Share

bab 37

Penulis: Noah harun
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 19:21:10

Mendengar teriakan itu, seluruh prajurit yang berada di pos penjagaan segera berhamburan keluar. Api sudah mulai membesar dan menjalar ke beberapa bagian gudang perbekalan.

"Air! Cepat ambil air!" teriak salah seorang prajurit.

Para prajurit segera membentuk barisan untuk memadamkan api. Sebagian membawa ember, sementara yang lain berusaha mengeluarkan persediaan yang masih bisa diselamatkan.

Panglima Wei keluar dari ruangannya dan langsung terkejut melihat kobaran api.

"Apa yang terjad
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 46 penyerangan ke kota nangking

    Ibunda Lim Guan Yang terlihat sangat bahagia mendengar jawaban keduanya. Ia kemudian memandang Liu Weng Fu dan putrinya secara bergantian. "Kalau begitu, ibu sudah tidak perlu khawatir lagi. Kalian berdua memang sudah saling menyukai." Lim Guan Yang kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Ibu... jangan bicara seperti itu." Ibunya tertawa kecil. "Kenapa malu? Bukankah tadi kamu sendiri sudah mengatakan bersedia?" Liu Weng Fu hanya tersenyum melihat tingkah Lim Guan Yang. Ibunda Lim Guan Yang kemudian berkata dengan serius, "Kalau kalian memang sudah sepakat, nanti kita bicarakan dengan keluarga. Ibu ingin hubungan kalian segera mendapat kepastian." Lim Guan Yang mengangguk perlahan. "Baik, Bu." Liu Weng Fu juga membungkuk hormat. "Saya akan mengikuti keputusan Ibu." Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seorang prajurit dari halaman. "Wakil Panglima Liu!" Liu Weng Fu menoleh. Seorang prajurit datang menghampirinya lalu memberi horm

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 45 Liu Weng Fu mendapatkan restu dari ibunda

    Setelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 44

    Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 43

    Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 42

    Liu Weng Fu yang masih mengingat kejadian di medan pertempuran akhirnya menyadari sesuatu. Panah yang menembus tubuh Panglima Wei berasal dari Liong Bun. Ia segera memanggil beberapa pengawal kerajaan. "Tangkap Liong Bun!" Para pengawal langsung bergerak mencari Liong Bun. Tidak lama kemudian, Liong Bun berhasil ditangkap. Kedua tangannya segera diikat. "Liu Weng Fu! Kau memfitnahku!" teriak Liong Bun sambil memberontak. "Bukan aku yang membunuh Panglima Wei!" Liu Weng Fu menatapnya tajam. "Aku melihat sendiri panah itu berasal dari arahmu." "Kau tidak punya bukti!" "Ada bukti," jawab Liu Weng Fu tegas. "Panah yang menembus tubuh Paman Wei berasal dari busurmu." Liong Bun terdiam sejenak. Wajahnya mulai berubah. Wakil Panglima Wei yang melihat kejadian itu segera memerintahkan para bawahannya. "Jangan mengambil kesimpulan terburu-buru. Selidiki kematian Panglima Wei dan periksa semua bukti yang ada." "Baik, Wakil Panglima!" Liong Bun kemudian diseret oleh

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 41 panglima Wei meninggal

    Panglima Wei yang sedang berada di gudang perbekalan tidak menyangka malam itu pasukan Hu Jianto kembali menyerang. Ia segera keluar dari gudang dan berteriak, "Prajurit! Siapkan pasukan kerajaan! Pertahankan perbatasan!" "Baik, Panglima Wei!" Para prajurit segera mengambil senjata dan berlari menuju pos penjagaan. Liu Weng Fu yang berada di sana ikut membantu mempersiapkan para prajurit. Tidak lama kemudian, pasukan Hu Jianto semakin dekat. Jumlah mereka kali ini jauh lebih banyak daripada serangan sebelumnya. Panglima Wei mengenakan jubah perangnya dan berdiri di barisan depan. Ia melihat Hu Jianto berada di tengah-tengah pasukannya. "Hu Jianto! Kau masih berani menyerang perbatasan kami?" "Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi!" Hu Jianto tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Panglima Wei. Tangannya perlahan terangkat. Para prajurit pemberontak di belakangnya langsung bersiap. Suasana di perbatasan mendadak mencekam. Hu Jianto mengangkat tang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status