Chapter: Hubungan Antara Dua SaudaraSemenjak tiba di istana, bayinya selalu tenang dan tidak terlalu sering terbangun di malam hari. Tapi semalam berbeda. Bayi mungil itu hampir merengek sepanjang malam. Barang kali, bayi juga bisa merasakan perasan tak karuan yang sedang Ibunya rasakan. Aderyn berdiri di dekat jendela sembari menggendong bayinya. Kantung matanya menghitam. Meski rambutnya sudah tersisir dan dicepol rapi, tapi sama sekali tidak bisa menutupi wajah Aderyn yang tampak lelah. Bayi yang baru saja kembali terlelap itu menggeliat, saat hangat mentari membelai kulitnya yang masih kemerahan. Aderyn tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Vaelor, dan sikapnya yang acuh. Masih banyak pertanyaan memenuhi kepalanya, seakan ingin meledak. Namun saat ia menatap bayinya, semua ketakutan Aderyn mendadak sirna. Aderyn menunduk, mencium pelan kepala bayinya.“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja..." bisik Aderyn. Dia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ketukan terdengar di pintu. Teratur, dan pelan.
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Pria Yang BerbedaAderyn membeku di tempatnya berdiri, tatapannya terpaku pada satu orang yang baru saja muncul di ruangan ituVaelor.Pria itu berdiri di sana, namun di saat yang bersamaan juga berputar di kepala Aderyn seperti adegan film yang jelas dan nyata-- Aderyn yakin pria itu adalah orang yang sangat dia kenali. Tapi entah kenapa, sosoknya terasa… asing.“Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat," ucap Varlor ringan. Untuk seperkian detik, Aderyn melihat ada yang berubah dari sorot mata pria itu--tapi dia tidak tahu apa. Aderyn menunggu.Aderyn terdiam, menunggu sesuatu. Mungkin dia menggu Vaelor menyadari keberadaannya, atau dia sedang menunggu reaksi yang berbeda dari pria itu. Namun tidak ada. Vaelor hanya berdiri di sana dengan tenang, bersikap seperti mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya. Serelith tersenyum tipis, lalu berkata, "sama sekali tidak. Kau datang di saat yang sangat… tepat.
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Pria yang Kembali dari Perjalanan Pagi-pagi sekali, Lady Marianne sudah mengetuk pintu kamar Aderyn. Menyuruhnya berganti pakaian, dan membawanya ke sebuah ruangan. "Kita akan memulai pelatihan untuk kelas bangsawan," ucap Lady Marienne seakan bisa membaca pikiran Aderyn yang sedang berjalan setengah langkah di depannya. Mereka tiba di ruangan berukuran kecil, hanya berisi beberapa kursi, meja kecil, dan cermin tinggi yang memantulkan setiap gerakan Aderyn terlalu jelas. Sedang di sudut dekat perapian, terdapat sebuah keranjang kecil di mana bayi Aderyn sedang tertidur pulas di dalamnya. Ruangan itu tak terlalu berbeda dengan kamar yang kini Aderyn tempati, kalau Aderyn boleh menebak, mungkin ruang itu dulunya merupakan kamar tamu. "Tiga hal yang selalu diperhatikan bangsawan sebelum mereka mendengar kata-katamu," ucap Lady Marienne di seberang ruangan dengan tangan terlipat rapi di depan perutnya. "Cara kau berdiri." Ia melangkah mengitari Aderyn. "Cara kau menundukkan kepala," tambahnya lagi. Langkahn
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Alasan Semua orang terdiam. Putra Mahkota telah mendeklarasikan di depan para petinggi istana bahwa Aderyn adalah calon istrinya. “Tentu saja,” jawab Duke Harrington cepat dengan gugup, tidaka berani membantah sang Putra Mahkota. Sedang dari tempatnya duduk, sang Ratu menatap tajam. Tangannya menggenggam pisau dan garpu terlalu erat hingga kedua tangannya bergetar. Aderyn bisa merasakan tatapan tajam Ratu ke arahnya. Makan malam itu adalah makan malam tersulit yang pernah ia lalui di hidupnya. Setelah makan malam, Arkhavel mengantarkan Aderyn kembali ke kamarnya di sayap barat Istana. Ia ingin tahu bagaimana Adery diperlakukan. Arkhavel mendengar bagaimana seisi ruangan mentertawainya. Bagaimana pelayan-pelayan di istana bahkan membicarakannya seolah Aderyn naik ke atas ranjang Arkhavel seperti jalang--hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan. Sejak Aderyn masuk ke sini, ia sudah menyadari bahwa istana bukan tempat yang ramah untuk Aderyn. Setelah masuk ke kamar itu, seorang pelayan
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Tidak Pada Tempatnya Para bangsawan langsung terdiam dan saling lirik, tidak menyangka kehadiran sang Putra Mahkota yang tiba-tiba. Bangsawan yang sejak tadi memulai hujatan pada Aderyn itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya, "Hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota." Ia kembali berdiri tegap, tangannya berada di belakang tubuh seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Yang Mulia Putra Mahkota, kami hanya sedang sedikit memeriksa," lanjutnya. "Anda meragukanku, Lord Cassian Drevorn?" tanya Arkhavel. "Tentu saja tidak, yang Mulia Putra Mahkota... tapi tetap saja, identitas anak itu perlu." Perkataan dari pria bernama Cassian Drevorn itu membuat Arkhavel terdiam. Ia melirik bayi di gendongan Aderyn dengan ekor matanya. "Dengan dasar apa Anda mengharapkan kami menerima anak itu sebagai pewaris?” ulang Lord Cassian. Aderyn masih tidak mengerti. Ia hanya tahu bahwa semua mata kini tertuju padanya, dan bayi di gendongannya. “Dengan dasar pengakuanku, Lord Cassian,” jawab Arkhavel tegas. "Dia
Last Updated: 2026-03-07
Chapter: Ruang Penghakiman Aderyn terbangun oleh suara lembut kain kain disibakkan. Matanya terbuka perlahan. Terlihat langit-langit di atasnya tinggi, dengan lampu kristal menggantung di tengahnya. Kemewahan yang terasa seperti mimpi. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengingat bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini; Akademi. Jalan. Rasa sakit. Bayi. Tubuh Aderyn refleks terangkat, mencoba bangun. “Tenang, Nona...” Suara pelan terdengar di sampingnya. Seorang pelayan berdiri di sana, dengan pakaian rapi. Sangat rapi. “Bayi Anda baik-baik saja.” Aderyn menoleh cepat, ke sisi ruangan tempat di mana sebuah ranjang kecil berada tak jauh dari tempat tidurnya. Bayi mungil itu tampak tertidur di dalam sana, ditutupi selimut sutra tebal yang terlihat hangat dan nyaman. Aderyn menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi Aderyn lega karena setidaknya ia tak kehilangan satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya. “Sudah dua hari Anda tinggal di sayap barat istana, apa Nona masih tida
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: Kencan?Tentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Istilah yang tidak Jena sukaiBerakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Dunia Baru Jena"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Gadis yang mulai berani"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Hubungan yang sudah terlalu lama"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan agar tak ada suara yang keluar. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat Jo berhasil menyentuh area sensitisnya, sebelah tangannya lagi mencengkram tiang rak yang ada di sebelahnya karena lututnya mulai terasa lemas akibat gesekan jari Jo dari balik celana dalamnya. "Jo... jangan," katanya pelan. Namun setelah mengatakan itu, tangan yang tadinya Jena gunakan menutup mulutnya, kini justru melingkar ke atas, ke belakang leher Jonathan. Jemarinya menyusup di antara rambut belakang kepala Jo--hal yang selalu berhasil membuat napsu Jo naik hingga ke kepala. Jarinya menyelinap dari sisi celana dalam Jena, mengusap lembut bibir vagina yang mulai basah itu. Jena menggit bibir bawahnya, berus
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Seorang teman priaHari pertama setelah meja kecil itu di tambahkan di dekat meja kasir. Butuh waktu sampai akhirnya semua orang terbiasa dengan itu, dan tepat pada hari ketiga, laporan yang Jonathan inginkan sudah rapi. Rani, Jena, dan seorang karyawan lain bernama Maya memegang pre-scan secara bergantian. Namun pekerjaan itu lebih banyak dipegang oleh Rani dan Maya sebab sebentar lagi Jena akan mengubah jadwalnya menjadi pegawai paruh waktu. Dia tidak akan selalu ada di toko buku. Hari itu hari pertama Jena datang ke kampusnya--Universitas Velmora Raya terlihat sangat besar dari apa yang pernah Jena bayangkan sebelumnya. Fakultas Menejeman berada di sisi barat kampus, yang terletak lumayan jauh dari gerbang utama, dan Jena harus berjalan kaki sejauh satu kilo untuk bisa sampai di sana. Jena mengenakan baju kaos dan rok jins selutut yang dipadukannya dengan kemeja kotak-kotak sebagai luaran. Rambutnya diikat tinggi dan rapi. Tas maroonnya yang agak lusuh tergantung di pundak sebelah kanannya. Ka
Last Updated: 2026-03-06