author-banner
Noah harun
Noah harun
Author

Novels by Noah harun

Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal

Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal

Zhuang Ling terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan seorang Jenderal Besar yang mengabaikannya, hingga ia dicap mandul dan terus direndahkan oleh ibu mertuanya. Di tengah keputusasaan saat sang suami justru menghamili selirnya, Zhuang Ling memutuskan untuk bercerai. Namun, hal itu justru mengundang kemurkaan sang suami, yang bertekad untuk menghukum dan mengejar Zhuang Ling yang kabur. Bertahun-tahun kemudian, wanita yang terusir dengan tak terhormat itu kembali lagi, kini dengan kekuatan keturunan sang Kaisar di tangannya!
อ่าน
Chapter: Bab 82
Ketika para pengawal istana bergerak menyerang, Jendral Huang segera mencabut pedangnya."Sreeeng!"Beberapa pengawal langsung menyerbu dari berbagai arah.Jendral Huang dengan tenang menangkis setiap serangan yang datang.Trang! Trang! Trang!Suara benturan pedang bergema memenuhi aula istana.Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.Meski para pengawal merupakan prajurit pilihan kerajaan yang memiliki ilmu bela diri tinggi, Jendral Huang tetap mampu mengimbangi mereka.Namun...Jumlah lawannya terlalu banyak.Sedikit demi sedikit Jendral Huang mulai terdesak.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Tiba-tiba...Matanya tertuju kepada Kaisar Zhang Ziyi yang masih berdiri memperhatikan jalannya pertarungan.Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu...""Jangan salahkan aku!"Dengan gerakan yang sangat cepat, Jendral Huang
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-31
Chapter: Bab 81
Wajah Kaisar Zhang Ziyi seketika memucat. Kini ia semakin yakin bahwa Jendral Huang benar-benar telah merencanakan kudeta terhadapnya. Tanpa membuang waktu, ia segera memerintahkan para pengawal istana. "Segera panggil seluruh pasukan kerajaan yang masih setia kepadaku!" "Perketat penjagaan di setiap pintu istana!" "Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak sebelum berlari melaksanakan perintah. Setelah itu, Zhang Ziyi bergegas menemui Zhuang Ling di halaman istana. Meski berusaha tetap tenang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan. "Nyonya Zhuang Ling..." "Keadaan semakin genting." "Jendral Huang telah membawa pasukannya menuju istana." Mendengar kabar itu, wajah Zhuang Ling langsung berubah pucat. "B... bagaimana dengan suamiku, Yang Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar. Zhang Ziyi menarik napas panjang. "Jangan khawatir." "Hari ini juga aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarmu menemui Kaisar Zhang Xin." "Kau harus segera m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-30
Chapter: bab 80
Setelah menerima surat dari Zhuang Ling, Zhang Xin akhirnya memutuskan memasuki Kota Nangking bersama utusan Kaisar Zhang Ziyi. Berbeda dengan yang ia bayangkan, penjagaan di gerbang kota tidak terlalu ketat. Para prajurit yang berjaga segera membuka jalan setelah melihat utusan kerajaan membawa surat perintah dari Kaisar Zhang Ziyi. Rombongan mereka pun perlahan memasuki Kota Nangking. Tak jauh dari gerbang utama, Zhang Xin melihat seorang pria telah menunggu di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya sederhana, sama sekali tidak menunjukkan kemewahan seorang kaisar. Namun begitu rombongan berhenti, pria itu melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. "Salam hormat, Kaisar Zhang Xin. Aku adalah Zhang Ziyi." Zhang Xin turun dari kudanya lalu membalas penghormatan itu. "Kaisar Zhang Ziyi." Keduanya saling menatap beberapa saat. Dari sorot mata Zhang Xin, ia dapat melihat wajah Zhang Ziyi tampak pucat. Senyum yang menghiasi bibirnya pun seolah menye
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-28
Chapter: Bab 79 Jendral Huang memberontak
Di halaman kediaman Jendral Huang, kedua pasukan kini saling berhadapan. Tidak ada satu pun yang bersedia mengalah. Pedang-pedang telah terhunus, tombak diarahkan ke depan, dan setiap prajurit bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Suasana begitu mencekam. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara dua barisan pasukan yang saling menatap dengan tajam. Pasukan kerajaan yang datang atas perintah Kaisar Zhang Ziyi menganggap Jendral Huang telah terang-terangan membangkang terhadap titah Kaisar. Di sisi lain, Jendral Huang merasa Kaisar Zhang Ziyi tidak lagi layak memimpin Kerajaan Nangking. Baginya, semua keputusan Kaisar hanya menghalangi ambisinya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba, kepala pasukan kerajaan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pasukan!" "Mundur!" Perintah itu menggema di seluruh halaman. Para prajurit kerajaan perlahan menurunkan senjata mereka, lalu mundur beberapa langkah dengan tetap menjaga kewaspadaan. Sebelum pergi, kepala
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Bab 78 Jendral Huang terkurung di dalam rumahnya
Mata-mata yang mengawasi kediaman Jendral Huang semakin penasaran. Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru kembali ke perbatasan. Selama beberapa hari berikutnya, mereka diam-diam terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang terjadi di rumah sang Jendral. Setelah merasa tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka sepakat untuk kembali ke perbatasan Kota Nangking dan melaporkan semua hasil pengamatan mereka kepada Kaisar Zhang Xin. Sementara itu, di kediaman Jendral Huang, suasana tampak berjalan seperti biasa. Di paviliunnya, Lie Ming sedang merawat Shao Yang dengan ditemani beberapa pelayan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa ketenangan itu akan segera berubah. Tiba-tiba, puluhan prajurit kerajaan yang setia kepada Kaisar Zhang Ziyi berhenti di depan gerbang kediaman Jendral Huang. Tanpa membuang waktu, mereka segera memasuki halaman rumah dengan langkah tergesa-gesa. Wajah mereka tampak tegang, seolah sedang menjalankan perintah yang sangat penting. Para pelaya
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-25
Chapter: Bab 77
Jendral Huang perlahan mengangkat kepalanya. Ia kemudian berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat kepada Kaisar Zhang Ziyi. "Yang Mulia, hamba memang membawa Zhuang Ling ke Kota Nangking. Namun semua itu bukan tanpa alasan." Kaisar Zhang Ziyi tetap menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat Kaisar masih memberi kesempatan berbicara, Jendral Huang kembali melanjutkan penjelasannya. "Beberapa waktu lalu, pembantu Zhuang Ling yang bernama Ming Sien datang ke kediaman hamba. Ia menculik putra hamba. Ketika hamba berhasil mengejarnya, Zhuang Ling justru berada di tempat yang sama. Karena itulah hamba menduga mereka bekerja sama." Nada suara Jendral Huang terdengar penuh keyakinan, seolah-olah dirinya benar-benar menjadi korban. "Hamba membawa Zhuang Ling ke Nangking hanya untuk mencari kebenaran. Hamba sama sekali tidak berniat memulai permusuhan dengan Kota Yunan." Kaisar Zhang Ziyi melipat kedua tangannya di depan dada. Sorot matanya semakin tajam mengamat
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-23
Putra Mahkota Yang Terbuang

Putra Mahkota Yang Terbuang

Malam berdarah mengubah segalanya. Kaisar Liu Bing dibunuh oleh Jenderal Ming Lung, orang yang paling dipercaya untuk melindungi Kerajaan Wu. Dalam satu malam, takhta direbut, keluarga kerajaan dibantai, dan Dinasti Liu dinyatakan berakhir. Namun Ming Lung tidak mengetahui satu rahasia. Permaisuri Xing Fu berhasil melarikan diri sambil mengandung pewaris sah kerajaan. Sejak lahir, sang Putra Mahkota hidup sebagai buronan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, kehilangan ibunya, dan diburu tanpa henti oleh orang yang telah merebut takhta ayahnya. Tak ada yang tahu bahwa anak kecil yang dianggap sampah itu menyimpan darah seorang kaisar. Saat ia dewasa, dunia persilatan akan menjadi pijakan pertamanya. Dengan pedang di tangan dan dendam yang membara, ia bersumpah akan mengembalikan Dinasti Liu ke singgasananya. Namun... mampukah seorang Putra Mahkota yang terbuang merebut kembali kerajaan yang telah dirampas selama puluhan tahun?
อ่าน
Chapter: bab 34 Liu Weng Fu lolos dari maut
Liu Weng Fu masih terbaring tidak sadarkan diri di tengah kekacauan pertempuran. Sementara itu, Hu Jianto semakin berada di atas angin. Ia terus mendesak Panglima Wei hingga keduanya bergerak semakin jauh ke dalam hutan belantara. Trang! Clang! Pedang mereka kembali beradu. Panglima Wei mulai kelelahan. Di sekelilingnya, banyak prajurit kerajaan telah berjatuhan. Sebagian terluka dan sebagian lainnya tidak mampu lagi melanjutkan pertempuran. Keadaan pasukan kerajaan Ming semakin terdesak. Namun tiba-tiba... Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang sangat ramai. Derap! Derap! Derap! Panglima Wei menghentikan gerakannya sejenak dan menoleh ke belakang. Dari balik jalan hutan, terlihat sekumpulan besar prajurit bergerak mendekati medan pertempuran. Wajah Panglima Wei seketika berubah. "Itu..." Ia memperhatikan panji yang dibawa oleh pasukan tersebut. "Prajurit kita! Bala bantuan dari perbatasan akhirnya datang!" Teriakannya terdengar oleh para prajuri
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-10
Chapter: Bab 33 Liu Weng Fu hampir meninggal
Panglima Wei tiba-tiba masuk ke dalam tenda Liu Weng Fu. Tatapannya langsung tertuju kepada Liong Bun yang berdiri di dekat tempat Liu Weng Fu tidur. "Liong Bun! Sedang apa kau di tenda Liu Weng Fu?" tanya Panglima Wei dengan suara tegas. Liong Bun seketika memucat. Ia tidak menyangka Panglima Wei akan datang pada saat seperti itu. "P... Paman..." Liong Bun berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Hmm... tadi aku ingin meminjam sesuatu kepada Liu Weng Fu. Tapi ketika aku masuk, ternyata dia sudah tertidur." Panglima Wei menyipitkan mata. Ia memperhatikan wajah Liong Bun beberapa saat. Jawaban itu terdengar masuk akal, tetapi sikap Liong Bun yang gugup membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun Panglima Wei tidak menemukan bukti apa pun. Akhirnya ia menghela napas. "Sudahlah. Keluar dari sini." Liong Bun segera menundukkan kepala. "Baik, Paman." Panglima Wei kemudian berkata, "Besok pagi kita akan kembali menyisir wilayah sekitar hutan. Kita h
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-09
Chapter: Bab 32 Liu Weng Fu terkena racun
Tubuh Hu Jianto terus dibopong oleh lelaki bertopeng itu semakin jauh ke dalam hutan, menuju sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik pepohonan. Sesekali lelaki itu menoleh ke belakang. Ia takut pasukan Panglima Wei masih mengejar mereka. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti, ia kembali mempercepat langkahnya. Namun beberapa saat kemudian, ia merasakan tubuh Hu Jianto semakin berat. Ia berhenti. "Napasnya semakin lemah..." gumamnya. Lelaki itu menurunkan tubuh Hu Jianto perlahan ke tanah dan memeriksa lukanya. "Jarak rumah masih cukup jauh. Kalau terus seperti ini, aku takut keadaan Jendral Hu semakin kritis." Ia segera membuka pakaian luar Hu Jianto untuk memeriksa luka di bahunya. "Jendral..." Hu Jianto yang sejak tadi tidak sadarkan diri perlahan membuka matanya. Pandangan matanya masih kabur. Ia mengerang menahan rasa sakit. "Di mana... aku?" Lelaki itu segera mendekat. "Jendral, jangan banyak bergerak." Hu Jianto mencoba
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-09
Chapter: bab 31
Beberapa orang berpakaian hitam perlahan muncul dari balik pepohonan dan menghadang rombongan Panglima Wei. Salah seorang di antara mereka maju ke depan. Usianya sudah tidak muda lagi, tetapi tubuhnya masih tegap. Dari sorot matanya terlihat bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia tersenyum tipis. "Panglima Wei! Ternyata kita bertemu lagi!" Panglima Wei yang mendengar suara itu langsung tercengang. Ia mengenali sosok tersebut. Beberapa tahun lalu, lelaki itu pernah menjadi salah satu panglima kepercayaan Kaisar Liu Bing. Bahkan, ia pernah memimpin pasukan Kerajaan Wu sebelum akhirnya dikalahkan dalam pertempuran. "Hu Jianto! Ternyata kau masih hidup!" seru Panglima Wei. Hu Jianto tertawa kecil. "Sepertinya kau masih mengingatku." Panglima Wei menatapnya tajam. "Jadi kau yang berada di balik semua ini?" Hu Jianto perlahan mencabut pedangnya. Sring! Kilatan pedang terlihat di bawah sinar matahari. "Hari ini kau akan merasakan kembali pedangku, Panglima Wei!"
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-08
Chapter: Bab 30 Lim Guan Yang mencium Liu Weng Fu
Liong Bun masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Panglima Wei menuju Kota Yuning. Ia membuka lemari kecil di sudut kamarnya. Tangannya kemudian mengambil sebuah kotak kecil yang tampak mengilap. Liong Bun menatap kotak itu beberapa saat sebelum membukanya perlahan. Klik! Di dalamnya terdapat beberapa jarum kecil yang telah dilumuri racun. Tatapan Liong Bun berubah gelap. Ia mengambil salah satu jarum itu dan menggenggamnya erat. Kemarahan dan kecemburuan yang selama ini dipendamnya kembali membara. "Liu Weng Fu..." gumamnya dengan suara rendah. "Di medan pemberontakan nanti, aku akan menggunakan ini untuk mencelakaimu." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Tak seorang pun akan menyangka. Mereka pasti mengira kau terkena senjata musuh." Liong Bun tertawa kecil. "Haha... kali ini kau tidak akan bisa menghindar dariku." Ia kembali memasukkan jarum itu ke dalam kotaknya, lalu menutupnya rapat. Klik! Setelah itu ia menyimpan kotak ters
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-08
Chapter: bab 29 Liu Weng Fu dibawah ke Medan peperangan
Pasukan kerajaan istana segera mengajak Panglima Wei berangkat menghadap Baginda Kaisar Ming Lung. "Silakan ikuti kami, Panglima. Yang Mulia sudah menunggu di istana." "Baik," jawab Panglima Wei singkat. Tak lama kemudian, Panglima Wei menaiki kereta kudanya. Di depan dan belakangnya, pasukan kerajaan mengawal dengan ketat menuju istana. Setelah melewati beberapa jalan utama ibu kota, rombongan akhirnya tiba di gerbang istana yang megah. Panglima Wei turun dari keretanya, lalu berjalan mengikuti pasukan kerajaan menuju aula utama. Tap... tap... tap... Derap langkah para prajurit bergema di lorong-lorong istana yang dipenuhi tiang-tiang besar berukir naga emas. Di depan pintu aula telah berdiri seorang kasim istana yang seolah memang menunggu kedatangannya. Kasim itu membungkuk hormat. "Panglima Wei, Yang Mulia telah menunggu. Silakan masuk." Panglima Wei mengangguk pelan, lalu melangkah memasuki aula kerajaan. Di ujung ruangan tampak Kaisar Ming Lung telah dudu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-07
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status