Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 70: Gudang Kelontong Bergoyang

Share

Bab 70: Gudang Kelontong Bergoyang

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-18 16:38:25

​"Mas Madun... buruan tutup pintu gudangnya! Lala udah gak tahan lihat linggis beton Mas yang menonjol gede banget di balik celana itu!" rengek Lala sambil bersandar di tumpukan karung beras.

​Visual Lala di dalam gudang remang-remang itu benar-benar bikin mata pria normal langsung melotot. Tank top rajut putihnya yang super ketat nampak semakin melar karena dadanya yang bundar, padat, dan kencang membusung naik turun memburu gairah. Celana denim mininya membuat paha mulusnya yang putih bersih
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 71: Lembur Massal Gudang Belakang

    ​"Aduh, Mas Madun... linggis Mas bener-bener gak ada matinya ya. Ini paha Lala sampai mati rasa, lemes banget kayak mie instan kesiram air panas," keluh Lala sambil meluruskan kakinya di atas karung beras.​Visual Lala yang terlentang pasrah benar-benar bikin mata pria normal enggan berkedip. Tank top rajut putihnya sudah basah kuyup oleh keringat, menempel ketat dan memperlihatkan bentuk buah dadanya yang bundar padat nampak membusung naik turun seiring napasnya yang terengah-engah. Paha mulusnya yang putih bersih dan bening nampak terbuka lebar, berkilau eksotis terkena cahaya lampu gudang yang temaram. Di celah pahanya, sisa-sisa cairan surga hasil gempuran Madun masih nampak mengalir lambat.​Mbak Siska yang berbaring di sebelahnya juga tidak kalah maut. Gaun satin merah marunnya sudah acak-acakan tersingkap sampai ke dada, mengekspos perutnya yang mulus dan paha mulusnya yang kuning langsat serta berisi. Belahan dadanya yang besar dan ranum nampak menggantung bebas, bergoyang man

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 70: Gudang Kelontong Bergoyang

    ​"Mas Madun... buruan tutup pintu gudangnya! Lala udah gak tahan lihat linggis beton Mas yang menonjol gede banget di balik celana itu!" rengek Lala sambil bersandar di tumpukan karung beras.​Visual Lala di dalam gudang remang-remang itu benar-benar bikin mata pria normal langsung melotot. Tank top rajut putihnya yang super ketat nampak semakin melar karena dadanya yang bundar, padat, dan kencang membusung naik turun memburu gairah. Celana denim mininya membuat paha mulusnya yang putih bersih dan sangat bening nampak berkilau indah. Kaki jenjangnya sengaja ditekuk, memperlihatkan lekukan paha dalam yang sangat mulus tanpa cacat sedikit pun.​Mbak Siska tidak mau kalah seksi. Dia langsung merebahkan tubuh montoknya di atas tumpukan kardus kosong. Gaun satin merah marunnya tersingkap tinggi sampai ke pinggang, memamerkan visual paha mulusnya yang kuning langsat, berisi, dan nampak sangat ranum berkeringat tipis. Belahan dadanya yang besar nampak menyembul keluar dari potongan gaunnya y

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 69: Gerebekan Dua Jagoan

    ​"Madun! Ke mana aja kamu jam segini baru kelihatan batang hidungnya?!" semprot Budi begitu Madun melangkah masuk lewat pintu belakang toko kelontong.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengusap dahi. Kaos singlet hitamnya nampak lecek, memperlihatkan otot dadanya yang bidang masih naik turun karena sisa gairah dengan Cindy tadi. "Aduh Bud, ampun. Tadi ada urusan darurat panggul sembako yang bener-bener menyita seluruh tenaga linggis beton gue sampai dengkul rasanya mau lepas."​Belum sempat Madun meluruskan kakinya yang lemas, pintu depan toko berdering. Dua sosok wanita seksi melangkah masuk secara bersamaan, membuat atmosfer toko kelontong mendadak menjadi sangat panas dan gerah. Ternyata Lala dan Mbak Siska datang bersamaan dengan wajah yang ditekuk cemberut.​Visual Lala siang itu benar-benar menguji iman pria normal. Dia hanya memakai tank top ketat warna putih tanpa bra, membuat bentuk dadanya yang bundar, padat, dan kencang nampak

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 68: Klepek-klepek Paha Cindy

    ​"Aduh, Kak Madun... jangan langsung dicabut dong linggisnya. Cindy masih pengen ngerasain ganjalan pasak bumi Kakak yang super gede ini," rengek Cindy sambil melingkarkan kaki kecilnya yang indah ke pinggang Madun.​Visual Cindy setelah ronde pertama tadi benar-benar membuat Madun kehabisan kata-kata. Gadis ABG lincah itu berbaring terlentang dengan daster merah muda yang sudah tersingkap sampai ke dada. Buah dadanya yang bulat, kencang, dan padat nampak membusung indah dengan puting menegang tegak yang sangat menantang. Bagian yang paling mematikan adalah paha mulusnya yang putih bersih, kencang, dan sangat bening tanpa noda. Kulit kakinya yang mulus dan jari-jari kakinya yang kecil serta lentik nampak berkilau karena peluh gairah, menciptakan visual maut yang bikin dengkul pria normal langsung lemas.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Otot lengannya yang penuh urat nampak berkilau oleh keringat, menempel er

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 67: Gempuran Daun Muda

    ​"Madun! Lihat deh ke arah kasir nomor tiga, ada daun muda lincah banget baru masuk," bisik Budi sambil menyenggol lengan kekar Madun yang sedang menata kardus mi instan.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menoleh. Rambut ikalnya yang sedikit berantakan karena keringat tipis justru menambah kesan jantan pada tubuh sawo matangnya. Begitu melihat ke arah kasir, mata Madun langsung terkunci pada sosok gadis ABG bernama Cindy yang baru berumur delapan belas tahun.​Visual Cindy siang itu benar-benar merusak fokus kuli toko mana pun. Dia memakai kaos pendek ketat berwarna putih yang kekecilan, membuat buah dadanya yang masih kencang dan padat nampak membusung menantang. Celana gemes denim super pendek yang dipakainya mengekspos paha mulusnya yang putih bersih, kencang, dan sangat bening tanpa selulit sedikit pun. Setiap kali Cindy bergeser lincah memilih permen, bokongnya yang padat dan paha mulusnya yang berkilau diterpa lampu toko membuat gu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 66: Gempuran Balasan Siska

    ​"Madun! Kamu jangan langsung pakai celana dong! Sini temenin aku dulu, badan aku masih lemes banget tahu," rengek Siska sambil menarik ujung kaos singlet hitam Madun.​Visual Siska di atas kasur berantakan itu bener-bener bikin jakun naik turun. Daster satin hitamnya yang super tipis sudah melorot sampai ke perut, mengekspos payudaranya yang besar, bulat, dan sangat kencang dengan puting merah muda yang masih menegang tegak. Paha mulusnya yang kuning langsat dan berisi nampak terbuka lebar, berkilau karena sisa minyak zaitun dan keringat gairah. Aroma harum melati bercampur keringat sensual dari tubuh ranumnya membuat ruangan apartemen itu makin panas.​Madun yang memiliki wajah tirus tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung hanya bisa garuk-garuk kepala. Otot lengannya yang penuh urat nampak kokoh saat dia duduk di tepi ranjang. "Aduh Mbak Siska, saya ini harus balik ke toko lagi. Nanti kalau si Budi nyariin gimana? Bisa dipotong gaji saya sama bos."​"Biarin si Budi mandor cup

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status