로그인Suasana di depan pintu ruko mendadak beku. Nabila berdiri dengan sapu lidi di tangan, napasnya memburu, dan matanya yang biasanya manis kini memancarkan api kecemburuan yang sanggup membakar seisi desa. Di belakang Madun, Rara justru duduk bersandar di dinding kamar dengan gaya santai sambil memetik kutu, tertawa kecil melihat drama yang baru saja dimulai."Madun!" teriak Nabila, suaranya melengking tinggi, memecah ketenangan pagi. "Siapa perempuan itu?! Kenapa dia ada di kamar kita?! Dan kenapa... kenapa suaranya kedengeran sampe ke warung depan?!"Madun menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah Rara yang hanya mengangkat bahu, seolah berkata, 'Lu yang urus, Babi!'"Nab, dengerin dulu... ini nggak seperti yang kamu bayangin," jawab Madun dengan suara yang berusaha setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya."Nggak seperti yang dibayangin gimana?! Aku denger semuanya! Kuda Terbang! Babi! Crot! Kamu pikir aku budek?!" Nabila mengayunkan sapu lidinya ke udar
Matahari baru saja memanjat pucuk pohon kelapa di belakang ruko tempat Madun biasa mangkal. Pagi itu, suasananya tenang, hingga tiba-tiba suara knalpot motor racing yang memekakkan telinga merobek kesunyian. Sebuah motor sport merah berhenti mendadak tepat di depan pintu ruko.Rara turun dengan gaya khasnya. Jaket kulit hitam, celana ketat, dan wajah yang tampak sangat tidak sabaran. Ia langsung menendang pintu ruko tanpa permisi."Woi, Babi! Bangun lu, jagoan kampung!" teriak Rara menggelegar.Madun yang sedang asyik menyesap kopi hitam tersedak. Ia menatap Rara dengan pandangan kesal. "Apa-apaan sih, Rara? Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak orang kesurupan. Babi banget kelakuan lu."Rara melangkah masuk, duduk di kursi kayu di hadapan Madun, lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Gak usah sok suci, Bang. Gua kesini bukan mau denger ceramah sampah lu, Babi!""Terus mau apa? Mau minta digebuk lagi?" tanya Madun dingin.Rara memajukan wajahnya, menatap mata Madun lekat-lekat.
Malam itu, setelah insiden "rontok" di lereng bukit, Madun yang entah bagaimana berhasil mendapatkan kembali celana kain seadanya dari jemuran warga, memutuskan untuk singgah di warung kopi terpencil di pinggiran desa. Ia butuh kopi untuk mengembalikan kewarasannya yang sempat tergerus oleh petualangan karung beras.Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis asing berpenampilan tomboi, mengenakan jaket kulit lusuh dan celana jeans robek-robek. Gadis itu bernama Rara.Madun duduk di sampingnya. Rara langsung menoleh, menatap Madun dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan."Heh, lu orang yang katanya bikin heboh kampung sebelah gara-gara pakai karung beras, ya? Babi, bener-bener gak punya malu ya lu! Babi, dandan kayak gembel aja belagu!" cetus Rara ceplas-ceplos.Madun tertegun, alisnya bertaut. "Jaga mulut kamu. Saya Madun.""Gak nanya nama lu, Babi! Lu pikir gua peduli? Lu itu cuma sampah hutan, Babi! Denger ya, lu itu cemen, Babi, ngaku jagoan tapi ditangkep warga
Malam semakin larut, dan perjalanan menuju ruko masih tersisa beberapa kilometer lagi. Madun dan Nabila, yang kini masih berbalut karung beras Cap Lele yang mulai mengering namun meninggalkan aroma apek yang menusuk hidung, berjalan tertatih-tatih di bawah sinar bulan yang tertutup awan mendung.Kemenangan mutlak atas Ki Jaka Galing dan pasukan semut rangrang sakti tadi sore sempat membuat ego Madun melambung tinggi. Namun, realitas fisik mulai memberikan tagihan yang tidak bisa dihindari. Kelelahan luar biasa, rasa lapar yang menusuk, dan gesekan konstan antara karung plastik kasar dengan kulit tubuh mulai mencapai titik nadirnya."Om... jujur ya, aku udah nggak sanggup lagi," keluh Nabila. Suaranya serak, matanya sayu. Ia berhenti melangkah, napasnya tersengal. "Kaki aku udah mati rasa. Dan karung beras ini... duh, rasanya kayak kulit aku bener-bener mau rontok semua."Madun berhenti, berbalik menatap kekasihnya. Ia ingin memasang wajah tangguh seperti biasanya, namun otot-otot
Semburat senja berwarna jingga keemasan perlahan-lahan meredup di balik rimbunnya rumpun pohon bambu di tepi sungai. Udara sore yang dingin langsung menusuk tulang setelah basah kuyup akibat aksi terjun bebas dari jembatan bambu untuk menghindari amukan Pak Karto.Madun dan Nabila terbaring lemas di atas rumput basah. Karung beras Cap Lele yang melekat erat di tubuh mereka kini berubah fungsi menjadi semacam "selimut basah" yang kaku dan berat.Mengingat betapa konyolnya perjalanan hidup mereka dalam dua hari terakhir—mulai dari kabur dari teror Wewe Gombel, mengenakan pakaian kulit kayu yang bikin gatal setengah mati, disangka orang gila dan diteriaki Tarzan jadi-jadian, hingga berujung mengenakan karung beras dan melompat ke sungai—pertahanan kewarasan mereka akhirnya benar-benar jebol.Nabila yang awalnya berusaha menahan diri tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu meledakkan tawa yang begitu kencang hingga suaranya melengking tinggi."Hahahahaha! Aduh, perut aku
Siang bolong di bawah teriknya matahari lereng bukit semakin menyiksa dua buronan amatir yang bersembunyi di balik tumpukan jerami. Madun dan Nabila masih terengah-engah, berusaha mengatur napas setelah aksi pelarian konyol yang membuat mereka dicap sebagai orang gila oleh warga kampung sebelah.Kondisi mereka saat ini benar-benar jauh dari kata terhormat. Madun dengan cawat kulit kayu kayunya yang sudah compang-camping dan dipenuhi remah-remah jerami, sementara Nabila duduk meringkuk dengan gaun serat pohon yang compang-camping, menggaruk-garuk lengannya yang gatal akibat alergi getah kayu."Duh, Om... Perut aku keroncongan banget. Udah badan gatal-gatal, dikejar warga, sekarang rasanya mau pingsan kelaparan," keluh Nabila memelas, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Madun.Madun menoleh, menatap sekeliling dengan mata tajam seorang jagoan desa yang sedang memutar otak di tengah situasi darurat. "Tenang, Ratu. Selama Madun masih hidup, kamu nggak bakal kelaparan. Tunggu sebenta
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita







