawa dingin yang menusuk tulang, siap menebar maut di dalam kegelapan puskesmas.Dua lampu senter yang terpasang di ujung laras panjang menyala seketika, membelah kegelapan ruang IGD dengan benderang. Cahaya putih yang menyilaukan itu bergerak liar, menyapu setiap sudut dinding hingga lemari kaca peralatan medis.Tresna menahan napas sedalam mungkin di balik lemari penyimpanan obat
DOR! DOR!Suara itu menggelegar hebat hingga menggetarkan kaca-kaca jendela di ruang medis. Jantung Silvi seolah berhenti berdetak sesaat mendengar ledakan yang memekakkan telinga tersebut."Pak Darmawan!" teriak Silvi dengan suara parau sembari membekap mulutnya sendiri.Kondisi puskesmas kembali senyap setelah letusan tersebut, menciptakan atmosfer yang jauh lebih menekan mental. Tidak ada suara teriakan petugas maupun perintah tangkap yang terdengar dari luar.Kesunyian itu terasa mengerikan karena tidak ada langkah kaki perwira polisi yang kembali untuk memberi kabar. Linda menatap Tresna dengan penuh keputusasaan, mencari jawaban yang bisa menenangkan hatinya."Mas... kenapa sepi banget? Apa Pak Darmawan..." Linda tidak berani melanjutkan kalimatnya yang menggantung.Kedua tangan Tresna mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan bunyi krak yang kecil. Ia menyadari bahwa musuh dari kota mulai mengirimkan pembunuh bayaran tingkat tinggi untuk menghabisinya.Org
Keheningan di dalam ruang gawat darurat puskesmas mendadak pecah, berganti menjadi medan pertempuran yang sarat akan hawa membunuh. Atmosfer di sana terasa begitu pekat dan mencekam dalam sekejap mata.Pria berwajah asing itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan medis dalam gesturnya. Gerak-geriknya terasa terlalu kaku sekaligus taktis, dengan sorot mata yang sedingin es kutub.Langkah cepat diambil oleh dokter gadungan itu untuk mendekati ranjang tempat Tresna berbaring. Tatapannya mencurigakan, seolah sedang mengunci target buruan yang harus segera dilenyapkan."Berhenti di situ! Apa yang mau Anda lakukan?" tegur AKP Darmawan dengan suara bariton yang berat.Insting tempur sang perwira senior langsung menyala, memberikan sinyal bahaya yang merah membara. Ia berdiri dengan kewaspadaan penuh menghadapi sosok misterius di depannya.Dokter palsu tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata pun sebagai jawaban. Sebuah gerakan halus namun mengandung kecepatan mematikan dilakukan oleh tanga
Petugas polisi yang duduk di sebelah Tresna segera turun dan membukakan pintu dengan sigap. Ia memberikan jalan untuk Tresna beserta dua wanita pendampingnya dengan sikap yang sangat hormat.Sikap petugas itu kini jauh lebih tunduk daripada saat mereka pertama kali bertemu di halaman joglo. Mereka sadar bahwa pria yang turun dari mobil ini bukanlah mantri biasa, melainkan harimau yang baru saja bangun dari tidurnya."Silakan, Mas Tresna. Mari kami antar masuk," ucap petugas polisi itu dengan suara yang merendah dan penuh hormat.Mereka berempat segera berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam ruang gawat darurat puskesmas yang nampak sepi. Hanya ada satu orang perawat wanita yang terlihat mengantuk di meja resepsionis malam itu.Perawat itu terlonjak kaget melihat rombongan polisi berseragam lengkap membawa seorang pria bersimbah darah. Namun, ia heran melihat pria itu tetap berjalan tegak seolah tidak terjadi apa-apa."Cepat! Periksa dia! Dia baru saja terkena luka tembak!" perintah AKP D
Mobil patroli itu masih melaju gila-gilaan di atas aspal jalanan kabupaten yang sepi. Sirinenya meraung seolah sedang menggugat takdir yang hampir merenggut nyawa sang mantri desa.Di dalam kabin yang sempit dan berbau anyir darah, suasana mendadak berubah dari mencekam menjadi penuh keajaiban. Cahaya merah terang dari batu wulung di leher Tresna itu menyebar perlahan dan menyelimuti area bahu kanannya yang terluka parah."Mas... Mas Tresna! Batunya... batunya nyala!" teriak Silvi dengan suara yang bergetar hebat karena takjub.Ia nyaris melepaskan dekapannya karena rasa kaget yang luar biasa melihat fenomena gaib tersebut. Air matanya masih membasahi pipi, namun kini matanya membelalak lebar menatap pendaran cahaya merah yang terasa hangat.Cahaya itu berdenyut laksana jantung yang sedang berdegup kencang di bawah kulit Tresna. Silvi menahan napas sedalam-dalamnya saat melihat aliran darah yang tadinya merembes deras berhenti seketika secara tidak masuk akal.Darah merah pekat yang m
"Darmawan! Kamu nggak bisa ngelakuin ini padaku! Aku punya hak!" teriak Juragan mencoba melawan saat petugas menyeretnya dengan kasar.Wajahnya memerah padam karena merasa martabatnya diinjak-injak di depan umum. Namun, AKP Darmawan justru mendekatkan wajahnya dengan tatapan yang sangat mengancam."Tutup mulutmu, Juragan! Kamu baru saja nembak putra dari orang yang paling aku hormati di negeri ini!" balas AKP Darmawan dengan nada suara rendah namun mematikan."Aku pastiin kamu nggak bakal pernah liat matahari desa ini lagi dari balik jeruji besi!" lanjutnya lagi. Tatapan matanya seolah ingin menembus jantung sang Juragan yang kini mulai gemetar ketakutan.Polisi lain ikut menyeret keempat preman bayaran itu menuju kendaraan operasional dengan pengawalan sangat ketat. Mereka didorong masuk ke dalam jeruji besi mobil patroli laksana hewan ternak yang tertangkap basah.Suasana riuh rendah proses penangkapan itu seolah sudah tidak terdengar lagi oleh Tresna. Di tengah kekacauan itu, Tresn
Pintu gudang terbuka dengan suara derit engsel yang nyaring dan memecah kesunyian. Cahaya dari koridor luar masuk menyinari bagian depan gudang yang semula remang-remang.Didin masuk ke dalam ruangan sambil mengomel pan
Tresna bisa merasakan betapa jari-jarinya telah berhasil membuka sedikit demi sedikit pertahanan Rini. Dinding vagina bidan muda itu kini terasa lebih hangat, berdenyut-denyut di sela-sela jarinya, dan mulai mengeluarkan pelumas alami yang licin dan berbau khas. Rini masih bersandar pada kedua tang
Tresna tetap mempertahankan posisinya yang sedang menghujam dari belakang saat suara langkah kaki berat mendadak terdengar berhenti tepat di depan pintu. Gagang pintu besi itu diputar dengan kasar berkali-kali hingga menimbulkan suara gaduh yang sangat mengagetkan
Gudang farmasi yang sempit itu seolah kehilangan pasokan udara. Suara detak jam di dinding lorong Puskesmas terdengar samar, kalah telak oleh suara degup jantung Tresna yang berdentum hebat di dalam rongga dadanya. Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Rini barusan laksana sumbu pendek yang mem







