หน้าหลัก / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 27: Gebrakan Linggis di Balik Tirai Klinik

แชร์

Bab 27: Gebrakan Linggis di Balik Tirai Klinik

ผู้เขียน: Ibrahiman
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-04 07:41:23

"Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang peluknya, nanti daster aku sobek lagi!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang keras berotot.

"Habisnya kamu empuk banget, Rin. Beda sama karung beras yang tiap hari saya panggul," jawab Madun sambil melirik nakal ke arah paha Rini yang tersingkap.

Siska yang duduk di sisi lain Madun langsung mendengus."Sudah, jangan pacaran terus! Ingat, besok pagi kita harus sudah di pasar sebelum Pak Bos bangun dari pengaruh obat tidur saya!"

"Bu Bidan gal
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 319: Permainan Tempo Tinggi

    ​Pukul 10.15 WIB. Jet pribadi mewah milik Tuan Hans melesat mulus membelah langit biru di ketinggian 35.000 kaki, meninggalkan garis putih di belakang ekor pesawat. Di dalam kabin kelas utama yang dilengkapi sofa kulit super empuk, karpet tebal berbulu domba, dan fasilitas kelas V.I.P, suasana terasa sangat nyaman. ​Namun, kenyamanan itu tidak berlaku bagi Madun. Pria jagoan desa tersebut merasa bosan duduk diam terlalu lama menikmati pemandangan gumpalan awan putih dari jendela bundar pesawat. Di balik celana training hitamnya, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang mulai berdenyut gatal, menuntut aksi nyata di udara. ​Vanesha, Celine, and Audrey sedang asyik menikmati jus buah segar yang disuguhkan oleh pramugari di kursi utama kabin. Tuan Hans sendiri sedang tertidur pulas di ruang kerjanya di bagian depan pesawat, mengenakan penutup mata dan selimut wol tebal. ​Madun menyeringai maut, lalu mencolek pelan l

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 318: Gesekan Brutal

    ​Pukul 21.00 WIB. Malam di kawasan Menteng mendadak terasa jauh lebih membara dibanding malam-malam sebelumnya. Di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa, lampu tidur berwarna merah marun memancarkan pendar remang-temaram yang menciptakan atmosfer eksotis sekaligus berbahaya. ​Madun berdiri di tengah ruangan dengan dada bidang yang basah oleh peluh semangat. Celana training hitam andalannya sudah tergeletak tak berdaya di lantai sudut kamar, membebaskan sepenuhnya mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang. Ukurannya yang luar biasa masif, kokoh bagaikan baja murni, dan berdenyut kencang seolah memancarkan aura dominasi mutlak yang siap menghancurkan segala batas kewarasan. ​Di hadapannya, Vanesha, Celine, and Audrey berbaring berjejer di atas ranjang king-size berseprai satin hitam. Napas ketiga istri Madun itu sudah menderu cepat, mata mereka sayu menatap penuh lapar ke arah senjata pamungkas warisan leluhur yang

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 317: Jagoan Daun Muda

    ​Pukul 15.45 WIB. Menteng diselimuti angin sore yang sejuk, namun suasana di ruang tamu RM Jagoan Rasa mendadak terasa panas akibat kehadiran tamu agung dari luar negeri. ​Tuan Hans, miliarder senior asal Swiss yang mengenakan jas kelabu super rapi, duduk bersila di atas sofa empuk sambil menyeruput secangkir kopi hitam sachet yang disajikan tanpa gula. Di hadapannya, Madun duduk dengan gaya santai khas preman kampung—satu kaki diangkat ke atas sofa, kaos oblong putih polos, dan celana training hitam yang di bagian depannya masih menyisakan tonjolan masif mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter hasil gigitan semut rangrang. ​Vanesha, Celine, and Audrey berdiri di belakang sofa dengan pakaian santai, mengawasi setiap gerak-gerik sang miliarder asing dengan tatapan waspada sekaligus penasaran. ​"Jadi begini, Madun," buka Tuan Hans sambil membuka amplop dokumen berlogo emas di atas meja. "Restoranmu di Menteng ini sudah jadi legenda lokal. Reputasinya luar biasa. Karena i

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 316: Kuda-Kuda Maut dan Insiden Celana Robek

    ​Pukul 06.15 WIB. Udara pagi di halaman belakang RM Jagoan Rasa masih terasa sejuk, diselingi kicauan burung gereja di pucuk pohon mangga. Namun, suasana di bawah naungan pohon tersebut sama sekali tidak santai. Madun berdiri tegak dengan gaya seorang grandmaster silat kampung, mengenakan kaos oblong putih belel dan celana training hitam legendarisnya.​Di hadapannya, Vanesha, Celine, dan Audrey berdiri berjejer dengan napas sedikit terengah-engah, mengenakan pakaian olahraga kasual. Mereka baru saja menyelesaikan pemanasan ringan berupa lari kecil keliling halaman restoran sebanyak sepuluh putaran.​"Dengar ya, Neng-neng sekalian!" seru Madun dengan suara baritonnya yang menggelegar, menepuk kedua telapak tangannya hingga menciptakan suara cetusan yang nyaring. "Dunia luar itu kejam. Kemarin ada anak buah Natasha nyusup, besok-besok entah siapa lagi yang datang. Makanya, kalian harus punya ilmu bela diri tingkat tinggi buat jaga diri. Hari ini aku bakal turun tangan langsung ngajarin

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 315: Tamu Pukul Dua Pagi dan Mata yang Terbelalak

    ​Pukul dua lewat tiga puluh dua dini hari. Suasana kawasan Menteng benar-benar gulita, diselimuti kesunyian malam yang pekat banget. Di dalam Rumah Makan Jagoan Rasa, Madun melangkah pelan tanpa suara di atas lantai keramik dingin ruang tamu. Dia cuma kenakan kaos oblong putih tipis dan celana training hitam andalannya. Di balik kain celana itu, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter yang bengkak permanen akibat gigitan ribuan semut rangrang masih sedikit berdenyut hangat, sisa-sisa amukan ritual maraton kuartet beberapa jam lalu.​Tok! Tok! Tok!​Ketukan itu kembali terdengar dari balik pintu utama. Kali ini lebih pelan, tapi bernada mendesak banget.​Madun enggak buang waktu. Dengan satu gerakan tangkas, dia putar kunci pintu dan tarik daun pintu sampai terbuka lebar. Lampu teras yang remang-temaram menyoroti sosok yang berdiri di luar.​Bukan hantu gentayangan seperti dugaan Vanesha, melainkan seorang wanita asing berpostur tinggi semampai, kenakan mantel hitam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 314: Malam Jumat Penuh Desah di Bawah Lampu Taman

    ​Pukul 20.15 WIB. Malam Jumat di kawasan Menteng menyuguhkan udara sejuk berbalut angin malam yang berhembus pelan. Di halaman belakang RM Jagoan Rasa, lampu-lampu taman temaram berwarna kekuningan memantulkan bayangan syahdu di atas meja kayu tempat keluarga kecil Madun menikmati hidangan makan malam sederhana: sepiring petai bakar harum berlumur sambal terasi buatan Celine dan segelas teh manis hangat.​Madun duduk di kursi kayu panjang dengan posisi kaki terbuka lebar—gaya khas jagoan desa yang membuat celana training hitamnya menegang sempurna. Tonjolan mahakarya mutasi rawa lele sepanjang 40 sentimeter hasil gigitan ribuan semut rangrang tercetak sangat jelas, seolah bernyawa dan siap menerkam siapa saja yang berani mendekat.​"Om, pelan-pelan dong makannya. Petainya udah kayak mau habis disikat sendirian," protes Audrey sambil cemberut manja, melipat tangan di dada dan memajukan bibirnya beberapa sentimeter.​Madun menelan suapan terakhir petai bakarnya, lalu menyeringai lebar.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status