首頁 / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 44: Keringat di Balik Karung

分享

Bab 44: Keringat di Balik Karung

作者: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-09 10:03:12
​"Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong genjotnya! Ini napas Dara hampir putus, Mas!" rengek Dara sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu. Wajahnya yang cantik sekarang sudah basah kuyup oleh keringat, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi dan leher putihnya yang mulus. Visual Dara benar-benar menggoda iman siapapun; kaos birunya yang tipis sekarang sudah lepek menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan bentuk dadanya yang kencang dan ranum. Paha mulusnya yang bening masih tampa
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 184: Ngidam Berat ke Puncak Rinjani

    Setelah Madun mendengar permintaan aneh dari calon ibu bayi kelurahan subuh ini, Madun menjadi kaget. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi mencerna keinginan sang kekasih bule yang ingin mendaki Gunung Rinjani saat berbadan dua.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil segelas air hangat, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada setelah memberikan gelas, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang nampak merengek manja. "Nah, kalau air hangatnya sudah diminum and pikiran kamu sudah agak tenang begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan tabungan modal ruko kelontong kita nanti

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 183: Pukulan Jantan Membelah Gaib

    ​ ​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk mengayunkan satu jotosan mentah bertenaga pasak bumi tepat ke arah pusaran angin gaib di depan pintu lemari, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif setelah kepulan asap hitam hantu itu pecah berantakan terkena benturan fisiknya, Madun menatap tajam ke sekeliling sudut ruangan yang mulai kembali normal. "Nah, kalau makhluk halusnya sudah kocar-kacir terkena hantaman jotosan kelontong begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!" ​Tiba-tiba, akibat gelombang tekanan udara dari pukulan jantan Madun yang sangat dahsyat, Catherine yang berdiri

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 182: Teror Bayangan Merah di Langit Kamar

    ​Mendekap Catherine erat-erat, meresapi kembali getaran hawa mistis yang mendadak membuat suhu ruangan menjadi sedingin es kutub setelah lampu minyak di sudut meja rias tiba-tiba padam menyisakan kegelapan pekat subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang ruko kelurahan desa demi menghadapi kepulan aura gaib yang mengerikan.​Madun langsung memajukan langkah jantannya untuk memosisikan diri di depan ranjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menjadi benteng pelindung bidadari barat dari serangan makhluk halus. Sambil memasang kuda-kuda kokoh secara interaktif di depan kasur, Madun menatap tajam ke arah sudut plafon yang mulai memancarkan suara tawa melengking kuntilanak merah. "Nah, kalau setannya sudah mulai berani menampakkan wuju

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 181: Kabar Mengejutkan di Pagi Hari

    ​Madun memegang pinggiran meja rias, meresapi kembali getaran kepanikan murni yang mendadak meluap setelah melihat benda plastik putih kecil bergaris dua merah yang tergeletak di atas kasur bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menahan rasa terkejut yang luar biasa.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengambil alat tes tersebut, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang mendadak lemas di depan bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif dengan gemetar di depan dada, Madun menatap tidak percaya ke arah kekasih bulenya yang nampak tersenyum malu-malu. "Nah, kalau garis merahnya sudah jelas ada dua begini kan hati jantan Mas Madun bisa jantungan memikirkan modal popok bayi di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 180: Kejutan di Balik Selimut

    ​" Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah mundur tiga langkah, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah matanya menangkap bantal guling mendadak menggelinding sendiri ke lantai kamar bungalow subuh ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memeriksa guncangan aneh di atas tempat tidur kayu tersebut.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk menyingkap ujung kain penutup ranjang, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap menjadi benteng pelindung bidadari barat. Sambil melipat kedua tangan kekarnya secara interaktif di depan dada, Madun menatap lembut ke arah kekasih bulenya yang ikut terperanjat dari duduknya. "Nah, kalau sumber guncangan di bawah busa kasur ini sudah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 179:: Hembusan Angin di Sela Tirai

    ​"Aduh, lupakan saja banyolan konyol soal gantungan lampu hias yang bergetar and jaring titanium seberat seratus ton yang bener-bener gak masuk akal and bikin pusing kepala itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau merapikan lilitan tirai bambu jendela ini biar hembusan angin fajar bisa masuk dengan sejuk tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil melangkah menuju ke sudut jendela kamar, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya sempat pening memikirkan rupa-rupa khayalan gangguan dari pemilik warung remang-remang lintas kecamatan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi menjaga ketertiban sirkulasi udara kamar bungalow.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk mengikat tali pengait jendela, membiarkan tubuh sawo matangnya yan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 79: Efek Sengatan Semut Rangrang Madun

    ​"Aduh, Mas Madun... ini efek sengatan pusaka semut rangrang kamu bener-bener gak ada obatnya! Rahim Mbak Siska rasanya kayak masih digigit jutaan semut merah, kedutan terus gak bisa berhenti dari tadi," rintih Mbak Siska sambil memegangi perut bawahnya yang mulus di atas tumpukan karung beras. ​V

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 77: Lemas Beruntun di Gudang Belakang

    ​"Aduh, Mas Madun... ini muncratannya kok banyak banget sih?! Sampai luber-luber keluar dari paha Lala nih," keluh Lala sambil mengelap celah paha mulusnya yang putih bersih dan sangat bening menggunakan ujung kain yang tersisa.​Visual Lala pagi itu benar-benar menggetarkan jiwa pria normal. Tank

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 75: Gudang Kelontong Ambyar

    ​"Aduh, Mas Madun... linggis beton Mas bener-bener bikin rahim Lala bergetar hebat, gak bisa gerak lagi paha Lala ini," keluh Lala sambil selonjoran lemas di atas tumpukan karung beras yang sudah berantakan.​Visual Lala di pagi yang makin terang ini bener-bener merusak pertahanan iman pria normal.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 71: Lembur Massal Gudang Belakang

    ​"Aduh, Mas Madun... linggis Mas bener-bener gak ada matinya ya. Ini paha Lala sampai mati rasa, lemes banget kayak mie instan kesiram air panas," keluh Lala sambil meluruskan kakinya di atas karung beras.​Visual Lala yang terlentang pasrah benar-benar bikin mata pria normal enggan berkedip. Tank

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status