LOGINDevon masih setia mengamati Sarah. Wanita itu tampak berjalan meninggalkan tempat kerjanya dengan membawa sekantung sampah.
“Apa kita akan mengikutinya?” tanya Arman kemudian.
“Kamu tahu dia mau kemana?” Devon bertanya balik tanpa melepaskan pandangannya dari bayangan Sarah yang semakin menjauhi tempat kerjanya.
“Menurut catatan, sepulang kerja, dia akan menjemput anaknya di tempat penitipan anak.”
“Apa? Jadi anak itu dititipkan di penitipan anak?”
“Apa yang kamu harapkan? Berharap dia menyewa babysitter? Bahkan untuk makan sehari-hari saja dia pas-pasan.”
“Brengsek!” Devon mengumpat pelan. Ia tidak marah karena ucapan Arman yang terang-terangan. Arman memang seperti itu. Ketika lelaki itu bersikap formal, maka ia akan bertindak begitu profesional, tapi ketika lelaki itu bersikap seperti ini terhadapnya, maka tandanya Arman sedang memposisikan diri sebagai temannya.
“Jadi?” Arman bertanya lagi.
“Langsung saja ke tempat anak itu.” Akhirnya Arman menuruti semua perintah dari Devon.
***
Sarah akhirnya sampai pada tempat penitipan anak, dimana biasa ia menitipkan putera kecilnya saat ia sedang bekerja. Devano segera menghambur ke arahnya, memeluknya erat-erat sembari menangis.
“Hei, pangeran kecil, ada apa?” tanya Sarah dengan lembut pada puteranya.
“Mama, aku kangen Mama.” Ucap Devano masih dengan tangis khas anak-anak.
Sarah tersenyum. “Mama kan kerja sebentar saja. Buat beli mainan, Kalo Devano nangis nanti mama nggak bisa kerja, nggak dapat uang buat beli mainan.”
Sarah lalu melepaskan pelukannya, menatap Devano dengan senyuman mengembang diwajahnya. Jemarinya terulur mengusap sisa air mata yang jatuh menuruni pipi gembul bocah cilik tersebut.
Lalu Sarah mengamati keindahan matanya. Mata itu… Astaga, setiap kali Sarah melihat puteranya, maka pada kali itulah ia mengenang tentang pria itu. Devano sudah seperti foto copy dari Sang pria, dan setiap kali melihat puteranya, bayang itupun selalu melintasi pikiran dan juga angannya….
“Tatap mataku.” Bisik lelaki itu dengan suara seraknya. Tubuhnya masih bergerak, menghujam lagi dan lagi, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri dan juga untuk diri Sarah.
Entah, ini sudah yang keberapa kalinya lelaki itu menyatukan diri. Setelah di atas ranjang, di kamar mandi, hingga kembali ke atas ranjang lagi. Sarah tak tahu, sampai kapan mereka akan bercinta seperti ini. yang Sarah tahu adalah, bahwa semakin lama mereka bercinta, maka semakin lembut sikap dan perlakuan lelaki di atasnya ini hingga membuat Sarah luluh dan terlena menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh lelaki tersebut.
“Tatap mataku, Sarah.” Suara lelaki itu menggema, bagaikan sebuah perintah yang tak ingin ditolak. Dan Sarah akhirnya melakukannya. Ditatapnya mata lelaki tersebut, dan Sarah baru menyadari bahwa lelaki itu memiliki warna mata yang tak biasa.
“Hijau…” desahnya dengan napas terputus-putus.
“Ya, hijau.” Jawab lelaki itu masih dengan bergerak memompa dirinya. “Kamu suka?” tanyanya.
Sarah tersenyum. “Indah…” ucap Sarah kemudian.
Lelaki itu menghentikan pergerakannya, kemudian menatap Sarah dengan tatapan sulit diartikan.
“Kamu, juga indah.” Bisiknya nyaris tak terdengar. Dan setelah itu, lelaki itu kembali mencumbunya, dengan lembut, begitu lembut hingga Sarah merasa bahwa ia begitu disayangi, dikasihi, dan dicintai….
“Mama? Mama?” Sarah tersadar dari lamunannya saat Devano memanggil-manggi namanya.
Astaga, Sarah bahkan kembali melamunkan hal-hal yang seharusnya sudah ia lupakan sejak lama. Kenapa bayangan itu sering kali muncul akhir-akhir ini?
“Ya?”
“Itu…” Devano menunjuk pada seseorang yang berdiri di belakang Sarah. Sarah menolehkan kepalanya ke belakang dan tersenyum mendapati lelaki tersebut.
ooo
“Siapa dia?” Devon bertanya penuh penekanan.
“Putra Fabian, ada dalam berkas. Dia si penyelamat.”
“Maksudmu?”
“Dialah yang mengajak Sarah ke Jakarta, dan mencarikan pekerjaanya.”
“Apa hubungan mereka?”
“Belum pasti.”
Devon hanya diam, ia megamati pemandangan di luar sana. Sarah tampak senang dengan kedatangan lelaki itu. Pasti hubungan mereka tidak sekedar teman.
“Dimana mereka tinggal? Apa mereka tinggal serumah?”
“Tidak. Lelaki itu tinggal sendiri, tak jauh dari tempat tinggal Sarah.”
Devon hanya menganggukkan kepalanya. “Kita kembali.” Ucapnya kemudian.
Ya. Cukup, hari ini sudah cukup baginya untuk tahu sesuatu yang sungguh luar biasa. Jika di lihat dari jauh, anak itu memang sangat mirip dengannya, wajahnya, rambutnya yang kecoklatan juga sangat mencolok. Nanti, Devon akan menemuinya, melihat seberapa mirip anak itu dengannya.
Tentang Sarah…. Perempuan itu, berani-beraninya… Sial!
***
“Pakai saja itu. Kamu nggak mungkin keluar dari hotel ini hanya dengan kimono itu, kan?” ucap Devon sembari melemparkan celana piyama, T-shirt serta coat kebesaran miliknya. Sedangkan Sarah hanya bisa tertunduk lesu. Tenaganya terkuras habis karena seks maraton sepanjang malam dengan Devon.
Sarah meraih pakaian tersebut lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakainya. Saat ia kembali, Devon sudah menunggunya di sebuah meja dengan berbagai macam hidangan sarapan di sana.
“Sarapan dulu. Setelah itu, skertarisku akan mengurusmu.” Perintahnya dengan nada angkuh.
Sarah kembali menuruti apapun keinginan lelaki ini. Baginya, ia hanya ingin segera pergi meninggalkan tempat ini, mengubur diri selama-lamanya di dalam kamar mungilnya. Jadi Sarah bersikap seolah tak ingin membantah agar ia segera dilepaskan.
“Aku tidak tahu kenapa harus mengatakan ini, tapi… Devon, kamu bisa memanggilku dengan nama itu.”
Sarah masih diam, ia tidak tahu harus menanggapi apa. Sedangkan Devon hanya bisa mengamati setiap pergerakan dari wanita di hadapannya tersebut.
Sarapan terjadi tanpa suara. Hening, dan hanya ada suara dentingan sendok dan piring saling beradu. Keduanya fokus dengan pikiran masing-masing, dengan sarapan masing-masing, hingga seperempat jam kemudian, pintu suite Devon diketuk oleh seseorang.
Devon bangkit, membukanya, dan kembali dengan seorang laki-laki di sebelahnya.
“Ini Arman, orang yang akan mengurus semuanya. Kamu bisa konsultasikan dengan dia, berapa yang kamu inginkan. Dia yang akan mengantarmu pulang nanti.”
Devon berjalan meraih kopinya, pada saat itu, ia melihat Sarah sudah bangkit dari tempat duduknya.
“Saya sudah selesai.” Ucap wanita itu.
Devon mengangkat sebelah alisnya. Dilihatnya piring Sarah yang tak habis makanannya. “Tidak perlu terburu-buru.”
“Saya ingin pulang.” Suara Sarah terdengar bergetar.
Devon hanya mengamatinya lekat-lekat. Ketakutan terpancar jelas di sana, tapi Devon mencoba mengabaikannya. Perempuan ini pasti sedang berakting agar ia bermurah hati dan memberinya lebih.
“Oke.” Devon menghela napas panjang. “Antarkan dia pulang, dan beri dia sesuai keinginannya.”
“Tapi…” Arman ragu karena Devon tak menyebutkan batas nominalnya.
Devon tersenyum miring, ia menepuk pundak Arman dan berkata “Aku sangat puas. Beri dia sesuai keinginannya, tapi pastikan agar dia tidak kembali lagi.”
Arman hanya menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa maksud Devon. Dan ia akan melakukan sesuai dengan perintah lelaki itu.
-TBC-
Sarah membungkukkan tubuhnya, bertumpu pada ranjang rumah sakit ketika kontraksi mulai menghantamnya. Devon berada di belakangnya, setia mengusap punggung bawahnya. Sesekali meminta Sarah mengatur pernapasannya.“Kamu yakin mau melakukan ini? kita bisa meminta caesar agar kamu tidak kesakitan seperti ini.” Devon kembali mengingatkan.“Tidak. Aku suka normal.”“Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan begini.”Sarah tersenyum. “Sepertinya, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelahiran Devano pada waktu itu?”“Benarkah? Dan kamu melakukannya sendiri?”Sarah tersenyum. “Ya, hanya di rumah bidan, bukan di rumah sakit besar seperti ini.”“Brengsek.” Devon mengumpat pelan pada dirinya sendiri. Sarah kembali merasakan kontraksi, dan Devon mengusap punggung belakang wanita itu lagi.“Sepertinya sudah waktunya. Bisakah kamu….” Sarah menghentikan kalimatnya ketika merasakan sesuatu mengucur melewati kakinya. Devonpun melihatnya dan tampak ternganga dibuatnya. “Astaga, ketubannya!” Sarah
“Aku akan kembali.” Belum juga Devon membuka suaranya, Sarah sudah mendahuluinya, hingga membuatnya menatap ke arah Sarah seketika.“Maksudmu?”“Aku akan kembali padamu, dan melupakan semuanya. Aku tidak akan menuntut lebih. Aku hanya mau kamu menyayangi anak-anakku dengan tulus. Hanya itu.” Suara Sarah bergetar, mata Sarah mulai berkaca-kaca. Seorang ibu memang tak perlu mengharapkan cinta untuk dirinya sendiri, karena lebih baik cinta itu dicurahkan pada anak-anaknya. Sarah rela hidup dengan Devon tanpa cinta dari lelaki itu, asalkan anak-anaknya mendapatkan cinta dan kasih dari ayah mereka.“Aku datang menemuimu tadi siang karena aku akan memintamu untuk pulang dan kembali ke sisiku. Tapi emosiku tersulut karena kedatangan pria itu.”“Dia teman Risa. Aku dikenalkan dengannya karena aku akan kerja menjadi kasir di salah satu tokonya.” Jelas Sarah.“Maaf, aku sudah berpikir terlalu jauh.” Devon tampak sangat menyesal.“Bukan salahmu.” Ucap Sarah kemudian.Tiba-tiba, Devon bangkit, la
Devon duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan di depan IGD, meski ia tampak tenang, tapi sebenarnya ia khawatir. Amat sangat khawatir. Arman dan si Bibi yang membawa Devano ke IGD berdiri jauh dari tempatnya duduk. Sedangkan Sarah tak berhenti berjalan mondar-mandir dengan tangis di wajahnya.Sialan! Apa yang sudah ia lakukan? Bagaimana mungkin ia membiarkan Sarah pergi dari sisi Devano? Semua ini adalah salahnya. Jika ada yang harus pergi, maka itu adalah dirinya, bukan Sarah. Kini Devon benar-benar menyadari kesalahan terfatalnya.Tak lama, pintu IGD dibuka, seorang suster keluar dan memanggil “Keluarga anak Devano?”Sarah menghampiri suster tersebut, pun dengan Devon. Keduanya dipersilahkan masuk menuju ke sebuah bilik tempat Devano mendapatkan penanganan. Di sana sudah ada seorang dokter dan bersiap menjelaskan keadaan Devano pada Sarah dan Devon.“Devano kejang karena panas yang terlalu tinggi, tapi dia anak yang kuat dan bisa bertahan. Kami sudah memberi obat penurun
Malam itu, Devon baru pulang dari kantor. Ia segera melemparkan dirinya ke atas ranjangnya. Rasa lelah menghampirinya, dan ia semakin lelah ketika ia tidak mendapati seseorag menyambut kedatangannya.Sial! Jika ada Sarah, mungkin wanita itu akan menyambutnya. Memaksanya untuk segera mandi lalu makan malam bersama. Devon merindukan hal itu.Sial!Devon lalu bangkit, ia menuju ke arah meja kerjanya. Dan meraih sebuah amplop yang ada di sana. Itu adalah suat dari Sarah yang dikirimkan wanita itu dua minggu yang lalu. Sarah mengirimkan alamatnya di sana, mungkin wanita itu berharap bahwa ia akan mengirimkan surat cerai untuk wanita itu. Tapi Devon tak akan melakukannya. Devon tak akan pernah melakukannya.Devon duduk di kursinya, membuka amplop itu lagi. Di sana Sarah juga mengirimkan foto hitam putih hasil USGnya. Devon mengamati foto itu. Entah kenapa hal itu menjadi hal yang begitu digemari Devon akhir-akhir ini. Jantung Devon berdebar kencang setiap kali melihat foto tersebut. Sebua
Satu bulan kemudian….Devon turun ke meja makan dengan wajah yang sudah ditekuk. Seperti itulah wajahnya selama sebulan terakhir. Muram, dan selalu ingin marah-marah. Tapi saat melihat Devano, Devon menghilangkan kemuramannya. Ia bersikap sebiasa mungkin dengan putera kesayangannya tersebut.Devano sudah menunggunya di meja makan. Rutinitas harian yang tidak akan pernah ia lewatkan sesibuk apapun paginya, yaitu sarapan bersama dengan Devano. Hanya berdua, tanpa Sarah di sana. Brengsek!Devon hanya berusaha menjadi ayah terbaik untuk Devano, selalu ada untuk puteranya itu bahkan ketika Devano menginginkan Sarah di sisinya, maka Devon akan memposisikan diri untuk menjadi Sarah bagi Devano.Sialan!“Pagi, Pa.” Devano menyapanya.“Pagi, Sayang.” Devon mengusap puncak kepala Devano. Semakin hari, Devano semakin pintar apalagi setelah Devon mendatangkan guru belajar sambil bermain di rumah. Hal itu semata-mata untuk membuat hari Devano sibuk dan tidak lagi memikirkan Sarah.Devon masih ing
Sore itu, Sarah menunggu Devon di kamarnya. Ia tidak ingin menghindar lagi, dan ia juga tidak akan membiarkan Devon menghindar lagi darinya. Tujuannya hanya satu, bahwa ia ingin menyelesaikan masalah mereka. Ia berharap Devon jujur dengan apa yang lelaki itu rencanakan, tapi disisi lain, Sarah takut, jika kejujuran Devon akan mencabik-cabik isi hatinya.Pintu di buka, Sarah mengangkat wajahnya seketika mendapati Devon dengan wajah muramnya. Lelaki itu masuk sembari melonggarkan dasinya. Kemejanya sudah kusut, wajahnya ditekuk seperti orang lelah.Sarah berdiri seketika, ia memberanikan diri membahas masalahnya sebelum hatinya kembali melemah.“Apa yang kamu inginkan, Sarah?” tanya Devon yang melihat Sarah mendekat ke arahnya.“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?”“Apa kamu sayang sama Devano?” tanya Sarah dengan suara yang nyaris tak terdengar.Devon yang sudah duduk di pinggiran ranjang dan bersiap membuka sepatunya akhirnya menghentikan aksinya, ia mengangkat wajahnya dan menat







