ホーム / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 175: Ketegangan di Balik Rumpun Bambu

共有

Bab 175: Ketegangan di Balik Rumpun Bambu

作者: Ibrahiman
last update 公開日: 2026-06-22 18:25:56

​Sekarang situasi jantan kita bener-bener sedang terancam bahaya nyata setelah saya melihat ada kepulan pergerakan asing di balik rumpun bambu pagar luar fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas berat sambil melompat turun dari ayunan, meresapi kembali getaran adrenalin jantannya yang murni, tegang, and siaga setelah sepasang mata tajamnya menangkap siluet beberapa orang mencurigakan bersenjata tajam yang mengepung halaman bungalow sub
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 182: Teror Bayangan Merah di Langit Kamar

    ​Mendekap Catherine erat-erat, meresapi kembali getaran hawa mistis yang mendadak membuat suhu ruangan menjadi sedingin es kutub setelah lampu minyak di sudut meja rias tiba-tiba padam menyisakan kegelapan pekat subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang ruko kelurahan desa demi menghadapi kepulan aura gaib yang mengerikan.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk memosisikan diri di depan ranjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menjadi benteng pelindung bidadari barat dari serangan makhluk halus. Sambil memasang kuda-kuda kokoh secara interaktif di depan kasur, Madun menatap tajam ke arah sudut plafon yang mulai memancarkan suara tawa melengking kuntilanak merah. "Nah, kalau setannya sudah mulai berani menampakkan wuju

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 181: Kabar Mengejutkan di Pagi Hari

    ​Madun memegang pinggiran meja rias, meresapi kembali getaran kepanikan murni yang mendadak meluap setelah melihat benda plastik putih kecil bergaris dua merah yang tergeletak di atas kasur bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menahan rasa terkejut yang luar biasa.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil alat tes tersebut, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang mendadak lemas di depan bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif dengan gemetar di depan dada, Madun menatap tidak percaya ke arah kekasih bulenya yang nampak tersenyum malu-malu. "Nah, kalau garis merahnya sudah jelas ada dua begini kan hati jantan Mas Madun bisa jantungan memikirkan modal popok bayi di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 180: Kejutan di Balik Selimut

    ​" Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah mundur tiga langkah, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah matanya menangkap bantal guling mendadak menggelinding sendiri ke lantai kamar bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memeriksa guncangan aneh di atas tempat tidur kayu tersebut.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menyingkap ujung kain penutup ranjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang ikut terperanjat dari duduknya. "Nah, kalau sumber guncangan di bawah busa kasur ini sudah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 179:: Hembusan Angin di Sela Tirai

    ​"Aduh, lupakan saja banyolan konyol soal gantungan lampu hias yang bergetar and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener gak masuk akal and bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau merapikan lilitan tirai bambu jendela ini biar hembusan angin fajar bisa masuk dengan sejuk tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju ke sudut jendela kamar, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa khayalan gangguan dari pemilik warung remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengikat tali pengait jendela, membiarkan tubuh sawo matangnya yan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 178: Langkah Tegap Menuju Kamar

    ​"Aduh, abaikan saja urusan kepulan kabut asap merah muda dari lubang pot kamboja and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada and merusak suasana santai fajar ini, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menuntun kamu masuk ke dalam kamar biar bisa istirahat pulas tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka lebar daun pintu kamar bungalow, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses memastikan pelataran taman bersih dari sisa-sisa gangguan preman ruko kelurahan subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton jembatan desa demi menjaga kenyamanan bersama.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk membimbing Catherine melewati ambang pintu, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 177: Tendangan Pamungkas di Pelataran

    ​"Aduh, abaikan saja urusan bola besi hitam kecil yang menggelinding dari kantong penjahat pingsan and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener mengada-ada itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau memastikan para bajingan ruko kelurahan ini tidak bangun lagi fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil menggeser kaki kanannya yang kokoh, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah meloloskan diri dari kepungan sisa-sisa anak buah dukun lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengikat kencang tali celana pendeknya untuk memastikan posisinya tetap stabil di atas rumput taman yang basah.​Madun yang memiliki postur tubuh sawo matang yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah memamerkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang sela

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 165: Sunrise yang Indah

    Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil merapikan letak dompet kulitnya yang tebal, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kaki kokohnya sukses melangkah aman menjauhi tikungan ruko pasar yang mulai ramai dipadati pedagang keliling subuh ini. Madun yang memilik

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 164: Kembalinya Ketertiban di Los Pasar

    ​"Aduh, bayar dulu satenya daripada mikirin suara ketukan besi di kolong panggangan arang ruko kelurahan yang bener-bener mengada-ada dan bikin pusing kepala itu, sekarang hal yang paling nyata adalah mengantarkan kamu pulang ke penginapan dengan selamat tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 163: Angin Malam di Warung Sate

    ​"Aduh, lupakan saja drama retakan tanah gaib ruko kelurahan yang bener-bener membosankan dan merusak suasana santai fajar ini, sekarang perut jantan Mas Madun bener-bener butuh asupan massal sepiring sate ayam bumbu kacang gurih tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 162: Guncangan Maut di Tangga Pura

    ​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja khayalan konyol tentang kemunculan celah pusaran cahaya keemasan mekanis dari ruko gaib kelurahan sebelah yang sangat tidak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menuntun kamu menuruni anak tangga batu pura i

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status