LOGIN
"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja seluruh bayangan awan hitam berbentuk wajah raksasa separuh dewa purba kelurahan yang sangat mengada-ada dan merusak pemandangan fajar ini, sekarang suasana di depan warung bebek betutu ini bener-bener sudah bersih total dari kepungan preman akamsi murahan tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil menyeka sisa peluh jantan di pelipisnya, mencoba meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalan tangan kasarnya sukses menyapu bersih puluhan pengganggu asmara mereka pagi hari ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap sekuat beton proyek desa kelurahan. Kaos singlet hitam ketatnya yang membungkus dada bidang berotot kotak-kotak penuh urat jantan nampak bergoyang halus mengikuti hembusan angin laut Bali, memancarkan peson
"Aduh, lupakan saja urusan mobil mewah anti-peluru lambang naga emas yang terlalu dibuat-buat dan fiktif mirip sinetron kelurahan itu, sekarang masalah yang bener-bener nyata di depan mata jantan saya adalah kepungan puluhan teman preman akamsi anak kampung sini yang mendadak muncul bawa balok kayu ruko, cyiiinnn!" pekik Madun langsung memasang kuda-kuda jantan kuli pasar tiga ton di depan warung bebek betutu pagi ini. Bukannya ciut nyali, Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung justru sengaja meregangkan seluruh urat leher jantannya yang kekar berotot sekuat beton proyek desa demi menghadapi gempuran massal yang menantang maut fajar hari ini.Catherine yang melihat kepungan puluhan preman akamsi berwajah beringas itu bukannya lari bersembunyi, malah sengaja maju selangkah secara interaktif di samping Madun sambil berkacak pinggang menantang maut, membiarkan tanktop rajut mini merah mudanya yang super ketat melorot beringas terekspos angin laut Bali.
"Heh, berani-beraninya lu bertiga mengganggu kenyamanan makan bebek betutu gua, apalagi mata kotor lu sengaja melotot napsu melihat gundukan harta karun kesayangan milik Madun, dasar preman ruko murahan tahu gak!" pekik Catherine melengking manja dengan mata biru yang melotot seksi penuh kobaran amarah beringas. Bukannya takut terhadap balok kayu dan rantai besi berkarat di depan mukanya, bule seksi itu justru semakin sengaja membusungkan sepasang buah dadanya yang luar biasa besar, padat, kencang, dan sangat montok menantang maut tepat di hadapan wajah sang pimpinan preman yang langsung menelan ludah beringas kelaparan siang ini.Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung berdiri tegap dari bangku kayu warung setelah menghabiskan energi nasi empat piring penuh urat jantan sejati. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar sekuat beton proyek kelurahan nampak memancarkan pesona juragan kelontong pasar tiga ton yang siap meledakkan amukan maut demi m
"Aduh, hancur sudah seluruh wibawa kuli pasar saya akibat urusan perut... lupakan saja drama sihir ruko remang-remang kelurahan yang membosankan itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau mengamuk beringas menghabiskan seluruh isi bakul nasi di warung makan pinggir jalan ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil mengelap meja kayu dengan sapu tangan handuknya, mencoba meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kekarnya sukses menapak selamat di dataran rendah fajar ini.Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya di atas bangku panjang. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah meskipun keroncongan, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap mengunyah apa saja demi memulihkan tenaga jantan sejati. "Nah,
"Aduh, perut kuli pasar saya sudah menyanyikan lagu keroncongan kelurahan... setelah jebakan lubang hitam mekanis ruko remang-remang pagi tadi mendadak ambyar pecah jadi remahan biskuit akibat terhantam hawa dingin, sekarang kita malah kehabisan perbekalan makanan di puncak Gunung Agung yang ganas ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya untuk mengais semak-semak. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah meskipun sedang lemas menahan lapar, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap mengorbankan nyawa demi kelangsungan hidup sang bidadari barat. "Nah, untung saja Gusti Yang Maha Agung masih sayang sama ketulusan iman jantan Mas Madun, lihat nih kita mendadak Nemu ubi alam yang besar dan tebal di balik batu cadas ini, pas banget buat mengganjal modal ruko kelontong di dalam perut kita yang menantang maut siang ini!" Tanp
"Aduh, dinginnya kelewatan batas normal... untung saja lubang hitam mekanis ruko remang-remang yang baru meluncur tadi langsung beku ambyar jadi es batu serutan es campur kelurahan akibat hawa dingin ekstrem, sekarang kita bisa benar-benar fokus mendirikan tenda darurat di puncak Gunung Agung ini untuk tidur berpelukan demi menghangatkan diri tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas panjang hingga mengembun putih tebal di udara malam, mencoba menata debaran jantung kuli pasarnya yang kini murni dipenuhi rasa sayang yang tulus, bersih tanpa dikotori oleh napsu selangkangan liar fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung merapatkan posisi matras di dalam tenda kecil. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak nampak sangat gagah dibalut kaos singlet hitam ketat yang memancarkan panas tubuh setelan pabrik kuli panggul tiga







