Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 11: IGD Heboh: Pasien Linggis Beton

Share

Bab 11: IGD Heboh: Pasien Linggis Beton

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-04-20 07:23:26

Setelah ngerjain Lastri Madun Pergi ke warung daging kambing di warung Mak Edoh.

​"Aduh, Pak Bos... dunia rasanya muter kayak gasing!" rintih Madun sambil memegangi tengkuknya yang terasa kaku seperti kayu papan.

​"Itulah lu, Dun! Gue bilang juga apa, jangan diabisin itu sate kambing tiga porsi plus gulai jeroan di warung Mak Edot! Kolesterol lu naik itu!" Pak Bos panik melihat Madun yang badannya kekar tapi mukanya pucat pasi.

​"Abis enak banget, Pak Bos... gajihnya gurih. Tapi sekarang kep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 155: Ikatan Persaudaraan di Atas Aspal Sukawati

    ​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja urusan keranda terbang mistis berwarna merah muda menyala yang sangat tidak masuk akal dan bikin pusing kelurahan itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menyelesaikan urusan kepemimpinan geng moge internasional ini secara kekeluargaan tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil menurunkan kedua tangan kasarnya, mencoba meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah ketegangan gaib buatan ruko remang-remang itu mendadak ambyar ditiup angin laut Bali fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya di hadapan belasan petarung bayaran yang masih berlutut pasrah. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 154 : Tunduknya Para Penguasa Jalanan

    ​"Wah, kejutan macam apa lagi ini fajar-fajar... lupakan saja niat baku hantam menantang maut, ternyata belasan pengendara motor besar hitam misterius yang mengepung ruko pasar Sukawati ini mendadak turun dari moge mereka lalu serentak bersujud ambyar di atas aspal untuk memohon agar saya sudi menjadi pemimpin tertinggi komplotan petarung bayaran internasional mereka, cyiiinnn!" pekik Madun terperanjat kaget melihat pemandangan komedi interaktif di depan matanya fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung melipat kedua lengan sawo matangnya yang tinggi tegap sekuat beton proyek desa, mencoba meredakan ketegangan otot perut kotak-kotak penuh urat jantannya yang sudah terlanjur dipasang pada posisi setelan pabrik kuli panggul tiga ton siang hari ini.​Melihat belasan pria kekar bertubuh raksasa itu berlutut tak berdaya demi memohon belas kasih kejantanan Madun, Catherine yang berdiri di sampingnya justru sengaja maju selangkah secara inter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 153: Wibawa Sang Jagoan Baru Sukawati

    ​"Wah, gila! Ternyata sosok pemuda tampan berkulit sawo matang yang dari tadi duduk kalem mengunyah tetelan bebek itu adalah Juragan Madun, kuli panggul legendaris tiga ton yang tempo hari sendirian membantai habis puluhan preman akamsi ruko kelurahan sampai lemas ambyar bertekuk lutut memohon ampun, pantesan aura jantannya langsung disegani sebagai jagoan baru pasar tradisional Sukawati fajar ini, cyiiinnn!" bisik warga desa yang berkumpul di luar warung sambil membungkuk hormat penuh rasa segan melihat Madun melangkah keluar menembus kerumunan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton proyek desa, memancarkan wibawa jantan sejati setelan pabrik yang siap menjadi pelindung mutlak ketertiban wilayah ruko kelontong dari segala bentuk pemerasan haram siang hari ini.​Madun mengangguk tegas menyapa para pedagang pasar secara interaktif, mengepalkan kedua tangan kasarnya yang penuh urat kekuatan u

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 152: Pelukan Hangat yang Menentramkan Jiwa

    ​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja seluruh bayangan awan hitam berbentuk wajah raksasa separuh dewa purba kelurahan yang sangat mengada-ada dan merusak pemandangan fajar ini, sekarang suasana di depan warung bebek betutu ini bener-bener sudah bersih total dari kepungan preman akamsi murahan tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil menyeka sisa peluh jantan di pelipisnya, mencoba meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalan tangan kasarnya sukses menyapu bersih puluhan pengganggu asmara mereka pagi hari ini. ​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap sekuat beton proyek desa kelurahan. Kaos singlet hitam ketatnya yang membungkus dada bidang berotot kotak-kotak penuh urat jantan nampak bergoyang halus mengikuti hembusan angin laut Bali, memancarkan peson

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 151: Badai Hantaman di Depan Warung

    ​"Aduh, lupakan saja urusan mobil mewah anti-peluru lambang naga emas yang terlalu dibuat-buat dan fiktif mirip sinetron kelurahan itu, sekarang masalah yang bener-bener nyata di depan mata jantan saya adalah kepungan puluhan teman preman akamsi anak kampung sini yang mendadak muncul bawa balok kayu ruko, cyiiinnn!" pekik Madun langsung memasang kuda-kuda jantan kuli pasar tiga ton di depan warung bebek betutu pagi ini. Bukannya ciut nyali, Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung justru sengaja meregangkan seluruh urat leher jantannya yang kekar berotot sekuat beton proyek desa demi menghadapi gempuran massal yang menantang maut fajar hari ini.​Catherine yang melihat kepungan puluhan preman akamsi berwajah beringas itu bukannya lari bersembunyi, malah sengaja maju selangkah secara interaktif di samping Madun sambil berkacak pinggang menantang maut, membiarkan tanktop rajut mini merah mudanya yang super ketat melorot beringas terekspos angin laut Bali.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 150: Menghajar Preman Murahan

    ​"Heh, berani-beraninya lu bertiga mengganggu kenyamanan makan bebek betutu gua, apalagi mata kotor lu sengaja melotot napsu melihat gundukan harta karun kesayangan milik Madun, dasar preman ruko murahan tahu gak!" pekik Catherine melengking manja dengan mata biru yang melotot seksi penuh kobaran amarah beringas. Bukannya takut terhadap balok kayu dan rantai besi berkarat di depan mukanya, bule seksi itu justru semakin sengaja membusungkan sepasang buah dadanya yang luar biasa besar, padat, kencang, dan sangat montok menantang maut tepat di hadapan wajah sang pimpinan preman yang langsung menelan ludah beringas kelaparan siang ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung berdiri tegap dari bangku kayu warung setelah menghabiskan energi nasi empat piring penuh urat jantan sejati. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar sekuat beton proyek kelurahan nampak memancarkan pesona juragan kelontong pasar tiga ton yang siap meledakkan amukan maut demi m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status