Início / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 42: Pusaka Semut Rangrang

Compartilhar

Bab 42: Pusaka Semut Rangrang

Autor: Ibrahiman
last update Data de publicação: 2026-05-09 09:56:50
​"Mas Madun, kok malah senyum-senyum sendiri? Masih berasa ya sisa yang tadi?" tanya Dara sambil merapikan kaos birunya yang sempat melintir. Visual Dara sore itu memang luar biasa; keringat tipis di dahi dan leher putihnya membuat kulitnya yang halus tampak berkilau. Paha mulusnya yang kencang masih terlihat gemetar sedikit, menambah kesan seksi yang alami bagi gadis seumurannya.

​Madun merogoh saku celana kulinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak berwarna kemerahan. "Bukan itu,
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 179:: Hembusan Angin di Sela Tirai

    ​"Aduh, lupakan saja banyolan konyol soal gantungan lampu hias yang bergetar and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener gak masuk akal and bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau merapikan lilitan tirai bambu jendela ini biar hembusan angin fajar bisa masuk dengan sejuk tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju ke sudut jendela kamar, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa khayalan gangguan dari pemilik warung remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengikat tali pengait jendela, membiarkan tubuh sawo matangnya yan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 178: Langkah Tegap Menuju Kamar

    ​"Aduh, abaikan saja urusan kepulan kabut asap merah muda dari lubang pot kamboja and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada and merusak suasana santai fajar ini, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menuntun kamu masuk ke dalam kamar biar bisa istirahat pulas tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka lebar daun pintu kamar bungalow, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses memastikan pelataran taman bersih dari sisa-sisa gangguan preman ruko kelurahan subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton jembatan desa demi menjaga kenyamanan bersama.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk membimbing Catherine melewati ambang pintu, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 177: Tendangan Pamungkas di Pelataran

    ​"Aduh, abaikan saja urusan bola besi hitam kecil yang menggelinding dari kantong penjahat pingsan and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau memastikan para bajingan ruko kelurahan ini tidak bangun lagi fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menggeser kaki kanannya yang kokoh, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah meloloskan diri dari kepungan sisa-sisa anak buah dukun lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengikat kencang tali celana pendeknya untuk memastikan posisinya tetap stabil di atas rumput taman yang basah.​Madun yang memiliki postur tubuh sawo matang yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah memamerkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang sela

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 176: Baku Hantam di Pelataran Taman

    Tiga bajingan bertopeng besi ini sudah mengayunkan goloknya fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas berat sambil memiringkan tubuh tegapnya ke kiri, meresapi kembali getaran adrenalin jantannya yang murni, tegang, and siaga setelah sepasang mata tajamnya sukses menghindari sabetan senjata tajam dari anggota perserikatan pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi merubuhkan lawan.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk melepaskan satu pukulan hook kanan yang sangat telak ke rahang musuh pertama, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua ta

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 175: Ketegangan di Balik Rumpun Bambu

    ​Sekarang situasi jantan kita bener-bener sedang terancam bahaya nyata setelah saya melihat ada kepulan pergerakan asing di balik rumpun bambu pagar luar fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas berat sambil melompat turun dari ayunan, meresapi kembali getaran adrenalin jantannya yang murni, tegang, and siaga setelah sepasang mata tajamnya menangkap siluet beberapa orang mencurigakan bersenjata tajam yang mengepung halaman bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang ruko demi melindungi sang kekasih.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk menarik Catherine ke posisi aman di belakang punggung tegapnya, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap bertarung hidup mat

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 174: Guncangan Manis di Ayunan Bambu

    Guncangan Manis di Ayunan BambuMadun bener-bener cuma mau membersihkan sisa cipratan air ini sambil mengajak kamu duduk santai di atas ayunan bambu teras biar kaki kita bisa istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menuntun lengan halus Catherine menuju sudut halaman, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa gangguan gaib kiriman dari pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menduduki bilah bambu panjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan p

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 43: Sengatan Kuli Pasar

    "Mas Madun! Aduh, ini minyaknya makin panas atau gimana sih? Kok rasa di bawah sini kayak ada kembang api meledak-ledak?" teriak Dara sambil mencengkeram pinggiran karung beras dengan kuku-kukunya yang mungil.Madun yang sedang dalam posisi mengangkang gagah di atas tubuh Dara hanya menyeringai jan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 40: Godaan Dara Muda

    ​"Mas Madun, kok jalannya pelan banget? Takut sarungnya melorot?" goda Dara, adik sepupu Rini yang baru saja datang dari desa untuk mencari peruntungan di kota.​Madun menghentikan langkah tepat di depan pintu gudang yang sepi. Ia menoleh ke arah Dara yang sedang duduk santai di atas tumpukan karun

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 39: Madu Gadis Muda

    "Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mende

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 38: Di Balik Karung

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong jalannya, kaki aku pegal nih ngejar langkah Mas yang lebar banget!" protes Rini sambil berlari kecil menyusul Madun di lorong gudang yang remang-remang. Madun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan hingga dada bidangnya yang hanya terbalut kaos s

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status