FAZER LOGIN"Madun! Rini! Kalian di mana? Ini gorong-gorong kok malah ditinggal? Sampahnya masih banyak!" teriak Pak Bos dari kejauhan, suaranya makin mendekat ke arah saluran irigasi.Madun yang masih berada di bawah gorong-gorong langsung kelabakan. Linggisnya yang tadi sedang bekerja keras di dalam rahim Rini terpaksa ditarik paksa. Plop! Bunyi pelepasan itu terdengar nyaring di telinga Siska yang sedang menunggu giliran. Rini langsung terduduk lemas di lumpur, napasnya masih putus-putus, matanya mendelik putih saking nikmatnya dihajar Madun."Aduh, Mas Madun... jangan ditarik dulu, aku baru mau terbang ini!" bisik Rini sambil memegangi paha putihnya yang masih bergetar hebat. Visual Rini yang basah kuyup terkena air sawah, dengan kaos merah ketat yang memperlihatkan putingnya yang menonjol karena kedinginan dan gairah, benar-benar bikin Madun susah berpaling."Sstt! Pak Bos sudah dekat! Rini, pakai celanamu! Siska, cepat naik!" perintah Madun panik sambil menarik resleting celananya yang nyan
"Mas Madun, kok diam saja? Takut ya kalau linggisnya patah kena beton gorong-gorong?" goda Rini sambil tertawa manja. Matanya yang bulat tampak nakal, melirik ke arah gundukan yang makin mengeras di balik celana kuli Madun.Madun menelan ludah. Visual Rini yang sedang berlutut di lumpur dangkal itu benar-benar maut. Kaos merah ketat yang ia pakai sudah sedikit basah terkena cipratan air irigasi, membuatnya menempel ketat dan memperlihatkan lekukan bra hitam yang menyangga dada montoknya. Kulit lehernya yang putih kontras dengan lumpur kecokelatan di sekitarnya."Bukannya takut, Rin. Tapi kalau Pak Bos balik dari gubuk dan lihat kita lagi 'adu mekanik' begini, bisa-bisa saya dijadikan pupuk urea!" jawab Madun serak. Meski mulutnya protes, tangan kekar Madun sudah mulai merayap ke paha Rini yang mulus dan kenyal."Halah, Pak Bos kalau sudah ngobrol sama pemilik sawah sebelah pasti lama! Sudah, jangan banyak alasan. Masukin sekarang!" Rini langsung membalikkan badannya, menungging mengha
"Madun! Rini! Ke mana lagi kalian? Ini pembeli sudah bawa mobil pikap, karungnya belum siap!" Suara Pak Bos menggema lagi di lorong gudang."Cepat keluar! Saya lewat pintu belakang, kalian lewat depan!" bisik Siska sambil memakai kembali jas putih bidannya. Visual Siska saat merapikan kancing seragamnya yang sesak benar-benar pemandangan maut; dadanya yang montok seolah ingin meledak keluar dari balik kain putih itu."Siap, Bu Bidan. Sampai ketemu di 'praktik' berikutnya!" Madun nyengir sambil membetulkan letak pusakanya di balik celana kuli yang sekarang terasa sangat sempit.Madun dan Rini lari ke depan, pura-pura sibuk mengangkat karung beras. Pak Bos datang sambil mengelap keringat di lehernya yang gempal. "Lama benar kalian! Tadi saya lihat tikus raksasa di belakang, apa sudah kalian tangkap?""Sudah, Pak Bos! Tikusnya gede banget, ekornya panjang dan keras, tapi sudah saya 'jinakkan' tadi," jawab Madun sambil melirik Rini yang sedang menahan tawa di balik buku rekapnya. Rini yan
"Madun! Ke mana saja kamu?! Beras dua ton belum dipindah, kamu malah asyik menghilang!" teriak Pak Bos dari depan gudang.Madun yang baru sampai di pasar dengan motor bututnya langsung meloncat turun. Wajahnya masih sisa-sisa segar sehabis "perawatan" di klinik Bidan Siska semalam. "Maaf Pak Bos, tadi ban motor bocor, harus ditambal dulu!""Banyak alasan! Cepat bantu Rini di dalam! Dia sedang rekap data tapi karung-karungnya menghalangi jalan!" Pak Bos mengomel sambil berlalu pergi dengan sarung yang disampirkan di bahu.Madun melangkah masuk ke dalam gudang yang agak gelap. Di sana, ia melihat Rini sedang berdiri di atas tangga lipat, mencoba mengambil map di rak tinggi. Visual Rini dari bawah benar-benar merusak konsentrasi. Ia memakai daster pendek motif bunga yang ketat, memperlihatkan paha putih mulusnya yang jenjang. Setiap kali ia menjinjit, kain dasternya terangkat, menunjukkan lekukan pinggulnya yang bulat sempurna."Aduh, Mas Madun... sini bantuin! Susah banget ini mapnya ny
"Aduh, Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini paha aku sudah gemetar semua!" keluh Rini sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Rini saat ini sedang dalam posisi yang sangat menantang. Kaos putihnya sudah tersingkap hingga ke leher, memamerkan sepasang asetnya yang putih bersih dan kencang. Kulit perutnya yang rata tampak berkeringat, berkilau di bawah lampu operasi klinik yang terang benderang. Madun, dengan punggungnya yang lebar dan berotot cokelat gelap, tampak seperti raksasa yang sedang menguasai dua wanita cantik sekaligus. "Sabar, Rin! Ini Bidan Siska juga belum mau lepas!" jawab Madun serak. Bidan Siska memang tidak mau kalah. Ia sedang berlutut di depan Madun, seragam bidannya sudah melorot hingga ke pinggang, memperlihatkan punggungnya yang mulus tanpa noda. Rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian wajahnya yang merah padam karena gairah. Ia sedang fokus memberikan "terapi" pada bagian kepala linggis Madun yang masif. "Enak saja lepas! Ini urusan medis, M
Duel Maut Bidan vs Administrasi: Perebutan Linggis Pasar Malam"Mas Madun! Turunin aku di depan gang aja, jangan sampai depan rumah, nanti Bapak liat!" bisik Rini sambil meremas pinggang Madun yang keras berotot.Madun ngerem mendadak. Motor bututnya batuk-batuk. Rini turun, benerin crop top putihnya yang masih lembap kena keringat pergulatan tadi. Di bawah lampu jalan yang remang, kulit perut Rini yang putih mulus kelihatan berkilau, bikin Madun susah kedip. Celana jins pendeknya makin memperjelas lekukan pinggulnya yang sintal."Makasih ya Mas buat 'hadiah' di balik tendanya. Jangan lupa, besok linggisnya harus lebih keras lagi!" Rini ngedipin mata nakal, terus lari masuk gang sambil goyangin pinggulnya yang bulat.Madun baru mau narik gas, tiba-tiba motor matic merah menghadang jalannya. Bidan Siska berdiri di sana, masih pakai seragam putih ketat yang saking ketatnya sampai kancing bagian dadanya kelihatan tertekan hebat. Mukanya merah padam, napasnya memburu."Madun! Jadi in







