Chapter: Pertanda Menuju KebenaranMalam telah turun ketika Aderyn kembali ke kamarnya. Namun bahkan setelah pintu tertutup rapat dan suara langkah kaki para pelayan menghilang dari koridor, pikirannya masih tertinggal jauh di aula dewan. Ia duduk di dekat jendela dengan Caelan yang sedang tertidur di pangkuannya. Tangannya bergerak perlahan mengusap rambut halus anak itu dengan tatapannya yang kosong. Pikirannya terus mengulang kalimat yang sama, yang sejak sore tadi tidak bisa keluar dari kepalanya. "Siapa pun yang memiliki tuduhan terhadap keluargaku..." Aderyn tidak bisa melupakan bagaimana Arkhavel mengucapkan kata itu dengan yakin, seolah kalimat itu memang sudah ada diluar kepalanya, dan telah menjadi bagian hidupnya. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingatnya. Karena selama ini, jauh di dalam dirinya, selalu ada bagian yang takut suatu hari Arkhavel mengetahui semuanya. Takut suatu hari pria itu akan menyesal. Takut suatu hari ia dan Caelan akan menjadi beban yang terlalu berat untuk dipertahan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Potongan PuzzlePagi itu, aula dewan kerajaan terasa lebih penuh dibanding biasanya. Para bangsawan, menteri, dan anggota dewan telah mengambil tempat mereka masing-masing di sepanjang meja panjang yang membelah ruangan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi tidak mampu menghangatkan suasana yang sudah lebih dulu dipenuhi ketegangan. Di ujung meja, Arkhavel duduk dengan tenang di kursi putra mahkota, di sisi kanan ruangan, Vaelor tampak bersikap seperti biasa--tenang, rapi, dan sulit dibaca. Sedangkan beberapa kursi dari deretan bangsawan tua tampak dihuni wajah-wajah yang belakangan ini semakin sering berbisik satu sama lain. Rumor telah melakukan apa yang paling sering dilakukan rumor, yaitu menyusup ke tempat-tempat yang seharusnya tidak disentuhnya. Dan kini ia sudah sampai ke ruang dewan. "Kalau begitu kita mulai," suara kepala pencatat kerajaan memecah keheningan. Beberapa agenda awal dibahas terlebih dahulu. Masalah perdagangan, ditribusi gandum, dan perbaikan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Pihak yang MemilihHujan turun sejak dini hari. Rintiknya memukul kaca-kaca tinggi istana, membuat langit pagi terlihat lebih gelap daripada biasanya. Udara dingin menyusup ke koridor-koridor batu yang panjang, sementara para pelayan bergerak lebih cepat sambil membawa nampan, dokumen, dan surat-surat kerajaan. Namun di balik rutinitas yang tampak biasa itu, seluruh istana sedang berada dalam keadaan yang tidak biasa. Rumor telah berkembang terlalu jauh untuk diabaikan. Semua orang mulai sibuk memilih pihaknya masing-masing. Di ruang kerja putra mahkota, Arkhavel berdiri menghadap jendela. Sebuah laporan terbuka di atas mejanya, namun ia belum membacanya sejak lima belas menit terakhir. Pikirannya berada di tempat lain. Sejak Aderyn mengatakan yang sebenarnya beberapa hari lalu, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Bukan karena marah, justru karena Aderyn jujur, Arkhavel tidak bisa memaksakan dirinya untuk marah. Ia tahu bagaimana wanita itu menceritakan semuanya dengan tangan gemetar
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: Rahasia di balik Dinding Istana Tumpukan dokumen memenuhi hampir seluruh permukaan meja Lord Cassian, serta puluhan arsip lain yang sudah berdebu karena bertahun-tahun tidak pernah disentuh. Seorang penjaga arsip tua berdiri tak jauh darinya. "Anda masih mencari laporan dari Greznov, Yang Mulia?" Cassian tidak mengangkat kepala. "Masih." Pria tua itu tampak bingung. "Sudah hampir seminggu Anda memeriksa dokumen yang sama." Cassian menutup satu berkas lalu membuka yang lain. "Karena jawaban yang benar biasanya tersembunyi di tempat yang membosankan." Penjaga arsip itu tidak benar-benar mengerti, tetapi ia cukup bijak untuk tidak bertanya lebih jauh. Setelah pria tua itu pergi, Lord Cassian kembali menatap tumpukan dokumen. Ia tidak mencari bukti perselingkuhan. Tidak juga berusaha menjatuhkan siapa pun, melainkan ia sedang mencari adalah ancaman. Dan saat ini, rumor tentang Lady Aderyn telah berkembang cukup jauh untuk menjadi ancaman politik. Karena jika benar Caelan bukan putra Arkhavel... maka akan
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: Ayah Dari AnakkuMalam turun perlahan di atas istana, membawa hawa dingin yang menyelinap melalui jendela-jendela tinggi dan koridor batu yang panjang. Namun bagi Vaelor, malam itu terasa jauh lebih sesak daripada biasanya. Ia berdiri sendirian di ruang kerjanya. Sebuah dokumen terbuka di atas meja, tetapi sejak satu jam lalu matanya tidak benar-benar membaca satu baris pun. Pikirannya masih tertinggal di ruang dewan. Pada Arkhavel. Pada cara putra mahkota itu duduk begitu tenang ketika Cassian mengangkat rumor tentang Aderyn. Pada caranya merespon isu yang beredar, padahal seluruh istana sedang gempar karenanya. Vaelor memejamkan mata sesaat. Semakin ia mengingatnya, semakin ada sesuatu yang terasa tidak beres. Arkhavel tidak terlihat seperti seseorang yang baru mendengar tuduhan mengejutkan. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah mengetahui sesuatu jauh sebelum semua orang lain mengetahuinya. Jemari Vaelor perlahan mengepal. Ingatannya kembali pada berbagai kejadian yang selama ini ia a
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: Melindungi KeluargakuRuangan dewan kecil itu tenggelam dalam keheningan setelah Lord Cassian mengucapkan kalimat terakhirnya.Tak ada satu pun orang yang langsung bergerak. Bahkan suara napas terdengar terlalu jelas di tengah suasana yang mendadak menegang.“Rumor tentang Lady Aderyn dan Lord Vaelor.”Kalimat itu masih menggantung di udara seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan melukai semua orang di ruangan tersebut.Vaelor duduk diam di tempatnya. Rahangnya mengeras samar, namun ekspresinya tetap terkontrol. Sedang di kursi utama, Arkhavel tampak jauh lebih tenang dari yang dibayangkan semua orang, membuat beberapa bangsawan tua mulai saling bertukar pandang diam-diam.Lord Cassian memperhatikan reaksi Arkhavel dengan saksama. Namun putra mahkota itu tidak menunjukkan kemarahan, tidak pula keterkejutan. Arkhavel hanya menautkan kedua tangannya di atas meja panjang itu sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau dewan mulai membahas rumor tanpa bukti…”Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.“…maka istan
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Sebuah Pertanyaan"Masa cewek secantik kamu Jomblo, Je?" Wajah Jena memanas seketika. Namun dia memaksakan sebuah tertawa yang hambar, "emang siapa sih yang mau sama orang kaya aku," katanya. "Kalau kamu mau, aku mau," kata cowok itu membuat Jena hampir sersedak ludahnya sendiri. Poppy dengan cepat menyodorkan air pada Jena yang sedang terbatuk-batuk. "Jangan nervous gitu, kali, Je. Biasa aja," ledek Poppy kemudian tiba-tiba ia mengode pria di hadapannya dengan kedipan mata, agar mereka meninggalkan Jena dan cowok itu berduaan saja. Pria yang ada di hadapan Poppy itu mengerti, dia segera berdiri sambil berkata, "eh, Je. Aku boleh pinjem Poppy sebentar, ya... Aku ada yang pengen dibeli, nih. Kayanya selera Poppy bagus dan bisa bantuin gue milih." Jena melempar pandangan ke arah Poppy dengan tampangnya yang polos, lalu pandamgannya beralih pada cowok di hadapannya. "Gimana kalau kita ikut sekalian?" tanya Jena pada cowok itu--namanya Rayan. Cowok itu melirik ke arah temannya, untuk ber
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Kencan?Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Istilah yang tidak Jena sukaiBerakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Dunia Baru Jena"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Gadis yang mulai berani"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Hubungan yang sudah terlalu lama"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus
Last Updated: 2026-03-08