MasukDevon baru saja selesai rapat ketika jam makan siang telah tiba. Ia mengerutkan keningnya ketika mendapati Arman masuk ke dalam ruangannya. Biasanya, lelaki itu hanya akan masuk saat ia memanggil dan membutuhkannya. Jika lelaki itu masuk atas kemauannya sendiri maka pasti ada hal serius yang ingin dia bahas.
“Kuharap apa yang kamu bahas adalah hal penting.” Ucapnya dengan nada angkuh.
Memang, ia dan Arman cukup dekat. Lelaki itu adalah kaki tangannya, kepercayaannya. Tapi ada satu sisi dimana Devon ingin menekankan kalau lelaki itu adalah bawahannya yang tak bisa seenaknya keluar masuk apalagi pada Jam bebas seperti saat ini.
“Tentang kemarin.” Jawab Arman.
Devon mengangkat sebelah alisnya. Kemarin? Ah ya, kemarin mereka memang sedang membahas tentang wanita sialan bernama Sarah. Wanita yang ia curigai sebagai seorang yang sudah mengutuknya hingga sesial ini.
“Tentang wanita itu?” tanya Devon kemudian.
“Ya.” Kemudian Arman menyodorkan sebuah map yang sejak tadi ia bawa. “Jika Tuan ingin menemuinya, atau mencari tahu tentangnya, semua tentangnya ada di dalam map itu.”
“Secepat ini kamu bisa menemukan dia?” tanya Devon penasaran.
“Sebenarnya, Saya tidak pernah melepaskan perempuan itu.”
“Apa?!” Devon terkejut dengan jawaban Arman.
“Maaf saya baru cerita. Tapi, perempuan itu mengembalikan semua yang sudah Tuan kasih ke dia.”
Devon berdiri seketika. “Dan kamu baru bilang sekarang?!” serunya dengan marah. Ia tidak tahu kenapa ia bisa marah. Mungkin karena rasa bersalah. Tapi yang benar saja. Ia tak akan pernah merasa bersalah pada siapapun.
Selama ini, Devon bahkan hampir tak mengingat tentang wanita itu. Yang ia tahu adalah, bahwa setelah malam itu, Arman sudah mengurus semuanya. Membayar wanita itu dengan harga yang pantas, jadi, ia tidak perlu berurusan lagi dengan perempuan itu. Pun ketika perempuan itu datang dan mengaku mengandung anaknya. Devon juga meminta Arman untuk mengurusnya. Dan ia benar-benar berpikir bahwa Arman sudah bekerja sesuai perintahnya. Ia benar-benar telah melupakan sosok Sarah. Hingga beberapa bulan terakhir ketika ia merasa sedang terkena sebuah kutukan akibat masa lalunya, jika tidak, mungkin ia tak akan pernah mengingat sosok itu lagi.
“Maaf. Tapi dia susah diatur.”
Devon segera melesat mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Arman. “Jangan bilang kalau kamu juga gagal membujuknya untuk menggugurkan kandungannya?”
Arman mencoba mengendalikan dirinya. “Sebenarnya, dia berhasil dengan kehamilannya, dan dia sudah melahirkan Empat setengah tahun yang lalu.”
“Brengsek!” secepat kilat Devon mendaratkan pukulannya pada wajah Arman hingga lelaki itu tersungkur ke lantai.
Arman hanya diam, ia tidak melawan karena ia tahu bahwa dirinya salah.
“Apa yang kamu kerjakan selama ini?! Kerjaan kamu adalah mengurus semua permasalahanku! Dan urusan seserius ini kamu melepaskannya? Sialan!” Devon mengusap rambutnya dengan kasar.
“Kupikir, dia memang hanya perempuan murahan, yang mau menjebak kamu. Dan memasang harga tinggi. Jadi, saat dia menolak tawaranku, Aku membiarkannya. Lagi pula, kupikir anak itu belum tentu milik kamu.” Arman menghilangkan kalimat formal dalam pembicaraannya. “Tapi ternyata…”
Rahang Devon mengetat seketika. Ia kembali menghampiri Arman mencengkeram lagi kerah kemeja lelaki itu. “Ternyata apa? Katakan!” geramnya dengan nada marah.
“Kemungkinan besar, dia anakmu. Dia memiliki wajah yang sangat mirip denganmu. Warna rambut yang sama, dan memiliki warna mata yang sama.”
“Brengsek! Sialan!” umpat Devon dengan kasar.
Tentu saja. Jika anak itu mirip dengannya, bahkan hingga warna mata mereka sama, bisa dipastikan jika anak itu adalah miliknya. Devon memiliki warna mata seperti Ibunya yang asli orang Jerman, mata hijau yang sangat jarang dimiliki oleh orang di dunia ini, apalagi di negara ini.
Devon berjalan menjauh sembari memijat pelipisnya. “Katakan. Dimana perempuan itu sekarang?”
“Dia di sini. Di Jakarta.”
Devon menatap Arman seketika. “Apa?! Dan kamu membiarkan dia berada di sini? Kamu nggak mikir gimana kalau dia datang dan membuat keonaran di sini?”
“Kalau dia ingin melakukan hal itu, kupikir dia sudah melakukannya bertahun-tahun yang lalu. Dia pindah ke Jakarta setelah melahirkan, dan dia tinggal di sebuah pemukiman kumuh, jauh dari tempat kita.”
Devon lalu memunggungi Arman, menuju ke arah jendela dan menatap jauh ke luar jendela ruang kerjanya. “Katakan, dimana dia berada.” Ucapnya dengan nada yang sudah merendah.
“Semua tentang dia sudah tertulis pada berkas di dalam map tersebut, tentang apa yang dia lakukan, dimana dia tinggal, apa yang dia kerjakan, hingga siapa saja orang yang berinteraksi dengannya. Sejak dia menolak semua pemberianmu, aku sengaja menyewa seseorang untuk mengawasinya. Takut, jika tiba-tiba saja dia datang atau berniat buruk denganmu. Tapi sepertinya tidak. Dia seolah melangkah kedepan tanpa ingin menoleh ke belakang.”
Devon masih mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Arman. Matanya masih memandang jauh ke luar jendela. Perempuan itu….. Sial! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?
***
Napas Devon masih memburu setelah pelepasan pertamanya. Sungguh, rasanya luar biasa. Ia menolehkan wajahnya ke samping dan mendapati Sarah masih menangis dengan napas yang juga sama-sama memburu karena ulahnya.
Sial! Perempuan ini ternyata masih perawan. Devon tak percaya bahwa ia mendapatkan seorang perawan di tempat hiburan malam. Selama ini, yang ia tahu adalah, bahwa kebanyakan wanita sudah tidak tradisional lagi. Mereka tidak mengagungkan sebuah kesucian, setidaknya, itu di dalam lingkungan hidupnya yang glamour. Apalagi di lingkungan hidup perempuan malam, atau perempuan pendamping minum seperti Sarah. Devon yakin bahwa mungkin sembilan puluh persen wanita di sana sudah tidak perawan, dan ia tidak menyangka bahwa Sarah salah satu dari Sepuluh persennya.
Tapi hal itu tak serta merta membuat Devon memuja tubuh Sarah. Tidak! Ia juga pernah bercinta dengan pelacur yang masih perawan yang sengaja menjual keperawanannya dengan harga fantastic, dan mungkin saja itu juga yang sedang terpikirkan dikepala Sarah.
Well, Sarah tak salah orang. Ia mampu membayar berapa saja yang diinginkan oleh wanita itu. Asalkan, Sarah mau memuaskannya lagi dan lagi sepanjang malam.
Sial! Mengingat itu Devon kembali menegang.
Devon lalu bangkit. Melepaskan bekas kontrasepsi yang masih menempel pada tubuhnya, lalu membuangnya ke tong sampah. Setelah itu ia memaksa Sarah untuk ikut bangkit bersamanya.
Devon melirik sekilas, bahwa bukti keperawanan Sarah mengotori bedcovernya. Devon tak peduli karena kini yang ia pedulikan hanya gairah sialannya yang sudah mebara saat melihat tubuh Sarah setengah telanjang di hadapannya.
“Ikut aku membersihkan diri.” Ucapnya sembari menyeret tubuh Sarah masuk ke dalam kamar mandi.
Wanita itu tampak menurut saja. pasrah, mungkin lelah, atau mungkin karena yang lainnya. Devon tak peduli karena yang ia pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya memasuki diri wanita ini lagi dan lagi untuk memuaskan hasrat primitifnya.
Di dalam kamar mandi, Devon meminta Sarah untuk melepaskan sisa kain yang menempel pada tubuh wanita tersebut, dan wanita itu melakukannya dengan suka rela. Devon melihat air mata yang jatuh dari wajah wanita itu, tapi hatinya terlalu keras untuk mengasihani wanita itu hanya karena sebuah air mata.
Tanpa banyak bicara, Devon menyalakan air dari shower hingga membasahi tubuh mereka berdua. Dengan segera ia memenjarakan tubuh Sarah diantara dinding, kemudiania kembali mencumbu bibir Sarah, bibir yang entah sejak kapan menjadi bibir favoritenya.
Devon melepaskan cumbuannya dan bertanya. “Kamu minum pil, bukan?”
Tak ada jawaban. Sarah tampak tak ingin mengatakan apapun.
“Aku tahu kalau semua perempuan di sana sudah berjaga-jaga. Kamu masih perawan hanya karena ingin menunggu saat yang tepat untuk menjual kesucianmu. Niatmu tidak akan sia-sia, Sarah. Karena aku akan membayar dengan harga yang pantas.” Jelasnya penuh dengan kearoganan.
Lagi-lagi, Sarah tidak menjawab. Wanita itu memilih diam dan pasrah.
Devon lalu mengangkat wajah Sarah, mendongakkan wajah wanita itu agar menatap ke arahnya. “Aku berasumsi bahwa kamu tidak terjangkit penyakit mengerikan karena kamu masih perawan. Karena itulah, aku akan menyatukan diri tanpa penghalang apapun. Aku ingin merasakan kelembutanmu, cengkeraman erat kewanitaanmu, hingga sensasi luar biasa ketika penuh mengisimu.” Setelah itu, Devon kembali mencumbu bibir Sarah, melumatnya lebih lembut daripada lumatan pertamanya tadi.
Devon tak mengerti apa yang sedang ia katakan, ia bahkan tidak mengerti apa yang kini sedang ia lakukan. Tak pernah sekalipun ia bertindak diluar akal sehatnya. Ketika ia akan meniduri seorang perempuan, ia harus tahu catatan medis perempuan itu. Dan ia tak akan melakukan seks tanpa menggunakan pengaman.
Tapi dengan wanita ini…. dengan perempuan ini… semua seakan berbeda. Devon benar-benar ingin merasakan kelembutan wanita ini, Devon benar-benar ingin merasakan sensasinya. Sial! Apa yang sudah perempuan ini perbuat dengan dirinya?
Mengingat itu, Devon kembali tak dapat menahan diri. Ia menggoda Sarah lagi dan lagi hingga kemudian, Sarah tampak menikmati permainannya, dan ketika wanita itu mulai larut dalam gairah yang ia ciptakan, Devon mulai mencoba menyatukan diri.
“Aaarrggghhhh.” Terdengar erangan seksi dari bibir Sarah ketika Devon berhasil menyatukan diri. Devon menyukainya, setidaknya, wanita ini tidak mengeluarkan air mata buaya seperti tadi.
“Yaaa, nikmatilah, nikmatilah.” Bisik Devon sembari menghujam lagi dan lagi dengan bibir yang setia menggoda setiap senti dari kulit lembut Sarah. Keduanya larut dalam percintaan panas, nikmat yang menggelora, serta gairah yang seakan tak kunjung padam hingga fajar menjelang….
***
Devon tersadar dari lamunnya ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di pinggiran jalan. Sial! Setelah membahas tentang Sarah, entah kenapa ia jadi sering melamunkan malam panas dengan wanita itu. Padahal, hal itu sudah terjadi lebih dari Lima setengah tahun yang lalu. Seharusnya Devon tak perlu mengingat atau melamunkannya. Banyak perempuan di luar sana yang mampu memuaskannya melebihi apa yang pernah dilakukan Sarah.
“Kita sudah sampai.” Perkataan Arman membuat Devon mengamati sekitarnya. “Disana dia bekerja.” Ucap Arman sembari menunjuk sebuah rumah spa yang ada di seberang jalan tempat mobil mereka terparkir.
“Kamu yakin?”
“Ya. Dia sudah Satu tahun kerja di sana. Sebelumnya, dia bekerja serabutan sambil mengurus anak.”
Devon hanya diam dan menganggukkan kepalanya.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” Arman meberanikan diri bertanya.
“Aku hanya akan melihatnya dari sini.”
Dan Arman setuju dengan apa yang dikatakan Devon.
Cukup lama mereka menunggu di dalam mobil. Devon tampak bosan, begitupun dengan Arman. Tapi kemudian, tak lama, sosok yang mereka tunggu akhirnya keluar juga.
“Itu dia.”
Devon menegakkan tubuhnya, memasang mata setajam mungkin untuk melihat apa yang ada di hadapannya.
Perempuan itu…. Ya, itu benar-benar Sarah. Perempuan itu tak banyak berubah, tubuhnya masih semungil dulu, tampak serapuh dulu, dan… Sial! Brengsek! Perempuan itu tampak sangat, sangat dan sangat menyedihkan.
Sialan! Sekarang, apa yang harus ia lakukan dengan perempuan tersebut?
-TBC-
Sarah membungkukkan tubuhnya, bertumpu pada ranjang rumah sakit ketika kontraksi mulai menghantamnya. Devon berada di belakangnya, setia mengusap punggung bawahnya. Sesekali meminta Sarah mengatur pernapasannya.“Kamu yakin mau melakukan ini? kita bisa meminta caesar agar kamu tidak kesakitan seperti ini.” Devon kembali mengingatkan.“Tidak. Aku suka normal.”“Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan begini.”Sarah tersenyum. “Sepertinya, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelahiran Devano pada waktu itu?”“Benarkah? Dan kamu melakukannya sendiri?”Sarah tersenyum. “Ya, hanya di rumah bidan, bukan di rumah sakit besar seperti ini.”“Brengsek.” Devon mengumpat pelan pada dirinya sendiri. Sarah kembali merasakan kontraksi, dan Devon mengusap punggung belakang wanita itu lagi.“Sepertinya sudah waktunya. Bisakah kamu….” Sarah menghentikan kalimatnya ketika merasakan sesuatu mengucur melewati kakinya. Devonpun melihatnya dan tampak ternganga dibuatnya. “Astaga, ketubannya!” Sarah
“Aku akan kembali.” Belum juga Devon membuka suaranya, Sarah sudah mendahuluinya, hingga membuatnya menatap ke arah Sarah seketika.“Maksudmu?”“Aku akan kembali padamu, dan melupakan semuanya. Aku tidak akan menuntut lebih. Aku hanya mau kamu menyayangi anak-anakku dengan tulus. Hanya itu.” Suara Sarah bergetar, mata Sarah mulai berkaca-kaca. Seorang ibu memang tak perlu mengharapkan cinta untuk dirinya sendiri, karena lebih baik cinta itu dicurahkan pada anak-anaknya. Sarah rela hidup dengan Devon tanpa cinta dari lelaki itu, asalkan anak-anaknya mendapatkan cinta dan kasih dari ayah mereka.“Aku datang menemuimu tadi siang karena aku akan memintamu untuk pulang dan kembali ke sisiku. Tapi emosiku tersulut karena kedatangan pria itu.”“Dia teman Risa. Aku dikenalkan dengannya karena aku akan kerja menjadi kasir di salah satu tokonya.” Jelas Sarah.“Maaf, aku sudah berpikir terlalu jauh.” Devon tampak sangat menyesal.“Bukan salahmu.” Ucap Sarah kemudian.Tiba-tiba, Devon bangkit, la
Devon duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan di depan IGD, meski ia tampak tenang, tapi sebenarnya ia khawatir. Amat sangat khawatir. Arman dan si Bibi yang membawa Devano ke IGD berdiri jauh dari tempatnya duduk. Sedangkan Sarah tak berhenti berjalan mondar-mandir dengan tangis di wajahnya.Sialan! Apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana mungkin ia membiarkan Sarah pergi dari sisi Devano? Semua ini adalah salahnya. Jika ada yang harus pergi, maka itu adalah dirinya, bukan Sarah. Kini Devon benar-benar menyadari kesalahan terfatalnya.Tak lama, pintu IGD dibuka, seorang suster keluar dan memanggil “Keluarga anak Devano?”Sarah menghampiri suster tersebut, pun dengan Devon. Keduanya dipersilahkan masuk menuju ke sebuah bilik tempat Devano mendapatkan penanganan. Di sana sudah ada seorang dokter dan bersiap menjelaskan keadaan Devano pada Sarah dan Devon.“Devano kejang karena panas yang terlalu tinggi, tapi dia anak yang kuat dan bisa bertahan. Kami sudah memberi obat penurun
Malam itu, Devon baru pulang dari kantor. Ia segera melemparkan dirinya ke atas ranjangnya. Rasa lelah menghampirinya, dan ia semakin lelah ketika ia tidak mendapati seseorag menyambut kedatangannya.Sial! Jika ada Sarah, mungkin wanita itu akan menyambutnya. Memaksanya untuk segera mandi lalu makan malam bersama. Devon merindukan hal itu.Sial!Devon lalu bangkit, ia menuju ke arah meja kerjanya. Dan meraih sebuah amplop yang ada di sana. Itu adalah suat dari Sarah yang dikirimkan wanita itu dua minggu yang lalu. Sarah mengirimkan alamatnya di sana, mungkin wanita itu berharap bahwa ia akan mengirimkan surat cerai untuk wanita itu. Tapi Devon tak akan melakukannya. Devon tak akan pernah melakukannya.Devon duduk di kursinya, membuka amplop itu lagi. Di sana Sarah juga mengirimkan foto hitam putih hasil USGnya. Devon mengamati foto itu. Entah kenapa hal itu menjadi hal yang begitu digemari Devon akhir-akhir ini. Jantung Devon berdebar kencang setiap kali melihat foto tersebut. Sebua
Satu bulan kemudian….Devon turun ke meja makan dengan wajah yang sudah ditekuk. Seperti itulah wajahnya selama sebulan terakhir. Muram, dan selalu ingin marah-marah. Tapi saat melihat Devano, Devon menghilangkan kemuramannya. Ia bersikap sebiasa mungkin dengan putera kesayangannya tersebut.Devano sudah menunggunya di meja makan. Rutinitas harian yang tidak akan pernah ia lewatkan sesibuk apapun paginya, yaitu sarapan bersama dengan Devano. Hanya berdua, tanpa Sarah di sana. Brengsek!Devon hanya berusaha menjadi ayah terbaik untuk Devano, selalu ada untuk puteranya itu bahkan ketika Devano menginginkan Sarah di sisinya, maka Devon akan memposisikan diri untuk menjadi Sarah bagi Devano.Sialan!“Pagi, Pa.” Devano menyapanya.“Pagi, Sayang.” Devon mengusap puncak kepala Devano. Semakin hari, Devano semakin pintar apalagi setelah Devon mendatangkan guru belajar sambil bermain di rumah. Hal itu semata-mata untuk membuat hari Devano sibuk dan tidak lagi memikirkan Sarah.Devon masih ing
Sore itu, Sarah menunggu Devon di kamarnya. Ia tidak ingin menghindar lagi, dan ia juga tidak akan membiarkan Devon menghindar lagi darinya. Tujuannya hanya satu, bahwa ia ingin menyelesaikan masalah mereka. Ia berharap Devon jujur dengan apa yang lelaki itu rencanakan, tapi disisi lain, Sarah takut, jika kejujuran Devon akan mencabik-cabik isi hatinya.Pintu di buka, Sarah mengangkat wajahnya seketika mendapati Devon dengan wajah muramnya. Lelaki itu masuk sembari melonggarkan dasinya. Kemejanya sudah kusut, wajahnya ditekuk seperti orang lelah.Sarah berdiri seketika, ia memberanikan diri membahas masalahnya sebelum hatinya kembali melemah.“Apa yang kamu inginkan, Sarah?” tanya Devon yang melihat Sarah mendekat ke arahnya.“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?”“Apa kamu sayang sama Devano?” tanya Sarah dengan suara yang nyaris tak terdengar.Devon yang sudah duduk di pinggiran ranjang dan bersiap membuka sepatunya akhirnya menghentikan aksinya, ia mengangkat wajahnya dan menat







