/ Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 151: Badai Hantaman di Depan Warung

공유

Bab 151: Badai Hantaman di Depan Warung

작가: Ibrahiman
last update 게시일: 2026-06-14 20:25:17

​"Aduh, lupakan saja urusan mobil mewah anti-peluru lambang naga emas yang terlalu dibuat-buat dan fiktif mirip sinetron kelurahan itu, sekarang masalah yang bener-bener nyata di depan mata jantan saya adalah kepungan puluhan teman preman akamsi anak kampung sini yang mendadak muncul bawa balok kayu ruko, cyiiinnn!" pekik Madun langsung memasang kuda-kuda jantan kuli pasar tiga ton di depan warung bebek betutu pagi ini. Bukannya ciut nyali, Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas d
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 259: Pelarian Dramatis:

    ​Suasana di depan pintu ruko mendadak beku. Nabila berdiri dengan sapu lidi di tangan, napasnya memburu, dan matanya yang biasanya manis kini memancarkan api kecemburuan yang sanggup membakar seisi desa. Di belakang Madun, Rara justru duduk bersandar di dinding kamar dengan gaya santai sambil memetik kutu, tertawa kecil melihat drama yang baru saja dimulai.​"Madun!" teriak Nabila, suaranya melengking tinggi, memecah ketenangan pagi. "Siapa perempuan itu?! Kenapa dia ada di kamar kita?! Dan kenapa... kenapa suaranya kedengeran sampe ke warung depan?!"​Madun menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah Rara yang hanya mengangkat bahu, seolah berkata, 'Lu yang urus, Babi!'​"Nab, dengerin dulu... ini nggak seperti yang kamu bayangin," jawab Madun dengan suara yang berusaha setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.​"Nggak seperti yang dibayangin gimana?! Aku denger semuanya! Kuda Terbang! Babi! Crot! Kamu pikir aku budek?!" Nabila mengayunkan sapu lidinya ke udar

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 258: Gaya Kuda Terbang

    ​Matahari baru saja memanjat pucuk pohon kelapa di belakang ruko tempat Madun biasa mangkal. Pagi itu, suasananya tenang, hingga tiba-tiba suara knalpot motor racing yang memekakkan telinga merobek kesunyian. Sebuah motor sport merah berhenti mendadak tepat di depan pintu ruko.​Rara turun dengan gaya khasnya. Jaket kulit hitam, celana ketat, dan wajah yang tampak sangat tidak sabaran. Ia langsung menendang pintu ruko tanpa permisi.​"Woi, Babi! Bangun lu, jagoan kampung!" teriak Rara menggelegar.​Madun yang sedang asyik menyesap kopi hitam tersedak. Ia menatap Rara dengan pandangan kesal. "Apa-apaan sih, Rara? Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak orang kesurupan. Babi banget kelakuan lu."​Rara melangkah masuk, duduk di kursi kayu di hadapan Madun, lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Gak usah sok suci, Bang. Gua kesini bukan mau denger ceramah sampah lu, Babi!"​"Terus mau apa? Mau minta digebuk lagi?" tanya Madun dingin.​Rara memajukan wajahnya, menatap mata Madun lekat-lekat.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 257: Duel Mulut Berujung Klimaks

    ​Malam itu, setelah insiden "rontok" di lereng bukit, Madun yang entah bagaimana berhasil mendapatkan kembali celana kain seadanya dari jemuran warga, memutuskan untuk singgah di warung kopi terpencil di pinggiran desa. Ia butuh kopi untuk mengembalikan kewarasannya yang sempat tergerus oleh petualangan karung beras.​Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis asing berpenampilan tomboi, mengenakan jaket kulit lusuh dan celana jeans robek-robek. Gadis itu bernama Rara.​Madun duduk di sampingnya. Rara langsung menoleh, menatap Madun dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan.​"Heh, lu orang yang katanya bikin heboh kampung sebelah gara-gara pakai karung beras, ya? Babi, bener-bener gak punya malu ya lu! Babi, dandan kayak gembel aja belagu!" cetus Rara ceplas-ceplos.​Madun tertegun, alisnya bertaut. "Jaga mulut kamu. Saya Madun."​"Gak nanya nama lu, Babi! Lu pikir gua peduli? Lu itu cuma sampah hutan, Babi! Denger ya, lu itu cemen, Babi, ngaku jagoan tapi ditangkep warga

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 256: Rontoknya Sang Jagoan

    ​Malam semakin larut, dan perjalanan menuju ruko masih tersisa beberapa kilometer lagi. Madun dan Nabila, yang kini masih berbalut karung beras Cap Lele yang mulai mengering namun meninggalkan aroma apek yang menusuk hidung, berjalan tertatih-tatih di bawah sinar bulan yang tertutup awan mendung.​Kemenangan mutlak atas Ki Jaka Galing dan pasukan semut rangrang sakti tadi sore sempat membuat ego Madun melambung tinggi. Namun, realitas fisik mulai memberikan tagihan yang tidak bisa dihindari. Kelelahan luar biasa, rasa lapar yang menusuk, dan gesekan konstan antara karung plastik kasar dengan kulit tubuh mulai mencapai titik nadirnya.​"Om... jujur ya, aku udah nggak sanggup lagi," keluh Nabila. Suaranya serak, matanya sayu. Ia berhenti melangkah, napasnya tersengal. "Kaki aku udah mati rasa. Dan karung beras ini... duh, rasanya kayak kulit aku bener-bener mau rontok semua."​Madun berhenti, berbalik menatap kekasihnya. Ia ingin memasang wajah tangguh seperti biasanya, namun otot-otot

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 255: Ketika Sang Jagoan Mengamuk di Tepi Sungai

    ​Semburat senja berwarna jingga keemasan perlahan-lahan meredup di balik rimbunnya rumpun pohon bambu di tepi sungai. Udara sore yang dingin langsung menusuk tulang setelah basah kuyup akibat aksi terjun bebas dari jembatan bambu untuk menghindari amukan Pak Karto.​Madun dan Nabila terbaring lemas di atas rumput basah. Karung beras Cap Lele yang melekat erat di tubuh mereka kini berubah fungsi menjadi semacam "selimut basah" yang kaku dan berat.​Mengingat betapa konyolnya perjalanan hidup mereka dalam dua hari terakhir—mulai dari kabur dari teror Wewe Gombel, mengenakan pakaian kulit kayu yang bikin gatal setengah mati, disangka orang gila dan diteriaki Tarzan jadi-jadian, hingga berujung mengenakan karung beras dan melompat ke sungai—pertahanan kewarasan mereka akhirnya benar-benar jebol.​Nabila yang awalnya berusaha menahan diri tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu meledakkan tawa yang begitu kencang hingga suaranya melengking tinggi.​"Hahahahaha! Aduh, perut aku

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 254: Akhir Pelarian Sang Tarzan Palsu

    ​Siang bolong di bawah teriknya matahari lereng bukit semakin menyiksa dua buronan amatir yang bersembunyi di balik tumpukan jerami. Madun dan Nabila masih terengah-engah, berusaha mengatur napas setelah aksi pelarian konyol yang membuat mereka dicap sebagai orang gila oleh warga kampung sebelah.​Kondisi mereka saat ini benar-benar jauh dari kata terhormat. Madun dengan cawat kulit kayu kayunya yang sudah compang-camping dan dipenuhi remah-remah jerami, sementara Nabila duduk meringkuk dengan gaun serat pohon yang compang-camping, menggaruk-garuk lengannya yang gatal akibat alergi getah kayu.​"Duh, Om... Perut aku keroncongan banget. Udah badan gatal-gatal, dikejar warga, sekarang rasanya mau pingsan kelaparan," keluh Nabila memelas, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Madun.​Madun menoleh, menatap sekeliling dengan mata tajam seorang jagoan desa yang sedang memutar otak di tengah situasi darurat. "Tenang, Ratu. Selama Madun masih hidup, kamu nggak bakal kelaparan. Tunggu sebenta

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status