Partager

Alasan

last update Date de publication: 2026-03-09 16:18:21

Semua orang terdiam. Putra Mahkota telah mendeklarasikan di depan para petinggi istana bahwa Aderyn adalah calon istrinya.

“Tentu saja,” jawab Duke Harrington cepat dengan gugup, tidaka berani membantah sang Putra Mahkota.

Sedang dari tempatnya duduk, sang Ratu menatap tajam. Tangannya menggenggam pisau dan garpu terlalu erat hingga kedua tangannya bergetar.

Aderyn bisa merasakan tatapan tajam Ratu ke arahnya. Makan malam itu adalah makan malam tersulit yang pernah ia lalui di hidupnya.

Setelah makan malam, Arkhavel mengantarkan Aderyn kembali ke kamarnya di sayap barat Istana. Ia ingin tahu bagaimana Adery diperlakukan.

Arkhavel mendengar bagaimana seisi ruangan mentertawainya. Bagaimana pelayan-pelayan di istana bahkan membicarakannya seolah Aderyn naik ke atas ranjang Arkhavel seperti jalang--hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan.

Sejak Aderyn masuk ke sini, ia sudah menyadari bahwa istana bukan tempat yang ramah untuk Aderyn.

Setelah masuk ke kamar itu, seorang pelayan mendekat dan menyerahkan bayi mungil di gendongannya pada Aderyn. Setelah memberi hormat sebentar, pelayan itu pergi meninggalkan mereka.

Mantel biru tuanya masih melekat di bahunya, tapi kali ini ia tidak berdiri jauh. Ia melangkah masuk tanpa ragu, menutup pelan pintu di belakangnya setelah Aderyn dan bayinya ikut masuk.

Arkhavel memperhatikan tempat tidur, perapian, dan jendela... lalu Aderyn.

“Apa di sini nyaman? Terlalu dingin?” tanyanya pelan.

Tidak terdengar seperti Putra Mahkota, tapi sebagai seseorang yang benar-benar peduli.

Aderyn sedikit terkejut melihat perubahan pada nada suara dan tatapannya.

“Sangat nyaman. Tidak usah khawatir, Yang Mulia,” jawabnya sopan.

Pria itu menghela napas kecil, “Arkhavel,” koreksinya. “Kita tidak sedang ada di ruang publik.”

Itu mungkin pertama kalinya ia mengatakan itu, dan Aderyn tidak tahu harus menjawab apa. Arkhavel berjalan mendekat, lalu berhenti di jarak setengah meter.

Cukup dekat untuk bisa melihat bayi itu dengan jelas.

Tangannya terangkat sejenak--seolah ingin menyentuh--lalu dia urungkan.

“Apakah dia tidur nyenyak?”

Nada suaranya berbeda. Lebih lembut dari yang pernah Aderyn dengar sebelumnya.

“Ya..." Aderyn mengangguk pelan.

Kemudian tatapan Arkhavel kembali menjelajah seisi ruangan.

"Aku akan meminta tirai diganti dengan yang lebih tebal. Musim dingin di istana terasa lebih menusuk dari pada di kota."

Tatapan Arkhavel berhenti. Untuk pertama kalinya ia menatap Aderyn sepenuhnya.

"Aku tahu ini bukan tempat yang kau pilih. Aku memilihnya untukmu, jadi aku akan berusaha untuk melindungimu dan bayimu. Aku akan memastikan kalian berdua aman..."

Iris biru terang gelap itu masih menatap tegas. Namun kali ini terasa lebih dalam dan hangat.

"Boleh aku tahu alasanmu melakukan semua ini?" tanya Aderyn tiba-tiba.

Ia melihat perubahan di wajah Arkhavel saat mendengar ucapannya. Pria itu tidak terlihat marah, tapi Aderyn bisa melihat sedikit nyala api jauh di dalam matanya.

Arkhavel terdengar menghirup napas panjang, dia berjalan ke arah jendela, dengan tangan di belakang tubuhnya kemudian hening beberapa saat.

"Aku perlu alasan untuk membatalkan perjodohan ini," Arkhavel membalik tubuhnya menghadap Aderyn.

Dahi Aderyn berkerut, "Apa maksudnya?"

"Aku butuh alasan kuat agar perjodohanku dengan Putri Serelith tidak terjadi."

"Maksudmu, kau menggunakan aku dan bayiku untuk kepentinganmu ini?"

Aderyn menatap pria yang berdiri beberapa langkah di depannya, dengan tatapan tidak percaya.

Ia merasa terjebak dengan skenario yang Arkhavel ciptakan. Terjebak dalam hal besar hanya untuk jadi sebuah alasan yang baginya tak masuk akal.

Tiba-tiba saja semua jadi masuk akal di kepala Aderyn. Semua kemewahan yang dia rasakan dalam beberapa hari, ternyata itu tak gratis.

“Kamu memanfaatkan aku dan anakku hanya karena kami tidak punya siapa-siapa?” ucap Aderyn dengan bibir bergetar. “Kamu bersikap seolah menyelamatkan anakku, padahal kamu sedang memanfaatkannya hanya karena dia tidak punya Ayah?”

Aderyn mencoba untuk tegar, namun kaca-kaca bening memantul dari bola matanya yang bening saat ia mengucapkan kalimat itu.

Kalimat yang menampar dirinya sendiri dan membuatnya sadar jika ia bahkan tidak punya apa-apa untuk melindungi anaknya.

Arkhavel mengangkat tangannya, berusaha meraih Aderyn sambil melangkah maju. Namun Aderyn menghindar. Aderyn tak ingin pria itu menyentuhnya.

Rahang Arkhavel mengeras, sebelum ia memaksakan senyum tipis.

"Jika kau mengatakannya seperti itu, aku benar-benar terdengar seperti pria yang kejam."

Arkhavel menatap jauh ke mata Aderyn, yang kini menatapnya sedang sorot tajam sekaligus terluka.

Wajah itu membuat sorot mata Arkhavel melembut.

"Aku melihat wajah itu, wanita yang sendirian di malam hari, berjalan tanpa tujuan saat sudah waktunya bayinya lahir," ucap pria itu dengan nada tenangnya. "Saat bayimu lahir, aku berpikir bagaimana ia butuh status, dan tempat untuk tinggal.

"Aku bisa memberinya semua itu. Aku bahkan bisa memberi kalian perlindungan dan hidup yang layak."

Aderyn mendengarkan, mematung di tempatnya berdiri. Tangannya merapatkan pelukan pada bayi mungil itu, lantas memandangi wajah mungil yang tengah terlelap pulas.

Di luar sana, tak ada satu orang pun yang akan menerima dia bayi itu. Rasanya menyakitkan, tapi bukanlah lebih menyakitkan jika ia membawa bayinya keluar dari sini tanpa tahu kehidupan seperti apa yang bisa ia persembahan untuk anaknya.

Aderyn bekerja kasar sepanjang hidupnya agar tetap bisa bertahan.

Kini mereka berada dalam ruang yang hangat, menyantap hidangan sehat setiap hari tanpa perlu memikirkan hari esok. Bahkan ia punya kamar yang cukup besar dan hangat.

"Aku memang diuntungkan oleh kehadiranmu. Bantuanku padamu mungkin bukan kebaikan murni. Tapi kepedulianku padamu itu benar adanya. Aku berjanji, aku akan melakukan segalanya untuk melindungi kalian."

Tatapan Aderyn pindah pada Arkhavel. Pria itu memandang tulus, tak terlihat guratan kebohongan sedikit pun di wajahnya.

Sorot matanya yang hangat seakan mencoba memberi tahu jika semuanya akan baik-baik saja, membuat Aderyn melunak.

Arkhavel benar. Dan kini Aderyn merupakan seorang ibu yang harus rela melakukan apa saja untuk membuat anaknya tetap nyaman.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Perjalanan

    Aderyn terjaga semalam. Ia mendongak memandang ke arah wajah Arkhavel yang kini sedang terpejam sambil mendekap tuhuhnya erat. Melihat itu, membuat dada Aderyn terasa sesak. Hatinya sakit sekali. Pelukan Arkhavel di tubuhnya sangat erat seolah sedang berusaha menahan apapun yang sedang dipikirkan Aderyn untuk bisa terjadi, tapi semakin ia memikirkannya, semakin Aderyn memantapkan langkah untuk pergi. Tak ada cara lain lagi. Kalau sampai Lord Cassian kembali membawa sesuatu, mungkin ia tidak hanya harus pergi, melainkan harus kehilangan kepalanya karena telah berbohong tentang status Caelan. Dan yang lebih buruk lagi, hal itu mungkin akan membuatnya kehilangan Caelan. Membayangkannya saja sudah begitu menakutkan untuk Aderyn. Aderyn melirik ke arah jam besar di bawah kakinya. Sudah tengah malam. Ia kembali teringat pada perkataan Ratu sebelum ia meninggalkan ruangannya tadi sore. "Kalau kau sudah memikirkannya dengan baik, datanglah tengah malam ini bersama Caelan ke taman be

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Kepergian Aderyn

    Aderyn sudah kembali ke kamarnya. Kini dia duduk di atas ranjang dengan bibir yang sedikit bergetar. Caelan tak Aderyn kembalikan ke tempat tidurnya, melainkan tetap ia peluk dengan erat seperti hanya manusa kecil itulah satu-satunya hal yang terakhir yang ia miliki. "Yang Mulia Ratu, bagaimana kau bisa meminta hal seperti itu dariku?" tanya Aderyn setelah kalimat yang Ratu ucapkan tadi terasa seperti bongkahan batu besar yang menimpa kepalanya. Aderyn memang tak bisa melihat dengan jelas raut wajah sang Ratu dari balik cahaya yang remang, tapi Aderyn bisa merasa bahwa saat itu sebuah senyum miring terbit di bibir wanita tua itu. "Aderyn, kau tahu betapa pentingnya takhta ini untuk Arkhavel? kalau dia sampai kembali menentang dewan kerajaan untuk dirimu, dia akan kehilangan alasan kenapa dia terlahir." Batu besar itu seperti menekan kepala Aderyn hingga membuat tubuhnya hampir tertanam kedalam bumi, bak palu yang mengetuk paku. Untuk sesaat ia lupa jika Arkhavel adalah

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Sebuah Permohonan

    Aderyn berdiri di dekat jendela. Iris cokelatnya menerawang jauh ke balik kegelapan yang mulai menyingsing, sambil menggigiti kuku jempolnya sendiri. Pikiran Aderyn terus saja berputar pada percakapan yang terjadi antara dirinya dan Duke Harrington tadi. Caelan sudah tertidur oulas di dalam buaiannya, sedang Arkhavel masih belum kembali dari ruang kerjanya. Tangan Aderyn kini berpindah, mencengkram kuat daun jendela. Pikirannya kacau. Terakhir sekali Ratu Evelyn turun tangan, dia hampir membuat Aderyn mati di hutan. Aderyn benar-benar takut jika kali ini yang berada dalam bahaya adalah Caelan--sebab sekarang, Ratu pasti mulai menjurigai bahwa Caelan bukan merupakan darah daging Arkhavel. Ia mulai berjalan mondar-mandir di dekat buaian Caelan sambil sesekali melirik ke arah bayi itu. Rambut Aderyn yang panjang bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya yang tampak gusar. Gerakan byangan dirinya memantul di sudut ruang kamarnya terhenti, ketika kembali terdengar sebuah ketukan d

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Ratu Mulai Bergerak

    "Apa yang membuatmu repot-repot datang kemari, Duke Herrington?" tanya Aderyn dengan suara yang berusaha ia tekan agar tetap terdengar tenang. Padahal jantungnya sekarang sudah seperti ingin copot dari tempatnya melekat. Ia mulai melangkah, dan mengambil duduk di kursi yang ada di sebelah Duke Harrington. Tak segera ada kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang dengan tatapan penuh makna sambil tersenyum tipis ke arah Aderyn. Sebuah senyuman yang cukup membuat Aderyn bergidik melihatnya. "Kau pasti sudah mendengar tentang rumor yang beredar di istana akhir-akhir ini, Lady Aderyn," kata Duke Harrington kemudian. Aderyn tidak menjawabnya. Ia tahu Duke Harrington sedang tidak mengajukan pertanyaan, melainkan sedang memastikan. Jemari Aderyn bertaut saling meremas lebih kencang dari sebelumnya. Tanpa menunggu jawaban dari Aderyn, Duke Harrington kembali melanjutkan, "kau juga pasti sudah tahu berapa Putra Mahkota membelamu di depan semu

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Jejak yang Tertinggal

    Pagi itu, langit di atas istana tampak kelabu. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika para pelayan mulai menjalankan tugas mereka. Suara roda kereta dan derap kaki kuda terdengar lebih sering dari biasanya, memecah ketenangan yang biasanya menyelimuti istana di jam-jam sepagi itu. Di gerbang utama, beberapa pengawal kerajaan sudah bersiap. Kuda-kuda perjalanan dipasangi pelana, peti-peti dokumen dinaikkan ke dalam kereta. Semua tampak seperti persiapan inspeksi wilayah biasa. Setidaknya di tampak begitu untuk orang-orang luar. Namun bagi orang-orang yang memahami cara kerja istana, keberangkatan pagi itu tidak sesederhana yang terlihat. Lord Cassian berdiri di samping kudanya dengan mantel perjalanan berwarna gelap yang menutupi pakaian bangsawannya. Sebuah map kulit tebal berada di bawah lengannya. Tatapannya menyapu halaman sekali, sampai sebuah suara terdengar dari belakangnya. "Aku berharap kau tidak membawa terlalu banyak masalah saat kembali nanti, Lord Cassi

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Menuju Timur Kerajaan

    Lord Cassian melangkah masuk dengan membawa map kulit tebal di bawah lengannya. Raja Albercth mengangkat alis sedikit. "Kau datang lebih pagi dari biasanya." "Saya memiliki permohonan resmi, Yang Mulia." "Itu biasanya berarti aku akan mendapatkan pekerjaan tambahan." Cassian tidak tersenyum sebagaimana biasanya. Ia meletakkan dokumen di atas meja raja. "Wilayah Greznov bagian timur belum menerima inspeksi lanjutan sejak wabah berakhir." Raja Albercth membuka dokumen itu. Matanya menyusuri beberapa halaman dengan cepat. Laporan distribusi bantuan, pembangunan kembali klinik desa, perbaikan jalur perdagangan. Suamnya benar-benar terlihat normal untuk membuat Lord Cassian sampai turun tangan. "Kau ingin pergi sendiri, Cassian?" "Ya, Yang Mulia." Raja Albercth menutup dokumen itu perlahan. Tatapannya beralih pada Lord Cassian yang masih berdiri di hadapannya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara lebih lanjut. Raja Albrecht menyandarkan punggung di kirsinya.

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Pertanyaan yang Mengganggu

    Suara sesuatu yang berat jatuh ke air membuat semua orang menoleh. "Aderin, dia jatuh!" jerit Olivia. "Tolong lakukan sesuatu!" Semua orang tidak bergeming. Berdiri di tempat mereka sembari menatap Aderyn yang sudah tidak lagi muncul ke permukaan. Olivia segera berlari melewati Vaelor dan Se

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Hal yang Mengganggu

    "Lancang sekali gadis desa yang miskin ini!" Gadis yang mengenakan baju hijau emerald tadi tersenyum miring. "Sudah merasa hebat hanya karena Putra Mahkota mendukungmu rupanya." "Tcih! belum resmi jadi anggota keluarga kerajaan saja, sudah terliat seperti apa sifat aslinya." Aderyn masih terliha

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Pria yang Kembali dari Perjalanan

    Pagi-pagi sekali, Lady Marianne sudah mengetuk pintu kamar Aderyn. Menyuruhnya berganti pakaian, dan membawanya ke sebuah ruangan. "Kita akan memulai pelatihan untuk kelas bangsawan," ucap Lady Marienne seakan bisa membaca pikiran Aderyn yang sedang berjalan setengah langkah di depannya. Merek

  • Putra Mahkota Memanjakan Nona dan Bayinya   Tidak Pada Tempatnya

    Para bangsawan langsung terdiam dan saling lirik, tidak menyangka kehadiran sang Putra Mahkota yang tiba-tiba. Bangsawan yang sejak tadi memulai hujatan pada Aderyn itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya, "Hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota." Ia kembali berdiri tegap, tangannya berada di bel

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status