Putra Mahkota Yang Terbuang
Malam berdarah mengubah segalanya.
Kaisar Liu Bing dibunuh oleh Jenderal Ming Lung, orang yang paling dipercaya untuk melindungi Kerajaan Wu. Dalam satu malam, takhta direbut, keluarga kerajaan dibantai, dan Dinasti Liu dinyatakan berakhir.
Namun Ming Lung tidak mengetahui satu rahasia.
Permaisuri Xing Fu berhasil melarikan diri sambil mengandung pewaris sah kerajaan.
Sejak lahir, sang Putra Mahkota hidup sebagai buronan. Ia tumbuh dalam kemiskinan, kehilangan ibunya, dan diburu tanpa henti oleh orang yang telah merebut takhta ayahnya.
Tak ada yang tahu bahwa anak kecil yang dianggap sampah itu menyimpan darah seorang kaisar.
Saat ia dewasa, dunia persilatan akan menjadi pijakan pertamanya. Dengan pedang di tangan dan dendam yang membara, ia bersumpah akan mengembalikan Dinasti Liu ke singgasananya.
Namun... mampukah seorang Putra Mahkota yang terbuang merebut kembali kerajaan yang telah dirampas selama puluhan tahun?
Read
Chapter: bab 46 penyerangan ke kota nangkingIbunda Lim Guan Yang terlihat sangat bahagia mendengar jawaban keduanya. Ia kemudian memandang Liu Weng Fu dan putrinya secara bergantian. "Kalau begitu, ibu sudah tidak perlu khawatir lagi. Kalian berdua memang sudah saling menyukai." Lim Guan Yang kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Ibu... jangan bicara seperti itu." Ibunya tertawa kecil. "Kenapa malu? Bukankah tadi kamu sendiri sudah mengatakan bersedia?" Liu Weng Fu hanya tersenyum melihat tingkah Lim Guan Yang. Ibunda Lim Guan Yang kemudian berkata dengan serius, "Kalau kalian memang sudah sepakat, nanti kita bicarakan dengan keluarga. Ibu ingin hubungan kalian segera mendapat kepastian." Lim Guan Yang mengangguk perlahan. "Baik, Bu." Liu Weng Fu juga membungkuk hormat. "Saya akan mengikuti keputusan Ibu." Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, terdengar suara seorang prajurit dari halaman. "Wakil Panglima Liu!" Liu Weng Fu menoleh. Seorang prajurit datang menghampirinya lalu memberi horm
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 45 Liu Weng Fu mendapatkan restu dari ibundaSetelah kematian Liong Bun, Liu Weng Fu akhirnya terbebas dari segala provokasi yang selama ini membuatnya tertekan. Kini ia bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang bersama Lim Guan Yang. Hari itu, Lim Guan Yang baru saja selesai menghadiri pemakaman ayahnya. Para keluarga dan kerabat Panglima Wei juga sudah berdatangan kembali ke kediaman untuk berkumpul bersama keluarga. Liu Weng Fu sedang duduk termenung seorang diri ketika tiba-tiba Ibunda Lim Guan Yang memanggilnya. "Nak Liu! Kesini sebentar. Ibu mau bicara denganmu!" Wanita itu melambaikan tangannya. Liu Weng Fu yang mendengar panggilan tersebut langsung bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Bu?" Ibunda Lim Guan Yang memandangnya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. "Nak Liu, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu." Liu Weng Fu mengangguk. "Tanya saja, Bu." Wanita itu kemudian melirik ke arah putrinya yang sedang berbicara dengan beberapa anggota keluarga. "Kamu... suka dengan putri ibu?" Li
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Bab 44Tidak lama kemudian, Kaisar Ming berpamitan kepada Lim Guan Yang dan ibunya setelah berbincang beberapa saat. Akhirnya, Kaisar Ming meninggalkan kediaman Panglima Wei. Pasukan kerajaan yang sejak tadi berjaga mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan kembali sepi. Para pelayat dan kerabat Panglima Wei juga mulai pulang ke rumah masing-masing. Kini, hanya Liu Weng Fu dan Lim Guan Yang yang masih berada di dalam aula duka. Di hadapan mereka terbaring peti jenazah Panglima Wei. Lim Guan Yang masih berdiri di sana. Matanya terus menatap peti jenazah ayahnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia belum mampu menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini menjadi tempatnya bergantung telah pergi untuk selamanya. Liu Weng Fu kemudian berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Lim Guan Yang dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Nona Lim..." Lim Guan Yang tidak menjawab. "Relakan kepergian ayahmu," ujar Liu Weng Fu perlaha
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: Bab 43Kaisar Ming akhirnya tiba di kediaman Panglima Wei. Sebelum Kaisar turun dari keretanya, para prajurit kerajaan segera membentuk barisan dan memblokir jalan keluar-masuk kediaman. Penjagaan diperketat. Masyarakat yang sejak tadi ingin melihat kedatangan Kaisar Ming semakin banyak berdatangan. Mereka berdesakan di luar halaman, berusaha melihat sosok Kaisar dari kejauhan. Pintu kereta terbuka. Kaisar Ming turun dengan mengenakan jubah kebesaran berwarna emas dan mahkota emas di kepalanya. Para prajurit segera memberi hormat. Kaisar Ming berjalan perlahan menuju pintu masuk kediaman. Melihat kedatangan Kaisar, keluarga Panglima Wei segera berlutut. "Salam sejahtera untuk Yang Mulia!" "Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!" Kaisar Ming mengangguk perlahan. Tatapannya kemudian menyapu orang-orang yang berdiri di hadapannya. Namun tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda. Liu Weng Fu. Entah mengapa, pemuda itu tampak berbeda dari yang lainnya. Ada sesuatu dalam
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 42Liu Weng Fu yang masih mengingat kejadian di medan pertempuran akhirnya menyadari sesuatu. Panah yang menembus tubuh Panglima Wei berasal dari Liong Bun. Ia segera memanggil beberapa pengawal kerajaan. "Tangkap Liong Bun!" Para pengawal langsung bergerak mencari Liong Bun. Tidak lama kemudian, Liong Bun berhasil ditangkap. Kedua tangannya segera diikat. "Liu Weng Fu! Kau memfitnahku!" teriak Liong Bun sambil memberontak. "Bukan aku yang membunuh Panglima Wei!" Liu Weng Fu menatapnya tajam. "Aku melihat sendiri panah itu berasal dari arahmu." "Kau tidak punya bukti!" "Ada bukti," jawab Liu Weng Fu tegas. "Panah yang menembus tubuh Paman Wei berasal dari busurmu." Liong Bun terdiam sejenak. Wajahnya mulai berubah. Wakil Panglima Wei yang melihat kejadian itu segera memerintahkan para bawahannya. "Jangan mengambil kesimpulan terburu-buru. Selidiki kematian Panglima Wei dan periksa semua bukti yang ada." "Baik, Wakil Panglima!" Liong Bun kemudian diseret oleh
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: bab 41 panglima Wei meninggalPanglima Wei yang sedang berada di gudang perbekalan tidak menyangka malam itu pasukan Hu Jianto kembali menyerang. Ia segera keluar dari gudang dan berteriak, "Prajurit! Siapkan pasukan kerajaan! Pertahankan perbatasan!" "Baik, Panglima Wei!" Para prajurit segera mengambil senjata dan berlari menuju pos penjagaan. Liu Weng Fu yang berada di sana ikut membantu mempersiapkan para prajurit. Tidak lama kemudian, pasukan Hu Jianto semakin dekat. Jumlah mereka kali ini jauh lebih banyak daripada serangan sebelumnya. Panglima Wei mengenakan jubah perangnya dan berdiri di barisan depan. Ia melihat Hu Jianto berada di tengah-tengah pasukannya. "Hu Jianto! Kau masih berani menyerang perbatasan kami?" "Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi!" Hu Jianto tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Panglima Wei. Tangannya perlahan terangkat. Para prajurit pemberontak di belakangnya langsung bersiap. Suasana di perbatasan mendadak mencekam. Hu Jianto mengangkat tang
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: Bab 83Jendral Huang masih mengunci tubuh Zhang Ziyi dengan erat. Pedangnya menempel di leher sang kaisar, sementara matanya terus mengawasi keadaan di sekelilingnya. Ia tahu bahwa para pengawal istana maupun pasukan Zhang Xin tidak akan berani menyerang selama Zhang Ziyi masih berada dalam genggamannya. Zhang Ziyi yang tidak dapat bergerak leluasa terus mencari celah untuk melepaskan diri. Ia kemudian mencoba mengalihkan perhatian Jendral Huang dengan berbicara kepadanya. "Huang, jika kau melepaskan aku, aku akan memberikan mahkota kerajaan ini kepadamu. Kau bisa mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan. Tetapi jika kau membunuhku, kau tidak akan pernah bisa keluar dari istana ini karena pasukan Zhang Xin sudah mengepung tempat ini." Mendengar perkataan itu, Jendral Huang tidak bergeming. Ia justru semakin marah dan membentak, "Diam! Kau kaisar bodoh! Seharusnya akulah yang duduk di atas takhta itu, bukan kau!" Dalam kemarahannya, perhatian Jendral Huang teralihkan dan tekanannya te
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: Bab 82Ketika para pengawal istana bergerak menyerang, Jendral Huang segera mencabut pedangnya."Sreeeng!"Beberapa pengawal langsung menyerbu dari berbagai arah.Jendral Huang dengan tenang menangkis setiap serangan yang datang.Trang! Trang! Trang!Suara benturan pedang bergema memenuhi aula istana.Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.Meski para pengawal merupakan prajurit pilihan kerajaan yang memiliki ilmu bela diri tinggi, Jendral Huang tetap mampu mengimbangi mereka.Namun...Jumlah lawannya terlalu banyak.Sedikit demi sedikit Jendral Huang mulai terdesak.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Tiba-tiba...Matanya tertuju kepada Kaisar Zhang Ziyi yang masih berdiri memperhatikan jalannya pertarungan.Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu...""Jangan salahkan aku!"Dengan gerakan yang sangat cepat, Jendral Huang
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 81Wajah Kaisar Zhang Ziyi seketika memucat. Kini ia semakin yakin bahwa Jendral Huang benar-benar telah merencanakan kudeta terhadapnya. Tanpa membuang waktu, ia segera memerintahkan para pengawal istana. "Segera panggil seluruh pasukan kerajaan yang masih setia kepadaku!" "Perketat penjagaan di setiap pintu istana!" "Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak sebelum berlari melaksanakan perintah. Setelah itu, Zhang Ziyi bergegas menemui Zhuang Ling di halaman istana. Meski berusaha tetap tenang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan. "Nyonya Zhuang Ling..." "Keadaan semakin genting." "Jendral Huang telah membawa pasukannya menuju istana." Mendengar kabar itu, wajah Zhuang Ling langsung berubah pucat. "B... bagaimana dengan suamiku, Yang Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar. Zhang Ziyi menarik napas panjang. "Jangan khawatir." "Hari ini juga aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarmu menemui Kaisar Zhang Xin." "Kau harus segera m
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: bab 80Setelah menerima surat dari Zhuang Ling, Zhang Xin akhirnya memutuskan memasuki Kota Nangking bersama utusan Kaisar Zhang Ziyi. Berbeda dengan yang ia bayangkan, penjagaan di gerbang kota tidak terlalu ketat. Para prajurit yang berjaga segera membuka jalan setelah melihat utusan kerajaan membawa surat perintah dari Kaisar Zhang Ziyi. Rombongan mereka pun perlahan memasuki Kota Nangking. Tak jauh dari gerbang utama, Zhang Xin melihat seorang pria telah menunggu di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya sederhana, sama sekali tidak menunjukkan kemewahan seorang kaisar. Namun begitu rombongan berhenti, pria itu melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. "Salam hormat, Kaisar Zhang Xin. Aku adalah Zhang Ziyi." Zhang Xin turun dari kudanya lalu membalas penghormatan itu. "Kaisar Zhang Ziyi." Keduanya saling menatap beberapa saat. Dari sorot mata Zhang Xin, ia dapat melihat wajah Zhang Ziyi tampak pucat. Senyum yang menghiasi bibirnya pun seolah menye
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 79 Jendral Huang memberontakDi halaman kediaman Jendral Huang, kedua pasukan kini saling berhadapan. Tidak ada satu pun yang bersedia mengalah. Pedang-pedang telah terhunus, tombak diarahkan ke depan, dan setiap prajurit bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Suasana begitu mencekam. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara dua barisan pasukan yang saling menatap dengan tajam. Pasukan kerajaan yang datang atas perintah Kaisar Zhang Ziyi menganggap Jendral Huang telah terang-terangan membangkang terhadap titah Kaisar. Di sisi lain, Jendral Huang merasa Kaisar Zhang Ziyi tidak lagi layak memimpin Kerajaan Nangking. Baginya, semua keputusan Kaisar hanya menghalangi ambisinya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba, kepala pasukan kerajaan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pasukan!" "Mundur!" Perintah itu menggema di seluruh halaman. Para prajurit kerajaan perlahan menurunkan senjata mereka, lalu mundur beberapa langkah dengan tetap menjaga kewaspadaan. Sebelum pergi, kepala
Last Updated: 2026-07-27
Chapter: Bab 78 Jendral Huang terkurung di dalam rumahnyaMata-mata yang mengawasi kediaman Jendral Huang semakin penasaran. Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru kembali ke perbatasan. Selama beberapa hari berikutnya, mereka diam-diam terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang terjadi di rumah sang Jendral. Setelah merasa tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka sepakat untuk kembali ke perbatasan Kota Nangking dan melaporkan semua hasil pengamatan mereka kepada Kaisar Zhang Xin. Sementara itu, di kediaman Jendral Huang, suasana tampak berjalan seperti biasa. Di paviliunnya, Lie Ming sedang merawat Shao Yang dengan ditemani beberapa pelayan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa ketenangan itu akan segera berubah. Tiba-tiba, puluhan prajurit kerajaan yang setia kepada Kaisar Zhang Ziyi berhenti di depan gerbang kediaman Jendral Huang. Tanpa membuang waktu, mereka segera memasuki halaman rumah dengan langkah tergesa-gesa. Wajah mereka tampak tegang, seolah sedang menjalankan perintah yang sangat penting. Para pelaya
Last Updated: 2026-07-25