Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

Share

Pusaka Warisan Semut Rangrang
Pusaka Warisan Semut Rangrang
Author: Ibrahiman

Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-03-17 20:17:27

​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa orang ikut tertawa sinis, menatap rendah sosok pria dengan baju penuh peluh tersebut.

​Madun hanya bisa terdiam, meskipun hatinya terasa panas.

Untuk meredakan rasa lelah dan emosinya, ia segera menegak sisa jamu kuat oplosan dari botol plastik kecil yang dibawanya. Cairan keruh itu terasa membakar, memberikan sensasi panas yang menjalar cepat di sepanjang tenggorokannya.

​Karena kelelahan yang luar biasa, Madun akhirnya terkapar di bawah pohon beringin tua yang rimbun di pojok pasar. Tanpa ia sadari, sisa jamu yang tadi ia minum menetes perlahan ke arah celananya yang sudah lusuh. Tak lama kemudian, kesunyian siang itu pecah saat Madun terbangun sambil menjerit histeris. "Arghhh! Panas!! Aduh, semut sialan!" Ternyata, segerombolan semut rangrang merah yang ganas sedang berpesta pora, menggigit pangkal pahanya yang terbuka dan lembap karena tetesan jamu tadi. Tanpa pikir panjang Madun langsung menceburkan diri ke dalam empang.

​Dua minggu berlalu setelah kejadian aneh itu, sebuah anomali medis yang sangat tidak masuk akal terjadi pada tubuh Madun. Barangnya kini mengeras, berwarna hitam legam, dan memanjang secara drastis hingga mencapai ukuran 30 senti dengan urat-urat menonjol yang tampak sangat kuat bagaikan akar pohon jati yang sudah tua.

​"Dun! Kamu itu bawa linggis atau apa di dalam saku celana?" tegur Pak Bos saat mereka bertemu di pasar pagi itu.

​"Bukan linggis, Pak. Ini... anu," jawab Madun

​Tiba-tiba, Lastri yang merupakan janda kembang primadona pasar, berjalan lewat dengan mengenakan kebaya ketat yang menonjolkan bentuk dadanya yang montok. Langkahnya mendadak terhenti tepat di depan Madun. "Ya Tuhan, Madun! Itu benda apa yang gerak-gerak di dalam celanamu? Gede banget, Dun!" pekik Lastri dengan mata yang melotot dan penasaran ke arah selangkangan Madun yang menegang.

​Melihat situasi yang mulai gaduh, Pak Bos segera menarik Madun ke dalam gudang beras yang sepi. "Jujur sama saya, Dun. Itu barangmu ya? Kok bisa berubah jadi ukuran raksasa begitu? Kamu pakai ilmu hitam apa?"

​"Gara-gara digigit segerombolan semut rangrang dua minggu lalu, Pak Bos," aku Madun dengan jujur.

​"Waduh, itu bahaya sekali, Dun! Bisa jadi infeksi atau tumor itu! Sana cepat periksa ke Bidan Siska di klinik depan!" perintah Pak Bos dengan wajah yang terlihat cemas sekaligus takjub.

​Madun akhirnya berjalan dengan langkah mengangkang yang canggung menuju klinik. Siska adalah bidan paling cantik dan sombong di daerah itu.

"Kenapa Madun mau minta obat puyeng lagi?" tanya Siska ketus.

"Anu Bu, burung saya bengkak digigit rangrang." Jawab Madun malu-malu.

​"Masuk! Langsung buka celanamu di atas bed, saya sedang banyak urusan penting!" bentak Siska dengan nada ketus, bahkan tanpa sudi menolehkan wajahnya untuk melihat siapa pasien yang datang.

​Begitu celana Madun melorot ke lantai, suasana di dalam ruangan medis itu mendadak sunyi senyap. Siska yang tadinya sibuk merapikan alat medis langsung mematung di tempatnya berdiri. Botol alkohol yang sedang ia pegang tumpah begitu saja membasahi lantai. Matanya mendelik lebar, terpaku menatap pusaka hitam legam sepanjang 30 senti yang mencuat kaku dan perkasa di hadapannya.

​"Ini... ini beneran punya kamu sendiri, Madun?" suara Siska mendadak berubah menjadi serak dan berat. Seketika, dinding kesombongan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja. Ia melangkah mendekat dengan perlahan, jemarinya yang gemetar mulai menyentuh permukaan batang masif yang terasa sangat panas tersebut. "Ini bukan sekadar infeksi biasa, Madun. Ini benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa."

​"Maksudnya gimana, Bu Bidan? Apa saya bakal mati?" tanya Madun polos.

​"Diam! Jangan banyak tanya!

​Siska tampaknya sudah tidak mampu lagi menahan gejolak gairah yang meledak di dalam dirinya. Ia dengan terburu-buru memelorotkan celana dalamnya sendiri, bersiap untuk segera menaiki tubuh Madun yang masih tampak bingung. Namun, tepat saat ujung senjata maut Madun hendak menusuk liangnya yang sudah basah, pintu klinik digedor dengan sangat keras dari arah luar.

​BRAKK! BRAKK!

​"Bu Bidan Siska! Anda segera dipanggil oleh Dokter Herman untuk rapat audit mendadak sekarang juga!" teriak Perawat Ratna dengan suara melengking dari balik pintu.

​"Sialan! Bilang ke Dokter Herman kalau saya sedang melakukan operasi besar yang tidak bisa ditinggalkan!" bentak Siska dengan nada penuh kekesalan yang amat sangat. Tubuhnya yang sudah mulai berkeringat dingin karena gairah terpaksa harus menjauh dari sumber kenikmatan di depan matanya.

​"Nggak bisa ditunda, Bu! Dokter bilang tunjangan jabatan Anda bakal langsung dipotong kalau tidak segera datang ke ruang rapat!"

​Siska menggeram rendah menahan amarah yang membuncah. Dengan sangat terpaksa, ia memakai kembali celana dalamnya dengan gerakan cepat. "Madun, tutup dulu barangmu pakai sarung ini! Jangan sampai ada orang lain yang melihatnya, kamu mengerti?"

​Sekitar sepuluh menit kemudian setelah urusan singkat itu selesai, Siska kembali ke ruangan dan langsung mengunci pintu rapat-rapat. Wajahnya tampak merah padam, dan napasnya masih memburu seolah habis berlari maraton. Ia duduk di kursi kerjanya sambil mengipasi leher putihnya yang mulus menggunakan tangan.

​"Gimana, Bu Bidan? Apa kondisi saya masih dianggap bahaya?" tanya Madun dengan ekspresi wajah yang sangat polos.

​"Sangat parah, Dun. Racun semut rangrang ini ternyata memiliki siklus ledakan di dalam syaraf. Barangmu bisa pecah kalau tidak segera disalurkan melalui terapi khusus yang tadi hampir saja kita lakukan," Siska mulai mengarang alasan medis yang terdengar ilmiah agar ia bisa segera mencicipi kehebatan Madun. "Tapi sekarang kondisi Puskesmas sedang terlalu ramai. Nanti malam, tepat jam delapan malam, kamu harus datang lewat pintu samping dekat pohon mangga. Langsung masuk ke ruangan pribadi saya."

​"Harus jam delapan malam ya, Bu?"

​"Iya, jangan terlambat. Siska memperhatikan gerakan bokong Madun yang keras dari belakang dengan tatapan penuh nafsu. "Gila... 30 senti murni. Bagaimana rasanya kalau benda itu masuk semua ke dalam ya?" gumamnya pelan sambil menjilat bibirnya yang mendadak kering.

​Ia mulai membayangkan malam nanti, di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, ia akan menaklukkan sosok kuli panggul yang tadi pagi sempat ia hina di dalam hatinya. "Akan kupastikan seluruh racunmu keluar sampai tetes yang paling terakhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 298: Malam Penuh Rencana di Ruko

    ​Malam hari menyelimuti desa dengan keheningan yang menenangkan. Lampu-lampu warung dan ruko kelontong Madun menyala terang, memancarkan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.​Sarah berdiri di ruang tengah ruko sambil merapikan laporan keuangan harian, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat dari kunjungan sore tadi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan anggun.​Madun berdiri tegar di dekat pintu utama, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak begitu tenang menikmati suasana malam yang damai.​Bono datang menghampiri ruko dengan langkah ringan, membawa sekotak martabak manis pesanan khusus untuk merayakan suksesnya misi pendekatan pertama hari itu. Wajah Bono tampak berbinar-binar gembira.​"Wah, selamat malam para p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 297: Manisnya Obrolan di Warung Kopi

    ​Suasana warung kopi Mak Jiah mendadak terasa lebih semarak dengan kehadiran kelompok kecil Madun dan kawan-kawan. Rini, gadis berkerudung rapi yang semula tampak sibuk dengan gelas-gelas pesanan, kini meletakkan nampannya di atas meja lalu membalas sapaan Bono dengan senyuman ramah yang menenangkan.​"Silakan duduk, Mas Bono... Mbak Sarah, Mas Madun, dan Siska juga," ucap Rini sopan sambil mempersilakan mereka menempati bangku kayu panjang di dekat etalase warung.​Bono menarik kursi dengan gerakan sedikit kaku, masih diliputi rasa salah tingkah di hadapan gadis yang menjadi target utama agen biro jodoh dadakan tersebut. Madun duduk di sebelah Sarah, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa tenang untuk mencairkan suasana.​Siska langsung menyenggol lengan Bono pelan sambil berbisik dengan nada menggoda. "Woy, jangan kaku amat kayak patung pancoran! Pasang senyum andalan dong, tunjukin kalau mantan raja jud

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 296: Misi Baru: Mencari Pelabuhan Hati Bono

    ​Sesi latihan fisik pagi itu ditutup dengan napas terengah-engah dan tawa lepas di pelataran ruko. Setelah berhasil melewati ujian push-up dan lari keliling desa, Bono duduk bersila di teras sambil meneguk air mineral dingin, merasa jauh lebih bugar dari hari-hari sebelumnya.​Sarah berdiri di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa angin pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari yang semakin hangat.​Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Ia menatap sahabatnya yang kini tampak jauh lebih bersemangat menata hidup.​"Badan sudah mulai terbentuk, mental juga sudah mulai pulih dari bayang-bayang masa lalu," ucap Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa. "Tapi hidup kamu belum lengkap kalau cum

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 295: Bono Pengen Kuat

    Matahari semakin tinggi, menyinari pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah bersih kembali setelah keributan kecil tadi pagi. Sisa-sisa kue lupis manis di bakul telah habis dinikmati, menyisakan gelak tawa yang masih membekas di antara mereka berdua. ​Bono berdiri di hadapan Madun dengan postur tegak, meski sesekali masih tampak canggung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang menyiratkan kesungguhan luar biasa. ​"Madun..." ucap Bono serius. "Kejadian tadi pagi, juga teror-teror kemarin... bikin aku sadar satu hal. Selama ini aku cuma jadi beban, gampang takut, gampang goyah, sampai akhirnya gampang disetir orang lain buat ngelakuin hal bodoh." ​Sarah yang sedang merapikan meja kasir menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Bono dengan senyuman tipis penuh penghargaan atas perubahan mental sahabat suaminya itu. ​Bono melanjutkan kata-katanya dengan penuh harap, "Aku mau berubah, Dun. Aku mau minta tolong... ajari aku cara biar b

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 294: Kembalinya 2 Sahabat

    Suasana pagi yang tadinya dipenuhi gelak tawa dan gurauan hangat mendadak terusik ketika suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar nyaring di depan pelataran ruko.​Dua unit mobil minibus hitam berhenti secara arogan tepat di depan halaman. Pintu mobil terbuka lebar, menurunkan enam orang preman bertubuh kekar penuh tato dengan wajah sangar, menenteng balok kayu dan pipa besi. Mereka adalah sisa-sisa anak buah sindikat judol yang belum tahu bahwa bos besar mereka sudah diringkus polisi.​"Hei, Bono! Sialan kamu! Beraninya sembunyi dan mangkir dari setoran! Mau lari ke mana lagi kamu, hah?!" bentak pimpinan preman itu dengan suara menggelegar penuh ancaman.​Sarah terkesiap kaget, refleks merapatkan tubuh sintalnya ke belakang punggung Madun. Siska mendengus kesal sambil berkacak pinggang, daster oranye ketatnya memperlihatkan belahan dada saat ia berdecak. "Ih, rombongan sirkus kurang piknik datang lagi! Pagi-pagi udah bikin polusi suara!" ledek Siska pedas.​Bono menel

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 293: Manisnya Lopis Penutup Luka

    ​Matahari pagi kembali menyapa dengan kehangatan yang menyejukkan, menerangi pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah kembali sibuk dengan aktivitas harian warga desa.​Sarah berdiri di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena suasana hati yang begitu lapang dan bahagia. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.​Madun berdiri tegar di teras depan, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa jantan yang kini dihiasi senyuman ramah.​Tidak lama kemudian, Bono datang melangkah menghampiri ruko dengan membawa sebuah bakul besar yang ditutup daun pisang segar, menebarkan aroma wangi gula merah cair dan ketan yang sangat khas.​Melihat kedatangan sahabatnya, Madun sengaja memasang wajah serius bercanda untuk mencairkan su

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status