Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 28: Pesona Linggis Madun

Share

Bab 28: Pesona Linggis Madun

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-04 07:46:22
"Mas Madun, kok melamun? Masih kepikiran audit medis Bu Bidan Siska ya?" tanya Rini sambil menyenggol lengan Madun yang keras seperti beton.

Madun tersentak, hampir saja karung beras yang ia panggul merosot. "Eh, enggak kok, Rin. Mas cuma lagi mengatur napas saja. Udara sore ini rasanya gerah banget ya?"

Rini tertawa kecil, matanya melirik ke arah dada Madun yang bidang. Kaos Madun yang tipis sudah basah kuyup oleh keringat, membuatnya menempel ketat dan memperlihatkan lekukan otot perutnya ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 197: Perjalanan Menembus Jalur Bypas

    Madun menenangkan suasana sambil meluruskan posisi duduknya di atas jok kulit, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kendaraan roda empat yang mereka tumpangi mulai melaju kencang meninggalkan area bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memberikan rasa aman sepanjang jalur bypass. ​Madun langsung memajukan langkah jantannya dengan mengatur sandaran kursi agar lebih santai, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang duduk bersandar manja. "Nah, kalau laju mobilnya sudah stabil and AC di dalam kabin sudah sejuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 196: Langkah Baru Menuju Pelabuhan Padangbai

    Madun memecah keheningan pagi sambil menyampirkan tas ranselnya ke pundak, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah urusan tiket kapal feri menuju Lombok beres tanpa kendala subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memimpin perjalanan romantis mereka menuju Pelabuhan Padangbai.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk membuka pintu depan mobil sewaan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang melangkah anggun di sampingnya. "Nah, kalau koper-koper sudah tertata rapi di dalam bagasi belakang begini kan hati jantan Ma

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 185: Tiket ke Rinjani

    ​Madun menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memastikan jadwal keberangkatan kapal menuju Lombok tetap aman teratur. ​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengetik rincian data paspor, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak mengintip layar ponsel. "Nah, kalau proses pembayaran tiket kapalnya sudah berhasil and kode booking sudah muncul begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan tabungan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!" ​Tiba-tiba, Catherine yang merasa gembira karena impian ngidamnya segera terwujud langsu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 184: Ngidam Berat ke Puncak Rinjani

    Setelah Madun mendengar permintaan aneh dari calon ibu bayi kelurahan subuh ini, Madun menjadi kaget. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi mencerna keinginan sang kekasih bule yang ingin mendaki Gunung Rinjani saat berbadan dua.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil segelas air hangat, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada setelah memberikan gelas, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak merengek manja. "Nah, kalau air hangatnya sudah diminum and pikiran kamu sudah agak tenang begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan tabungan modal ruko kelontong kita nanti

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 183: Pukulan Jantan Membelah Gaib

    ​ ​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk mengayunkan satu jotosan mentah bertenaga pasak bumi tepat ke arah pusaran angin gaib di depan pintu lemari, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif setelah kepulan asap hitam hantu itu pecah berantakan terkena benturan fisiknya, Madun menatap tajam ke sekeliling sudut ruangan yang mulai kembali normal. "Nah, kalau makhluk halusnya sudah kocar-kacir terkena hantaman jotosan kelontong begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!" ​Tiba-tiba, akibat gelombang tekanan udara dari pukulan jantan Madun yang sangat dahsyat, Catherine yang berdiri

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 182: Teror Bayangan Merah di Langit Kamar

    ​Mendekap Catherine erat-erat, meresapi kembali getaran hawa mistis yang mendadak membuat suhu ruangan menjadi sedingin es kutub setelah lampu minyak di sudut meja rias tiba-tiba padam menyisakan kegelapan pekat subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang ruko kelurahan desa demi menghadapi kepulan aura gaib yang mengerikan.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk memosisikan diri di depan ranjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menjadi benteng pelindung bidadari barat dari serangan makhluk halus. Sambil memasang kuda-kuda kokoh secara interaktif di depan kasur, Madun menatap tajam ke arah sudut plafon yang mulai memancarkan suara tawa melengking kuntilanak merah. "Nah, kalau setannya sudah mulai berani menampakkan wuju

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 104: Misi Perjodohan Mulai Berhasil

    "Waduh, Neng Jenderal seksi! Lepasin jepitan paha mulus kamu dari pinggang jantan Mas Madun dong, cyiiinnn! Sumpah ya, gas perangsang semut rangrang purba ini bikin pasak bumi setelan pabrik ekeuuu mau meledak menembus langit ruko!" jerit Madun panik sambil kerahkan tenaga kuli menahan gempuran sen

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 103: Perubahan yang Perlahan Tapi Pasti

    "Waduh, Neng Jenderal seksi! Kenapa pingsan di dada sawo matang Mas Madun sih, mana belahan dada montok kamu empuk banget nempel di otot perut kotak-kotak ekeuuu!" jerit Madun tersedak ludah saat menahan tubuh sintal sang jenderal di bawah hujan anak panah beracun dari atap ruko.Madun, wajah tampa

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 101: Misi Lelaki Sejati Madun

    "Aduuuh, Juragan Madun! Lepaskan pelukan maut tiga bidadari pasar polos ini dong, cyiiinnn! Ekeuuu sama geng waria jembatan merah jadi ikutan gatel melihat gundukan gunung kembar mereka nempel penuh busa merica!" jerit mami Susi melompat masuk lewat jendela bawa handuk basah, merusak suasana tegang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 99: Pelindung Bencong Pasar Kelontong

    "Waduh, Nyonya Besar bertubuh tambun berkalung emas! Tolong jangan segel ruko warisan kakek ekeuuu ini dong, cyiiinnn! Kalau Madun setelan pabrik dijebloskan ke penjara, siapa lagi yang lindungi komunitas waria jembatan merah dari gusuran satpol pp?!" jerit Madun panik sambil meliukkan pinggul keka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status