Share

Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada
Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada
Author: Fendi

Bab 1

Author: Fendi
Namaku Felix, dan aku telah bekerja di toko serba ada 24 jam di Baratis selama lebih dari dua tahun.

Karena perlu menabung untuk pernikahan, aku bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan di pagi hari, dan menjadi kasir di toko sepulang kerja.

Lokasi toko ini cukup terpencil, dikelilingi oleh kawasan perumahan tua, jadi jumlah pengunjung tidak terlalu banyak.

Namun, justru karena itu, selalu ada beberapa pencuri yang mencoba memanfaatkan situasi.

Saat stok- opname bulan lalu, banyak camilan yang hilang tanpa sebab, tapi rekaman CCTV tidak menunjukkan sesuatu yang aneh.

Berdasarkan insting profesionalku sebagai kasir, kulihat bahwa banyak pelanggan tampak bingung dan menghindari area tertentu di rak atas saat membayar.

Setelah pengamatan berulang, aku yakin ada yang tidak beres di sana.

Jadi aku memasang kamera CCTV tersembunyi di rak paling atas, dan menghubungkannya ke perangkat tabletku.

Dengan begini, aku dapat memantau area mencurigakan secara real-time bahkan saat bekerja di kasir.

Sekitar pukul sembilan malam, saat aku sedang mengatur barang-barang di rak, tabletku sedikit bergetar.

Layar monitor menunjukkan seseorang memasukkan tangannya ke kompartemen tersembunyi di lemari camilan.

Aku diam-diam berpindah ke area titik buta kamera dan memang melihat seorang gadis berpakaian seragam sedang berjongkok di sana.

Saat mengamatinya, aku semakin terkejut.

Dia adalah putri bos perusahaanku, tipe gadis yang sering dijuluki “anak yang sempurna”.

Tidak diragukan lagi.

Bosku sering memandang rendah kami, menganggap kami sampah karena lulus dari sekolah yang kurang bergengsi dan selalu membanggakan putrinya kepada kami.

Kalau ingatanku tidak salah, dia seharusnya kuliah di universitas terdekat. Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti ini?

Dan ....

Bagaimana reaksi bosku yang sombong itu jika dia tahu putri kesayangannya melakukan hal ini?

Aku berdehem pelan.

“Permisi, apa yang kau cari?"

Gadis itu jelas ketakutan. Barang-barang yang dipegangnya jatuh dengan bunyi "gedebuk".

Dua kotak cokelat impor dan beberapa bungkus keripik.

"Maaf ... maaf sekali!" Dia bergegas memungut barang-barang itu.

“Aku hanya ....”

Aku menatap penampilannya yang kebingungan, wajahnya yang lembut kini memerah. Dia memang persis seperti foto yang dengan bangga ditunjukkan bosku padaku, rambut hitam panjang terurai di bahunya, kulit putih dan halus, mata besar yang berair kini dipenuhi rasa takut.

“Aku ... aku nggak bermaksud ....” Dia tergagap, dengan panik mengumpulkan barang-barang yang jatuh dan meletakkannya di atas meja.

“Barang-barang ini ... aku sebenarnya ingin membelinya ....”

Aku memperhatikan jarinya yang panjang dan putih, kuku yang rapi, dan cat kuku merah muda lembut.

Dia tidak terlihat seperti pencuri.

Namun rekaman kamera dengan jelas menangkap tangannya menjangkau kompartemen rak.

“Nona,” kataku, berusaha tenang. “Namamu Queenie, kan?”

Dia membeku, menatapku dengan terkejut. “Gimana ... gimana kau tahu ....”

Memang benar dia.

Aku berbicara dengan lembut, “Mari ke kantorku. Kita perlu bicara."

Dia ragu-ragu, lalu mengangguk dan mengikutiku.

Setelah masuk ke gudang, aku mengunci pintu.

Meskipun kecil, ruangan itu terang benderang, lampu neon di atas menerangi setiap sudut.

“Sekarang, letakkan barang-barang ini di meja di sana,” perintahku, sambil menunjuk ke rak di belakang kami.

Saat dia mendekat dengan kepala tertunduk, aku perhatikan betapa proporsionalnya tubuh Queenie.

Di bawah rok kotak-kotak abu-abunya, terdapat sepasang kaki panjang dan indah, dengan lutut bulat dan putih, betis ramping dan lurus.

Roknya selututnya, memperlihatkan sekilas paha lembutnya pada setiap langkah.

Baju seragamnya melekat erat pada lekuk tubuhnya, payudaranya yang penuh meregangkan kain membentuk lengkungan yang memikat. Dua kancing di kerah terbuka, memperlihatkan tulang selangkanya yang dalam dan menawan.

Saat dia bergerak, payudaranya yang montok bergoyang tanpa henti, seolah-olah kancingnya bisa lepas kapan saja.

Ketika dia membungkuk untuk meletakkan barang-barang, aku secara tidak sengaja melihat sekilas belahan dada yang dalam di bawah garis lehernya.

Payudaranya yang lembut dan muda tampak sangat memikat di bawah bra katun putihnya.

Pinggangnya yang ramping menonjolkan pantatnya yang montok, mendorong rok seragamnya membentuk lengkungan bulat. Aku bisa melihat dengan jelas lekukan tepi celana dalamnya di bawah kain, beserta garis samar di area selangkangannya.

Tubuh muda di hadapanku memancarkan pesona menggoda, membuatku sulit berkonsentrasi.

Dari dekat, kulitnya begitu halus, bahkan daun telinganya berwarna merah muda.

Bercak basah samar-samar terlihat di paha bagian dalam di bawah rok pendeknya, menunjukkan bahwa dia mungkin basah karena keringat dingin.

Seorang gadis secantik ini mencuri di toko serba ada?

Pikiran jahatku muncul, dan aku sengaja bertanya, “Queenie, tentu saja kau nggak ingin ayahmu, manajer di Perusahaan XX, tahu bahwa putri kesayangannya mencuri, kan?”

“Tolong, jangan panggil polisi atau beritahu ayahku, aku ... aku akan lakukan apa pun yang kau mau.”

Suara Queenie sudah bergetar menjadi isak tangis.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 7

    “Pak ... Pak Denny ....” Aku tergagap, tak mampu berkata-kata. Dia mendekat dengan langkah cepat, amarahnya meluap melihat penampilan gadis itu yang berantakan. “Ginikah caramu kerja?! Melakukan hal seperti ini di toko?” “Bukan begitu, biar kujelaskan ....” “Apa yang perlu dijelaskan?!” Pak Denny menunjuk ke arah kami, suaranya penuh kekecewaan.Queenie bersembunyi di belakangku, gemetaran, air mata mengalir di wajahnya.“Pak Denny, sebenarnya dia ....”“Dia apa? Karena dia pacarmu, jadi kalian bisa buat macam-macam di toko? Felix, aku sudah menjagamu selama ini dan gini caramu balas kepercayaanku?”Lalu, dia menghela napas dan meninggalkan gudang.“Kuberi lima menit untuk bereskan kekacauan ini!” Lima menit kemudian, saat gadis itu dan aku keluar dari gudang, Pak Denny berkata padaku, “Felix, nggak usah datang lagi besok.” “Apa? Pak Denny ....” Aku menatapnya dengan tak percaya. “Kau sudah bekerja di sini selama dua tahun. Selama ini aku cukup baik padamu, kan? Dan ini hasiln

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 6

    “Hati-hati, silakan datang kembali.”Setelah pelanggan pergi, Queenie bergegas keluar, mengusap air mata dengan campuran amarah dan kecemasan. “Kau benar-benar keterlaluan!”Melihat pakaiannya yang acak-acakan dan wajahnya yang memerah, aku tersenyum sinis. “Siapa suruh kau begitu nggak kompeten? Kau yang gagal memuaskanku dari tadi.”“Berani-beraninya kau bilang gitu!” Queenie gemetar karena marah. “Kita hampir ketahuan tadi!” “Bukankah itu salahmu? Kau terus celingak-celinguk saat melayani.” Aku sengaja memutarbalikkan fakta. Queenie menggigit bibirnya, ingin mengatakan sesuatu, tapi tak menemukan kata-kata.Sejujurnya, setiap kali aku menekan kepalanya ke bawah, Queenie pasti mendongak, ingin melihat apa yang terjadi di luar.“Lanjutkan. Kita belum selesai.”“Nggak ... ini terlalu memalukan.”“Jadi mau gimana? Setelah semua ini, kau masih belum memuaskanku. Nggak mungkin biarkanku seperti ini, kan?”“Maaf ... aku benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga ....” “Kau yang usulka

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 5

    Dengan setiap langkah yang dia ambil, aku bisa melihat cairan mengalir di antara pahanya, meninggalkan tetesan di lantai. Aku tertawa dalam hati. Mempertahankan Queenie dalam keadaan ini di depan pelanggan jauh lebih menggairahkan daripada langsung berhubungan dengannya. Paman itu terus mengobrol denganku sambil memilih barang, sesekali melirik ke arah Queenie.Setiap kali pandangan tertuju padanya, Queenie akan merapatkan kakinya dengan gugup, namun hal itu justru membuat lebih banyak cairan merembes dari antara pahanya.“Gadis baru itu cukup cantik. Apa sekolahnya jauh dari sini?” tanya pria itu.“Nggak jauh. Dia kuliah di universitas di depan sana,” jawabku dengan acuh tak acuh, mataku tertuju pada telinga Queenie yang memerah.Queenie membelakangi kami saat merapikan rak, pinggangnya yang ramping bergoyang saat bergerak, ujung roknya sesekali terangkat dengan setiap langkah. “Ini ... ini dia ....” Queenie kembali dengan barang tersebut, sengaja menghindari tatapanku. Saat a

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 4

    Aku melepas celanaku, dan Queenie tersentak begitu melihatnya. “Besar sekali ....” “Takut? Masih bisa mundur sekarang.” “Bukan ....” Queenie menggigit bibirnya, bergumam pelan, “Aku akan berusaha.”Aku melihat Queenie dengan hati-hati menjulurkan lidah kecilnya yang merah muda. Sentuhan hangat dan licin itu membuatku tersentak. “Ya ... seperti itu. Masukkan sedikit lagi.” Queenie dengan patuh membuka bibirnya yang merah ceri, lidahnya yang basah menjilat dengan canggung namun sungguh-sungguh.“Mmm ... sedikit asin ....” bergumam Queenie tak jelas.“Terus, jangan berhenti.”Pipinya menggembung, matanya berkaca-kaca.Setiap kali aku mendorong sedikit, Queenie mengeluarkan erangan pilu.“Lihat aku.” Queenie mengangkat matanya yang berkabut, sudut matanya sedikit memerah, tampak sangat memikat. Aku tak tahan untuk menekan bagian belakang kepalanya, perlahan mendorong lebih dalam. “Ugh!” Queenie mencoba mundur karena tidak nyaman, tapi aku menahannya dengan erat. “Nggak apa-apa, k

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 3

    “Ayo bilang, kenapa mencuri?” bisikku, sambil membelai tubuh Queenie.“Um ... karena ....” Queenie memalingkan kepalanya, air mata mengalir di wajahnya. “Akhir-akhir ini aku terlalu banyak bermain game ... jadi nggak cukup uang untuk biaya hidup ....”“Jadi kau nekat mencuri?”“Maaf ... aku tahu aku salah ....” Queenie terisak, “Jangan panggil polisi ... aku nggak akan melakukannya lagi.”Aku sengaja bertanya lagi, “Lalu kenapa kau begitu basah? Merasa terangsang?”“Nggak ... bukan begitu ....” Queenie menggeleng malu.“Lalu apa? Ayo bilang.” Aku mempercepat gerakanku, membuat Queenie terengah-engah berulang kali.“Mmm ... ini terlalu memalukan ... jangan begini.”“Kenapa kau nggak malu saat mencuri?” Aku sengaja memutarbalikkan kata-katanya. “Jujurlah, selain camilan, apa lagi yang kau curi?”“Benar-benar nggak ada yang lain .... Ah!” Queenie berteriak saat aku menyentuh titik sensitifnya.“Anak yang berbohong pantas dihukum.” Aku mencubit pantatnya dengan keras.“Aw ... sakit!” D

  • Putri Bos yang Mencuri di Toko Serba Ada   Bab 2

    “Lepaskan dulu jaketmu.” Aku memberi isyarat agar dia mengangkat tangannya. “Aku perlu periksa apakah ada barang selundupan lainnya.” Queenie dengan patuh melepas jaketnya, tangannya yang ramping terangkat perlahan. Kemejanya naik seiring gerakannya, memperlihatkan sedikit pinggangnya yang ramping, perutnya rata dan mulus, dengan pusar yang imut samar-samar terlihat.Aku bergerak ke belakangnya dan mulai memeriksa. Melalui kain kemejanya, aku dapat merasakan dengan jelas lekuk payudaranya yang penuh. Setiap kali jariku secara tidak sengaja menyentuh kelembutan di bagian samping, Queenie akan sedikit bergidik. Selanjutnya, saat memeriksa pinggangnya, aku membungkuk mendekati perutnya.Telapak tanganku menjelajahi pinggangnya, secara sengaja atau tidak sengaja menyentuh tepi bawah bra-nya. “Angkat rokmu sampai pinggang.” Melihatnya dengan malu-malu mengangkat roknya, memperlihatkan celana dalam putih bersih dan paha seputih salju, napasku menjadi lebih berat. Jari-jariku perlaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status